Empat Pengembang Tunda IPO

Kondisi pasar modal yang menunjukkan bearish dan dipandang tidak cukup menguntungkan, menjadi alasan utama empat pengembang memilih menunda penawaran saham perdananya. Mereka adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk., PT Nirwana Kharisma Tbk., PT Metropolitan Land Tbk., dan PT Metropolitan Kentjana Tbk.

PT Metropolitan Land Tbk., PT Bumi Serpong Damai Tbk dan PT Metropolitan Kentjana Tbk., bahkan menjadwal ulang IPO-nya menjadi Juni 2008. Padahal dua yang pertama sempat merencanakan go public pada Januari dan Februari 2008. Sementara PT Nirwana Kharisma Tbk., belum memberikan keterangan resmi.

Langkah sebaliknya justru ditunjukkan PT Megapolitan Development Tbk. Mereka justru tidak gentar masuk bursa. Namun begitu, menurut Wakil Presiden Direktur PT Megapolitan Development Tbk., Melani Lowas Barack Rimba, pihaknya tengah menunggu window yang tepat, agar saham yang ditawarkan mendapat sambutan positif.

Adapun ketidakpastian kondisi pasar modal aktual ini diwarnai meluruhnya harga saham gabungan ke level terendah 2167,645 per 10 April 2008 atau anjlok 700 poin lebih dari angka tertinggi per 27 Desember 2007. “Sangat tidak mendukung bagi kami kalau dipaksa melakukan IPO sekarang,” ujar Corporate PR Manager PT Metropolitan Land Tbk., Wahyu Sulistio.

Dus, histeria melonjaknya saham-saham berbasis pertambangan terkait dengan harga minyak mentah dunia yang telah mencapai level terbaru 115 dolar AS per barrel (per 17 April 2008), membuat investor mengemohi saham sektor properti. “Preferensi investor jelas kepada saham sektor pertambangan dan komoditas,” ujar Arief Budisatria, analis PT Investindo Nusantara Sekuritas.

Saham properti yang ada saat ini saja diproyeksikan tidak akan mengalami pergerakan signifikan. Bahkan cenderung mengalami konsolidasi dalam kisaran yang lebar dengan tendensi menurun. Sebagaimana dikatakan Ratna Lim, analis MegaCapital Indonesia, hal ini terkait dengan situasi sentimen global yang tidak kondusif terhadap saham-saham sektor properti. Sektor properti sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga, daya beli masyarakat serta kondisi ekonomi. Di tengah situasi global yang tidak menentu dan menguatnya harga minyak mentah dunia, memicu timbulnya risiko inflasi karena kenaikan harga kebutuhan pokok.

Adanya risiko inflasi yang meningkat tersebut, menimbulkan kecemasan akan daya beli masyarakat yang melemah, suku bunga yang berpeluang stagnan atau naik serta pertumbuhan ekonomi yang melambat. “Inilah driven utama yang mendorong pergerakan saham sektor properti cenderung tidak bergairah akhir-akhir ini,” imbuh Ratna

Wajar jika akhirnya investor sudah memperkirakan lebih dulu bahwa tren penurunan suku bunga telah berakhir sehingga mengurangi insentif untuk investasi pada saham properti yang sangat terkait suku bunga. Sebab, “Sekitar 60-70% pembelian properti didanai dari KPR,” ungkap Lucky Ariesandi, analis AM Capital seraya menambahkan seharusnya untuk investor institusi dengan jangka waktu investasi panjang, saham properti Indonesia masih menarik karena peluang pertumbuhannya masih sangat besar.

Revisi Ekpansi

Dengan ditundanya IPO, ekspansi dan realisasi rencana-rencana strategis para pengembang tersebut terpaksa mengalami revisi dan penjadwalan ulang. Seperti yang dilakukan PT Metropolitan Land Tbk. Menurut Wahyu, pihaknya akan melakukan reschedul. Itu pun, jika pelaksanaan IPO-nya molor hingga tahun depan. Adapun ekspansi yang akan dilakukan pengembang beraset Rp3 triliun ini berupa perluasan lahan dan pengembangan proyek baru residensial.

Lain lagi dengan PT Metropolitan Kentjana Tbk. Kendati sangat membutuhkan dana IPO untuk membiayai proyek-proyek anyarnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan Sentra Primer Barat, Jakarta, tidak akan bertindak terlalu agresif. “Fokus kami saat ini adalah mematangkan desain proyek superblok baru di Sentra Primer Barat Jakarta seluas 17 Ha dan proyek apartemen, hotel serta Mal Pondok Indah 3,” ungkap Presiden Direktur PT Metropolitan Kentjana Tbk., Husin Widjajakusuma.

Sementara PT Bumi Serpong Damai Tbk yang mengharap Rp422 miliar dari penjualan sahamnya tetap konsentrasi pada pengembangan BSD City sektor Barat. “Saat ini yang tengah dikerjakan adalah pembangunan infrastruktur dan jembatan yang mengoneksi BSD City sektor timur dan barat serta perumahan Foresta,” jelas Corporate Communication Senior Manager Idham Muchlis.

Dari Rp422 miliar nilai saham ekspektasi, 32% dialokasikan untuk pengembangan proyek perumahan, komersial, kantor dan sarana penunjang lainnya. Sejumlah 25% untuk pembangunan prasarana, 20% belanja tanah, 13% pembayaran sebagian utang obligasi perseroan dan 10% sisanya dijadikan sebagai modal kerja.

Iklan

5 Tanggapan

  1. Senin, 12 Mei 2008
    Metro
    Yang Terkurung di “Tembok Berlin” BSD

    Penduduk desa harus melompati pagar setinggi tiga meter.

    Dari rumahnya di atas Bukit Moncol, Desa Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang, Robingatun, 45 tahun, memandang dua proyek raksasa yang sedang dibangun: gedung perkantoran Telkom dan Rumah Sakit Eka. “Kalau proyek itu selesai, warga di sini kian nestapa,” ujarnya kepada Tempo.

    Sudah tiga tahun berselang, 44 orang dari delapan kepala keluarga di RT 05, RW 01, Bukit Moncol megap-megap terkurung “tembok Berlin”–begitu mereka menyebutnya–yang didirikan PT Bumi Serpong Damai, pengembang perumahan BSD City.

    Sejak dibangun cluster Puspita Loka, Jalan Kemuning yang melintasi permukiman elite itu ditutup PT Bumi Serpong Damai. Pengembang itu memasang tembok dari lempengan beton durakon di bekas jalan desa yang bersinggungan dengan Jalan Kemuning. Akibatnya, akses warga keluar desa tertutup dan lingkungan menjadi tidak sehat.

    Menurut pengamatan Tempo, sebagian bekas jalan desa itu dibelah dengan pembatas pagar. Bekas adanya jalan desa itu terlihat dari tiang-tiang listrik yang masih tegak berdiri dan potongan jalan yang kini dibuat empang yang dibiarkan terbengkalai dan digenangi air limbah berbusa putih dari permukiman elite.

    Sejak dipagar, warga terpaksa harus naik dan turun melalui tangga untuk melewati pagar “tembok Berlin” itu, masuk ke cluster Puspita Loka dan menembus Jalan Kemuning. Lantaran jalan darurat itu tidak mungkin terus digunakan, dalam demonstrasi kedua pada Oktober 2007, penduduk mencungkil lempeng pagar persis di samping rumah Rizal Sofyan Gueci, untuk keluar-masuk kampung. Pembongkaran itulah yang membuat PT BSD memidanakan 10 warga desa dan mengantarkan mereka ke penjara.

    “Kini kami sulit ke mana-mana. Kalau hujan becek, pergi ke warung saja jauh. Apalagi mau naik angkutan harus berjalan satu kilometer,” ujar Robingatun.

    Dalam kurungan tembok beton yang mengitari rumah-rumah penduduk itu, rumah Robingatun berada di ujung, menghadap ke arah German Center. Dengan tetangga sekitarnya, rumah itu berbatasan pagar pendek setinggi pinggang. Tak ada halaman karena lempengan beton itu menjepit–pengembang hanya menyisakan celah selebar tiga jengkal. “Hanya cukup lewat satu orang. Kalau badannya gemuk mungkin tidak bisa masuk,” kata istri sopir bus jurusan Parung-Tangerang itu.

    Pendek kata, pagar beton keliling itu mengunci mobilitas warga. Tetangga Robingatun, Margono, 54 tahun, harus menerima nasib lantaran salah satu anaknya, Eko Budiono, sekolahnya tersendat. Mahasiswa Institut Teknologi Indonesia, Serpong, itu pernah dipenjara tiga bulan bersama delapan tetangganya karena unjuk rasa mengangkat pagar beton yang menutup jalan desa dan akses jalan ke rumah delapan warga itu.

    Selain Eko, ada Rizal Sofyan Gueci, doktor lulusan Jerman yang divonis enam bulan penjara dan 10 bulan masa percobaan. Ia dituduh menghasut warga dan dianggap pendatang baru yang tak layak unjuk rasa. Padahal, ia sudah membeli lahan di sana pada 1978. “Pembongkaran terpaksa dilakukan karena tidak ada jalan yang layak,” ujar Rizal kepada Tempo di rumahnya, Kampung Lengkong Gudang.

    Rumah Rizal persis di samping tembok itu. Bahkan, selain menutup jalan desa, pagar itu mengambil jalan yang tercakup dalam Izin Mendirikan Bangunan rumah Rizal. Koordinator peneliti di Mahkamah Konstitusi dan Lembaga Penelitian Indonesia itu adalah seorang pegawai negeri sipil yang juga dosen hukum di Swiss German University di German Center, tak jauh dari rumahnya. Ia paling gigih memperjuangkan hak-hak sipil warga kampungnya.

    Rizal beralasan lingkungan kampung menjadi kumuh dan tidak sehat karena terkurung. Tidak ada cahaya yang masuk dan lembap. Tak jauh dari permukiman, di areal proyek terdapat bedeng-bedeng berdinding tripleks yang dihuni puluhan pekerja proyek. Sampah teronggok dibiarkan dikerubuti lalat.

    Kondisi buruk itu memaksa Rizal dan istrinya, Yetty Limansastro, aktivis lembaga swadaya masyarakat prolingkungan, memindahkan sekolah dua putri mereka. Yang sulung pindah ke sekolah menengah atas di Kota Malang, adiknya pindah dari sekolah dasar di Desa Lengkong ke sekolah swasta lain yang jauh dari rumah mereka.

    Warga meyakini ada hak asasi yang dilanggar. Mereka mengatakan boleh dipagar, tapi sediakan jalan pengganti. “Kami propembangunan ramah lingkungan; sekarang kami dikurung, sumbangan oksigen tidak ada,” kata Rizal.

    Juru bicara Bumi Serpong Damai, Idham Mukhlis menyangkal ada pelanggaran hak asasi. “Kami sudah memberi jalan celah sebatas lewat orang,” kata Idham. Ia mempertegas bahwa PT BSD berhak melindungi aset-asetnya dengan memagari keliling tanah perusahaan. Pemagaran itu, kata dia, atas permintaan warga di cluster Puspita Loka yang merasa tidak nyaman. “Itu hak warga, apalagi perumahan cluster sudah iuran uang keamanan,” kata dia.

    Pengurungan ini telah membuat Daka Udin, anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang, meradang. “Pemerintah daerah harus segera membongkar pagar karena tidak ada izinnya,” kata dia pekan lalu. Pagar itu memang tidak dilengkapi Izin Mendirikan Bangunan. Menurut dia, Dewan akan meninjau untuk mengetahui apakah ada pelanggaran lingkungan.

    Persoalan izin ini ditepis Halusati Antonius Simorangkir, juru bicara PT BSD. “Itu kan bukan bangunan, kalau seperti pagar rumah begitu cukup izin tingkat kelurahan,” katanya. AYU CIPTA

    Jalan Berliku ke Bukit Moncol

    Tidak ada kaitan antara Ocean Park di BSD City dan Bukit Moncol, tapi lokasi wisata ini menjadi penunjuk jika ingin bertemu dengan sekelompok warga yang terkurung dalam tembok beton di permukiman penduduk yang dinamakan Bukit Moncol. Pagar setinggi tiga meter itu berada sekitar 500 meter dari Ocean Park atau German Center.

    Perjalanan ke sana tak bisa semulus jalan raya. Penduduk menggunakan jalan setapak dan melalui celah pagar seng. Itu pun harus melewati kanal selebar dua meter, lalu melewati jalan tanah, melintasi bedeng-bedeng proyek, menaiki undakan tanah liat yang licin kalau hujan.

    Di sisi kanan, ada jalan alternatif berupa kayu yang dipasang di atas kanal selebar dua meteran, lalu menaiki 20-an anak tangga semen yang berkelok bentuknya. Barulah sampai ke rumah-rumah penduduk yang terkurung itu. AYU CIPTA
    DIKUTIP DARI KORAN TEMPO ONLINE

  2. Wah kok aneh, PT Bumi Serpong Damai, Tbk go publik minta dana segar dari masyarakat, kok injak injak Hak Ekonomi Sosial dan Budaya warga dengan cara tak berbudaya mengisolir warga yang telah tinggal lebih dahulu disana. Dimana dilaksanakan Corporate Social Responsibilty you, kan prioritas pada tetangga dulu, baru ke daerah dan penduduk lain.
    Warga yang diisolir pejuang lingkungan, jelas ia tidak mau give up kalau lingkungannya dirusak. Ramah lingkungan loe PT BSD hanya lip service aja, standar ganda loe, ntar cepat atau lambat akan ketahuan, nah ketahuan loe gak ramah lingkungan.

  3. Gue mau beli saham atau mau invest di Serpong. Klo gini caranya gua gak jadi deh, beli saham PT BSD. Kan ada yang lebih lukratif dan ramah lingkungan seperti Alam Sutera. Ternyata banyak pengembang anggota REI di Serpong yang lebih taat hukum dan beretika, seperti Alam Sutera, Gading Summarecon. Ah gue kesana aja arahkan sisa dana gue buat invest. Invest di PT BSD gak usah , ternyata tanahnya banyak yang bermalah dengan rakyat. Kalau PT BSD gak junjung tinggi etika REI, tentu ia gampang ngelanggar hukum. Persaingan yang sehat lah.

  4. @trizzy and reza

    Anda orang yang sama ya… ini trizzy (IP: 125.161.245.167 , 167.subnet125-161-245.speedy.telkom.net.id)
    E-mail : problem_to_you@yahoo.com

    Please, yang sopan kalo bicara….

  5. untuk pengembang seperti PT.BSD agar jangan mengintimidasi warga yang lahannya bersebelahan dengan lahan milik PT. yang bersangkutan dengan cara mengisolir akses jalan desa yang sudah ada sebelum pengembang yang bersangkutan membeli lahan yang dimaksud seperti antara warga bukit moncol lengkong gudang yang lahannya bersebelahan dengan gedung perkantoran smart telkom. perhatikan aspek-aspek hak asasi manusia seprti hak atas jalan untuk mencari nafkah,pendidikan,sosial budaya,dan keaneka ragaman flora dan fauna.berikan alternatif jalan yang layak bagi mereka dan untuk kendaraan(baik roda dua maupun roda empat) jangan anggap mereka seperti binatang!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: