The Beauty of Nature

These are the pics of Tine Chilyati Rachmania. As a friend of mine requested….. here is just for you, my dear friend

Another la belle est pose

Kemayoran, Masih Jauh Dari Harapan

Empat tahun yang lalu, geliat pembangunan Kota Baru Bandar Kemayoran sempat digerakkan kembali, setelah terpuruk oleh hajaran krisis ekonomi. Sejumlah proyek dilansir dan dibangun, sekadar menyebut Blossom Residence, Apartemen Mediterania Palace dan Mega Glodok Kemayoran. Sayangnya, empat tahun berlalu, perkembangan kawasan di bekas bandar udara internasional ini tak sesuai dengan yang diharapkan.

Padahal dengan lahan seluas 454 hektar dan pengelolaanya di bawah Dewan Pelaksana Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran (DP3K), kawasan ini direncanakan untuk menjadi kota dalam kota yang bertaraf internasional. Peruntukan area komersial adalah yang terluas mencapai 122 hektar, lalu permukiman dan fasilitasnya seluas 88,5 hektar dan infrastruktur berteknologi muktahir 137 hektar. Sedangkan sisanya 106,5 hektar untuk taman umum, hutan kota, waduk dan sarana olahraga. Pengelola kawasan Kemayoran berambisi membangun 3.350 unit rumah mewah, 10 ribu unit rumah kelas menengah dan 16.650 unit untuk kelas bawah atau rumah sederhana.

Saat ini, sejumlah proyek memang sudah berdiri. Selain yang sudah disebut di atas, ada area pameran Pekan Raya Jakarta yang dikelola PT JITC seluas 44 hektar, sekolah internasional Gandhi School dan rumah sakit internasional Mitra Kemayoran. Lalu apartemen baru lainnya adalah Apartemen Pallazo dan Mediterania Lagoon, dan landed houses SpringHills Residence. Adapun yang masih terus dipasarkan adalah Boutique Apartemen milik Pallazo Group dan rumah susun milik Perumnas yang memakan lahan seluas 30 hektar.

Sementara proyek-proyek lain yang sudah direncanakan, bahkan gambarnya pun sudah dipaparkan ke publik, masih sunyi senyap. Seperti, Pallazo office park, apartemen Mapple Park, Sentra Otomotif Kemayoran, China Center, Menara Perkantoran Dapenbun dan Menara Jakarta. Bahkan Menara Jakarta ini sudah digadang sejak sebelum krismon untuk menjadi bangunan tertinggi dan jadi icon Jakarta. Pada tahun 2004, aktivitas Sayang proyek ini berhenti begitu saja walau sempat kembali dibangkitkan pada tahun 2004 lalu.

Hal itu membuat degup aktivitas komunitasnya tidak sebanding dengan luasan lahannya. Unit-unit apartemen yang sudah terbangun memang sudah dihuni, tapi sebaliknya dengan aktivitas bisnis relatif sepi. Lihat saja, kios-kios di Mega Glodok Kemayoran, masih banyak yang belum beroperasi. Bahkan properti residensial yang ditujukan bagi kelas atas seperti salah tempat dan tak bisa bersaing dengan properti sejenis di kawasan sekitarnya seperti Kelapa Gading dan Pluit. “Harganya lebih tinggi dibanding kawasan sekitar, jadi wajar saja tak diminati pasar,” jelas David Tjandra, principal Ray White Kelapa Gading. Ramainya pembangunan residensial bagi kelas atas ini juga pernah diprotes Wakil Presiden M Jusuf Kalla, saat meninjau pembangunan rusunami Perumnas di sini. Menurutnya, semestinya hunian bagi masyarakat kelas bawah lebih mendapat tempat, bukan sebaliknya.

Hal itu membuat keramaian sebuah pusat bisnis apalagi kota masih jauh dari harapan. Jalan rayanya memang selalu ramai, tapi lebih sering dipakai oleh penghuni tetangga kawasan, sebagai perlintasan tercepat dari arah Utara (Ancol) ke daerah pusat (Cempaka Putih dan Senen).

Dijelaskan oleh David, kurang berkembangnya pasar properti di sini mengingat status tanahnya yang berbentuk HPL, sehingga diemohi end-user dan investor, karena dianggap tak menguntungkan. Dengan status seperti itu, para konsumen menilai tidak mudah untuk dijadikan agunan atau untuk diperjual-belikan. Belum lagi harga tanahnya yang sudah tinggi, yang menurut David, berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta/m2

Menyadari hal tersebut, Sekretaris Negara sebagai lembaga yang membawahkan DP3KK mengeluarkan SK Menteri Sekretaris Negara No. B.401/M.Sesneg/ D-4/07/ 2008, pada Juli 2008. Berdasarkan SK tersebut, bangunan dengan HGB yang berdiri di atas tanah negara ataupun di atas tanah HPL, dapat dijadikan objek hak tanggungan dengan persetujuan tertulis dari pemegang hak pengelolaan sebelum dilaksanakan pembuatan akta pembebanan hak tanggungan. Nah, berarti semuanya kemudian tergantung pada pengurusan rekomendasi perolehan lahan dari DP3KK. Jika berjalan lancar, investor tak perlu mempermasalahkan lagi dan perkembangan Kemayoran bisa terdorong. Sangat perlu dipertimbangkan juga adalah harapan Wapres untuk menambah porsi residensial kelas menengah bawah di sini. Kebutuhaan yang tinggi akan tempat tinggal yang dekat dengan pusat bisnis, membuat komunitas bisa lebih cepat terbentuk dan menumbuhkan aktivitas lain. Soal kekumuhan atau turunnya nilai kawasan tak perlu ditakutkan, sepanjang semuanya dirancang, ditata dan diatur sebaik mungkin.

Sumber; M Hardiansyah

Sertifikat Legalitas Layak Jual, Perlu Dimiliki Pengembang

Konsumen adalah raja. Pepatah yang indah dibaca, tapi tidak semua produsen bisa melaksanakannya. Negara ini sudah punya UU No 14/2004 tentang Perlindungan Konsumen, tapi tetap saja konsumen tak terlindungi bahkan terus dirugikan. Tak terkecuali konsumen properti. Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan agar konsumen properti terlindungi dari tindakan-tindakan pengembang yang mau seenaknya, termasuk oleh organisasi para pengembang Real Estate Indonesia (REI).

Kalau diingat, pada tahun 2002, saat Ketua Umum DPP REI dijabat Lukman Purnomosidi, DPD REI Jawa Timur pernah mengeluarkan Sertifikat Layak Jual (Serilaju) kepada anggotanya. Sertifikat ini menjadi semacam tanda lulus uji ketentuan standar menjual dan membangun rumah secara profesional untuk menghindari konsumen dirugikan. Namun kemudian tak jelas kabarnya, hanya ramai dibicarakan saat peluncuran tapi tak jelas bagaimana pelaksanaannya.

Bergantinya kepemimpinan di DPP REI yang kali ini diketuai Teguh Satria, REI berencana mengeluarkan sertifikat serupa. Diberi nama Sertifikat Legalitas Layak Jual (SLLJ), rencananya pada Oktober ini akan hadir. SLJJ ini memang “program pusat”, tapi kesiapan pelaksanaan tergantung kesanggupan masing-masing daerah (DPD). Dan ternyata, baru dua dari 33 DPD yang menyatakan sudah siap mengeluarkan SLLJ yakni Riau dan Kalimantan Timur.

Ketua DPD REI Banten juga menyatakan siap, tapi, “Kami pelajari dulu. Tapi kalau untuk kepentingan konsumen pasti kami dukung,” ujar Mary Octo Sihombing. Hal yang sama diungkapkan Setyo Maharso, Ketua DPD REI Jakarta. “Kami siap melaksanakan. Namun alangkah baiknya jika sertifikat ini tidak hanya aspek legalitasnya saja, tapi juga aspek-aspek lain,” ujar Maharso.

“Kriteria layak jual masih menjadi perdebatan. Oleh karena itu kami memulai dari legalitasnya,” kata Teguh menjelaskan tentang SLLJ. Nantinya jika konsumen ingin membeli rumah, tinggal menanyakan apakah sudah mengantongi SLLJ yang dikeluarkan REI. Jika sudah, Teguh menjamin urusan legalitas tanah, perizinan, dan site plan atas rumah yang dibeli sudah aman, jadi pembeli tidak perlu was-was.

Menurut Joko Slamet Utomo, ketua tim perumus SLLJ, sertifikat ini dikeluarkan untuk setiap proyek perumahan dan pada tahap awal diterapkan pada proyek landed house dulu. “Jika pengembang memiliki lahan luas, kemudian menjual dan membangun dalam banyak cluster, setiap cluster akan memegang SLLJ, “ kata Wakil Ketua Umum DPP REI ini. Joko menyatakan pengurusan SLLJ ini tidak sulit. REI tidak memungut biaya alias gratis, minimal satu tahun pertama, untuk pembuatan SLLJ tersebut.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi antara lain, terdaftar sebagai anggota aktif REI, memiliki izin lokasi dan prinsip, surat keterangan pembebasan lahan, izin mendirikan bangunan, dan bukti kepemilikan lahan. Setelah semua syarat terpenuhi, tim dari REI akan melakukan verifikasi. Jika tidak ada masalah, sesegera mungkin SLLJ akan dikeluarkan.

Para pejabat REI menyatakan, dengan adanya SLLJ ini pengembang juga akan diuntungkan. Sebab, konsumen tentu akan lebih memilih membeli rumah di proyek yang memiliki SLLJ, sehingga penjualan akan meningkat. “Nanti di setiap pameran yang dilenggarakan REI, setiap proyek yang ikut harus sudah mengantongi SLLJ,” kata Teguh.

Menurut Erwin Kallo, Direktur Lembaga Advokasi Konsumen Properti Indonesia (LAKPI), aspek legalitas adalah bagian dari kriteria layak jual, di mana aspek lainnya adalah teknis dan lingkungan. Jika rumah layak huni, harga sesuai dengan spesifikasi bangunannya dan fasos fasumnya sesuai dengan standar kebutuhan, maka sudah memenuhi beberapa kriteria aspek teknis. Kemudian aspek legalitas kriterianya adalah sudah mengantongi izin-izin yang ditentukan. Adapun kriteria aspek lingkungan antara lain peruntukan lokasi proyek sesuai dengan rencana tata kota dan bebas banjir. “Lebih baik jika sertifikat yang dikeluarkan sudah memenuhi semua kriteria layak jual itu, sehingga konsumen semakin terlindungi,” kata Erwin.

Erwin menambahkan, dari pantauannya, persoalan konsumen menyangkut aspek legalitas jumlahnya tidak signifikan. Sebaliknya, terbanyak adalah pengaduan konsumen karena keterlambatan serahterima dan spesifikasi bangunan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Karena itu, “Seharusnya REI membuat kesepakatan dengan anggotanya, apa sanksi yang diberikan kepada anggota jika konsumen terlambat menerima rumah yang sudah dibeli atau tidak seperti yang dijanjikan,” ujarnya. Erwin juga menyatakan konsumen harus diberi kompensasi atas keterlambatan dan ketidaksesuaian tersebut.

Ahli hukum properti ini juga berpendapat, seharusnya sertifikat layak jual dikeluarkan oleh badan independen yang berisi orang-orang profesional. “Dengan begitu sertifikat ini lebih dipercaya. Saya tidak tahu apakah konsumen percaya terhadap REI, sebab yang saya tahu dalam AD/ART-nya, REI itu melindungi kepentingan anggotanya bukan melindungi konsumen,” kata Erwin. Pada akhirnya, semua kembali kepada REI, jika memang mau dipercaya, berani menindak anggotanya yang tidak bertanggung jawab.

sumber; Yuniar Susanto

Permintaan Rumah Menguat

Bukan tanpa alasan jika tahun ini PT Summarecon Agung Tbk, pemasok rumah terbesar di Serpong, Tangerang selama dua tahun terakhir, justru melansir The Crown. Ini merupakan kavling eksklusif yang berada di Pondok Hijau Golf, Serpong. Total luas lahannya hanya 13 Ha yang dibagi menjadi 130 unit. Luasan Per unit sekitar 400-1.100 m2. Harga perdana ditawarkan setinggi Rp4,8 juta-6,8 juta/m2.

 

Menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki, dirilisnyaThe Crown adalah untuk mengantisipasi gejala kejenuhan pasar perumahan di kawasan Serpong. Selain itu, “Kami juga ingin menyasar market yang lebih spesifik. Lokasi The Crown memang persis di pinggir lapangan Gading Golf. Sangat sesuai dengan pasar kelas atas,” ujar Johannes.

 

Selain itu, preferensi pasar Serpong juga telah berubah. Lebih meminati ruang-ruang komersial yang bisa dijadikan sebagai sarana investasi. Untuk itu, Summarecon pun akan menyulap lahan di bagian depan Pondok Hijau Golf menjadi PHG Commercial. Jenis ruang komersialnya berupa ruko 21 unit seharga mulai dari Rp1,3 miliar. Ruko sejumlah ini bakal diperebutkan oleh 150 peminat. “Potensi pasar yang luar biasa besar. Padahal kami belum melakukan launching secara resmi,” ungkap Johannes.

 

Wajar adanya jika selama semester I tahun 2008, Tangerang berada di posisi kedua sebagai pemasok terbesar sekitar 21%, digeser oleh Bogor dan Bekasi yang mendominasi pasok unit rumah baru sebanyak 8.500 unit di Jabotabek (masing-masing 31%), disusul kemudian  Jakarta (17%). Berdasarkan pantauan Procon Indah, pada akhir semester I tahun 2008 sebagian besar kawasan perumahan memang masih fokus untuk menjual sisa unit dari klaster yang sudah dipasarkan sebelumnya, terutama akibat kenaikan harga konstruksi dan bahan bakar minyak.

 

Absennya Summarecon membangun klaster rumah terbaru juga diikuti pengembang lainnya seperti Grand Wisata. Perumahan milik PT Putra Alvita Pratama (Grup Duta Pertiwi) tengah merampungkan pembangunan rumah yang telah dipasarkan sebelumnya. Selain juga menggenapi berbagai fasilitas penunjang. Sementara pengembang lain, paling banter melahirkan satu klaster baru. Paramount Serpong contohnya. Mereka tahun ini masuk pasar dengan klaster Toscana. Begitu pula dengan Kota Wisata yang hanya menawarkan Coatesville. Kota Wisata kini lebih fokus pada tahap penyelesaian klaster Bellevue yang sudah ditawarkan ke pasar sejak tahun lalu.

 

“Kami kini tengah berkonsentrasi pada pengembangan kawasan komersial di CBD Kota Wisata. Juli lalu telah dibuka Fresh Market. Untuk berikutnya ruko-ruko dan fasilitas penunjang perumahan seperti pembangunan akses tambahan menuju Kota Wisata,” buka General Manager Marketing and Business Development Kota Wisata, Elena Trisnawati.

 

Aksi para pengembang ini jelas berpengaruh terhadap jumlah pasok yang ditawarkan. Anjlok 10% dibandingkan dengan periode yang sama setahun silam yang berjumlah 9.350 unit. Menurunnya jumlah pasok ini otomatis berakibat pada meningkatnya serapan rumah.

 

Total penyerapan di Jabodetabek sendiri per bulan rata-rata sebanyak 1.600 unit dengan nominal nyaris 10.000 unit rumah. Meningkat sebesar 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang menunjukkan adanya perbaikan permintaan terhadap perumahan selama satu tahun ini. Di mana tingkat penyerapan per bulan tertinggi adalah di Tangerang dan Bogor yaitu masing-masing 30% diikuti Bekasi 26% dan Jakarta 14%. “Pada periode yang sama tahun 2007 lalu, tingkat penyerapan tertinggi juga terjadi di Tangerang dan Bogor, diikuti oleh Bekasi dan Jakarta. Dengan demikian, Tangerang dan Bogor terus mencatat penyerapan yang tertinggi selama satu tahun ini,” papar Associate Director and Strategic Advisory Group PT Procon Indah, Utami Prastiana.

 

Proyeksi Ke Depan

 

Meskipun ada perubahan orientasi, namun para pengembang tetap akan melakukan pengembangan klaster baru lagi. Hanya saja itu terjadi setelah momen-momen berat seperti puasa, Lebaran dan Natal, lewat. Summarecon memberikan konfirmasi akan mengembangkan klaster baru Scientia Garden yang berlokasi persis di sebelah Universitas Multimedia Nusantara, Serpong.

 

Sementara untuk pengembangan di Kelapa Gading, mereka tengah mempersiapkan desain di lahan Gading Orchard. ‘Persiapannya masih dimatangkan, mengingat kami telah memperluas peruntukan lahan dari semula 36 Ha menjadi 44 Ha,’ buka Johannes. Di sini akan dikembangkan rumah sebanyak lebih kurang 1.000 unit dengan harga antara mulai dari Rp1 miliar/unit.

 

Grup Relife Realty juga tengah mematangkan rencana mengakuisisi lahan seluas 46 Ha di kawasan Sawangan, Depok untuk digarap menjadi perumahan kelas menengah atas seharga Rp400 juta-1,5 miliar/unit. Setelah sebelumnya mencatat perolehan positif dari penjualan Cimanggis Green Residence 2, sebanyak 107 unit dengan harga Rp180 juta-450 juta/unit dan Cimanggis Green Residences 3, sejumlah 350 unit (Rp220 juta-500 juta/unit).

 

Optimisme Relife tercermin dalam dukungan pihak perbankan khususnya syariah yang membiayai KPR proyek-proyek mereka. “Saya yakin, proyek terbaru kami ke depan akan sama hasilnya, disambut antusias pasar. Apalagi ceruk pasar kami sangat spesifik. Sudah begitu pemainnya terbatas,” ujar Direktur Utama Grup Relife Realty Ghofar Rozaq Nazila.

 

Kota Wisata justru mereposisi pasar dengan lebih mengakomodasi kebutuhan kelas menengah bawah. Jika tak ada halangan, mereka bakal membidani kelahiran klaster baru sejumlah ratusan unit dengan harga jual mulai dari Rp265 juta, pada akhir kuartal IV 2008.

 

“Kami memandang kelas ini yang paling banyak jumlahnya dan belum terpenuhi oleh perumahan di sekitar Cibubur-Cileungsi. Rumah dengan harga kompetitif di dalam kawasan yang sarat fasilitasnya kan sangat jarang. Jadi kami tetap yakin akan leading,” tandas Elena. Sejalan dengan laporan Procon bahwa perumahan seharga Rp200 juta-800 juta paling diminati pasar. Mereka tersebar di Tangerang dan Bogor.

 

Rencana besar para pengembang tersebut menerbitkan sinyal positif bahwa permintaan terhadap rumah akan terus ada, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pasangan baru di Jakarta dan sekitarnya. Terbukti dengan tingkat permintaan yang mengalami tren menanjak selama beberapa tahun terakhir. Dus, produk-produk baru yang diluncurkan oleh pengembang sebagian besar sukses menangkap pasar. Namun begitu, calon pembeli semakin selektif dalam membeli rumah dan tingkat kompetisi pasar perumahan juga semakin ketat, sehingga pengembang perlu strategi yang lebih jeli dan kreatif dalam mengembangkan dan menawarkan produk-produk baru di kawasan huniannya. “Harus sesuai dengan preferensi dari target pasar  masing-masing,” ujar Utami.

 

Selain itu, calon pembeli rumah juga sangat sadar akan kebutuhannya sendiri. Mereka akan mempertimbangkan segala hal sebelum memutuskan untuk membeli rumah. Ada pun hal-hal yang menjadi pertimbangan mereka adalah harga dan termin pembayaran, ini yang utama karena terkait kemampuan dan daya beli. Kemudian aksesibilitas (ketersediaan infrastruktur jalan ataupun angkutan umum seperti shuttle bus, kualitas bangunan, ketersediaan fasilitas yang memadai, keamanan dan kenyamanan lingkungan, probabilitas peningkatan harga tanah dan properti serta reputasi pengembang.

 

Untuk segmen menengah ke atas, produk yang ditawarkan harus dapat menarik calon pembeli, misalnya seperti menyediakan lebih banyak ruang terbuka hijau, desain rumah yang unik (bentuk atap dan façade), ataupun nilai tambah dari produk tersebut, misalnya view yang bagus (danau/sungai/golf).

 

Perumahan yang memiliki aksesibilitas yang baik (misalnya dekat dengan jalan tol) tentunya akan memiliki peluang lebih besar terserap pasar. Ketersediaan infrastruktur dan aksesibilitas yang memadai akan meningkatkan permintaan, harga rumah maupun tanah pada kawasan hunian tersebut. Perumahan dengan akses tol private seperti Grand Wisata, Summarecon Serpong, Alam Sutera, dan BSD City menjadi pilihan yang menarik bagi calon pembeli, terutama dengan semakin padatnya jalanan pada jam-jam sibuk. Namun demikian, pembangunan jalan tol di dalam kawasan permukiman justru diperkirakan akan menurunkan nilai aset di daerah yang berhimpitan dengan jalan tol tersebut karena akan menghasilkan polusi, kebisingan maupun gangguan keamanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aston International To Manage Aston Bekasi Hotel & Residences

Aston International has been appointed to manage the Aston Bekasi Hotel & Residence. Situated within the Bekasi Square development, the four star hotel and residence will be the first of its kind in Bekasi. 

Bekasi Square features a large shopping mall, shop houses and the Aston Bekasi Hotel & Residence. The Hotel & Residence will feature a selection of one or two bedroom accommodation, swimming pool, spa, fitness centre, meeting rooms, a variety of food and beverage outlets, and an all weather bridge connecting the property to the Bekasi Square Mall. 

Aston Internationals Head of Marketing Mr. Norbert Vas said “Aston International is pleased to announce our appointment to manage the Aston Bekasi Hotel & Residence. It will be the first and largest project of its kind in Bekasi and the strategic location, and easy access to the toll road, is going to make it very appealing for guests and investors. Aston Internationals reputation for quality management and for delivering solid returns to developers and individual apartment investors made us the natural choice for the developer to choose as their management company”.

The Aston Bekasi Hotel & Residence is scheduled to open in 2010. Apartments in the development have already been released for sale.


Ciputra World Jakarta Terserap 50%

PT Ciputra Property Tbk (CTRP) boleh berlega hati. Pasalnya, proyek terbarunya Ciputra World Jakarta di koridor Satrio, Jakarta Selatan, mendapat respon positif pasar. Hingga tulisan ini dibuat apartemen strata title-nya telah mendapat konfirmasi pembeli sebanyak 50% dari total 136 unit.

Menurut Direktur CTRP Artadinata Djangkar, para pembeli ini memanfaatkan fasilitas cicilan selama konstruksi berlangsung, yakni 3 tahun hingga 2011. “Yang menggunakan KPA Mandiri hanya satu pembeli,” ungkapnya.

Ciputra World Jakarta merupakan mega proyek yang sejatinya telah dimulai sejak 1993. Sempat terhenti karena krisis moneter dan menjadi pasien program restrukturisasi hutang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), kini PPA. Properti pertama yang mengawali eksistensi Ciputra World Jakarta adalah apartemen Grand Citra Somerset yang dibangun pada 1994 dan beroperasi pada 1996. Ini merupakan service apartment yang sampai saat ini mencatat tingkat hunian sekitar 70%.

Ciputra World Jakarta mengalami revisi desain berkali-kali sebelum desain final yang dikerjakan oleh konsultan RTKL. Ada pun properti yang bakal dibangun di kompleks Ciputra World Jakarta, yaitu apartemen strata title 136 unit seharga Rp19 juta/m2 dengan luas minimal 150 m2, pusat belanja seluas 130.000 m2 yang di dalamnya terdapat museum, office building seluas 70.000 m2, hotel 180 kamar yang dikelola oleh Raffles Hotels, 170 unit serviced apartment yang dikelola Ascott Group dan Raffles Residences sebanyak 80 unit.

CTRP mendanai mega proyek ini dengan memanfaatkan perolehan dari hasil IPO sebesar Rp2,1 triliun. Sisanya dari total nilai investasi sebesar Rp3,4 triliun, berasal dari pembayaran penjualan konsumen. Nilai investasi sebesar itu, di luar lahan pengembangan yang memang sudah dimiliki CTRP sejak lama.

“Konstruksi telah dimulai tahun ini dan kondisi aktual telah mencapai lantai tiga basement. Sekitar 15% dari total proyek. Dijadwalkan pembangunan kelar pada 2011,’ buka Artadinata.

Summarecon Gaet Haris

Usai mengakuisisi 100% saham PT Gading Orchard dan memperluas pengembangan lahan di sentrum Kelapa Gading menjadi seluas 44 Ha dari semula 36 Ha, PT Summarecon Agung Tbk, mulai melirik sub sektor hospitalitas.

Rencananya, dalam pengembangan sentrum Kelapa Gading, Summarecon akan membuka hotel bintang 3 plus. Konstruksi hotelnya sendiri sudah dimulai sejak tahun lalu yakni di atas Mal Kelapa Gading V dan kuartal kedua 2009 secara resmi mulai beroperasi.

Untuk mengoperasionalisasikan hotelnya ini, Summarecon menggandeng Haris yang juga telah mengelola beberapa hotel bintang tiga di Jakarta, Batam dan Bali.

Dikatakan Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki, selain hotel, tahun depan mereka juga akan membuka perkantoran (mixed office) di Boulevard Kelapa Gading (persis di depan La Piazza). Perkantoran ini bertajuk Menara Satu. Terdiri atas tiga tower low rise yang memiliki ketinggial 11 lantai untuk dua tower pertama dan 10 lantai untuk tower ketiga. Dari lokasi perkantoran ini kana dibangun juga commercial bridge yang akan menghubungkan Menara Satu dan La Piazza.

“Untuk saat ini, sudah ada pre commitment dengan perusahaan-perusahaan jasa perbankan yang ingin berkantor di sini,” imbuh Johannes. Guna mewujudkan rencana tersebut Summarecon Agung telah menjual sukuk konvensional dan syariah ijarah sejumlah total Rp300 miliar.

PT Summarecon Agung Tbk merupakan perusahaan pengembang pertama yang listing di lantai bursa. Hingga semester pertama 2008, mereka telah meraup angka penjualan sebesar Rp550 miliar dari target tahun ini sejumlah Rp1,1 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan perumahan di Summarecon Serpong dan persewaan pusat belanja.