Metafora “Negeri” Kebun Raya

Secara empiris sensual, tampilan fisik kota penyangga Jakarta ini memang telah berubah. Pengembangan baru terjadi di hampir setiap sudut kota. Tidak lagi terkonsentrasi di titik-titik yang secara tradisi memang terkenal sebagai pusat bisnis. Bicara Bogor kini tak sebatas Suryakencana, Juanda atau Padjadjaran. Maknanya telah meluas. Menembus tapal wilayah dan kepentingan. Galib jika akhirnya pengembangan fisik diikuti pula oleh bertransformasinya kebudayaan; gaya hidup dan persepsi masa depan.

Kekinian Bogor tampaknya jauh melebihi kesadaran realitas penduduknya. Ia melesat meninggalkan memori-memori nostalgis yang berpigura nilai-nilai tradisi, kekakuan sikap dan kerendahan untuk bersikap sama dengan Jakarta. Pembangunan properti komersial dan rekreasi serta arus wisatawan yang memadati fasilitas-fasilitas kota, tampaknya mulai menyadarkan Bogor untuk menjadi lebih tanggap terhadap dinamika konstelasi orbitnya, Jakarta.

Ya, kontribusi sektor properti tak bisa dinafikan begitu saja ketika kita membahas dampak eskalasi kota. Jalur-jalur utama yang dulu dirancang sebagai pusat pemerintahan dan permukiman elit, semakin menunjukkan bentuk kesadaran itu. Sebut saja Jl Padjadjaran. Jika tahun 1990-an hanya diisi oleh Internusa Plaza (kini Pangrango Plaza), sekarang tak kurang dari lima pusat belanja yang menyesaki koridor sepanjang lebih kurang 6 km itu.

Bergeser ke selatan, berdiri dengan gagah Ekalokasari Plaza. Menggenapi Sukasari Plaza yang telah membentuk identitas diri sebagai malnya etnis Cina di jalur Siliwangi. Belum lagi di pusat kota. Tiga mal bersaing membentuk barikade konsumerisme gaya hidup yang mengharapkan kedatangan para maniak shopper. Mereka adalah Taman Topi Square, Plaza Jembatan Merah dan Electronic World.

Apa yang menyebabkan para pengembang begitu giat membangun pusat belanja di Bogor? Ada bebarapa alasan logis dan realistis. Satu yang pasti, bertambahnya densitas populasi. Selain berkembang biaknya penduduk asli, juga datang dari kota-kota kecil seperti Sukabumi, Cianjur, Bekasi bahkan Tangerang. Karena Bogor, seperti kata Chief Business Development Officer PT Graha Andrasentra Propertindo (pengembang Bogor Nirwana Residences) Hendry Harmen, pilihan tepat untuk bertempat tinggal.

Para pendatang ini tentu saja membutuhkan permukiman dan fasilitas-fasilitas umum yang mampu mengakomodasi kebutuhan mereka. Jadilah, penduduk tambahan ini memukimi perumahan-perumahan baru yang dengan jeli dipasok oleh pengembang secara simultan. Bukit Cimanggu City misalnya. Perumahan yang dikembangkan oleh PT Perdana Gapura Prima (Gapuraprima Group) ini memiliki luas lahan 145 hektar. Mereka „menyumbang“ lebih dari 3.000 unit rumah yang masuk pengembangan tahap I seluas 80 hektar.

Rudi Kurniawan, Direktur Pemasaran Bukit Cimanggu mengatakan, saat ini pihaknya baru melansir sebuah produk baru yang dinamai Greenland Residence. Produk ini berkonsep green property dengan luas mencapai 45 hektar. Dilengkapi fasilitas ruang komersial. Dalam tahap awal pengembangannya akan dibangun klaster Riverpark yang terdiri dari 200 unit rumah dengan harga berkisar Rp270-550 juta/unit dengan tipe 45/105 m2 hingga 65/135 m2.

Menyusul PT Innovaco dengan proyeknya Taman Yasmin. Pengembangannya saat ini sudah memasuki tahap VII yang terdiri atas 200 unit rumah. Sebagian besar sudah terserap pasar. Seperti tahap sebelumnya, pengembangan tahap VII ini juga menawarkan unit-unit rumah berukuran besar, di atas 120 m2 dengan harga di atas Rp300 juta/unit.

Belum lagi Bogor Nirwana Residence (BNR). Arealnya yang seluas 1.500 hektar merupakan pengembangan terluas di dalam kota. PT Graha Andrasentra Propertindo telah berhasil menyulap kawasan Batu Tulis makin kesohor. Maklum, BNR dikembangkan dengan berbagai fasilitas yang memanjakan penghuninya. Bahkan BNR kini dipandang sebagai generator dan katalisator selatan Bogor. Selepas dibukanya The Jungle Awater Adventure Park pada akhir tahun lalu.

“The Jungle merupakan bagian dari Nirwana Epicentrum yang akan berisi berbagai fasilitas,“ jelas Hendry Harmen. Fasilitas tersebut berupa ruang komersil, apartemen, hotel dan bisnis. Saat ini BNR menawarkan klaster Grand Harmony, dengan harga mulai dari Rp300juta ke atas dengan ukuran terkecil 38/90m2.

Menurut Procon Indah, BNR merupakan perumahan paling aktif yang memasarkan klaster baru, yakni sebanyak 81% dari total pasokan pasar perumahan di Bogor. Procon juga mencatat Bogor sebagai kota yang penyerapannya atau penjualannya tertinggi dibandingkan kawasan lain di Jabodetabek, sebulan rata-rata 300 unit rumah.

Sahih belaka jika alasan-alasan tersebut di atas dijadikan motif para pengembang guna mendirikan juga pusat belanja. Dus, ceruk pasar kelas menengah dan atas Bogor bertambah serta pendapatan per kapita yang memang menunjukkan perbaikan. Menurut laporan Biro Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor pendapatan perkapita tahun 2007 sebesar Rp8,6 juta. Mengingkat 12,7% dibanding tahun lalu yang hanya Rp7,5 juta.

Pertumbuhan pusat belanja ini juga dibarengi dengan bertambahnya tenan baru seperty Starbucks, Giant Hypermarket, Hypermart, J.Co, Breadtalk, Electronic Solution, Ramayana, Gramedia, Time Zone, Cineplex 21 dan investor ritel kecil. Yang terakhir ini, militan dan tersebar merata di seluruh mal yang telah beroperasi.

„Peritel-peritel kecil inilah yang menjadi generator ekonomi mikro. Memiliki resistensi tinggi terhadap gangguan inflasi dan kenaikan harga. Kami juga mengakomodasi mereka di ruang komersial Nirwana Epicentrum,“ ujar Hendry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: