Nurul Qomaril Arifin, Sebuah Narasi Tentang Depatriarki

It’s important to remember that Woman at Point Zero does not limit our thoughts and knowledge to a middle east that many people find so different or horrible, where must have a few decent men

“Perempuan itu harus memiliki kapasitas dan kompetensi yang setara dengan laki-laki, “ adalah nilai-nilai feminisme terusung dari seorang yang telah mengalami pencerahan luar biasa, Nurul Qomaril Arifin. Dari glamoritas bintang bertahbis ‘magma’ perfilman Indonesia hingga menjadi sosok aktual saat ini, perempuan nan elok dipandang itu, menguak subordinat yang dipaksa membentuk kodrat, patriarkis.

Nurul, memang bukan Nawal El Saadawi, feminis dan penulis Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol) yang kenyang pahit-sakitnya hukuman pemerintah Mesir di bawah rejim Anwar Sadat akibat tulisannya yang berorientasi isu tabu di sekitar perempuan dan seksualitas. Kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 ini sadar betul, bahwa patriarkisasi di Indonesia sudah mendarah daging dan mengalami pelembagaan (civilization). Bahkan, “Untuk sekadar menunjukkan identitas saja, mereka masih under estimate,” tukasnya beranalogi tentang dilecehkannya keakuan perempuan oleh ‘mereka’ kaum adam.

Untuk itu, bagai memindahkan sebongkah karang ke dalam seonggok botol, sangat sulit melakukan dekonstruksi budaya patriarki. Baginya, perempuan yang sudah memiliki sebuah good willing untuk terbebas dari cap ‘jongosnya’ laki-laki, dalam segala hal, patut mendapat apresiasi. “Karena mereka bergulat dengan antara keinginan memuaskan hidup sendiri, dan status sosial yang diembannya,” kata pemilik senyum menawan di atas tahi lalat setitikan ini.

Dan, bermetaforanya Nurul, diawali dengan proses menyelami kehidupan wanita tak beruntung yang dimarjinalkan secara paksa oleh berbagai macam pranata sosial dan sekaligus regulasi yang memihak laki-laki. Melakukan serangkaian advokasi dan mediasi bahkan juga konseling pekerja seks komersial, korban kekerasan domestik, dan penderita HIV/AIDS. Kendati untuk aktifitas yang melambungkan kembali namanya ini, Nurul menolak sinisme, “Dia menjadi seperti saat ini karena Mayong,”, tak urung dia tetap menganggap wartawan Intisari, suaminya itu sebagai inspiratornya.

Tapi, ketika diingatkan kembali bahwa persuaannya dengan lelaki rupawan berjuluk lengkap Mayong Suryo Laksono, itu adalah juga bernuansakan ‘pelecehan ragawi’, blasteran Sunda-Belanda ini sedikit tercenung. Ketika dia sedang berada di atas jagat kepopuleran, Mayong menjadikannya profil utama tabloid Monitor pimpinan Arswendo Atmowiloto. Dalam halaman berwarnanya, tertulis dan terlukiskan Nurul dalam keindahan ragawi secara detil. Mulai dari lekukan bibir, belahan dada, tungkai kaki, hingga dua puluh jemari tangan dan kaki yang disebut Mayong sebagai ‘biasa’ saja tapi memiliki aura mempesona.

Itulah Nurul. Di balik citra yang impresif dan mampu membangkitkan kembali sumbu api para feminis Indonesia, adalah perempuan kebanyakan. Tidak bisa lepas dari alter ego, karena baginya, tanpa Mayong, belum tentu dia kenal dengan John Naisbit, Friedrich Engels atau Nawal El Saadawi.

Meski begitu, harus diakui bahwa kita menikmati Perempuan dan Teh Botol, Ada yang Menunggu Perceraian Saya dan beberapa kelebat suara dan gestur tubuhnya dalam pentas seminar atau dialog. Itu beberapa contoh pengembaraannya menjelajahi kepuasan intelektual dan sensual empiriknya. Untuk yang satu itu, mengeliminasi kontrabudaya ‘menjajakan diri’ yang dianggap sebagai profesi setua manusia, Nurul lebih memilih langkah moderat. Menerapkan politik kondomisasi, seks sehat dengan pasangan, dan harmonisasi keluarga, agar, “Pasangan kita tidak jajan lagi di luar ha..ha..ha,” derainya tergelak.

Aktifitas intensnya tersebut juga telah mengantarkan kehidupan ibunda Maura Magnalia Madyaratri dan Melkior Mirari Manusakrtri ini bersentuhan dengan dunia politik. Akan sia-sia mengumbar omongan, lanjutnya, jika tidak terlibat dalam sistem. Karena itulah dia tidak menolak ketika ditawari ‘berjuang’ dalam lingkaran yang berpotensi terjadinya perilaku yang diungkapkan menjadi aforisme tajam oleh John Emerich Edward Dalberg Acton dalam bukunya The History of Freedom, sebagai power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely.

Sejatinya, dunia maskulin itu bukan barang baru bagi Fun Fearless Female 2002 versi Majalah Kosmopolitan ini. Almarhum ayahnya, Moh Yusuf Arifin telah lama mengenalkannya dengan Golkar (kendaraan politik Nurul). Sebab, Pak Yusuf ini pernah menjadi fungsionaris Golkar Jawa Barat. Tapi, bukan karena pengaruh lingkungan domestik yang membuatnya memilih partai produk Orde Baru itu. “Saya pikir Golkar adalah partai yang sudah terbukti dan teruji. Meski tetap punya konstribusi kesalahan juga atas terpuruknya bangsa ini,” ujar penuntut ilmu di Program Ekstensi FISIP Universitas Indonesia ini.

Lantas apa yang diperjuangkan Nurul? Masih relatif klasik dan klise, kalau boleh dikatakan demikian. Belum ada isu baru yang diperjuangkan seperti how to decrease trafficking, prostitution, dan juga hipokritas dalam tataran aplikasi. “Saya paling benci kemunafikan,” begitu Nurul menggeram, “Bahkan di tubuh Golkar sendiri, para hipokrit masih bebas bergentayangan. Tapi, walau demikian, saya merasa nyaman karena masih banyak kader lain yang welcome dan mendukung ide saya,” yakin nominator lima kali Piala Citra ini.

Jadi, imbuhnya, mau berjuang sekeras apa pun jika di kanan-kiri masih bercokol orang-orang munafik (parahnya ada di antaranya kaum perempuan, dan Nurul menganggap para perempuan legislator saat ini tidak berjuang maksimal), tetap sebatas wacana. “Masyarakat masih menganggap saya cuma mimpi,” tandas anak ke-10 dari sebelas bersaudara ini.

Aih….Nurul, ternyata, memang telah berubah. Rangkaian kata dan kalimatnya jauh lebih terstruktur dan sangat sistematis. Karena, “Saya mau belajar,” ungkapnya. Di mana pun berada, Bali, Singapura atau Bandung, tempat favoritnya, dia selalu belajar. Bahkan, kepada Maura, anak sulungnya, Nurul tak malu menimba ilmu, “Khususnya bahasa Inggris. Dia fasih sekali. Padahal umurnya baru 10 tahun,” bangganya. Karenanya, sebagai imbalan ‘berganti posisi’ itu, Nurul selalu menyelami kemauan anak-anaknya dengan lebih bijak. Sebijak dia memperlakukan suami dan memosisikan dirinya sesuai dengan komitmen mereka berdua. Bukan subordinat, tidak juga superordinat.

Iklan

2 Tanggapan

  1. btw, yang di sang pemimpi tuh nurul arifin bukan, sih?
    penasaran nih….

  2. itu rieke diah pitaloka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: