PT Paramount Land Development Akuisisi Proyek ‘Mati’

Sedikit pengembang asing yang seagresif PT Paramount Land Development. Pengembang yang berbasis di Singapura ini langsung menggebrak pasar properti domestik dalam kiprah perdananya. Mereka mengakuisisi proyek KSO Ambassador Gading Serpong (AGS) milik Grup Keris pada Oktober 2006 lalu.
Sejatinya, manuver strategis PT Paramount Land Development itu tidaklah terlalu mengejutkan. Mengingat orang-orang yang berada di belakangnya adalah para veteran profesional properti dengan karakter risk and challenge taker. Di antaranya, Tanto Kurniawan yang menempati posisi Presiden Direktur. Pria berkulit terang ini sebelumnya pernah menjadi pemuncak PT Jaya Real Property Tbk, PT Jaya Land, PT Jaya Garden, PT Jaya Fuji Leasing, dan PT Jaya Artek. Perusahaan-perusahaan tersebut dikenal sebagai pelopor dalam bisnis dan industri properti lokal. Salah satu proyek fenomenalnya adalah perumahan skala kota, Bintaro Jaya di Tangerang.
Ia juga sempat menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur PT Pembangunan Jaya dan Komisaris PT Bumi Serpong Damai. Selama bergabung dengan klan bisnis milik Ciputra itu, Tanto kerap melakukan aksi ambil alih proyek. Terutama yang tengah sekarat, alias mati suri. Tahun 1995, ia sukses membeli Puri Jaya seluas 1.800 Ha. Di tahun yang sama, giliran proyek 200 Ha Perigi Permai milik Grup Kalbe yang diokupansi sebelum setahun kemudian mengoleksi aset Grup Kalbe yang lain, yakni Kebayoran Regency. Yang terakhir ini seluas 400 Ha.

Sementara, rencananya meminang Kedaton Indah (Kedaton Golf City), portofolio eksklusif PT Duta Ratu Jaya (kini PT Duta Realtindo Jaya), gagal direalisasikan. Kasus-kasus hand over tersebut, pada saat itu menjadi fokus perhatian. Karena PT Jaya Real Property Tbk adalah satu-satunya pengembang yang aktif melakukan akuisisi. Tidak hanya karena skala aset yang diakuisisi berukuran raksasa, juga meningkatkan posisi tawar PT Jaya Real Property Tbk sebagai perusahaan yang baru listing di lantai bursa. Dengan pendekatan serupa itulah Tanto mengelola kendaraan barunya.

PT Paramount Land Development membeli AGS setelah mendapat tawaran dari PT Jakarta Baru Cosmopolitan (JBC) untuk menggantikan Grup Keris. Sekadar informasi, JBC merupakan perusahaan aliansi antara Grup Keris dan PT Summarecon Agung Tbk. Pada 2004, keduanya sepakat untuk bercerai dan fokus pada unit bisnis masing-masing dengan membentuk KSO. PT Summarecon Agung Tbk dengan KSO Summarecon Serpong, dan Grup Keris dengan KSO AGS.

Menjadi menarik dan tentu saja menimbulkan pertanyaan, mengapa PT Paramount Land Development menerima ajakan JBC untuk menggeser Grup Keris? Dari segi pembiayaan, bukankah tidak lebih murah kalau mereka membangun proyek dengan SIPPT baru? Lalu, apakah pertimbangan mendasar JBC untuk menjual AGS?

“Posisi tawar kami lebih menguntungkan. Karena AGS mengalami kesulitan finansial, cashflow-nya tidak aman. Sehingga tidak mampu membangun tepat waktu. Ini yang mengakibatkan penjualan tersendat, karena orang kadung kecewa ,” buka Tanto.

Oleh karena itu, pasca akuisisi, PT Paramount Land Development langsung merekonstruksi pasar. Di antaranya mengubah wajah AGS menjadi Paramount Lakes. Nama baru ini mengusung konsep besar ‘rumah sembilan danau’. Proyeksi pengembangan hunian sebanyak 5.000 unit, di atas lahan 333 Ha. Terdiri atas tiga distrik utama, residensial, komersial dan integrasi keduanya. Tahap pertama dibangun 479 unit rumah berukuran 128-216 m2 seharga Rp410 juta-689 juta, 52 unit rumah bandar [town house], dan 25 unit ruko.

Selain transformasi fisik, Tanto juga melakukan restrukturisasi organisasi manajerial. Mulai dari level direksi, manajer, penyelia, hingga tim marketing. Ia beralasan, Serpong sebagai lokasi Paramount Lakes terlalu menarik kalau hanya dikelola oleh sebuah sistem manajerial yang konvensional dan konservatif. “Apalagi, perkembangan nilai propertinya menunjukkan tendensi meningkat. Sekitar 20-30% per tahun kenaikannya. Lebih tinggi dibanding kawasan lain. Perkembangan wilayah ini akan terus berlanjut,” imbuhnya.

Karenanya, Tanto sudah berhitung. Dengan nilai investasi sebesar 1,5 miliar dolar Singapura (setara Rp9 triliun) untuk 15 tahun ke depan, Paramount Lakes bakal memberikan keuntungan investasi. Sebab, harga propertinya terhitung kompetitif. Dus, dengan pengembangan simultan, ia yakin Paramount Lakes akan menjadi sentra kota di koridor Serpong.

Di luar perumahan Serenade Lakes, Festival Lakes, Paramount Hill Golf, Paramount Spring, Springfield, dan Cashmere Curve, bakal dikembangkan area hot spot di kawasan CBD Paramount Lakes. Nantinya area ini bernama Paramount Digital Arcade (PDA) seluas 40 Ha yang terdiri atas pusat teknologi informasi Digital Junction dan Digital Mall, serta Paramount Offices and Hotels dengan teknologi wireless berbasis fiber optic.

Tak puas berhenti pada proyek Paramount Lakes, gebrakan PT Paramount Land Development terus berlanjut. Usai melakukan ekspansi lahan properti perdananya itu menjadi 600 Ha ke arah barat dan selatan, pada awal tahun, PT Paramount Land Development punya rencana besar lainnya. Saat ini mereka tengah bergerilya lahan di sekitar Jakarta Barat guna dijadikan sekuel Paramount. Pengembang mana lagi yang rela melego asetnya? Silakan menebak, apakah itu lahan milik Grup Kalbe (kebetulan kolega dekat Tanto), Grup Pondok Indah atau Grup Lippo?

Tanto hanya menjawab dengan senyum. Namun, yang jelas, menurutnya, bukan proyek pasien PPA. “Lokasinya sangat strategis di sekitar Jakarta Barat, dengan infrastruktur yang sudah terbangun dengan baik. Aksesibilitasnya pun sangat memadai,” urainya seraya menambahkan nantinya akan terbentuk poros Serpong-Jakarta Barat dengan Paramount sebagai episentrumnya.

Tentu saja, dengan rancangan-rancangan tak umum seperti itu (apalagi di tengah situasi yang kurang kondusif ini), dibutuhkan dana ukuran jumbo. Namun, Tanto tak gentar, karena kondisi ekuitas serta struktur finansial perusahaannya masih sanggup mengoleksi 4 hingga 5 perumahan skala kota lainnya. “Big is beautiful. Semakin besar cadangan lahan yang dimiliki sebuah pengembang, semakin cerah prospek kelangsungan investasi perusahaannya,” ucapnya. Lagipula, mengakuisisi itu lebih murah dibandingkan dengan mengembangkan sendiri. Pihaknya tidak harus mengorganisasi pembebasan lahan yang membutuhkan waktu lama. Sementara proses akuisisi lebih cepat. Karena, sesungguhnya, waktu adalah uang!

Iklan

2 Tanggapan

  1. Saya mempunyai banyak relasi tanah yg luas di JaBoDeTaBek, demikian jg dgn rumah. Apabila Bpk/Ibu berminat, silahkan hubungi saya di (021) 97586217. tks dewi

  2. Bagaimana pembebasan lahan yg dilakukan oleh paramount sendiri ?, karena tanah sudah diukur tetapi belumada kabar untuk pembayarannya, jangan sampai kejadian kasus lurah lili curug sangerang bermain dalam mark up tanah dan pembayaran bukan kepada pemiliknya yg tepat lahannya tetapi ada permainan, kasian orang kecil jg ditipu mulu (Berdasarkan informasi yang saya baca) saran saya biar laku perumahannya maka jg menzhalami, lakukan pembebasan dg manusiawi sesuai dengan kondisi saat ini walau pun lahan terpakai tetapi masih dapat gantinya berupa rumah juga. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: