Saat Daud ‘Mengganggu’ Goliath

Anda tentu mengenal Margonda Residences, Nirvana Residences, dan Cimanggis Green Residences. Ya, apartemen dan rumah menengah tersebut, bukanlah karya pengembang-pengembang besar lagi bonafid. Properti-properti tersebut, siapa nyana, milik pengembang gurem yang berumur ‘kemarin sore’. Akan tetapi, konsep, kualitas dan catatan penjualannya, justru menunjukkan oposisi positif. Bahwa, usia pengembang tidak menjadi patokan bagi pasar untuk meminatinya.

 

“Yang penting konsep dan harganya sesuai dengan kebutuhan pasar. Lagipula, pasar kini sudah teredukasi dengan baik. Mereka semakin kritis dan bisa membedakan antara pengembangan besar yang menekankan pada produk massal atau pengembangan kecil tapi mengutamakan kualitas,” ucap Member Broker Century 21 Pertiwi, Ali Hanafiah Lijaya.

 

Ali benar. Bahkan beberapa properti mereka dapat ‘mengganggu’ sekaligus merebut kue pasar yang sebelumnya didominasi oleh pengembang besar. Untuk wilayah Depok bagian timur contohnya, pasar perumahan landed, tak lagi ‘terpaku’ pada proyek Vila Pertiwi Estate milik pengembang lawas PT Pertiwi Daya Sembada. Peta pasar sudah berubah. Dan Grup Relife Realty tampaknya pantas-pantas saja dianggap sebagai rookie of the year. Pasalnya, proyek terbaru mereka, Juanda Green Residences dan Cimanggis Green Residences 2 yang dilansir akhir 2007, mencetak rekor penjualan menggembirakan. Menyusul sukses Cimanggis Green Residences 1 (2006) yang dibanderol sekitar Rp170 juta-450 juta untuk rumah berdimensi 36-60 m2.

 

Proyek-proyek anyar tersebut boleh dikatakan sangat kompetitif. Siap bertarung dengan Vila Pertiwi Estate yang sudah dikembangkan sejak tahun 2000 silam. Yang terakhir ini   menawarkan tipe 38/90 hingga 75 m2 senilai Rp198 juta-379 juta. Namun, belum seluruh 2.250 unit di atas lahan seluas 40 Ha itu, terserap pasar.

 

Cimanggis Green Residences 1&2, Juanda Green Residences serta Kelapa Dua Residences telah menunjukkan kapasitasnya sebagai proyek yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen pembeli rumah kelas menengah. “Untuk kelas ini kualitas produk menjadi prioritas nomor satu, selain aksesibilitas. Harga dan fasilitas pertimbangan setelahnya,” ujar Direktur Utama Grup Relife Realty, Ghofar Rozaq Nazila.

 

Ekspos bata merah, desain arsitektur yang kompak serta optimalisasi lahan betul-betul ‘berjodoh’ dengan para pembelinya yang berkarakter simpel, kritis akan kualitas produk dan lingkungan serta keluarga muda muslim (sebagai mayoritas pembeli). Karakter terakhir ini bukan tanpa alasan, mengingat latar belakang pemilik Grup Relife Realty yang relijius. Terbukti, memasuki semester kedua, Grup Relife Realty telah menangguk volume penjualan lebih dari Rp50 miliar. Kontribusi terbesar berasal dari Cimanggis Green Residences 2.

 

Begitupula dengan apartemen Margonda Residences yang resmi meramaikan pasar apartemen pada 2005. Proyek ini membukukan penjualan spektakuler. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, seluruh 865 unitnya ludes terjual. Padahal waktu itu, wacana pembangunan seribu menara rumah susun belum lahir. Kini, Grup Cempaka Bersama, pengembangnya, tengah memasarkan Margonda Residences jilid 2 sebanyak 1.050 unit.

 

Margonda Residences 1 bisa sesukses itu karena ia merupakan solois. Satu-satunya hunian jangkung yang ditawarkan di Depok dengan harga sangat miring, Rp85 juta/unit seukuran 21 m2. Menggarap ceruk pasar raksasa, di antaranya pekerja sektor non formal dan mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas Indonesia, Universitas Pancasila, IISIP, Universitas Gunadharma, dan Akademi Pemimpin Perusahaan. Mereka diperkirakan mencapai angka lebih dari 60.000 mahasiswa.

 

Margonda Residences 2 tampaknya juga bakal mengikuti jejak pendahulunya. Ini karena harga yang ditawarkan masih rasional dan memang sesuai untuk unit apartemen seukuran tipe studio 24 m2, yang dimulai dari Rp150 juta. Dus, sokongan pemerintah yang memberikan subsidi bagi masyarakat berpenghasilan maksimal Rp4,5 juta/bulan untuk membeli hunian jenis ini.

 

Berbeda kondisinya dengan Green ParkView yang berlokasi di Jl Daan Mogot, Jakarta Barat. Konsep pengembangan hunian integratif dengan bangunan komersial ini tampaknya tidak bisa membukukan penjualan secepat Margonda Residences. Sebab, jumlah unit yang ditawarkan sangat banyak yakni sekitar 4.000 unit yang terhimpun dalam tujuh menara. Di mana satu menara terdiri atas 700 unit. Meskipun harga jual perdana sangat rendah yakni Rp89 juta-144 juta (subsidi) dan Rp200 juta (non subsidi), Green ParkView mesti bersaing ketat dengan Crown Apartment milik PT Crown Propertindo yang juga berkategori rusunami sejumlah 1.500 unit.

 

Sementara Nirvana Residences yang dikembangkan A/L Development dapat berbicara banyak menghadapi persaingan dengan Kemang Village (Lippo Karawaci). Sama-sama menyasar segmen menengah, Nirvana Residences lebih diuntungkan dengan gimmick garansi privasi yang merupakan pertimbangan utama pasar kawasan Kemang, karena jumlah unitnya yang terbatas.  Hanya 208 unit dalam tiga menara. Lagipula dimensi unit yang ditawarkan lebih luas yakni 189-455 m2. Harga Rp12 juta-17 juta/m2, bukanlah handicap bagi mereka karena lokasinya di jantung kawasan elit Kemang yang sarat fasilitas dan bergengsi tinggi. Hingga saat ini Nirvana Residences sudah terjual 80%.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: