BOY

Dengarkanlah lelaki pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu Dewaku
Dengarkanlah kesungguhan ini

Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta

Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu

Iklan

Percepatan CBD Baru Jakarta Tergantung Komitmen

Matahari tak selamanya tenggelam di barat. Dalam konsepsi pengembangan Sentra Primer Baru Barat, ‘matahari’ itu justru tengah melesat melampaui horisonnya. Adalah Grup Lippo melalui anak usahanya PT Lippo Karawaci Tbk yang membikin paradoks itu kelak jadi nyata. Ya, Lippo telah menjadi katalis bagi eksistensi Sentra Primer Baru Barat (SPBB) dengan mega proyeknya St Moritz Penthouses and Residences. Menyusul kiprah PT Antilope Madju yang lebih dulu mengembangkan Mal Puri Indah, Rumah Sakit Puri Indah, berikut sentra niaga. Fasilitas-fasilitas ini mengambil porsi 66% dari 57,07 Ha lahan yang dikuasai anak usaha PT Metropolitan Kentjana Tbk itu.

Lippo bakal mengonversi 12 Ha lahan yang dibelinya dari PT Antilope Madju tahun 2005 lalu, menjadi sebuah global city yang mengintegrasikan sebelas fasilitas. Mencakup 17 gedung pencakar langit yang terdiri atas 13.000 unit apartemen, pusat belanja eksklusif seluas 450.000 m2 yang dilengkapi sarana hiburan sea world, hotel bintang lima The Aryaduta berkapasitas 500 kamar, 6.000 m2 convention center dan lahan yasa berikut spa sedimensi 2.500 m2. Diimbuhi Perkantoran strata title setinggi 65 lantai, Sekolah pelita Harapan, sport center, cinema dengan 10 studio, dan helipad.

Penjualan unit-unit apartemen eksklusif akan dimulai pada kuartal ketiga tahun ini. Tiga menara bakal diluncurkan secara simultan pada tahap pertama. Mereka adalah The St Moritz, The St.Tropez, dan The Monaco. Tahap pertama proyek ini diharapkan selesai dalam waktu 2 tahun dengan target pembukaan pusat belanja pada kuartal keempat 2010, diikuti dengan menara residensial dan fasilitas-fasilitas utamanya pada kuartal kedua 2011.

Sementara di wilayah timur, PT Bakrieland Development Tbk secara sadar memberanikan diri menjadi martir dengan proyek anyarnya Sentra Timur Residences. Proyek ini sendiri berada di kompleks Kota Baru Perumnas. Disebut martir, sebab di dalam area Sentra Primer Baru Timur (SPBT) sendiri belum ada pengembang swasta yang berkiprah. Baik PT Bakrieland Development Tbk maupun Perumnas pemilik lahan 2,8 ha yang dikerjasamakan, hanya memanfaatkan kedekatan lokasi dengan SPBT. Begitupula dengan PT Primaland Internusa Development yang bergabung dengan Perumnas guna mendirikan Rusunami Prima 1 di atas lahan 0,4 Ha. Adapun pola kerjasama yang ditawarkan Perumnas terhadap keduanya adalah berupa profit sharing.

Masuk akal jika hanya dua pengembang swasta itu yang berani bertaruh, kalau tidak bisa dibilang nekad. Sebab, kawasan timur, khususnya kecamatan Pulo Gebang sebagai cakupan administratif Kota Baru Perumnas, dalam kondisi aktual sekarang tertinggal jauh di belakang SPBB. Aksesibilitas yang terbatas dan infrastrukturnya belum dapat dikatakan mendukung. Akibatnya lingkungan pun tidak terbentuk sebagaimana mestinya. Dus, komitmen pemerintah masih setengah hati. Hal yang sangat disayangkan Achmad Widjaya, Direktur Utama PT Primaland Internusa Development. “Kami sudah mampu menjual 72% dari total 390 unit. Ini sebetulnya mengindikasikan bahwa pasar betul-betul antusias. Hanya, pemerintah tidak serius. Mereka tidak mendukung dalam sosialisasi maupun penyediaan prasarana umum,” keluh Widjaya.

SPBB dan SPBT memang berbeda. Kendati keduanya diciptakan saling melengkapi, namun kenyataannya kekinian SPBB lebih berkembang dan tumbuh pesat. Sementara SPBT dan Kota Baru Perumnas masih berkutat dalam revisi rancangan induk dan terganjal berbagai macam kepentingan. Disinyalir tarik ulur kepentingan para calon investor, salah satunya, inilah yang membuat SPBT ketinggalan momen untuk berkembang. Publik membaca, kesediaan PT Bakrieland Development Tbk mempertaruhkan kredibilitas dan kelasnya sebagai pengembang kaliber bukannya bebas ‘kompensasi’. Sebab, Sentra Timur Residences sejatinya merupakan proyek milik bertiga. Selain PT Bakrieland Development Tbk dan Perumnas, juga terlibat PT Jakarta Propertindo. BUMD ini berposisi sebagai perencana induk. Namanya perusahaan pelat merah, pasti memiliki banyak aset dan konsesi untuk dikerjasamakan dengan pihak pemegang modal.

Dari aliansi strategis tersebut, buah yang dihasilkan tentu saja sangat menguntungkan PT Bakrieland Development Tbk. Mereka mendapat konsesi pengelolaan atas tanah seluas 25 Ha milik PT Jakarta Propertindo di Waduk Melati, Jakarta Pusat, dan aset Pemda DKI Jakarta di Pulau Panjang, Kepulauan Seribu. Selain itu, sebagai integrated developer yang juga menggarap pembangunan jalan tol, Bakrie juga akhirnya kedapatan durian runtuh. Mereka mendapat tender pembangunan JORR seksi W2 (Ulujami-Kebon Jeruk).

Itulah rupanya motivasi utama PT Bakrieland Development Tbk menggarap Sentra Timur Residences. Kocek yang dikeluarkan sebesar Rp440 miliar menjadi kecil artinya jika dibandingkan dengan konsesi pengelolaan aset-aset BUMD lainnya. Mereka menyadari betul kalkulasi bisnis dengan pundi-pundi yang bisa dikoleksi kelak.

Sama halnya dengan Lippo, meski ‘metode’ yang digunakan berbeda. Mereka menggarap SPBB karena peluang mendatangkan untung besar terbuka lebar. SPBB memiliki tata ruang publik yang dinamis, tata letak kubikal dengan arus lalu lintas yang tak pernah putus serta daya tampung yang besar terhadap kegiatan perdagangan, jasa dan perumahan berkonsep vertikal. Didukung kelengkapan infrastruktur yang memadai dan tata lingkungan yang baik. SPBB dapat diakses dan dilintasi dari berbagai arah. Ia juga bersisian dengan Jalan tol Jakarta Merak dan dekat dengan Bandara Soekarno-Hatta.

“Dengan dasar itu, harga properti di wilayah SPBB diprediksikan akan terus merangsek naik. Masuknya Lippo akan meningkatkan nilai tanah dan properti di sini secara otomatis. Prestis SPBB menjadi pusat bisnis baru tak harus menunggu waktu lama. Cukup 5 sampai 10 tahun. Berbeda dengan SPBT yang butuh waktu sangat lama sekitar 15-20 tahun,” ujar Analis dan Manajer Riset Coldwell Banker Indonesia, Dwi Novita Yeni.

Kenaikan harga tanah dan properti itu nyata adanya. Pasca The St. Moritz Penthouse and Residences diluncurkan 2 April lalu, sulit mendapatkan tanah senilai Rp5 juta/m2. Pemilik lahan seolah berlomba untuk melakukan aksi hold atas asetnya dengan harapan akan mendapat harga tinggi. PT Antilope Madju bahkan telah memberikan sinyal tak akan melepas sisa lahannya yang belum dikembangkan. Karena, mereka tahu, jika Lippo mulai membangun proyeknya, harga juga ikut ‘bangun’.

Menurut analis properti independen, Budhi Gozali, harga tanah sebelum Lippo membeli 4 blok SPBB adalah sekitar Rp5 juta-7 juta/m2. Setelahnya menjadi Rp8juta-10 juta/m2. Kini saat pasar dikejutkan investasi besar-besaran dan spektakuler itu, meroket hingga capaian angka Rp10 juta/m2. “Bukan tidak mungkin akan melonjak hingga capaian maksimal Rp15 juta-20 juta/m2 dalam waktu lima tahun mendatang,” buka Budhi.

Strategisnya lokasi SPBB juga bakal bertambah nilainya jika JORR seksi W1-W2 terealisasi. Isyarat Kembangan sebagai cakupan administratif SPBB menjadi sebuah paragon, ditangkap Lippo dengan jitu. Mereka secara sadar memanfaatkan nama besarnya untuk mengangkat SPBB lebih mengangkasa karena potensi untuk itu memang tersedia. “Tak usah digali lagi. SPBB memang sudah berkembang dan tumbuh menjadi pusat bisnis baru. Kelas menengah dan premium di selatan, barat, dan utara Jakarta akan bangga memiliki The St. Moritz Penthouses and Residences,” ujar Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Michael Riady.

Lippo tak main-main. Mega proyek anyarnya ini dirancang serba ter. Tertinggi, terbesar dan termahal. Nilai investasinya hingga saat ini merupakan yang terbesar se-Indonesia, yakni mencapai Rp11 triliun.

Tak mau kalah dengan Lippo, PT Antilope Madju berencana menggarap 17 Ha lahan di SPBB yang masih dikuasainya juga menjadi superblok. Menurut Presiden Direktur PT Antilope Madju, Hussin Widjayakusuma, pihaknya akan membangun apartemen 10 tower, Mal Puri Indah 2, perkantoran, dan residensial eksklusif. “Kami akan memulainya pada kuartal ketiga 2008. Saat ini masih dalam proses pematangan desain,” imbuh Hussin.

Terbentuk Alamiah

Jika SPBB diproyeksikan menjadi pusat bisnis dan komersial baru yang berbasis residensial berpenghuni kelas menengah ke atas, maka SPBT cukup menjadi kawasan industri dan pergudangan yang mendasarkan pada residensial menengah ke bawah. Dengan karakter berbeda ini, perkembangannya pun berbeda pula.

Ini tak lepas dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang membentuknya. SPBB yang lebih dulu berkembang adalah residensialnya. Perumahan macam Permata Buana, Permata Hijau, dan Puri Indah dihuni oleh kalangan berstatus sosial dan ekonomi mapan. Sehingga karakter properti yang muncul kemudian, menyesuaikan diri terhadapnya. “Komersial yang dibangun pun akhirnya memang mengikuti kebutuhan para penghuni perumahan-perumahan di sana. Seperti pusat belanja keluarga dan perkantoran berbasis jasa dan perdagangan,” jelas Dwi Novita.

Kejenuhan sentra primer Jakarta (Sudirman Central Business District) di mana semakin berkurangnya ketersediaan lahan memberikan prospek yang baik bagi pengembangan komersial SPBB. Badan Pengelolaan SPBB mencatat, saat ini realisasi pertumbuhan pembangunan telah mencapai 65%. Meningkat signifikan dibandingkan tahun 2006 sebanyak 58,33% dan 2005 yang hanya 56,66% dari total lahan seluas 125 Ha. “Kami harapkan dalam jangka 10 tahun ke depan seluruh kawasan SPBB dapat berfungsi sesuai dengan perencanaan kota,” harap Ketua Pelaksana Harian Pengelola SPBB Baban Supandi.

Sementara SPBT dirancang sebagai pusat bisnis yang berkaki industri. Perkembangan industri di wilayah Cakung, Cilincing, dan Bekasi semestinya memberikan prospek yang baik bagi perkembangan SPBT. Maka properti yang mengikutinya mendukung sifat industri tersebut. Perumahan-perumahan yang dibangun, contohnya, merupakan perumahan sederhana yang disesuaikan dengan profil pekerja industri yang tidak membutuhkan style atau pun kelengkapan fasilitas. Begitupula dengan properti komersialnya, mengikuti kemauan pasar dengan karakter marjinal.

Harga tanahnya relatif lebih rendah, masih berkisar Rp500 ribu-1 juta/m2. Masuknya Bakrieland bakal memicu kenaikan yang lebih dramatis sekitar 25-30% jika pembangunan empat tower pertama dari rencana 11 tower Sentra Timur Residence, dimulai.

Lepas dari itu, kedua pusat bisnis baru tersebut akan terwujud dengan cepat jika masing-masing pihak yang terlibat, memegang komitmennya. “Di satu sisi, pemerintah harus merealisasikan dukungannya berupa kemudahan pemberian ijin dan birokrasi serta pembangunan infrastruktur, sisi lain, pengembang berpartisipasi membangun sesuai dengan acuan pemerintah. Percepatan ini otomatis akan meningkatkan daya saing masing-masing kawasan,” ujar Michael Riady.

Bali Masih Favorit

Hiramsyah Sambhudy Thaib, Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk., pernah berujar, Bali tidak akan mati. Ia akan terus bermetafora, selalu mengikuti dinamika peradaban yang tengah melaju dan bahkan Bali yang menentukan arah dinamika itu. Ujaran yang tak berlebihan. Kekinian Bali, tak lepas dari proses panjang dalam mempertahankan identitas sebagai destinasi wisata terbaik dunia.

Dengan begitu, ketika Bali mengubah posisinya menjadi pilihan investasi, terutama untuk industri properti, maka mata investor seakan terpaku ke sini. Tragedi bom beruntun beberapa tahun lalu, justru membuat iklim investasi di Pulau Dewata kian resisten dan semakin kuat. Sensitifitas pasar tereduksi dengan bangkitnya sektor pariwisata Bali. Anugerah ke 8 kali sebagai The Best Island of The World versi majalah Leisure, Amerika Serikat, menjadi energi kebangkitan itu.

Menstimuli naiknya permintaan yang diiringi pertumbuhan harga yang konsisten selama lima tahun terakhir. Menurut laporan konsultan properti Deloitte, harga properti terus mengisyaratkan stabilitas dengan pencapaian hingga 25 persen. Dan angka ini diproyeksikan menguat dua kali lipat dalam tiga sampai lima tahun mendatang. Statistik harga tanah juga memperlihatkan lonjakan yang dramatis. Bahkan di wilayah selatan Bali, seperti Uluwatu, Denpasar, Kuta, Sanur, Nusa Dua, dan Pecatu, mengalami apresiasi sebanyak 400% pasca krisis.

Dibarengi catatan positif tingkat penghunian kamar (TPK) di hotel-hotel dan vila secara umum. TPK tahun 2007 mencapai rata-rata 60,58% dan lamanya menginap tamu asing dan turis nusantara membukukan angka 3,34 hari. Memang, angka lama menginap tamu ini belum menyamai pencapaian sebelum tragedi bom, yang minimal 7 hari sekali kunjungan.

Namun demikian, masih ada faktor kuat lainnya yang mendukung investasi properti kian menarik di sini. Yakni jumlah wisatawan asing yang berlibur ke Bali memperlihatkan tren meningkat. Menurut catatan Biro Pusat Statistik (BPS) per Januari 2008, mencapai 147.300 orang. Naik 27,49% dibanding tahun 2007 pada periode yang sama. Tahun lalu, jumlah total wisatawan mancanegara mencapai 1.666.079 juta orang. Meroket 31,96% dari tahun 2006 yang sebanyak 1.262.537 wisatawan.

Dan karena itulah, pengembang sekaliber PT Bakrieland Development Tbk, dan PT Surya Semesta Internusa Tbk., tak berpaling dari Bali. Nama pertama bahkan lebih agresif. Mereka sudah memiliki portofolio Bali Nirwana Residence yang dikelola jaringan hotel Le Meridien. Tak puas sampai di situ, mereka membangun The Legian Nirwana Suites yang direncanakan beroperasi pada akhir 2008. Proyek ini sejatinya peremajaan properti lawas mereka yang berkonsep vila. Menyusul kemudian dua proyek; private villas di kawasan Ubud dan komersial di Seminyak.


Jejak kedua pengembang tersebut diikuti oleh Gramedia Group, Sosro Group, dan Agung Podomoro Group. Sementara pengembang lainnya seperti PT Panorama Development Utama, PT Kelapa New Kuta Beach, dan PT Trimustika menjalin aliansi strategis dengan PT Bali Pecatu Graha guna mengembangkan sejumlah properti di Pecatu Indah Resort. Belum lagi pengembang kecil dan individu serta investor mancanegara yang tergiur membangun vila eksklusif di sini. Sebut saja Outrigger Enterprise Group asal Amerika Serikat dengan dua proyek andalannya masing-masing O-CE-N dan Panorama Resort and Spa. Dengan padatnya pengembangan properti itu, diperkirakan kapitalisasi proyek properti di Bali membukukan angka tak kurang dari Rp3 triliun hingga Rp7 triliun.

Nominal yang mencengangkan, mengingat ijin membangun hotel dan vila di Bali sangat rumit, birokratis dan membutuhkan proses yang luar biasa panjang. Dus, akhir tahun lalu, sejatinya BI Denpasar telah mengimbau Pemerintah Provinsi Bali untuk menghentikan sementara pemberian ijin membangun hotel dan vila, karena menciutnya permintaan dan pasok berlebih. Akibatnya gerak pertumbuhan perekonomian Bali cenderung lambat. Selama 2007 hanya mencapai 5,8% atau hanya bergeser 5 basis poin dibanding 2006.

Namun demikian, hal itu tampaknya tidak menghalangi niat investor untuk membangun properti. Mereka optimis terhadap perkembangan sektor ini. “Saat ini, justru waktu yang tepat menggarap Bali,” tukas Hiramsyah.


Menurut analis dari Jones Lang LaSalle, Djodi Trisusanto, industri properti Bali belum memasuki taraf jenuh. Dus, bersifat khusus karena properti yang dibangun berorientasi pada transaksi sewa sebagai ujung tombak kegiatan pariwisata. “Dengan pulihnya pariwisata Bali, memberikan garansi industri properti juga ikut terpengaruh. Saat ini para pengembang berlomba membangun properti yang memiliki kualifikasi standar internasional,” ujarnya.

Untuk Kelas Premium

Tak hanya pencapaian segi kualitas, banyak juga properti yang menawarkan pemanis berupa keuntungan (yield) menggiurkan hingga mencapai lebih dari 5%. Menurut analisa Global Property Guide, vila-vila di sini secara umum menawarkan yield rata-rata sekitar 6% dengan harga jual rata-rata 905 dolar AS/m2. (lihat tabel).

Meski harga propertinya terbilang tinggi, pengembang tak khawatir propertinya tak terserap pasar. Sebab, mereka secara sadar membidik segmen pasar yang tidak sensitif terhadap harga dan tekanan inflasi. Yakni kelas menengah, atas dan premium. Vila-vila Banyan Tree Resort di bukit Ungasan, memberikan konfirmasi atas premis itu. Resor milik PT Surya Semesta Internusa Tbk., itu telah terjual sekitar 60% dari total keseluruhan 240 unit. Padahal harganya selangit. Untuk vila paling mungil seukuran 239 m2 yang hanya berisi satu kamar tidur dijual seharga Rp8 miliar. Selain faktor lokasi dengan lingkungan alam yang menawan juga operator jaringan hotel internasional Banyan Tree yang bisa menjamin kualitas pengelolaan.

Begitupula dengan unit-unit kondotel yang ditawarkan The Legian Nirwana Suites. Tak bisa dibilang murah. Kita harus merogoh kocek sebesar Rp2,915 miliar hanya untuk mendapati unit yang berisi satu kamar tidur berukuran 60 m2. Meski begitu, toh The Legian Nirwana Suites mencuat sebagai pilihan realistis untuk investasi. Hingga saat penutupan atap (topping off), telah membukukan 70% penjualan dari 220 unit yang dilempar ke pasar. Sementara 80 unit sisanya dijadikan sebagai aset jangka panjang.

Dikatakan Hiramsyah, bahwa pembeli properti di Bali mayoritas memang bermotif investasi. “Mereka memburu keuntungan dari properti yang dapat disewakan kembali dengan harapan mendapat keuntungan yang tinggi. Ekspektasi mereka inilah yang ingin kami wujudkan. Kami memberikan jalan dengan menawarkan properti dengan guaranteed return sebesar 6% per tahun selama tiga tahun pertama dan akan dikelola secara profesional oleh Grand Mercure (Grup Accor),” paparnya.

Hitung-hitungannya begini, harga jual Rp2,915 miliar dan guaranteed return 6% per tahun (Rp148.220.333) dengan asumsi keuntungan 5% per tahun (Rp123.516.949) dan asumsi stay conversion 21 hari (18.900.000), maka akan diperoleh total benefit sebesar Rp290.637.288. Atau Rp871.911.864 selama tiga tahun pertama. Nominal ini kelak meningkat seiring dengan potensi bertumbuhnya guaranteed return pada tahun keempat menjadi 8% selama lima tahun ke depan. Total benefit yang bakal diperoleh investor adalah Rp347.394.068. Dengan demikian balik modal akan terwujud pada tahun kedelapan investasi.

“Tawaran yang menarik bukan? Jangka waktu pengembalian modal investasi ini terhitung cepat. Dan angka-angka asumsi ini bisa berubah sesuai kondisi dan situasi pasar. Tren pasar di Bali mengarah positif. Dan ingat nama Accor adalah jaminan. Tamu-tamu mancanegara pasti mencari akomodasi yang dengan pengelolaan yang bermutu,” jelas Hiramsyah.

Digandengnya bendera berjaringan internasional juga diadopsi oleh PT Seminyak Suites Development. Pengembang Anantara Seminyak, apartemen eksklusif nan mewah setinggi 6 lantai, ini menggaet Anantara, brand asal Thailand. Tak heran jika visualisasi interior dan eskterior Anantara Seminyak sangat kental dengan nuansa tropikal khas resor dan vila di Phuket sana. “Dengan nama Anantara, kami lebih percaya diri dalam menawarkan properti ini,” ujar Direktur PT Seminyak Suites Development, Djoni Hasjim.

International chain operator (pengelola jaringan internasional) memang menjadi nilai tambah sebuah properti. Ada prestis dan kualitas di dalamnya. Dan itu dinilai Djodi sebagai preferensi pasar yang tengah berkembang di Bali. Menariknya, brand-brand yang bertarung di sini, khususnya yang mengelola vila dan hotel berkelas, bukan sembarang. Sebut saja Ritz Carlton dan St. Regis yang hanya dapat kita temui di kota-kota besar dunia, atau Bvlgari yang cuma ada dua di bumi. Satu di Milan, Italia dan lainnya ya di ranah kecak ini. Begitupula dengan nama Banyan Tree yang telah sukses membangun citra positif untuk resor-resor kelas dunia di kawasan wisata internasional macam Phuket, Maladewa, Bintan, dan Seychelles.

Ketika Pulau Dewata Dikepung Vila

Tahukah Anda, bahwa di Bali saat ini terdapat lebih dari 650 vila dengan total kamar 3.958 unit? Statistik yang diungkap sebuah situs broker properti lokal, Bali Real Estate Guide itu memang menarik. Menunjukkan pada kita bahwa gerak industri properti di sana memang berkolerasi positif dengan pertumbuhan industri pariwisata. Meski jumlah wisatawan yang datang belum menyamai rekor pada saat sebelum tragedi bom.

Selama turis-turis berdatangan, pembangunan hotel dan vila akan terus membelantara Pulau Dewata. Hingga saat ini, pengembangan terbanyak ada di Kabupaten Badung. Dengan persebaran jumlah vila dominan terdapat di Kecamatan Kuta Utara yang mengambil porsi 45,60%. Disusul kemudian Kecamatan Kuta 18,31%, Kuta Selatan 17,78%, Mengwi 17,61%, dan Abianemal 0,70%. Dari jumlah itu, sebagian besar berlokasi di pedesaan yakni 57,41% dan sisanya di pinggir pantai.

Jika beberapa tahun lalu aktifitas pembangunan terfokus pada kawasan segitiga selatan, Denpasar, Canggu dan Sanur, kini telah berubah. Mengingat tingginya harga tanah, polusi, kemacetan dan kepadatan telah mengubah minat investor untuk mencari kawasan potensial lainnya. Berikut beberapa area yang menantang dan menarik untuk digarap:

Seminyak

Kawasan menawan yang masih menjadi favorit beberapa pengembang besar menggarapnya. Termasuk PT Bakrieland Development Tbk. Selain memiliki akses yang memadai, lahan kosong yang tersedia masih cukup luas. Walaupun ada di sela-sela kampung. Harga tanah, meskipun melonjak tajam, namun masih terhitung realistis, sekitar Rp2,5 juta-3 juta/m2. Untuk investor individu, tersedia banyak vila dan residensial yang menawarkan return on investment dengan pengelolaan yang profesional dan komprehensif. Masuk akal jika harga satu vila dengan status lease hold mencapai 200.000 dolar AS untuk 1 kamar tidur. Sementara untuk properti yang menawarkan status kepemilikan (free hold) mencapai Rp60 juta/m2.

Bukit

Inilah kawasan yang sudah lama diincar oleh pengembang yang bermotivasi memenuhi kebutuhan komunitas premium. Terpicu oleh hotel Bali Cliff yang memiliki akses langsung ke Samudera Hindia dan pantai berpasir putih, maka nama-nama jaringan hotel internasional macam Bvlgari dan Banyan Tree hingga pengembang perumahan ternama mulai menjejakkan langkahnya. Bukit memang berposisi unik. Ia berada di ujung selatan Pulau Dewata. Semua investor berlomba ingin mendapatkan hook yang meliputi pantai berpemandangan samudera lepas. Lebih dari tiga tahun lalu, kawasan ini berevolusi. Dilintasi infrastruktur utama dengan kondisi memadai hingga Pura Uluwatu. Harga tanah masih terhitung rendah. Sekitar Rp1,8 juta/m2. Sementara harga propertinya mulai dari 300.000 dolar AS untuk vila satu kamar tidur.

Jimbaran

Jalan Raya Uluwatu mendadak popular ketika Hutomo Mandala Putra merintis pengembangan Pecatu Indah Resort. Inilah akses yang membelah Jimbaran hingga ke bukit dan melingkar sampai tanjung benoa dan menciptakan enklav-enklav properti prospektif. Jika pada saat sebelum krisis kita hanya mendapati properti berhitung sebelah tangan. Kini, tak ada sejengkal lahan yang bebas dari pengembangan vila. Jimbaran diprediksi para analis bakal kembali meroket pasca pengembangan kembali (reborn) Pecatu Indah Resort terealisasi. Apalagi jika hotel New Kuta Condotel sebagai trigger rampung terbangun. Saat ini, harga tanah masih relatif lebih rendah dibanding kawasan lainnya, yakni sekitar Rp1,5 juta-3 juta/m2. Ini berarti memiliki peluang untuk bertumbuh.

Nusa Dua

Inilah area yang secara tradisi sudah menjadi pilihan utama investor. Bukan sembarang investor, melainkan komunitas mapan baik secara ekonomi maupun status sosial kemasyarakatan. Nusa Dua memang cocok untuk para senior citizen. Harga tanahnya terbilang tinggi yakni sekitar Rp2,5 juta-3 juta/m2. Sementara propertinya mencapai 600.000 dolar AS/unit (satu kamar tidur).