Arogansi Staf Marketing Casamora asal JLL

Siang ini saya bersama teman fotografer dan driver melakukan tugas liputan, survey dan investigasi ke beberapa proyek perumahan baru di wilayah Selatan Jakarta. Ada beberapa perumahan yang masuk dalam daftar survey, di antaranya Utopia, Casamora, Fenomerad, Villa @ Kebagusan, Permata Lebak Bulus, Aruba, Siaga Residences, dan Pejaten Residences.

Kecuali Casamora (milik PT Casabona), yang lain saya lalui dengan lancar. Dalam arti baik pengembang maupun marketingnya menyambut dengan baik dan ramah. Kendati kami terlebih dulu mengabadikan proyek-proyek tersebut, sebelum menemui si empunya proyek.

Ketika memasuki gerbang Casamora di daerah Cilandak, Jakarta Selatan, kami meminta ijin petugas keamanan (Satpam) untuk melihat-lihat kondisi aktual dan letak kantor pemasaran perumahan bersangkutan. Pak Satpam, dengan ramahnya membukakan gerbang sekaligus menginformasikan lokasi kantor pemasaran.

Kami pun beranjak mengelilingi proyek sambil mengambil gambar beberapa unit rumah yang sudah rampung pembangunannya. Ketika kami asyik mengambil gambar, dan mencoba memutar balik kendaraan untuk melihat unit-unit rumah yang lain, dari jauh kami melihat seorang perempuan berkulit terang berdiri di tengah jalan, tepatnya boulevard perumahan.

Dari jarak pandang 10 meter, si mbak yang kemudian kami ketahui benama Tentri ini terlihat berkacak pinggang. Ketika kami dekati, dia langsung menegur kami dengan suara lantang dan keras sambil menunjuk-nunjuk muka kami, disaksikan para pekerja bangunan, “Stop, Anda tadi syut ya. Kita bisa bicara nggak. Anda tahu tidak kode etiknya…. dan bla-bla-bla….”

Kami menyadari situasi dan turun dari kendaraan, mengikuti Mbak Tentri. “Kamu tahu tidak, ini private banget. Nggak bisa sembarangan orang masuk. dan kalian mengambil gambar tanpa ijin. Kalian harus menemui Project Manager kami di dalam. Karena dia yang bertanggung jawab. Saya sering dikomplain penghuni karena membiarkan sembarang orang masuk. Tahu tidak, ada kode etiknya”, cerocos Tentri tidak memberikan kami kesempatan bicara, dan sambil menunjuk-nunjuk muka kami. “Nggak bisa kayak gini. Saya sering dikomplain. Ini private sekali. Even majalah Asri atau Laras, kamu nggak bisa sembarang masuk,” gerutunya sambil memperhatikan kami dari atas hingga bawah dengan pandangan menyelidik.

Kami pun digiring menuju sebuah rumah, yang kemudian kami ketahui sebagai kantor project manager. Sambil menunjukkan jalan, Tentri tak berhenti ‘mengomel’. Tak tahan dengan omelannya, kami pun pada akhrinya buka suara. “Mbak kami memang keliru mengambil gambar tanpa ijin. Dan untuk itu minta maaf. Tapi kami tetap akan menemui pemilik perumahan. Dan kami masuk tadi sudah ijin pada petugas keamanan di depan,” ditukas oleh Tentri, “Tapi kan kalian harus patuhi kode etiknya,” tanpa menjelaskan tentang kode etik apa, dia terus menerus mengomel.

“Tunggu kalian di sini,” tukasnya sambil berlalu ke dalam sebuah ruangan. Kami pun dibiarkan menunggu di seuah lorong yang berdebu. Sekitar 10 menit dia berada di dalam ruangan project manager dan terdengar dari dalam dia beradu argumen dengan project manager.

Tak lama setelah itu, sang project manager bernama Ika pun menemui kami dan menjelaskan prosedur yang harus kami taati. Berbeda dengan Tentri yang langsung mencak-mencak, Ika terlihat lebih luwes, santun, dan beretiket. Padahal Tentri, menurut Ika, adalah marketing dari sebuah kantor konsultan properti ternama bereputasi internasonal, Jones Lang LaSalle.

Saya pun memaklumi dan menyetujui prosedur yang diajukan Ika sambil berjanji untuk menghapus semua gambar unit yang tadi sempat kami ambil. Kami pun bertukar kartu nama. Mendengar Ika menjelaskan dengan lebih luwes dan intonasi yang lebih bersahabat, Tentri pun ikut ‘menasihati’ kami agar lain kali meminta ijin dirinya atau project manager sambil berlalu dari hadapan kami.

Akan tetapi, ‘kesantunan’ Tentri hanya di depan kami bertiga. Di belakang, dia masih menggerutu dan memarahi mandor (?) serta pekerja bangunan dengan suara keras. Maksudnya mungkin supaya bisa didengar oleh kami. Begini katanya, “Bilang sama tuh satpam, jangan sembarangan masukin orang. Gua udah capek ngasih tahu,” lantangnya dengan suara keras dan berintonasi ‘menyuruh’.

Kami hanya bisa saling pandang. Ika pun menyembunyikan rasa malunya dengan mengatakan. “Iya Mbak, maaf tadi harus distop pemotretannya. Kirim saja surat permohonan wawancara. pasti kami respon kok,” ucap Ika. Setelah berbasa basi, kami pun minta diri.

Inilah kali pertama kami mengalami hal seperti ini. Dibentak-bentak dan diperlakukan seperti pencuri. Diteriaki bak maling tertangkap basah. Padahal kami sudah meminta ijin Satpam, dan membawa contoh majalah sebagai bukti serta kartu nama. Kami memilih melihat-lihat unit rumah dulu sebelum bertemu dengan petugas marketing atau pemilik proyek. Itu kebiasaan kami.

Yang tidak habis kami mengerti adalah, bagaimana mungkin pembeli atau pemilik rumah komplain kepada staf marketing? bukankah mereka hanya bertugas memasarkan? tanggung jawab operasional perumahan ada di tangan developer atau pengelola yang ditunjuk. Lalu, mengapa untuk menegur kami, Tentri harus meledak-ledak, menunjuk-nunjuk, teriak-teriak, berkacak pinggang dan menghadang laju kendaraan kami di tengah jalan. Apa tidak ada cara yang lebih elegan dan sopan? Kami lebih respek jika dia menegur kami secara baik-baik dan tidak dengan cara-cara ‘preman’ seperti itu. Toh, banyak kasus ketika kami survey vila-vila mewah di Bali dengan harga selangit, jauh lebih private dan mahal dari Casamora, pemiliknya malah mempersilakan kami untuk mengambil gambar sepuasnya. Padahal kami sebelumnya telah melihat-lihat situasi sebelum singgah di kantor pemasaran.

Sayang sekali, lembaga ternama seperti JLL yang mendunia, memiliki staf maketing divisi residensial dengan kepribadian seperti preman. Reputasi JLL terlalu bagus untuk dinodai oleh hanya seorang Tentri.

Iklan

23 Tanggapan

  1. Sorry mas….
    Tapi, kalau saya jd pemilik rumah..saya jg keberatan rumah saya diphoto2…apalagi mengingat sejuta kejahatan dijakarta ini. Mungkin caranya salah, tp saya rasa pd prinsipnya dia benar. Kalau diJepang/AS memoto tanpa izin pemilik (bukan security, tp pemilik bersangkutan) bisa kena tangkap dan penjara. Karena privacy itu salah satu hak paling tinggi yg dimiliki semua individu, dan harus dihargai.
    No offense …saya cuma mengungkapan opini dr sudut pandang saya. Dan menurut saya tidak etis juga menyebutkan nama mbak dr JLL, krn dia tidak merugikan siapapun.

    Cheers,

  2. Mbak Hilda…
    Sorry ..saya kira mas Alex..ternyata mbak Hilda yah. Sorry .. 🙂
    btw u dont have to publish my comment… i just wanted to tell u a different perspective…..lastly, nice blog !

    cheers,

  3. @Mbak Lia

    Thanx udah mampir. Hehehe, gak apa-apa kok, Anda orang kesekian yang panggil saya Mas dan Bapak. Iya, saya sudah menulis di atas, bahwa saya keliru. Akan tetapi, perumahan Casamora ini kan dipasarkan kepada publik dengan cara-cara promosi dan marketing yang juga public accessible.

    Jika saya calon konsumen dan sangat tertarik kemudian mengambil gambar rumah yang sudah dibangun untuk didiskusikan dengan teman, misalnya, dan mengalami hal yang seperti di atas, saya rasa saya akan mundur teratur.

    Akan tetapi, saya sangat memahami perspektif yang Mbak ajukan. Dan untuk itu, saya berterima kasih sekali. Mengenai penyebutan nama petugas marketing dari JLL, mohon maaf, ini adalah blog saya pribadi yang tidak terkait dengan institusi mana pun. Lain masalah jika saya menulis untuk media formal.

    Sekali lagi terima kasih Mbak Lia atas atensinya. Ditunggu komentar Anda selanjutnya.

  4. Mbak Hilda,

    Sebagai tamu sudah sepantasnya mengikuti aturan main yang ditetapkan oleh tuan rumah. Membaca tulisan anda, saya jadi mengerti kenapa mbak Tenri sampai naik darah melihat tingkah anda yang jepret sana jepret sini tanpa konfirmasi dahulu kepada tuan rumah.

    Seorang tamu yang sudah diijinkan masuk oleh penjaga rumah tidak lantas berhak melakukan apa saja yang dia mau tanpa meminta ijin kepada tuan rumah yang sebenarnya. Meski niatannya baik namun jika tidak dilakukan dengan cara yang benar maka tetap saja salah.

    Saya pernah mampir di perumahan ini beberapa bulan yang lalu. Waktu itu sudah sore dan pegawai bagian pemasaran hampir semua sudah pulang. Setelah mendapat ijin dari petugas penjaga dan diberi tau letak kantor pemasarannya saya masuk dan melihat-lihat lokasi.

    Puas melihat area perumahan saya kemudian menuju ke kantor pemasaran. Disana disambut mbak Tenri dengan hangat. Beliau sebenarnya sudah akan pulang, tapi masih mau menyempatkan untuk melihat-lihat. Bahkan sebelum saya pulang masih ada seorang ibu yang juga meminta waktu mbak Tenri untuk diantarkan melihat-lihat rumah contohnya dan beliau bersedia untuk itu.

    Kesimpulannya, anda dan teman anda yang membuat kesan pertama sudah tidak menyenangkan. Saya yakin sekali jika anda mau bersabar sedikit dan menemui tuan rumah disana maka anda akan dilayani dengan hangat.

    Btw, jika mau membeli rumah di casamora dan harus jepret-jeret dulu adalah sebuah alasan yang tidak masuk akal menurut saya.

    Regards,
    Zham

  5. Terima kasih atas kunjungan dan tanggapannya Pak Zham….

    Sudah saya jelaskan dan ebberkan di atas. Saya memang keliru dan saya telah meminta maaf. Namun, tidak lantas harus diteriaki dan dihardik macam preman, karena toh properti yang saya foto ini kan dijual kepada publik.

    Mengenai alasan calon pembeli jeprat-jepret dulu adalah hal yang wajar. Saya sebelum membeli rumah di Kota Wisata, jeprat-jepret dulu di beberapa lokasi di luar Kota Wisata yang pengamanannya juga berlapis. Karena saya konsumen yang menuntut servis dan barang dagangan dengan kualitas prima.

    Intinya tidaklah layak berlaku over reactive seperti itu….

  6. Mb Hilda,
    Saya setuju dengan komentar Pak Zham dan Mb Lia, bahwa sebaiknya ijin dari tuan rumah tetap harus ada di tangan sebelum melangkah lebih jauh.
    Saya pernah mengalami hal yang sama, dalam hal ini sebagai orang yang menyewa sebuah rumah. Pemilik rumah bermaksud menjual rumah tersebut tanpa memberitahukan kami, yang buntutnya isi rumah kami terekspos di sebuah situs khusus perumahan, tanpa kami ketahui.

    Dari kesalahan Mb Hilda yang kemarin ini, sebenarnya jadi nilai tambah mbak sendiri saat melakukan peliputan berita.
    Lepas dari sikap Ibu Tentri yang mungkin terlalu berlebih, ambil nilai positifnya saja buat diri sendiri yaa 🙂

    Salam.

  7. Dear Mbak Hilda,

    Saya baru saja dari project ini kemaren. Sekarang saya benar-benar mengerti apa yang mbak maksud. Ibu Tentri itu memang keterlaluan sekali arogannya. Gayanya seperti merendahkan gitu ya. Saya bingung orang seperti itu kenapa bisa jadi bagian penjualan di perusahaan terkenal seperti JLL. Saya sih bener-bener males kalo musti berhubungan dengan dia. walaupun projectnya lumayan tapi kalo yang jual kaya gitu juga males belinya.

  8. mbak hilda yang baik, maksud baik memang tidak selalu dipandang “baik”. artinya, banyak sekali maksud baik yang di jalankan dengan salah akan menjadi “lain” di mata orang. Mungkin cara mbak Hilda memang salah dan ini sudah mbak akui sendiri. Mengenai sikap dari agency JLL, terus terang saya sangat menentangnya. Arogansi seperti ini harus di lawan mbak. sebagai orang media, mbak harusnya memiliki kekuatan khusus. kalau aku sih, lebih baik di close saja publikasi tentang casamora. sebaik apapun konsep yang dia tawarkan. segitu saja mbak. Terima kasih

  9. Mbak,

    Saya kebetulan numpang lewat lagi cari2 perumahan baru di Selatan , eh..liat situs ini sy jadi ikutan baca.

    Terimakasih mbak sudah mencantumkan nama orang nya , jadi kita sebagai pembeli bisa jaga-jaga supaya ngga bete duluan. Kalo udah bete, biasanya jadi males mau keliling cari rumah atau tanah. Berhubung saya termasuk org yang suka cari lokasi buat investasi, gitu.

    Bener sih apa yang mba Hilda bilang, saya juga bakal mundur teratur kalo ketemu marketing yang kayak gitu .

    OK, mbak . Keep the spirit ! and TQ bgt 🙂

  10. O iya , satu lagi, saya juga suka potret rumah atau tanah untuk didiskusiin sama keluarga atau relasi , kira-kira ok ngga menurut mereka .
    Kalo byk org bilang ok , baru dibeli . Ini pengalaman sy sendiri , jadi buat sy sih masuk akal aja. Maap kalo pngalaman sy beda dgn org lain , hehehe..

  11. Thanx mbak Meli udah mampir di blog saya….salam buat keluarga ya

  12. to : Mz Tentri From JLL @ Casamora, Cilandak Ready @ my BLACKLISTED

  13. This afternoon, Casamora Jagakarsa gave me Tentri’s phone number. A snobbish marketer who appraises herself too high, despite her low attitude and ethics.

    Cheers

  14. saya setuju dGn Sikap Marketingnya, namun Caranya Yg Salah…dan Yg ngambil Gambar Harusnya Masuk Rumah Org Assalamualaikum sama tuan rumah dalam hal ini org yg berwenang memberi ijin….sikap anda pun tidak profesional. bwt tentri bukan gaya seorang marketing menghujat.

  15. No no no… tetep aja no.1 siapa yg salah. no.2 baru kelakuan. Bukan masalah menghakimi. Tapi orang salah ga berhak ngmongin orang yang negur. Si marketing berhak negur marah2 kek… walau belum tentu etis.

    Gimanapun juga, dengan lewat website ini, ngomongin orang lebih gak etis! hahahahaha

  16. Pertanyaan sangat Simple….. Saya ga kenal sama anda… masuk kerumah anda lalu ambil perhiasan anda….. dan saya kepergok sama anda……

    Apa yang akan anda lakukan….?

    Teriak maling? tersenyum kepada maling? atau mengikhlaskannya?

    dan setelah tertangkap saya minta maaf lalu memberikan perhiasan itu ke anda…. apakah anda masih mau tersenyum sama saya? apakah anda akan melaporkannya ke POLISI?

    Dan tulisan ini pun (kalau anda merasa hehehehe….) sudah memalukan diri anda sendiri. Apalagi anda seorang dari MEDIA.
    Saya rasa atasan anda yang salah memilih orang untuk Media nya.

    Mungkin anda bermaksud untuk mengeluhkan ttg Mba “T”, tapi ternyata justru sangat memalukan anda sendiri.
    Bukan bermaksud berpihak ke salah satu, tapi ini salah ada di anda.
    hehehehehe….. baiknya segera hapus ini, karena akan terus membuat anda malu.

    • Mas or mbak redwan… Kebebasan berpendapat, dilindungi UUD 45 pasal 28. Jika Anda merekomendasikan saya menghapus tulisan ini, Anda telah melanggar hak asasi saya sebagai manusia merdeka yg dilindungi hak-haknya oleh negara.

      Saya tdk ada urusan dgn Anda. Dan komentar Anda ini termasuk kategori perbuatan tak menyenangkan, dan saya bisa melaporkan Anda ke polisi.

      Tapi, karena saya menghargai Anda yg sudah berpayah-payah membaca tulisan dan memberikan komentar, saya masih menghargainya. Dan saya sama sekali tdk mengundang Anda untuk melakukan semua itu.

      Salam.

  17. casamora itu rumah mahal yaa… emang kalian para orang kaya sok privacy, ga mau diganggu.. sikap-sikap kayak gini yang membuat kecemburuan sosial makin dalam, dampaknya kalau ada kerusuhan seperti 98 maka kompleks perumahan yg sok elite ini jadi sasaran penjarahan dan kerusuhan

    belum tentu juga orang2 kaya ini mendapatkan kekayaannya dengan cara halal…

  18. Pas membacanya, agak terkejut.

    Tapi, kalau saya memposisikan diri saya sebagai pembeli rumah, saya pasti akan keberatan untuk rumah saya di foto tanpa seijin saya, apalagi untuk dimasukkan ke dalam sebuah media. Privasi saya sudah pasti telah dirusak.

    Kemudian untuk mengkomplain, sudah pasti saya akan komplain pada orang yang saya kenal, yakni pihak pengelola yang saya hubungi ketika membeli rumahnya (dalam pihak ini adalah pihak marketing).

    Setahu saya, tugas marketing untuk tidak hanya menjual sebuah produk atau jasa, tetapi untuk menjaga kepuasan konsumen adalah salah satu ciri marketing yang baik.

    Memang, untuk cara penyampaiannya saya mengetahui itu salah. Tetapi, aneh saja jika anda memposisikan diri anda sebagai korban. Apalagi dengan jelas anda menyebutkan nama seseorang, jabatan dan instansi tempatnya bekerja.

    Bukannya apa-apa, tapi bukankah ini adalah salah satu bentuk dari black campaign?

    Saya berpikir, memang untuk seseorang yang namanya jelas-jelas ditulis di sana, ada sebuah kearogansian yang sangat berlebih. Tetapi dengan berdasarkan penulisan anda, saya juga melihat sebuah kearogansian dari seseorang yang bekerja pada sebuah media.

    Bagaimana halnya jika pihak yang dimaksud menulis blog atau web pribadinya dengan judul “Arogansi Staf dari media XXX”
    yang diakhiri dengan

    “Sayang sekali, lembaga ternama seperti XXX, memiliki staf seperti preman. Reputasi XXX terlalu bagus untuk dinodai oleh hanya seorang Hilda.”

    Tanggapan anda?

    Seharusnya sebelum anda menulis tulisan ini, anda harus berpikir terlebih dahulu akan dampaknya. Selain mencemarkan nama dan instansi, anda harus berkaca terlebih dahulu.

    Siapa Korban dalam hal ini?

    Maaf, saya hanya mengutarakan pendapat saya.

    Sukses selalu

  19. Saya konsumen yang senang investasi rumah.
    Nah buat sy sih , wajar bgt foto rumah yang mau kita beli utk diskusi dgn kluarga atau teman. Apalagi kl rumahnya msh dalam proses pembangunan. Dan biasanya kalo perumahan bentuk bangunan nya sama semua bukan ??Ngga ada desain arsitektur khusus yang kalo difoto melanggar karya cipta, bukan ? Jadi kalo dibilang mengganggu privasi… mmm…over reactive ya.
    Kalau mau exclusive, ya Jangan tulis perumahan atau Town House atau info promosi umum apapun yang bisa mengundang orang umum datang dan lihat2 . Tulis aja di depan perumahan : Rumah Dinas Executive. Naah , ngga bakal tuh ada org umum brani masuk kalau ngga pake surat ijin . Trus jualan runah nya dari mulut ke mulut aja, hehehe 😀 😀 😀 atau lewat arisan ibu2 pejabat 😀

  20. Great information. Lucky me I came across your website by accident (stumbleupon).
    I have book marked it for later!

  21. Still…everything has by the book..
    She’s doin it with a good reason..And we all know that is “PRIVACY”.
    Saya juga ga mau klo ada yg masuk perumahan cuma atas ijin satpam/security trus foto2 aja tanpa seijin pemilik rumah lantas foto2 sana-sini.
    Tapi cara anda yg menulis blog ini sangatlah tidak etis karena membicarakan oranglain dengan data lengkap akan menjatuhkan org tersebut secara tidak langsung. Kenapa anda tidak saja langsung berhadapan dengan orang tersebut dan mengatakan semua hal yang anda tidak suka atas tindakannya. Dan mungkin teguran anda secara langsung akan membuat dia berpikir dan bertindak lebih baik lagi, yang akan membuat anda sendiri akan lebih dihargai ketimbang membicarakannya diblog ini dan diketahui orang banyak.
    Initnya sebenarnya anda minta untuk dihargai maka anda juga harus belajar menghargai orang lain.
    Sebelumnya dan sesudahnya,mohon maaf jika ada kata2 saya yg menyakiti anda.
    Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: