Aku Ingin Mencintai-Mu Dengan Sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Saya mengutip poem Pak Sapardi ini karena ‘kebersahajaan’ kata namun mengandung ‘keistimewaan’ makna. Saya belum sempat meminta izin beliau untuk menggunakan poemnya sebagai landasan pemikiran saya menulis. Akan tetapi saya meyakini, keikhlasan beliau membagi karyanya untuk dapat diapresiasi siapa saja.

Judulnya saya imbuhi menjadi Aku Ingin Mencintai-Mu Dengan Sederhana. Saya menulis ini karena saya gelisah. Selama ini saya mencari Tuhan, kebenaran, dan hakikat hidup tidak dengan cara yang sederhana.

Saya mencari-Nya dengan kelengkapan atribut, egoisme ke’aku’an, dan elan yang gagah. Saya mencari-Nya justru dengan kepedulian dan kepekaan ‘sosial’. Tidak dengan sensitifitas aqidah. Saya mencari-Nya dengan kepangkatan dan stratifikasi hujjah.

Hasilnya, cinta saya kepada-Nya, karena keterpaksaan. Cinta saya kepada-Nya hanya belaka kewajiban. Cinta saya kepada-Nya hanya keharusan.

Tuhan, aku ingin mencintai-Mu dengan sederhana. Tanpa kosmetika kata, selubung wibawa atau seperangkat harta. Supaya aku berposisi. Supaya aku dibilang peduli. Atau supaya aku dikata sebagai ummat-Mu yang saleh.

Tuhan, aku tidak sanggup menempatkan-Mu dalam keriaan yang melenakan. Aku tidak mampu menempatkan-Mu dalam puja dan puji kepalsuan. Dan aku tidak dapat menempatkan-Mu dalam ‘kemenoran’ ritual massal.

Tuhan, Engkau adalah Maha Enigma yang tiada sesiapa pun tahu dan dapat merasakan-Mu, kecuali dengan kesalehan, ketakwaan, keikhlasan, dan kebenaran mencari jalan-Mu.

Tuhan, aku ingin mencintai-Mu dengan sederhana. Mengikis aroma ujub dan ria. Mengiris sindroma kompleks manusia yang terlalu peduli akan simbol dan citra.

Tuhan, aku ingin mencintai-Mu dengan sederhana. Tanpa jumawa dan berharap surga. Tuhan, aku ingin datang kepada-Mu dengan kisah, kala dan cinta……….

Iklan

4 Tanggapan

  1. Gampang koq mbak. Karena Allah itu sangat dekat, lebih dekat dari urat leher. Artinya .. Allah ga kemana2. Ada didalam hati kita.

    Masalahnya .. justru kita yang melupakan-Nya. Seakan2 kita yang menentukan tujuan hidup kita. Seakan2 kita berhak atas dunia ini. Padahal kita ini hanya “titipan” yang disuruh mengelola dunia ini kemudian kita kembali. Simple.

    Karena Tuhan tidak memerlukan kita, tapi kita yang memerlukan Tuhan. Dia tidak hilang walaupun kita tidak mencintainya. Dan Dia tidak menjadi hebat walaupun kita mencintainya.

    Karena Dia sudah hebat tanpa kita cintai. Jadi .. mencintai Allah seperti kita mencintai diri kita tanpa prasangka apapun.

  2. @erander
    thanx nasihatnya…..yup saya setuju. Mencintai Allah tanpa prasangka….

  3. Duh…ternyata cintaku pada Tuhanku masih hanya di mulut. Masih jauh panggang dari api…..hik !

  4. Tapi, Tuhan dekat kok Mas/Mbak, seperti kata ustadz erander, Dia sedekat urat leher kita…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: