Sarinah, Tinggal Sampah

Pagi tadi saya menghadiri acara konferensi pers penandatanganan MoU KPR antara Grup SMR dan Bank Bumiputera di Skyline Building Lt. 9, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Tak ada yang istimewa sebenarnya dalam acara ini, selain tentu saja paparan angka-angka menakjubkan dari outsanding KPR yang dikemukakan oleh Head Department of Mortgage Bank Bumiputera Sety Ari D.

Namun, bukan itu yng hendak saya tulis di sini. Saya justru ingin mengeluarkan unek-unek yang ada di kepala dan benak dan nyris mau pecah ini. Di ketinggian lantai 19 Skyline Building, saya melihat dengan mata kepala sendiri, dengan jelas, atap gedung bersejarah Sarinah, telah bertransformasi menjadi tempat sampah.

 Kemasan-kemasan plastik, kertas koran, karuds makanan, styrofoam, kantong kresek, kain-kain lecek, menghiasai roof top gedung yang pernah menjadi kebanggaan Bung Karno itu. Kusam, kumuh, mesum dan seperti slum building.

Padahal Sarinah merupakan gedung komersial ritel modern pertama di Indonesia yang dibangun pada tahun 1967. Di sini, dulu para pejabat meluangkan waktu dan dengan bangga berbelanja pakaian-pakaian tradisional macam batik yang berkualitas tinggi. Di sini pulalah dijadikan sentra komoditas pakaian tradisional yang menjadi acuan para desainer fashion untuk mengembangkan tren desain terbaru.

Sayangnya, ia tak terawat. Sangat kontras dibandingkan dengan Skyline Building, atau gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Gedung BI berdiri megah di seberangnya dengan infrastruktur berteknologi tinggi. Sementara Sarinah, teralienasi. Tanggung Jawab siapa?

Ketika saya tetap mengarahkan pandangan ke bawah, ke atap gedung Sarinah, Komisaris Grup SMR Yan Mogi pun turut prihatin. “Apa sih kerja pengelola gedung itu?” Bahkan dia mengusulkan untuk didemolize saja Sarinah, biar dia bisa berdiri sejajar dengan gedung-gedung tinggi modern lainnya. Dan mengurangi keburukan kota.

Kalau saya mendapat ijin menghancurkan dan membangun gedung itu kembali, akan saya buat seperti tengara kota. Begitu Yan Mogi berambisi……..

Iklan

2 Tanggapan

  1. Blog nya bagus ! tinggal tunggu makin dikenal aja… 😀

    Lanjut…
    Indonesia sepertinya tidak terbiasa untuk merawat bangunan2 kuno ya ? Malah mungkin para pemerintah tata kota itu ‘risih’ liat bangunan yg lama…merawat engga masuk dlm agenda tata kota…pengennya di babat habis ganti gedung modern, beres.
    Padahal biar kuno, kalo bersih dan terawat malah terlihat cantik.

    Salam…

  2. terima kasih udah mampir….wah aku bikin blog gak mau dikenal….takut popular 🙂

    Kita harus belajar banyak dari negeri Singapura. Bangunan-bangunan kuno di sana direvitalisasi dan dirawat dengan baik. Contohnya Fullerton Hotel….Mungkin karena anggaran perawatan gedung kuno di sana sangat besar jadi kita masih bisa menyaksikan kemegahan arsitektur klasik anglikan Fullerton. Sementara di Jakarta, jangankan anggaran untuk revitalisasi gedung kuno, anggaran pendidikan aja masih jauuuuuh dari ekspektasi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: