Antara Blue Jins, Sedekah dan Valentine

Bukan bermaksud ikut centil jika saya posting tulisan ini. Melainkan ingin sharing. Ini adalah pengalaman saya yang baru saja terjadi pagi tadi. Begini kronologinya. Jam 06.00 pagi, saya sudah membelah jalur Transyogi-Cibubur menuju kantor di kawasan Arteri Pondok Indah. Asal tahu saja, setiap saya berangkat kerja, saya selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat. Mulai jas hujan (maklum this is rainy season) hingga baju ganti. Gak cuma baju luar, juga daleman. Perinciannya adalah, satu kemeja, sepasang daleman, satu blue jins kesayangan (hadiah seorang teman yang membelinya di Takashimaya Jepang) yang di kantongnya saya masukkan selembar lima puluh ribuan, satu jilbab, dan satu scarf. Malu kan, wawancara dengan narasumber harus berbasah-basah ria.

Semua perlengkapan ‘perang’ itu saya cantolkan begitu saja pada cantolan motor bagian depan (di bawah jok). Maklum, motor bersuspensi otomatis. Kenapa tidak di dalam bagasi? karena bagasinya sudah sarat dengan kertas-kertas kerja, jadi gak memungkinkan untuk ditambahi muatan lain. Singkat cerita, saya sudah berjuang mendapatkan sedikit ruang di jalur Transyogi yang padat merayap. Aneh juga, padahal masih pagi, jalanan sudah macet. Bukan hanya oleh saratnya kendaraan yang melintas, juga kondisi jalan yang amburadul serta ketidakdisiplinan pengendara.

Asal pembaca tahu, jalur Transyogi-Cibubur ini adalah termasuk ring satu. Karena inilah jalur yang dilalui RI 1, setiap akhir pekan. Dan di kawasan inilah beliau bermukim. Ironis juga, masak kondisi infrastrukturnya demikian parah, lobang di mana-mana, belum lagi lumpur-lumpur yang dibawa oleh truk-truk yang menggaruk tanah di lahan proyek permukiman, dan sekolah yang tidak memiliki tempat parkir memadai. Crowded sekali.

Pada salah satu ruas jalan, saya tidak melihat ada jalan ‘menggunung’. Sehingga ketika saya lintasi, bunyi ‘bugh’ yang keras terdengar. Dan saya baru menyadari kemudian (setelah perempatan Fatmawati) bahwa segala ‘perlengkapan perang’, ikut ‘bugh’ juga, alias jatuh dan ‘menghilang’. Konsentrasi berkendara saya buyar seketika. Wah, lenyap sudah blue jins tanda mata teman saya yang amat saya sayangi, raib pula uang lima puluh ribu. Saya serasa ditampar dan diingatkan kejadian sehari sebelumnya. Rabu kemarin, adik saya ingin membeli eksternal hardisk untuk kepentingan litigasinya. Untuk itu dia meminjam sejumlah uang. Saya menyesal untuk tidak segera memberinya uang, melainkan jawaban, ‘minjem mlulu, yang kemaren blom diganti’. Kini, apa yang saya dapatkan? sebuah kehilangan dengan nilai yang jauuuuuuuh lebih tinggi dari harga eksternal hardisk……..

Ujungnya, saya nabrak bemper sebuah Jazz berwarna silver metalik. Kontan, semua bunyi klakson seakan menghakimi kami, terutama saya, untuk segera menyelesaikan permasalahan.

Saya beristighfar berkali-kali dan memohon maaf pada sang empunya Jazz. Untungnya, dia mau berkompromi dan tidak mempermasalahkan insiden tadi. Mungkin karena saya perempuan, atau karena kartu nama yang saya berikan? entahlah. Yang jelas, ada satu hal yang membuat saya terhenyak meski sejenak. Si empunya yang bernama David mengucapkan, ‘Lain kali hati-hati dan jangan melamun, Non. And Happy Valentine Day,’ katanya seraya menjabat tangan saya berkali-kali dan sangat erat. Dia kemudian tersenyum dan melambaikan tangan.

Whoaaaaa!!!!! saya tak habis pikir. Bukannya marah-marah, kok dia malah bersikap sebaliknya. Padahal saya sudah bersiap-siap mengeluarkan jurus alibi, apologi dan lain-lainnya yang sebisa mungkin dapat meminimalisasi kesalahan saya yang tidak berkonsentrasi dalam mengendarai motor.

Ah, David….baik sekali Anda. Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan penghargaan saya yang setinggi-tingginya serta sikap rendah hati yang Anda tunjukkan pada saya. Bahwa tidak semua pengendara mobil (mobilers) merasa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dibanding bikers…….

Selepas kejadian itu, saya segera menemui ‘Sang Kekasih’. Terpuruk rendah dan meminta pertolongan-Nya. Bukakan, lapangkan dan ikhlaskanlah hati saya. “Maafkanlah atas segala sifat ‘kikir’ saya. Dan berikanlah ridho-Mu ya Allah agar saya bisa mencukupkan rezeki dan membaginya kepada adik, saudara, dan sesama. Dekatkanlah saya pada keselamatan”.

Kesombongan dan kekikiran saya telah menghilangkan semua kenangan indah pada blue jins dan ‘perlengkapan perang’ lainnya……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: