Ngopi dan Ngafe

Lelah memburu berita, saya memutuskan untuk rileks sejenak. Pilihan jatuh pada ritual ngopi dan ngafe di Starbucks Citos, Cilandak. Saya pilih waktu yang tidak terlalu ‘peak’. Ya pasca liputan di Kemang Village, saya meluncur ke Citos. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit, saya sudah berhadapan dengan waitress.

Menu kopi yang saya pilih adalah frappucino medium no wheapcream. Saya beranjak ke sudut ruang kafe yang cukup strategis. Maksudnya biar saya bisa menjadi to see and to be seen people hehehehe….maklum, dari tempat saya duduk, sudut pandang sangat luas terbuka.

Hanya saja, saya agak kurang menikmati suasana ngafe dan ngopi kali ini. Bukan apa-apa, selama menyeruput frappucino itu, saya justru teringat akan cerita mbak-mbak penjaja kopi keliling sewaktu meliput demontrasi mantan karyawan Hotel Indonesia di Bundaran HI, atau tepatnya di depan Grand Indonesia (nama baru untuk kompleks Hotel Indonesia). Si mbak itu bercerita, dengan memikul termos berisi 5 liter air panas plus 50 bungkus kopi sachet-an, ia hanya bisa meraup keuntungan 500 rupiah per sachet. Jika seluruh bungkus kopi itu terjual, maka yang bisa dibawa pulang adalah Rp25.000. “Kalau musim hujan, bisa laku semua, Non. Tapi kalo musim panas, paling separuhnya saya bawa pulang lagi,’ ujar si Mbak.

Mengingat cerita itu, saya jadi tersedak. Dan segelas frappucino yang sejatinya sangat lezat itu, menyisakan kesesakan. Tidak nikmat lagi. Bayangkan saja, saya dengan sadar telah memilih menjadi bagian dari arus gaya hidup urban kosmopolitan yang cenderung konsumtif. Untuk segelas kopi Starbucks itu saya harus mengeluarkan duit Rp40.000-an incl tax. Saya telah membiayai gaya hidup yang sesungguhnya bukan sejatinya saya. Saya telah berkontribusi terhadap peningkatan perolehan PT Mitra Adhi Perkasa, pemegang hak waralaba Starbucks. Sementara di sisi lain, dengan uang 40.000 itu, saya bisa menambah keuntungan si mbak penjaja kopi keliling, nyaris dua kali lipatnya………

Ingat si Mbak, saya menjadi hampa. Gontai, berjalan ke parkiran. Disambut rintik hujan dan jeritan klakson kaum yuppies ibukota yang tengah antre untuk dapat mereguk kenikmatan sepotong J.Co dan atau sebilah strawberry waffel Bakerzin…….

Iklan

Lippo Kuasai Taman Ria Senayan

Akhirnya, terkuak juga kebenaran yang selama ini masih terselubung kabar burung itu. Direktur PT Lippo Karawaci Tbk Jopie Rusli membenarkan akuisisi atas Taman Ria Senayan. Di sela-sela press conference kerjasama pembiayaan KPA antara Bank Lippo dan Kemang Village, pukul 13.30 di Jl Antasari, Jakarta Selatan.

Taman Ria Senayan, merupakan properti kesekian yang diambil alih kelompok usaha milik klan Riady tersebut. Properti lainnya, sebagian besar prestisius dan bernilai tinggi, antara lain Plaza Semanggi, Cibubur Junction, MegaMall Pluit, dan Metropolis Town Square.

Menurut sumber yang terpercaya, Lippo membeli hak pengelolaan Taman Ria Senayan dari PT Ariobimo Laguna Perkasa (ALP) dengan nilai akuisisi nyaris Rp300 miliar. Nantinya, Lippo akan melakukan transformasi total atas konsep pengembangan Taman Ria Senayan menjadi integrated development.

Nantinya bakal dibangun properti vertical residential eksklusif dan terbatas dengan harga Rp18 juta-20 juta/m2, hotel bintang lima dengan chain international operator, pusat belanja mewah serta perkantoran berkonsep smart office 2 tower.

Dengan beralihnya hak pengelolaan ini, PT Lippo Karawaci Tbk memiliki kesempatan menguasai Taman Ria Senayan selama 30 tahun ke depan dengan skema BOT (build, operate, transfer).

Sekadar informasi, Taman Ria Senayan dulunya bernama Taman Ria Remaja Senayan. Merupakan fasilitas publik yang dapat diakses oleh umum dengan murah meriah. Di sini terdapat tempat bersantai, pedestrian, dan danau yang masih berisi air jernih dikelilingi rimbunnya pepohonan. Banyak remaja yang memanfaatkan kawasan Taman Ria Senayan sebagai tempat untuk JJS (jalan-jalan sore) atau sekadar hang out.

Taman Ria Senayan awalnya merupakan ‘proyek’ yang dikendalikan dan dikelola oleh yayasan Ria Pembangunan (pengurusnya adalah istri-istri para Jenderal jaman Orba.

Awal operasional Taman Ria (Remaja) Senayan adalah 15 Agustus 1970. Nama dan kondisi fisiknya kemudian mengalami metamorfosa. Secara resmi menjadi Taman Ria Senayan, tanpa kata Remaja, dipublikasi pada Maret 1995 atas persetujuan
almarhumah Ny Tien Soeharto selaku Ketua Umum Ria Pembangunan.

Selain menguasai hak pengelolaan Taman Ria Senayan, PT Lippo Karawaci Tbk juga bakal meluncurkan pusat belanja baru di kawasan Pejaten, Pasar Minggu. Lease mall untuk segmen pasar menengah itu nantinya bertajuk Pejaten Mall dengan anchor tenant Hypermart dan Matahari Department Store.

Aksa Mahmud ‘Kebiri’ Lippo

Sebuah kebetulan yang mencengangkan ketika saya, akhirnya, dapat mewawancarai Eka Firman Ermawan, orang yang mengomandoni bidang properti di Bosowa Corporation.

Siang tadi, pukul 11.30, kami bertemu di kantor Bosowa Corp., Menara Karya, HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Dalam wawancara yang berlangsung santai dan diselingi saling mengirim SMS antara Eka dan big bossnya, Aksa Mahmud.

Eka menjabarkan sejumlah rencana strategis (sebagian tengah direalisasikan) Bosowa di tahun 2008. Goal utama dari rencana strategis tersebut adalah membawa Bosowa Real Estates and Asset Management menjadi developer utama dan ternama di Kawasan Timur Indonesia.

Salah satu cara merealisasikan goal itu adalah memanfaatkan land bank mereka yang seluas 300 Ha di kota Makassar. Mengakuisisi beerapa properti prospektif dan membentuk unit-unit bisnis properti, seperti unit bisnis pengelolaan gedung, unit bisnis residensial dan komersial serta membentuk operator chain hotel.

Namun, di antara strategi tersebut, yang paling mencuri perhatian adalah upaya ‘mengebiri’ kepak sayap bisnis properti Grup Lippo di Makassar. Bermisi menjadi yang terbesar se-KTI, Bosowa yang dimiliki Aksa Mahmud (yang notabene ipar Wapres JK) mulai merealisasikannya dengan mengakuisisi Hotel Aryadutta. Sekadar informasi, hotel ini merupakan hotel nomor satu di Makassar dengan rate 550.000-650.000 per malam.

Ada pun nilai akuisisi tersebut sebesar 14 juta dollar AS. Pasca akuisisi, akan diapakan Aryadutta hotel itu? Menurut Eka, pihaknya akan merefurbishnya menjadi Hotel Shayla.

Cukup sampai di situ? ternyata masih banyak langkah strategis lainnya. Seperti membangun Bosowa Tower 23 lantai dan menjadikannya headquarter Bosowa, serviced apartment 2 tower, RSH dan RS 1.000 unit, RS Internasional, serta pusat belanja menengah-atas. Semua properti ini berlokasi di prime area atau pusat bisnis distriknya Makasar.

Untuk mendanai proyek-proyek tersebut, Bosowa telah mengalokasikan dana sebesar Rp500 miliar. 90 miliar di antaranya diperoleh dari Bank Bukopin melalui kredit konstruksi.

Antara Blue Jins, Sedekah dan Valentine

Bukan bermaksud ikut centil jika saya posting tulisan ini. Melainkan ingin sharing. Ini adalah pengalaman saya yang baru saja terjadi pagi tadi. Begini kronologinya. Jam 06.00 pagi, saya sudah membelah jalur Transyogi-Cibubur menuju kantor di kawasan Arteri Pondok Indah. Asal tahu saja, setiap saya berangkat kerja, saya selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat. Mulai jas hujan (maklum this is rainy season) hingga baju ganti. Gak cuma baju luar, juga daleman. Perinciannya adalah, satu kemeja, sepasang daleman, satu blue jins kesayangan (hadiah seorang teman yang membelinya di Takashimaya Jepang) yang di kantongnya saya masukkan selembar lima puluh ribuan, satu jilbab, dan satu scarf. Malu kan, wawancara dengan narasumber harus berbasah-basah ria.

Semua perlengkapan ‘perang’ itu saya cantolkan begitu saja pada cantolan motor bagian depan (di bawah jok). Maklum, motor bersuspensi otomatis. Kenapa tidak di dalam bagasi? karena bagasinya sudah sarat dengan kertas-kertas kerja, jadi gak memungkinkan untuk ditambahi muatan lain. Singkat cerita, saya sudah berjuang mendapatkan sedikit ruang di jalur Transyogi yang padat merayap. Aneh juga, padahal masih pagi, jalanan sudah macet. Bukan hanya oleh saratnya kendaraan yang melintas, juga kondisi jalan yang amburadul serta ketidakdisiplinan pengendara.

Asal pembaca tahu, jalur Transyogi-Cibubur ini adalah termasuk ring satu. Karena inilah jalur yang dilalui RI 1, setiap akhir pekan. Dan di kawasan inilah beliau bermukim. Ironis juga, masak kondisi infrastrukturnya demikian parah, lobang di mana-mana, belum lagi lumpur-lumpur yang dibawa oleh truk-truk yang menggaruk tanah di lahan proyek permukiman, dan sekolah yang tidak memiliki tempat parkir memadai. Crowded sekali.

Pada salah satu ruas jalan, saya tidak melihat ada jalan ‘menggunung’. Sehingga ketika saya lintasi, bunyi ‘bugh’ yang keras terdengar. Dan saya baru menyadari kemudian (setelah perempatan Fatmawati) bahwa segala ‘perlengkapan perang’, ikut ‘bugh’ juga, alias jatuh dan ‘menghilang’. Konsentrasi berkendara saya buyar seketika. Wah, lenyap sudah blue jins tanda mata teman saya yang amat saya sayangi, raib pula uang lima puluh ribu. Saya serasa ditampar dan diingatkan kejadian sehari sebelumnya. Rabu kemarin, adik saya ingin membeli eksternal hardisk untuk kepentingan litigasinya. Untuk itu dia meminjam sejumlah uang. Saya menyesal untuk tidak segera memberinya uang, melainkan jawaban, ‘minjem mlulu, yang kemaren blom diganti’. Kini, apa yang saya dapatkan? sebuah kehilangan dengan nilai yang jauuuuuuuh lebih tinggi dari harga eksternal hardisk……..

Ujungnya, saya nabrak bemper sebuah Jazz berwarna silver metalik. Kontan, semua bunyi klakson seakan menghakimi kami, terutama saya, untuk segera menyelesaikan permasalahan.

Saya beristighfar berkali-kali dan memohon maaf pada sang empunya Jazz. Untungnya, dia mau berkompromi dan tidak mempermasalahkan insiden tadi. Mungkin karena saya perempuan, atau karena kartu nama yang saya berikan? entahlah. Yang jelas, ada satu hal yang membuat saya terhenyak meski sejenak. Si empunya yang bernama David mengucapkan, ‘Lain kali hati-hati dan jangan melamun, Non. And Happy Valentine Day,’ katanya seraya menjabat tangan saya berkali-kali dan sangat erat. Dia kemudian tersenyum dan melambaikan tangan.

Whoaaaaa!!!!! saya tak habis pikir. Bukannya marah-marah, kok dia malah bersikap sebaliknya. Padahal saya sudah bersiap-siap mengeluarkan jurus alibi, apologi dan lain-lainnya yang sebisa mungkin dapat meminimalisasi kesalahan saya yang tidak berkonsentrasi dalam mengendarai motor.

Ah, David….baik sekali Anda. Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan penghargaan saya yang setinggi-tingginya serta sikap rendah hati yang Anda tunjukkan pada saya. Bahwa tidak semua pengendara mobil (mobilers) merasa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dibanding bikers…….

Selepas kejadian itu, saya segera menemui ‘Sang Kekasih’. Terpuruk rendah dan meminta pertolongan-Nya. Bukakan, lapangkan dan ikhlaskanlah hati saya. “Maafkanlah atas segala sifat ‘kikir’ saya. Dan berikanlah ridho-Mu ya Allah agar saya bisa mencukupkan rezeki dan membaginya kepada adik, saudara, dan sesama. Dekatkanlah saya pada keselamatan”.

Kesombongan dan kekikiran saya telah menghilangkan semua kenangan indah pada blue jins dan ‘perlengkapan perang’ lainnya……