Romansa

Ini cerita tentang cinta; romansa dua jurnalis dengan latar belakang berbeda. Suku dan juga budaya. Tidak ada kata cinta yang mewarnai hubungan mereka. Hanya rasa dan rumangsa yang bicara. Tapi satu dan lainnya, saling memahami, saling melindungi, saling berempati dan saling lainnya yang sanggup memosisikan mereka berdua merasa nyaman berada di antaranya. Hati mereka terpautkan oleh komitmen, dan penghormatan atas nama cinta. Kendati tidak saling memiliki, mereka menyadari, tak ada kemungkinan untuk saling memisahkan diri.

Nun jauh dalam lorong hati, ada sekotak ruang untuk mereka sekadar berbagi. “Perempuanku, pulang jam berapa hari ini”, atau kiriman pesan pendek practical jokes dari si lelaki, memenuhi layar telepon genggam sang pujaan hati.

Hubungan bathiniah yang sejatinya mengiris sukma itu, telah berjalan lebih kurang tiga tahun. Sejak mereka bertemu, kemudian berboncengan, dan dalam sebuah acara liputan yang sama. “Perempuanku, pulanglah lebih dulu. Aku masih di sini, bercengkerama dengan kawan-kawan. Hati-hati di jalan”, adalah sebentuk permufakatan hati yang hanya dimafhumi oleh keduanya.

Kenikmatan rasa itu, agaknya akan berkurang. Setelah kabar suka dan bahagia sekaligus duka, mampir di telinga satu di antaranya. “Aku tidak lagi dapat bersua dalam liputan yang sama”. Namun, isyarat akan keteguhan cinta, berkelebat erat dalam sepotong asa yang ditabalkannya. “Perempuanku, dalam relung sukmaku hanya engkau yang mampu menuntaskan dahaga intelektualku. Tetaplah menjadi engkau seperti selalu ada dalam gembira dan laraku”.

Berlanjutkah pengembaraan rasa dan rumangsa mereka? hanya kala yang bisa bercerita.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Kalau mau jadi hartawan, rohaniawan atau asmarawan…jangan jadi wartawan!

    Nasib wartawan selalu RAWAN hehehe…

    Pacaran buat wartawan perkara yang sangat pelik, kecuali kalau keduanya kebetulan mendapat penugasan dalam bidang liputan yang sama di kota yang sama.

    Paling repot kalau wartawan pacaran dengan pegawai negeri. Sebelum hari merah si wartawan sudah libur, sedangkan sang pacar masih kerja. Nah giliran sang pacar libur di hari merah, si wartawan sudah meliput lagi…berabe tenan!

    salam kenal kembali kawan.
    Terima kasih sudah berkunjung ke blog aku.

    Cheer up
    Merdeka ! ! !

  2. heheehehe terima kasih Pak Robert….tapi sejujurnya, wartawan adalah profesi yang paling mengasyikkan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: