Dhenis Berthome

Gee…. inilah bule Prancis yang paling tidak ramah yang pernah saya temui. Jumat lalu, 27 Juni, saya menghadiri press conference Autodesk di Hotel Shangri-la Sudirman, Jakarta Pusat. Salah satu pembicaranya ya si bule ini. Ketika sampai pada sesi Q and A, saya menjadi penanya ketiga yang menuntut penjelasan lebih detil mengenai produk software Autodesk yang terkenal sangat mahal. Dus, saya juga bertanya market share Autodesk di Indonesia dan posisi Indonesia di region Asia Tenggara.

Jawaban yang saya dapat sangat tidak spesifik dan karena Autodesk tercatat di bursa Nasdaq, maka saya dipaksa harus puas dengan jawaban Dhenis yang formal itu. Saya sedikit terkejut, karena tiga bulan sebelumnya kami telah saling berkenalan dan bertukar pikiran secara serius di negeri Singapura dalam event Autodesk World Press Day.

Hanya, mengapa ketika dia jadi pembicara di Jakarta, perangainya berubah? cenderung jutek dan agak tertutup. Apa karena Jakarta dipandang sebelah mata, atau belum terlalu penting untuk Autodesk mengumbar informasi terlalu banyak kepada para jurnalis di sini?

Ah, saya menjadi sedikit geram. Tapi itu hanya sebentar, apa hendak dikata. Pelitnya Dhenis memberikan informasi memang sangat berdasar. Indonesia, kendati dianggapnya sebagai pasar potensial (atau cuma basa basi), pada kenyataannya sangat jauh dibandingkan Vietnam yang sama-sama negara berkembang.

Pengguna software Autodesk di Indonesia tak lebih dari 100.000 ribu orang, sementara di Vietnam, menurut seorang kawan jurnalis yang juga menghadiri World Press Day, sudah lebih dari 350.000. Wah ada apa ini?

Menurut kawan saya tadi, kontribusi Indonesia untuk perolehan Autodesk boleh dibilang masih minim. Tak salah memang, karena kantornya saja masih berusia balita. Selain itu, kalau ini menurut saya, strategi marketing dan juga penetrasi yang kurang menggigit. software Autodesk hanya diperkenalkan di beberapa perguruan tinggi saja. Ini menghambat sosialisasi maksimal yang diinginkan Dhenis. Kalau saja, setiap pihak yang dipandang sebagai pasar strategis menjadi sasaran target pasar, seperti jurnalis, arsitek, kontraktor, dan lain-lainnya mendapat edukasi how to use this kinda exclusive software, maka hasil sosialisasinya mungkin akan jauh lebih maksimal.

Pendek kata, jurnalis perlu diberi pengetahuan dan informasi lebih detil dan mendalam soal software dan aplikasinya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menulis produk teknologi mutakhir ini…. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: