Terobosan Baru Bakrieland, Solar Energy

Implementasi green architecture memang tak sebatas pada akomodasi terhadap ketersediaan ruang terbuka hijau atau penggunaan material ramah lingkungan. Lebih dari itu, ia juga menyangkut pada bagaimana karya arsitektur tersebut mampu menjadi sebuah karya yang dapat mendatangkan manfaat besar, mudah perawatannya dan tentu saja efisien dalam penggunaan energi.

“Secanggih apapun desain arsitekturalnya, jika dalam implementasinya masih loyal  menggunakan material non ramah lingkungan serta boros dalam penggunaan energi, maka ia tidak bisa disebut sebagai green architecture,” ujar Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia, Davy Sukamta.

Untuk itu, batasan green architecture hendaknya ditetapkan secara definitif, mengingat saat ini sudah banyak klaim-klaim yang dilakukan secara serampangan tanpa sertifikasi yang sah supaya mendapatkan insentif dan kemudahan-kemudahan perijinan.

Kalau ini dibiarkan tanpa pengawasan, maka kontribusi bangunan gedung, terutama yang tidak mengindahkan penggunaan material ramah lingkungan, akan kian tinggi. “Bangunan gedung merupakan kontributor terbesar dalam proses percepatan global warming sekitar 50%,” imbuh Davy.

Jika aspek green architecture itu diimplementasikan secara benar, terlebih ada sertifikasi, sejatinya akan mendatangkan dua manfaat, yaitu hemat energi dan lebih ramah terhadap lingkungan. Poin hemat energi inilah yang diharapkan bisa mereduksi efek global warming.  

Terkait dengan rencana PT Bakrieland Development Tbk yang akan menerapkan prinsip hemat energi pada seluruh high rise  milik mereka, Davy menilai, merupakan strategi yang bagus. Mengingat saat ini, banyak perusahaan multinasional yang sangat aware akan isu ini.

Begitu pula penilaian Associate Director Procon Utami Pr, kampanye gedung tinggi hemat energi yang dilakukan Bakrieland adalah upaya yang sangat cerdas. Global warming adalah isu internasional yang memang menjadi concern perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. “Jadi, jika ingin mengakomodasi kebutuhan mereka, para pengembang seharusnya sudah melakukannya mulai saat ini. contoh yang bagus adalah Perkantoran Menara Arcadia di TB Simatupang yang sudah menerapkan prinsip hemat energi. Terbukti, tingkat okupansinya terus meningkat dan saat ini mencapai 100%. Di sini beroperasi perusahaan-perusahaan pertambangan multinasional macam British Petroleum dan lain-lain,” ucap Utami.

Dikatakan Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah Shambudy Thaib, untuk saat ini kolaborasi dengan Suntech dalam pengadaan Solar Energy masih terfokus pada bangunan gedung dalam kawasan Rasuna Epicentrum. “Rencananya kami akan menerapkan pada semua proyek, tapi harus kami kaji dulu. Kenapa Rasuna Epicentrum karena di kota, terutama di high rise building lebih terasa manfaatnya. Hal ini juga bisa mengurangi penggunaan energi listrik hingga maksimal 30%,” jelas Hiramsyah.

PT Bakrieland Development Tbk saat ini tengah menghitung jenis energi yang bisa dipakai terkait  investasi awalnya yang memang sangat besar. “Kami pilih Suntech karena perusahaan solar enery ini dipandang paling besar dan juga murah. Disamping itu teknologi Tiongkok di Asia dipastikan jauh lebih murah daripada teknologi Barat,” jelas Hiramsyah.

Pilihan penggunaan energi matahari tersebut, jelas saja berdampak pada kenaikan investasi. Diprediksikan, peningkatan tersebut akan mencapai antara 10-20 persen. Namun demikian, bagi PT Bakrieland Development Tbk, kenaikan prosentase investasi itu bukan masalah, sebab, mereka mengharapkan pemberian insentif dari pemerintah bagi penggunaan bangunan hemat energi.

Sekadar informasi, energi matahari ini memang dapat lebih menghemat pengeluaran operasional dan perawatan gedung. Contohnya, penggunaan panel surya ukuran 0,8 m² akan menghasilkan 260 watt. Akan ada dua produk yang digunakan oleh bangunan gedung di kawasan Rasuna Epicentrum, satu solar panel biasa, satu lagi BIPV (Building Integrated Photovoltaics), yaitu solar panel yang sudah menjadi kesatuan dengan bangunan. Untuk BIPV biayanya sekitar US$14 per watt, untuk solar panel biasa biayanya sekitar US $3-4 per watt.

Hitung-hitunganan untuk bangunan kelas menengah atas bisa menggunakan BIPV, karena lebih mahal, tapi ada penghematan dari sisi operasinya. Penerapan panel surya ini juga sebagai langkah preventif menghadapi kekurangan energi dimana-mana. Nantinya penerapan panel surya juga dipakai di jalan tol yang dibangun Bakrie sebagai energi lampu penerangan jalannya.

Memang harus ada investasi ekstra, tapi nanti dengan adanya efisiensi dalam operasi ini akan kembali dalam waktu enam tahun. Dana penggunaan energi berasal dari kas internal perusahaan,” ujar Hiramsyah. 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: