Ruang Ritel Bekasi, Tumbuh Optimal

Pesatnya pertumbuhan pembangunan perumahan di Bekasi, berimplikasi pada bergeraknya sub sektor ikutan lainnya. Terutama komersial ritel. Menurut data Properti Indonesia hingga kuartal ketiga 2008, terdapat 17 pusat belanja yang telah beroperasi, dan  tiga pusat belanja yang masih dalam tahap konstruksi. Ketiganya adalah Metopolitan Mall 2 yang akan dibuka pada akhir 2010, Plaza Pondok Gede 2 (2009) dan Patriot Center, pertengahan 2009.

 

Ini menunjukkan bahwa kehadiran ruang ritel komersial berbanding lurus dengan pembangunan perumahan. Sekaligus sebagai jawaban logis atas mendesaknya kebutuhan para penghuni perumahan akan sarana berbelanja, hiburan dan pemenuhan gaya hidup. Sebab, perumahan-perumahan yang ada di kawasan ini, memang tidak semata sebagai sarana investasi, juga untuk dihuni. Tingkat keterisian rata-rata perumahan Bekasi nyaris mencapai angka 80%. Grand Wisata, di Tambun, misalnya. Perumahan yang dikembangkan PT Putra Alvita Pratama ini didiami oleh tak kurang dari 3.500 kepala keluarga. Padahal usia Grand Wisata terbilang batita. Angka lebih spektakuler dicatat Jababeka City yang telah didiami oleh 1 juta penduduk dari 12.500 kepala keluarga yang ada.

 

Nominal psikologis ini yang memotivasi para pengembang dan investor untuk mendirikan pusat belanja. Presiden Direktur PT Jababeka Tbk, SD Darmono mengulas bahwa pasar ritel Bekasi sejatinya lebih besar dan variatif dibanding Jakarta. “Secara fundamental, Bekasi tak kalah kuat. Karena ia ditopang oleh basis ekonomi industri yang merupakan sektor riil. Ini yang terutama mendorong kami membangun fasilitas-fasilitas komersial untuk warga Jababeka khususnya dan Bekasi umumnya. Fasilitas komersial ritel mutlak ada dalam pengembangan perkotaan baru,” jelas Darmono.

 

 

Presiden Direktur PT Kilap Propertindo, Djoni Hasjim mengatakan jumlah pusat belanja yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan warga Bekasi. “Kota ini kan multi kultur, ekonomi, sosial yang tentu saja akan beragam dan berbeda pula kebutuhannya. Oleh karena itu, masih dibutuhkan pusat belanja-pusat belanja yang sesuai dengan market yang berbeda itu,” ujar Djoni.

 

Dengan alasan itulah PT Kilap Propertindo membangun Bekasi Square yang karakternya sangat jauh berbeda dengan Metropolitan Mall, legenda hidup pusat belanja kawasan Bekasi, atau dengan Mega Bekasi Hypermall yang mengusung konsep hibrid  sebagai strata title dan leased mall. Sejumlah Rp350 miliar yang dikeluarkan PT kilap Propertindo untuk Bekasi Square, seakan mendapat imbalan pantas, ketika 80% ruang ritelnya terserap pasar. Nama-nama tenar macam jaringan bioskop 21, Electronic City, Super Home, dan Carrefour jadi tenan utamanya.

 

Sementara Metropolitan Mall, kian meneguhkan eksistensinya sebagai destinasi belanja utama warga Bekasi. Bahkan, kini PT Metropolitan Land, pengembangnya, lebih percaya diri dengan memperluas catchment area-nya yang tak sebatas wilayah Bekasi, juga wilayah timur dan tenggara Jakarta. “Warga Jakarta seperti Jatinegara, Klender, Duren Sawit, Cibubur, banyak yang berbelanja di sini,” ungkap General Manager Corporate Public Relation PT Metropolitan Land, Wahyu Sulistiyo.

 

Implikasi dari melebarnya ruang jangkau ini adalah bertambahnya permintaan akan ruang ritel dan juga menguatnya keinginan masyarakat terhadap kedatangan tenan-tenan baru yang sifatnya lebih kepada pemenuhan gaya hidup. Sebab, ‘Pengunjung Metropolitan Mall saat ini tidak hanya datang untuk berbelanja juga untuk relaksasi, rekreasi sekaligus having fun,” imbuh Wahyu.

 

Charles and Keith, Eaton, Body Shop, J.Co, Breadtalk dan Celebrity Fitness (dalam tahap fitting out) menambah daftar tenan berkelas yang mengisi ruang Metropolitan Mall. Menyusul Matahari Department Store, Ace Hardware dan Batik Keris, sehingga menggenapkan tingkat keterisiannya menajdi 100%. Nama-nama ini juga sekaligus dapat mengindikasikan bahwa daya beli dan preferensi pasar Bekasi telah bergeser signifikan. Warga Bekasi butuh meeting point untuk mengekspresikan status sosial ekonominya.

 

Nah, guna mengakomodasi keinginan sekitar 45 ribu pengunjung pada hari biasa dan 60 ribu orang pada akhir pekan, PT Metropolitan Mall sampai harus mencanangkan program perluasan Metropolitan Mall 2. Pusat belanja tahap 2 yang mengombinasikan konsep lifestyle, dining dan entertainment  ini dijadualkan beroperasi pada akhir 2010. Sejumlah tenan besar telah didekati.  

 

Polarisasi Kelas

 

Upaya yang dilakukan PT Metropolitan Land atas aset yang merupakan profit center-nya itu bisa dikatakan sebagai langkah strategis. Mengingat positioning-nya yang memang tepat mengarah pada pasar menengah sebagai penggerak perekonomian Bekasi. Padahal,  awalnya merupakan community mall yang hanya melayani kebutuhan warga perumahan kelas menengah seperti Kemang Pratama dan Taman Galaxy. Namun, bisnis properti khususnya perumahan yang terus bergerak dinamis, mengubahnya menjadi regional mall. Keberadaan Grand Wisata, Taman Harapan Indah, Grand Residences, Villa Meutia Kirana dan perumahan kelas menengah lainnya ikut menciptakan identitas kelas ini.

 

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sektor perumahan yang terus menunjukkan perkuatan (baik demand, pasok maupun serapan), memang berkontribusi pada polarisasi kelas pusat belanja. Seperti terlihat pada tabel, pusat-pusat belanja kelas menengah bawah akan hidup di antara perumahan-perumahan ber’genre’ serupa. Sementara pusat belanja berkasta trade center seperti Bekasi Trade Center yang memakukan penghidupannya pada industri ritel kecil, tumbuh dikelilingi perumahan sederhana. Di sekitar Bekasi Trade Center memang terdapat perumahan seperti Villa Mutiara Gading, Villa Asri, Telaga Harapan, Taman Wanasari Indah, atau Bekasi Timur Regency yang harganya sekitar Rp60 juta hingga kurang dari Rp300 juta/unit.

Kendati telah terpola dengan baik secara natural, namun, tetap saja jumlah pusat belanja yang ada saat ini belum sebanding dengan densitas populasi Bekasi yang mencapai 3,7 juta jiwa. Menurut Direktur Property Connection Indonesia (konsultan spesialis komersial ritel) Rosaline Stella Lie, kebutuhan akan pusat belanja sangat lokal dan spesifik. “Jumlah populasi memang tidak bisa dijadikan ukuran tepat untuk mengetahui berapa jumlah pusat belanja yang dibutuhkan suatu kawasan. Akan tetapi, dengan mengetahui kebutuhan yang pasti dari pasar bisa jadi dalam satu daerah yang penduduknya cuma ratusan ribu, akan hidup dua sampai tiga pusat belanja dengan konsep berbeda. Yang penting adalah kebutuhan pasar,” papar Rosaline.

 

Dengan demikian, memang masih banyak peluang yang terbuka lebar untuk investor membangun ruang komersial ritel di Bekasi. Apalagi, pusat belanja yang ada saat ini belum bisa dikatakan variatif. Semua masih berkonsep tidak jauh berbeda, untuk tidak dikatakan serupa dengan pusat belanja pelopor seperti Metropolitan Mall. Masih mengandalkan kehadiran department store sebagai tenan utama. Kalaupun ada yang sedikit berbeda yakni Bekasi Cyber Park. Akan tetapi, dibutuhkan waktu lama untuk menjelma sebagai pusat gadget seperti Glodok di Jakarta. Dan, untuk menjadi berbeda, perlu riset pasar dan kreatifitas lebih dari sekadar membangun mal biasa.

 

PT Summarecon Agung Tbk tampaknya menyadari dan mulai mempelajari medan Bekasi. Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Johannes Mardjuki mengungkapkan, pusat belanja yang akan didirikan di area perumahan milik mereka di Bekasi Barat, dijamin akan berbeda. “Diferensiasi terletak tidak saja pada fasad bangunan dan konsep, juga pendekatan pemasarannya. Mal kami akan berupa sentrum aktifitas gaya hidup. Bisa gaya hidup dalam bekerja, bersosialisasi, berkuliner ataupun berekspresi dalam kesenian,’ terang Johannes.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: