Kemayoran, Masih Jauh Dari Harapan

Empat tahun yang lalu, geliat pembangunan Kota Baru Bandar Kemayoran sempat digerakkan kembali, setelah terpuruk oleh hajaran krisis ekonomi. Sejumlah proyek dilansir dan dibangun, sekadar menyebut Blossom Residence, Apartemen Mediterania Palace dan Mega Glodok Kemayoran. Sayangnya, empat tahun berlalu, perkembangan kawasan di bekas bandar udara internasional ini tak sesuai dengan yang diharapkan.

Padahal dengan lahan seluas 454 hektar dan pengelolaanya di bawah Dewan Pelaksana Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran (DP3K), kawasan ini direncanakan untuk menjadi kota dalam kota yang bertaraf internasional. Peruntukan area komersial adalah yang terluas mencapai 122 hektar, lalu permukiman dan fasilitasnya seluas 88,5 hektar dan infrastruktur berteknologi muktahir 137 hektar. Sedangkan sisanya 106,5 hektar untuk taman umum, hutan kota, waduk dan sarana olahraga. Pengelola kawasan Kemayoran berambisi membangun 3.350 unit rumah mewah, 10 ribu unit rumah kelas menengah dan 16.650 unit untuk kelas bawah atau rumah sederhana.

Saat ini, sejumlah proyek memang sudah berdiri. Selain yang sudah disebut di atas, ada area pameran Pekan Raya Jakarta yang dikelola PT JITC seluas 44 hektar, sekolah internasional Gandhi School dan rumah sakit internasional Mitra Kemayoran. Lalu apartemen baru lainnya adalah Apartemen Pallazo dan Mediterania Lagoon, dan landed houses SpringHills Residence. Adapun yang masih terus dipasarkan adalah Boutique Apartemen milik Pallazo Group dan rumah susun milik Perumnas yang memakan lahan seluas 30 hektar.

Sementara proyek-proyek lain yang sudah direncanakan, bahkan gambarnya pun sudah dipaparkan ke publik, masih sunyi senyap. Seperti, Pallazo office park, apartemen Mapple Park, Sentra Otomotif Kemayoran, China Center, Menara Perkantoran Dapenbun dan Menara Jakarta. Bahkan Menara Jakarta ini sudah digadang sejak sebelum krismon untuk menjadi bangunan tertinggi dan jadi icon Jakarta. Pada tahun 2004, aktivitas Sayang proyek ini berhenti begitu saja walau sempat kembali dibangkitkan pada tahun 2004 lalu.

Hal itu membuat degup aktivitas komunitasnya tidak sebanding dengan luasan lahannya. Unit-unit apartemen yang sudah terbangun memang sudah dihuni, tapi sebaliknya dengan aktivitas bisnis relatif sepi. Lihat saja, kios-kios di Mega Glodok Kemayoran, masih banyak yang belum beroperasi. Bahkan properti residensial yang ditujukan bagi kelas atas seperti salah tempat dan tak bisa bersaing dengan properti sejenis di kawasan sekitarnya seperti Kelapa Gading dan Pluit. “Harganya lebih tinggi dibanding kawasan sekitar, jadi wajar saja tak diminati pasar,” jelas David Tjandra, principal Ray White Kelapa Gading. Ramainya pembangunan residensial bagi kelas atas ini juga pernah diprotes Wakil Presiden M Jusuf Kalla, saat meninjau pembangunan rusunami Perumnas di sini. Menurutnya, semestinya hunian bagi masyarakat kelas bawah lebih mendapat tempat, bukan sebaliknya.

Hal itu membuat keramaian sebuah pusat bisnis apalagi kota masih jauh dari harapan. Jalan rayanya memang selalu ramai, tapi lebih sering dipakai oleh penghuni tetangga kawasan, sebagai perlintasan tercepat dari arah Utara (Ancol) ke daerah pusat (Cempaka Putih dan Senen).

Dijelaskan oleh David, kurang berkembangnya pasar properti di sini mengingat status tanahnya yang berbentuk HPL, sehingga diemohi end-user dan investor, karena dianggap tak menguntungkan. Dengan status seperti itu, para konsumen menilai tidak mudah untuk dijadikan agunan atau untuk diperjual-belikan. Belum lagi harga tanahnya yang sudah tinggi, yang menurut David, berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta/m2

Menyadari hal tersebut, Sekretaris Negara sebagai lembaga yang membawahkan DP3KK mengeluarkan SK Menteri Sekretaris Negara No. B.401/M.Sesneg/ D-4/07/ 2008, pada Juli 2008. Berdasarkan SK tersebut, bangunan dengan HGB yang berdiri di atas tanah negara ataupun di atas tanah HPL, dapat dijadikan objek hak tanggungan dengan persetujuan tertulis dari pemegang hak pengelolaan sebelum dilaksanakan pembuatan akta pembebanan hak tanggungan. Nah, berarti semuanya kemudian tergantung pada pengurusan rekomendasi perolehan lahan dari DP3KK. Jika berjalan lancar, investor tak perlu mempermasalahkan lagi dan perkembangan Kemayoran bisa terdorong. Sangat perlu dipertimbangkan juga adalah harapan Wapres untuk menambah porsi residensial kelas menengah bawah di sini. Kebutuhaan yang tinggi akan tempat tinggal yang dekat dengan pusat bisnis, membuat komunitas bisa lebih cepat terbentuk dan menumbuhkan aktivitas lain. Soal kekumuhan atau turunnya nilai kawasan tak perlu ditakutkan, sepanjang semuanya dirancang, ditata dan diatur sebaik mungkin.

Sumber; M Hardiansyah

Iklan

Satu Tanggapan

  1. mau tanya donk pak/bu/mbak/mas, kalo saya mau beli apt medit palace kemayoran, apakah akan susah nantinya jika saya mau jual kembali atau menggadaikan sertifikat hgb-nya ke bank ? trims, harry

    Sertifikat HGB bisa dijaminkan kepada bank. Namun demikian, jika Anda ingin membeli apartemen tetap harus memperhatikan aspek legal, fisik bangunan, dan pengelolaannya kemudian. Kemayoran sendiri sebagai sebuah kawasan pengembangan memang menunjukkan tren berkembang. Kendati belum seperti yang diharapkan. Sejatinya, dengan kondisi infrastruktur yang memadai, ia bisa sejajar dengan kawasan lainnya di jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: