Foreigner Ownership, Injeksi Besar Emiten Properti

Kendati selama semester I 2008, sektor properti mencatat kinerja terburuk dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya ditandai dengan penurunan sebesar 33,07%. Atau lebih buruk dibandingkan dengan penurunan IHSG sebesar 14,45% pada periode yang sama. Namun, sektor ini tetap dipandang memiliki prospek yang cukup menjanjikan pada semester II. Sebab, selama ini saham yang berbasis komoditaslah yang mendominasi pergerakan indeks karena ditopang oleh kenaikan harga komoditas dunia. Jika nanti penguatan saham-saham sektor tersebut sudah jenuh, tidak tertutup kemungkinan investor kembali akan memburu saham-saham sektor lain yang berfundamental bagus yang saat ini sudah turun terlalu dalam. Seperti saham sektor properti.

Lagipula, buruknya kinerja saham sektor ini tak lepas dari sentimen negatif yang muncul akibat krisis kredit di Amerika Serikat serta kenaikan harga minyak mentah dan bahan makanan yang menyebabkan terjadinya inflasi. Selain itu kenaikan harga bahan baku bangunan dan biaya konstruksi juga menambah beban terhadap emiten properti sehingga harus menaikkan harga jualnya di tengah kondisi yang sulit.  Tingginya inflasi sebesar 11,03% (year on year) pada bulan Juni, membuat BI harus menaikkan BI rate menjadi 8,75% per 3 Juli.

Menurut analisa saham Mega Capital Indonesia, Ratna Lim, untuk tren inflasi pada semester kedua diperkirakan masih akan meningkat karena sesuai dengan siklusnya di mana pada semester ini biasanya inflasi lebih tinggi dibandingkan dengan semester pertama. Hal ini karena adanya momen-momen khusus seperti liburan dan masuk sekolah pada bulan Juli, kemudian disusul oleh bulan puasa, Lebaran, Natal dan tahun baru, yang biasanya membuat inflasi cenderung meningkat.

Jadi, sektor properti di Indonesia boleh dikatakan memiliki momentum-momentum khusus. Bisa sangat sensitif atau juga imun. Namun, sekali lagi, karena terpuruk sudah cukup dalam, sektor properti merupakan salah satu yang akan menunjukkan kinerja positif pada semester kedua.

Proyeksi positif ini semakin menguat karena Menpera telah menyetujui draf revisi regulasi PP 41/1996 yang diajukan DPP Realestate Indonesia (REI) tentang pembelian properti oleh orang asing. Regulasi ini akan berlaku pada akhir tahun ini. Dalam revisi ini disebutkan, bahwa orang atau badan hukum asing bisa mendapatkan hak pakai langsung selama 70 tahun.

Tentu saja, ini dianggap sebagai insentif positif dan dapat menjadi injeksi baru bagi para pengembang. Sebab, mereka dapat memperluas cakupan segmen pasarnya. Seperti dikatakan Head of Research PT Samuel Sekuritas Indonesia Christine Salim, regulasi ini akan sangat berdampak positif dan menguntungkan terutama bagi pengembang yang tengah membangun apartemen di central business district. Sebut saja PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

ELTY merupakan salah satu pengembang paling agresif. Mereka kini tengah menggarap Rasuna Episentrum, mega proyek senilai Rp7 triliun dengan menggandeng Limitless LLC, anak perusahaan Dubai World Ltd. Ada pun komposisi konstruksi pembiayaan Rasuna Epicentrum yaitu 30% kas internal ELTY-Limitless dan sisanya 70% dari eksternal.

Diversifikasi usahanya dalam bidang infrastruktur yang terintegrasi dengan proyek properti seperti proyek jalan tol dan air minum diyakini bakal mendongkrak nilai saham ELTY.

Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib mengungkapkan ELTY juga tengah mempersiapkan proyek infrastruktur ruas Pejagan-Pemalang sepanjang 57 kilometer. Ini adalah proyek ketiga setelah ruas tol Kanci (Cirebon)-Pejagan (Brebes) senilai Rp2,1 triliun dan segmen Batang-Semarang.

Untuk sektor infrastruktur tersebut, ELTY membentuk perusahaan patungan modal (joint venture) dengan Emaar Properties asal Timur Tengah dan menempatkan sejumlah eksekutifnya di PT Pejagan Pemalang Toll Road, perusahaan pemegang perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT).

Sementara emiten lain yang dianggap berfundamental bagus adalah PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Salah satu strategi jitu perusahaan untuk menyiasati kondisi fluktuatif saat ini adalah dengan lebih banyak mengembangkan proyek di luar Jawa. Menurut Ratna Lim, strategi ini sangat tepat karena masyarakat di luar Jawa saat ini lebih diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas dunia, dibandingkan dengan di pulau Jawa. Sehingga dengan bermain di luar Jawa diperkirakan akan dapat meng-offset penurunan permintaan dari pulau Jawa.

Proyek baru CTRA di luar Jawa, antara lain Citra Bukit Indah Balikpapan dan Citra Grand City Palembang.  Selain itu proyek-proyek baru CTRA juga lebih mengarah ke segmentasi menengah atas yang notabene tidak sensitif oleh inflasi dan kenaikan suku bunga KPR. Kinerja CTRA ke depan diperkirakan juga akan didukung oleh proyek besar dari anak perusahaannya, seperti Ciputra World Surabaya (proyek CTRS) dan Ciputra World Jakarta (proyek CTRP). Pergerakan saham CTRA yang sudah mengalami penurunan sebesar 55,62% selama semester I 2008 juga menjadikan saham tersebut menarik untuk diakumulasi.

Begitu pula dengan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Saham mereka masih dimintai investor. Ini tak lain karena adanya rencana pengembangan kawasan baru di Bekasi dan suksesnya mengakuisisi saham PT Gading Orchard sebanyak 100% untuk menambah lahan di Kelapa Gading. Proyek mereka di Serpong juga mencatat prestasi mencengangkan. Selalu mendapat sentiment positif pasar. Dus, mereka bermain di segmen menengah atas yang tidak rentan terhadap inflasi dan suku bunga.

Bagaimana dengan perkembangan emiten anyar? Kecuali PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang baru listing 5 Juni lalu dengan melepas 10% saham dari total 9.842.060.870 lembar, emiten baru lainnya dinilai prospektif. Seperti PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dan PT Perdana Gapura Prima Tbk (GPRA). Aksi korporasi yang dilakukan keduanya, terhitung strategis seperti membangun ruang komersial dan merealisasikan pembangunan akses exit toll Jakarta-Merak menuju kawasan hunian (ASRI) dan restrukturisasi utang (GPRA) yang ditandai dengan rencana masuknya Daewoo Securities Co Ltd. GPRA berencana merestrukturisasi utang dengan mengonversi sekitar 20% sahamnya kepada Daewoo.

Mencermati aksi ekspansi dan diversifikasi emiten-emiten tersebut, logis jika saham sektor properti memang masih menarik untuk dikoleksi. „Untuk akumulasi bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang, sektor properti masih cukup menarik dan kompetitif karena penurunan saham-saham pada sektor itu sudah cukup dalam,“ ujar Ratna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: