Satu Triliun Rupiah Untuk Mayapada Hospitals Chain

Lama tak terdengar kabarnya, Grup Mayapada langsung membuat gebrakan. Dalam acara press conference di Ritz Carlton Hotel, Mega Kuningan, Kamis (27/03), mereka akan menginvestasikan dana sejumlah Rp1 triliun rupiah untuk membangun jaringan Mayapada Hospitals. Selain dari ekuitas perusahaan, duit sebesar ini berasal dari lembaga investasi asal Dubai, Avenue Capital, serta perbankan.

Menurut Chairman Grup Mayapada, Thahir, diversifikasi bisnis di bidang kesehatan termotivasi oleh ceruk pasar yang sangat luas terutama komunitas menengah atas Jakarta. “Daripada mereka berobat ke Singapura dan mendatangkan devisa ke negeri itu, lebih baik kita bangun fasilitas yang serupa,” cetus Thahir. Dan itu dimulai dengan diakuisisnya RS Honoris, di Kota Modern, Tangerang dengan nilai Rp100 miliar. “Kami serius terjun di sektor kesehatan. Untuk itu, kami menganggarkan dana sebesar itu,” ujar Thahir.

Tak main-main memang. Selain mengakuisisi, Grup Mayapada juga berencana membangun Mayapada General Hospitals di tiga kawasan di Jakarta. Konsep Mayapada General Hospitals ini menawarkan jasa dan pelayanan kesehatan dengan teknologi kedokteran mutakhir. Tiga kasawasan tersebut yaitu,  Mayapada General Hospitals di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Menempati area seluas 2 Ha, akan terintegrasi dengan konsep pembangunan terpadu apartemen, kantor, ritel dan hotel bintang lima.

Yang kedua adalah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Konsepnya klinik spesialis dan day surgery di atas lahan seluas 13.000 m2. Terakhir di kawasan Jakarta Pusat, yang menurut Thahir, lokasi tepatnya masih direview.

Dalam menjalankan bisnis kesehatannya ini Grup Mayapada menggandeng National Healthcare Group asal Singapura yang memiliki reputasi international. Dipilihnya NHG karena mereka telah memahami psikologi kesehatan komunitas atas Indonesia yang senantiasa berobat ke Singapura. “Selain itu teknologi kesehatan yang mereka kuasai, sejauh ini diakui dunia,” imbuh Thahir

Sakit dan Sabar

Apa yang bisa saya perbuat ketika kondisi fisik tidak memungkinkan untuk melakukan aktifitas sehari-hari? Teman, ada pelajaran berharga yang saya ambil dari ‘ketidakberdayaan’ fisik saya. Pasca luputan di Bali, saya mengalami demam hebat, nyaris 40 derajat celsius. Demam ini terjadi pada sore menjelang malam selama tiga hari terakhir. Saya pikir, saya terkena demam tifoid lagi. Untuk itu saya tidak bersegera ke dokter. Saya ingin menikmati ketidakberdayaan ini dengan mencoba bersabar.

Nafsu makan yang berkurang, gairah beraktifitas menurun, dan juga badan pegal linu tak menyurutkan otak saya untuk terus bekerja. Sungguh, inspirasi dan kreatifitas dalam menulis, saya rasakan datang begitu saja. Ketika sakit dinikmati, ketika nyeri dihayati, dan ketika disfungsi anggota tubuh dimafhumi, saya menjadi sosok yang berbeda.

Berpikir lebih jernih, mengambil tindakan lebih arif dan bersikap lebih positif. Tiada daya upaya saya dalam menentang kehendak Sang Pencipta. Sakit dan sabar, melahirkan perspektif baru atas eksistensi saya dalam kefanaan dunia.

I am a Tough Gul

I had been debating with myself about writing this or not . I really don’t care if I’ll be called ‘narcist’ but I beg to disagree. All these ‘property’ stuff? gee, I lost count or just a proof of my being a ‘property’ journalist?  it’s kind of being a cycle now, in every single time, i have to search and seek something has to do with it. Actually I am tired!

It’s been 4 months, I am being alone. No one there for being by my side. But, guys, it’s not a big deal at all for me…..

Bali, Jauh Di Mata, Jauh Di Hati

Bali. Tanggal 19-22 Maret lalu, saya meliput topping off The Legian Nirwana Suites. Seperti biasa, acara saya ikuti dengan seksama dalam tempo selama-lamanya. Hiks hiks hiks…..Proyek ini berlokasi di area premium. Tepatnya berada di jalur Legian dengan akses langsung Pantai Kuta. Wuihhhh mantab!!!

Tak heran, harganya pun terbilang tinggi. Tapi, itu sepadan dengan yang bisa calon konsumen dapatkan. Pemandangan laut lepas, pengelolaan profesional oleh chain operator international Grand Mercure, serta keuntungan-keuntungan lainnya. Seperti garansi  6% per tahun selama tiga tahun pertama yang dihitung dari rental room rate sebesar 50%. 

Lupakan dulu keistimewaan-keistimewaan The Legian Nirwana Suites. Usai acara, saya berdua teman fotografer survey keliling Jimbaran, Nusa Dua, Kuta, Seminyak, Legian dan Dreamland. Sepanjang perjalanan, saya tidak menemukan sama sekali trauma akibat krisis multidimensi 1997, tragedi Bom Bali jilid I maupun jilid II.

Di mana-mana aktifitas berjalan seperti biasa dan lebih hidup. Turis asing (kendati tidak sebanyak dulu) bisa berkeliaran dengan bebas. Bebas nilai (berpakaian sangat minimalis), bebas melakukan apa saja (ada yang nyaris berhubungan seksual), bebas aturan (motor dan mobil saling salip dan terkadang lupa menghidupkan lampu sen) dan bebas sebebas-bebasnya dalam hal lainnya.

Beberapa proyek properti besar dan kecil seolah berlomba dengan denyut Bali yang kian malam justru kian dinamis. The Haven, The Replica, Seminyak Residences,  Banyan Tree, C151, The Sentosa Island, Anantara, dan hotel bintang lima baru di area Dreamland.

Saya sampai tak percaya, sebanyak inikah pengembangan properti Bali. Belum lagi private villas yang dibangun individu-individu yang kelebihan uang. Tersebar merata di setiap jengkal tanah Dewata.

Akan tetapi, apakah suplai yang sedemikian banyak dibarengi dengan permintaan? “Jangan khawatir. Seharusnya rasio ideal adalah sejuta ruang hospitalitas baru setiap tahun. Pasok yang ada belum memadai dan tidak mencukupi kebutuhan. Memang saat ini jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali cuma 1,7 juta jiwa. Ini angka yang terlalu kecil. Dengan potensi yang dimiliki Bali, seharusnya kita dapat meraup lebih dari 7 juta turis mancangera,” ujar Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk., Hiramsyah Sambhudy Thaib.

Benar juga. masak kita kalah sama Thailand yang tiap tahun dikunjungi oleh lebih dari 20 juta turis? Padahal jelas-jelas Phuket kalah jauh indahnya dibanding Sanur, Nusa Dua atau pun Kuta.

Namun begitu, tak hendak saya mempermasalahkan kesalahan ada di pundak siapa. Yang jelas, Bali semakin jauh melangkah. Dan kenapa saya beri judul Bali, Jauh Di Mata dan Jauh Di Hati? karena memang secara jarak tempuh, ia berada beribu-ribu kilometer jauhnya dari tempat saya di Cibubur. Meski jarak tempuh hanya 1 jam 20 menit dengan menggunakan pesawat, tetap saja bagi saya Bali sangat “jauh”. Kedua, Bali Jauh Di Hati. Di satu sisi saya merasa betah berlama-lama menikmati sunset dan sunrise dengan suasana romantis, namun di sisi lain, saya merasa harus cepat-cepat meninggalkan Bali.

Kendati Bali menawarkan gairah dan dinamika hidup yang bernyala-nyala, saya merasa Bali is not where i belong. Kenapa? Ya kenapa? Saya tidak tahu jawabannya. Dan saya hanya bisa menebak isi hati dan kepala saya justru pada saat saya mendarat di Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Tanda panah ke arah kiblat. Ini dia yang saya cari!!!! Jarum jam menunjukkan pukul 23.45 WIB. Saya bergegas menuju Damri, dan menemukan Sang Kekasih tepat pada pukul 01.15 waktu Cibubur…..

Grup Lippo Bangun 40 Mall hingga tahun 2010

Konglomerat properti, Grup Lippo, melalui anak perusahaannya PT Lippo Karawaci Tbk, berencana mengembangkan 20 lease mall baru hingga tahun 2010. Sementara ini yang telah dimiliki adalah 20 pusat belanja (10 strata title dan 10 lease mall). Termasuk Mega Mall Pluit yang telah diakuisisi dan berganti nama menjadi Pluit Village.

Brand Village di belakang nama mal akan akan menjadi nama identik mal-mal kepunyaan Lippo. Seperti Puri Village, Kemang Village, Pluit Village, Pejaten Village, Binjai Village, dan lain-lain.

Menurut Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Andreas Kartawinata, untuk merealisasi rencana tersebut pihaknya akan melakukan strategi akuisisi dan pengembangan baru. “Akuisisi dilakukan terhadap mal-mal yang berlokasi strategis, memiliki target market spesifik, dan potensial membawa keuntungan,” ujarnya.

Mal-mal yang kini tengah diincar Lippo adalah di kawasan Selatan dan Timur Jakarta. “Ada juga di luar Jadebotabek, Sumatera, dan Sulawesi,” lanjut Andreas.

Sementara untuk pengembangan baru, Lippo bakal konsentrasi di titik-titik pertemuan kota di beberapa kota besar di Indonesia. Salah satunya Pejaten Village. Ini merupakan proyek lease mall pertama yang dikembangkan Lippo. Dengan nilai proyek 50 juta US Dollar, lease mall ini berdiri di atas lahan seluas 2 Ha dengan total gross area selapang 58.000 m2. Sedangkan saleable areanya mencapai 40.000 m2.

Pejaten Village telah mendapatkan konfirmasi sebanyak 63% dari para tenan yang akan mengisinya antara lain, Parisian Department Store, Hypermart, yang nota bene merupakan subsidiary of Grup Lippo, Cineplex 21, Bookstore Gramedia, dan Time Zone.

Agung Podomoro Siapkan 2,2 triliun untuk Kuningan City

Satu lagi, mixed use development dibangun, Kuningan City. Berlokasi di jl Dr Satrio, proyek ini akan menelan investasi sebesar Rp2,2 triliun. Merangkum 2 tower apartemen strata title setinggi 40 lantai dengan jumlah masing-masing 468 unit, 31 lantai office tower seluas 64.000 m2, dan entertainment retail seluas 40.000 m2. Dilengkapi convention hall berkapasitas 1.000 orang, dan multilevel carpark yang menampung 3.400 kendaraan.

Kuningan City, sejatinya merupakan proyek mangkrak milik konsorsium yang terdiri atas kemudian diakuisisi Grup Agung Podomoro dengan nilai lebih dari Rp75 miliar (tanah).

Kehadiran Kuningan City akan menjadi ancaman serius bagi Ciputra World Jakarta. Keduanya menyasar pasar premium dengan kisaran harga lebih dari Rp15 juta/m2 untuk apartemen, 1.800 USD untuk offices dan Rp1,5 juta/m2 untuk mall.

Presiden Direktur Kuningan City Handaka Santosa mengatakan, “Kuningan City akan menjadi lifestyle hub baru. Terkoneksi dengan integrated development lainnya macam Kota Kasablanka, Mall Ambasador dan bahkan Ciputra World Jakarta,” ujarnya.

Wacana meng-‘Orchard Road’-kan kawasan Satrio, Kuningan, tampaknya mulai menghangat dan menemukan bentuknya. Saat PT Ciputra Property Tbk meluncurkan Ciputra World Jakarta, wacana ini kembali hidup. Namun, akankah bilangan Satrio menjadi Orchard Road-nya Jakarta?

“Diperlukan komitmen tinggi dan kucuran dana yang tidak sedikit. Tapi kami yakin, itu bisa diwujudkan. Hanya saja, kendala utama masihh soal sistem dan moda transportasi,” ujar Direktur Utama PT Ciputra Property Tbk., Candra Ciputra.

PR Officer Yang Menyenangkan

Saya berpadu janji dengan Dania dan Temmy di The Duck King, Pondok Indah Mall 2 untuk membicarakan press conference Autodesk yang akan diselenggarakan di Singapura, 28 Feb-1 Maret mendatang.

Kesan pertama saya terhadap mereka adalah friendly, apa adanya, dan asyik. Dan yang terpenting adalah tidak ada jarak di antara kami. Selain membicarakan tentang teknis keberangkatan dan agenda acara, mereka tak segan berbagi kisah pribadi. Setelah ngobrol lama dan melewatkan 5 menu masakan istimewa (saya berterima kasih pada Dania dan Temmy atas jamuan makan siang yang hangat dan berkesan), kami menuju pokok pembicaraan. Gak perlu lama. Mereka berdua sangat tegas, jelas, dan efisien dalam menjelaskan semua hal yang ingin saya ketahui.

Inilah PR officer yang representatif, mengetahui peran, tugas, fungsi dan posisinya….Yang penting apa yang mereka lakukan bisa diterima. Efisien dan efektif.