Semarang Bangkit!

Semarang kaline banjir’. Potongan lagu tradisional yang begitu popular, ini merepresentasikan wajah Semarang sesungguhnya. Serupa dengan Jakarta, ibukota provinsi Jawa Tengah ini belum menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah klasik, banjir berkala. Kerap terjadi, terutama saat musim penghujan.

 

Meski demikian, itu tak menghalangi motivasi kuat para investor dan pengembang properti melirik kota ini. Tidak hanya pengembang lokal, juga skala nasional. Terakhir, Golden Flower Group Real Estate, melalui anak usahanya PT Cakrawali Sakti Kencana yang mengembangkan mixed use development Paragon City. Terdiri atas mal, hotel bintang 4 plus dan apartemen. Menyusul Grup Duta Pertiwi yang membangun komplek bisnis terpadu DP Mall. Konten proyek ini juga terdiri atas tiga fungsi properti yakni hotel, mal dan ruko.

 

Sejatinya, Semarang telah lama diincar investor properti nasional. Sebut saja Grup Ciputra yang telah berekspansi dengan mendirikan Ciputra Mall dan Hotel Ciputra yang dikelola Swiss Belhotel. Proyek properti integratif ini dikembangkan sejak 1992. Karena perkembangan bisnis properti di sini saat itu belum sedinamis seperti sekarang, komplek Ciputra Mall menjelma menjadi satu-satunya destinasi belanja dan hiburan di Semarang. Pusat belanjanya mencatat tingkat okupansi 100%, begitupula dengan hotelnya yang mampu bertengger di posisi nomor satu dengan keterisian sekitar 70-80% per tahun. Angka ini dipercaya bakal meningkat karena, Hotel Ciputra telah naik kelas menjadi bintang lima plus beberapa waktu lalu.

Menarik dicermati, mengapa pertumbuhan ritel dan hotel marak dalam kurun tiga tahun terakhir? Mengapa tidak seperti kota-kota besar lainnya di Jawa Tengah macam Solo dan Yogyakarta yang justru sangat berkiblat ke Jakarta dan telah melewati masa-masa puncak histeria pembangunan properti? Ini tak lain karena pulihnya daya beli masyarakat. Salah satu indikasi paling kuat menyembul adalah jumlah transaksi properti yang terbukukan selama semester I tahun ini. Sebanyak 300 unit properti rumah terserap pasar. Lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencetak angka 180 unit. Ada pun rentang harga jualnya antara Rp40 juta-2 miliar.

Selain itu, rencana pembangunan jalan tol yang mengoneksi Semarang-Solo, Semarang-Batang, dan Semarang-Surabaya, turut mempengaruhi kembali bergeraknya sektor properti di sini. Seperti yang diungkapkan Ketua DPD REI Jawa Tengah Sudjadi. “Sudah menjadi rahasia umum, pembangunan infrastruktur jalan bebas hambatan ini akan memacu laju pertumbuhan ekonomi sebuah kawasan. Bahkan bila jalan tol ini menjadi konektor antarkota, bisa dibayangkan pertumbuhannya bakal tersebar merata. Tidak terkonsentrasi di satu titik saja,” paparnya.

Infrastruktur jalan tol Semarang-Solo sejatinya telah diwacanakan sejak 1995. Hanya, baru terealisasi tahun ini dan pembebasan lahannya diproyeksikan bakal rampung pada 2008. Pengoperasiannya sendiri dijadwalkan pada 2009-2010 mendatang. Sistem transportasi terintegrasi ini diharapkan dapat menjamin tingkat produktivitas dan kemandirian Semarang, Solo, Yogyakarta dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah.

Secara geografis, jalan tol Semarang-Solo sepanjang 82,6 km ini diapit oleh dua propinsi (Jawa Barat dan Jawa Timur) dan menjadi penghubung antarwilayah bagian barat (DKI, Jawa Barat, Banten) dengan wilayah timur (Jawa Timur, Bali) serta Daerah Istimewa Yogyakarta di bagian selatan. Dengan cakupan geografi dan aksesibilitas yang begitu luas, dapat diprediksikan betapa daerah-daerah yang dilintasi akan mengalami akselerasi positif dalam pembangunan kehidupan sosial, budaya dan terutama ekonomi.

Pemprov Jawa Tengah sendiri telah melakukan kalkulasi investasi yang dibutuhkan untuk membangun jalan ini yakni sekitar Rp5 triliun–7 triliun. Pemprov Jawa Tengah juga mengajak masyarakat dan stake holder untuk berpartisipasi dalam bentuk penawaran saham. Komposisinya, 49% saham ditawarkan kepada investor dan masyarakat, 61% sisanya dimiliki Pemrov Jateng, pemkab/pemkot di Jateng yang terkena lokasi proyek tol, serta PT Jasa Marga.

Residensial Tumbuh Dinamis

Perkembangan aktual infrastruktur transportasi tersebut, disambut antusias para pengembang. Menariknya, yang berkiprah meramaikan konstelasi bisnis properti ini tak semata pengembang yang memang core business-nya properti, juga pengusaha garmen, batik dan kerajinan. Hingga Juli 2007, tercatat 18 pemain baru yang berasal dari tiga ranah bisnis tersebut. “Jadi, total pengembang aktif yang tercantum dalam keanggotaan DPD REI Jateng sampai saat ini sebanyak 85,’ ungkap Sudjadi.

Kontribusi mereka antara lain dalam pengembangan proyek baru di sektor akomodasi (hotel), pusat belanja dan perumahan, dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Ini berarti lebih dari separuh total nilai investasi properti se-Jawa Tengah yang mencapai Rp5 triliun. “Para investor ini menyadari bahwa Semarang sudah kian terbuka dan memiliki potensi pasar yang besar. Tidak lagi menjadi ‘halaman belakang’ dari Solo dan Yogyakarta. Dus pemberlakuan insentif berupa kemudahan berinvestasi seperti perijinan kian mendorong terciptanya iklim bisnis yang kondusif sekaligus kompetitif,” tandas Sudjadi.

Ada pun sub sektor yang langsung dapat tumbuh lebih dinamis sebagai dampak dari bakal semakin terbukanya kota pantai ini adalah residensial. Kendati, menurut hasil riset BICI Asia,  pengembangannya lebih banyak di kawasan Semarang Atas dengan topografi lahan yang berbukit sehingga tidak teraglomerasi di satu titik. Karakter pasarnya lebih khas, dibanding kota-kota lainnya. Calon konsumen baru akan memutuskan membeli, jika properti yang diinginkannya telah tegak berdiri. “Ini salah satu tantangan besar sekaligus cambuk bagi kami agar dalam memasarkan properti jangan hanya jual gambar. Tapi juga harus punya komitmen untuk segera merealisasikan proyeknya,” tandas Komisaris PT Cakrawala Sakti Kencana, William Po.

Pasar residensial Semarang juga dikejutkan oleh pengembangan baru perumahan skala kota (township development) yakni Bukit Semarang Baru. Ini merupakan salah satu komplek perumahan terbesar dengan luas lahan 1.000 Ha dan akan dibangun dalam 4 tahap. Lokasinya sendiri berada di kawasan Mijen, 12 km arah barat pusat kota. Bukit Semarang Baru yang dikembangkan PT Karyadeka Alam Lestari ini juga merancang Kawasan Niaga Terpadu BSB di atas lahan seluas 30 Ha. Dalam future development-nya tercantum pula pengembangan Taman Tekno BSB yang merupakan kawasan industri dan berisi HiTech Industrial Park seluas 25,04 Ha, Techno Plaza (2,09 Ha), Light Industrial Park (29,11 Ha) dan Youth Industrial Park (17,20 Ha).

Sementara Royal Family Residence meramaikan bursa transaksi residensial kelas atas. Berlokasi di Semarang Bawah, tepatnya kawasan Mutiara Marina. Perumahan ini dibidani CV Family dan telah memasuki tahap akhir pengembangan. Sekitar 125 unit rumah bergaya klasik modern telah berdiri, menyusul kemudian pembangunan sentra komersial berupa komplek ruko seluas 11 Ha.

Tak kalah pesat adalah pertumbuhan subsektor hotel dan pusat belanja. Hingga Juli 2007, tercatat 7 hotel baru, baik yang baru beroperasi maupun yang akan dibangun. Mereka adalah Afta, Candra Buana, Dusit, Gumaya Palace, Holiday Inn, Ibis dan Java Supermall Hotel. Sehingga menggenapi jumlah hotel yang beroperasi menjadi 36 buah.

Menyusul kemudian empat pusat belanja gres yang digarap oleh empat pengembang. Di antara para pengembang ini terdapat Grup Duta Pertiwi yang melansir DP Mall berstatus sewa jangka panjang 5-10 tahun. Sebagaimana kita ketahui, Duta Pertiwi merupakan ‘raja’ pusat belanja berkonsep strata dan lease sejumlah 14 buah.

Meski menurut Corporate Secretary PT Duta Pertiwi Tbk., Feniyati Tenggara, DP Mall dikembangkan oleh sister company-nya yakni PT Wijaya Pratama Raya. Namun, “Adalah sebuah kebanggaan, jika pengembang sekaliber Duta Pertiwi mau menggarap pasar Semarang,” ucap Sudjadi. Dengan kegairahan seperti ini, bukan tidak mungkin Semarang bakal masuk dalam percaturan sebagai destinasi investasi utama bisnis dan industri properti nasional.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: