Jakarta Dikepung Pusat Belanja Baru

Isyarat kelebihan pasok (over supply) di sektor komersial ritel yang diungkapkan beberapa analis properti, rupanya dianggap angin lalu oleh para pengembang. Mereka menganggap yang berkembang saat ini justru sebaliknya. “Pembangunan pusat belanja baru harus dilakukan. Belum semua kebutuhan masyarakat terakomodasi dengan baik hanya dengan pusat belanja yang sudah ada,” jelas Direktur PT Lippo Karawaci Tbk., Andreas Kartawinata.

Direktur Pakuwon Group, A Stefanus Ridwan, juga mengamini. Menurutnya jumlah populasi yang bertumbuh saat ini tidak sanggup dan tidak sebanding dengan jumlah mal yang telah beroperasi. Saudara, pendekatan populasi dan realitas pusat belanja eksisting dijadikan motivasi utama para pengembang membangun pusat-pusat konsumtivisme komersial baru.

Lebaran tahun ini, Pejaten Village milik PT Lippo Karawaci Tbk direncanakan secara resmi beroperasi. Mal seluas 58.000 m2 itu disarati dengan tenan-tenan food and beverage, penyedia jasa hiburan dan lifestyle. Menyusul kemudian Pluit Village, nama baru dari MegaMall Pluit yang diakuisisi PT Lippo Karawaci Tbk., yang juga akan dibuka pada momen-momen puncak ritual itu.

Tak mau kalah dengan agresifitas PT Lippo Karawaci Tbk., pengembang Grup Ciputra, Grup Agung Podomoro, dan PT Bakrieland Development Tbk., juga berpartisipasi menyemarakkan sektor properti ini. Nama pertama tak puas hanya dengan dua proyek tersebut di atas, juga bakal membangun Puri Village di kompleks St. Moritz dan mal mewah di kompleks Kemang Village. Yang masing-masing memiliki luas bangunan di atas 130.000 m2. Sementara Grup Ciputra dan Grup Agung Podomoro akan menyulap kawasan jalur Satrio-Kuningan sebagai Orchard Road versi Jakarta. Mereka siap mendirikan mal seluas masing-masing 130.000 m2 dan 68.000 m2.

Walau proyek-proyek terakhir ini baru akan dikembangkan tahun ini dan rampung dua tahun mendatang, sudah bisa diproyeksi, betapa Jakarta akan dikepung pusat-pusat belanja baru. Tak sampai radius berbilang kilometer, dalam ‘depa’ pun kita sudah dihadapkan pada mal-mal yang ‘membelantara’. Tengok di kawasan Senayan yang sejatinya merupakan public area yang dikhususkan untuk ruang terbuka hijau (RTH) Jakarta, mengalami konversi demikian parah. Senayan City, Senayan Trade Center, Plaza Senayan, FX Plaza, ikut berkontribusi besar dalam mereduksi komposisi RTH ideal Jakarta menjadi hanya kurang dari 14% saja.

Tidak cuma Senayan dengan kondisi aktual memprihatinkan. Beberapa kawasan strategis Jakarta juga tak luput dari pengembangan mal. Sebut saja Mangga Dua. Di sini tak kurang dari 10 pusat belanja berjejer di ruas jalan tak lebih dari 5 kilometer. Kemudian Jl Dr Satrio, terdapat Mal Ambassador, ITC Kuningan, Ciputra World Jakarta, Kuningan Mega Land, dan Kuningan City. Belum lagi peresmian pembukaan Grand Indonesia shopping town yang juga akan grand opening pada Lebaran nanti, menambah jumlah mal baru menjadi 10 buah.

Uniknya, semua akan memulai operasinya pada saat Lebaran. Untuk tahun ini, 2009 dan 2010. “Inilah saat-saat puncak orang berbelanja dalam memenuhi kebutuhannya. Saya kira itu momen yang sangat tepat untuk dibukanya sebuah pusat belanja baru,” ujar Stefanus Ridwan yang juga Ketua Umum APPBI (Asoasiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia).

Ada yang keliru di sini, para kapitalis itu menganggap mal sebuah kebutuhan. Mereka menjajakan tenan-tenan yang sebagian besar pemegang waralaba brand asing. Apa yang bsia kita tangkap dari sini? ya akan semakin menggila pertumbuhan budaya konsumtif dalam masyarakat urban Jakarta. Dan lagipula mal-mal baru ini dibuka pada saat masyarakat Jakarta kalap membelanjakan uangnya. Tak sedikit pula yang membelanjakan uang suaminya, uang pensiunnya atau bahkan uang hasil pinjaman dari bank atau rentenir. Dan celakanya, masyarakat kita mau saja melarutkan diri dalam budaya kontraporduktif itu. Mereka tidak sadar bahwa dalih semakin bervariasi dan banyaknya tempat belanja, bukan untuk membentuk mereka menjadi manusia-manusia yang tahu kebutuhannya (needs). Justru menjerumuskan mereka untuk lebih dalam ke jurang pemuasan keinginan (wants). Dan kenapa kok para pemegang modal ini harus membuka malnya membidik momentum tahunan seperti Lebaran?

Iklan

3 Tanggapan

  1. We build the environment into a megacity
    We build towers… high rise buildings
    We build roads…. highways and flyovers
    We pour millions of cars & bikes into the streets
    We build malls, condos, hotels… all fancy look

    And we call it… PROGRESS !!!???

    <>

  2. Hmm is anyone else having problems with the pictures
    on this blog loading? I’m trying to figure out if its a problem on my end or if it’s the blog.
    Any suggestions would be greatly appreciated.

  3. When I originally commented I clicked the “Notify me when new comments are added”
    checkbox and now each time a comment is added I get three emails with the same comment.
    Is there any way you can remove people from that service? Many thanks!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: