Tenan Langka, Serapan Ritel Anjlok

Jakarta tak henti membangun ruang ritel. Tak ada sejengkal tanah Jakarta yang bebas pembangunan mal dan pusat belanja. Hingga kuartal ketiga 2008 total pasokan ruang ritel mencapai 3,05 juta m2. Meningkat 5% dari kuartal sebelumnya sebesar 2,9 juta m2. Padahal periode yang sama tahun lalu, masih berkutat pada angka 2,7 juta m2.

 

Kawasan central bussines district merupakan kontributor terbesar pemasok ruang ritel sekitar 24% dari total ruang ritel di Jakarta yang mencapai 233 ribu m2. Disusul kemudian wilayah Jakarta Utara dengan jumlah pasokan 19%. Sedangkan Jakarta Pusat dan Selatan menyumbang 17%, sementara Jakarta Barat 13% dan Jakarta Timur 10%. Distribusinya terlihat begitu merata.

 

Melimpahnya pasok ini menunjukkan bahwa pengembang melihat peluang serapan pasar masih besar. Momentum khusus seperti Hari Raya Lebaran senantiasa dijadikan acuan utama bagi mereka untuk tak segan membangun pusat belanja. Sebut saja Mall Of Indonesia di Kelapa Gading Square, Pluit Village tahap 1 dan 2, Pasar Raya Grande, dan FX Lifestyle X Center, Blok M Square, Koja Trade Center dan Plaza Indonesia Extention.

 

Kondisi sebaliknya terjadi pada pasokan ruang ritel strata title yang hanya bertambah 57 ribu m2. Terus merosot dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 150 ribu m2. Penurunan pasokan terjadi setiap tahun, data Procon Indah menyebutkan pasokan tahun 2005 sempat mencapai angka 250 ribu m2.

 

Tak hanya pasok yang menurun, kinerjanya juga mengalami kemunduran. Terbukti dari tingkat keterisian ruang ritel sewa maupun strata title. Hingga akhir kuartal III 2008, ruang kosong yang belum disewa/dibeli mencapai 664.000 m2 yang terdiri atas ruang kosong ritel sewa 236, 2 ribu m2 dan strata title 427,7 ribu m2.

 

Wajar jika sub sektor pusat belanja, khususnya kelas menengah bawah lesu darah. Sebab, tahun ini tidak ada peritel baru di kelas ini. Langkanya peritel baru atau tenan yang bakalmengisi pusat belanja memang menjadi faktor utama tidak bergairahnya sub sektor ini. Untungnya para pengembang dan pengelola tidak membiarkan kondisi sepi ini berlarut-larut.

 

Mereka mulai menyadari pentingnya kreatifitas mengubah konsep atau menciptakan konsep baru. Sebagian besar pusat belanja kemudian mengadopsi konsep lifestyle, entertainment, speciality shop dan food and beverage (F&B). Yang dilakukan FX Lifestyle X’enter boleh dikatakan merupakan terobosan baru. Fasilitas yang ditawarkan sangat spesifik membidik kelas menengah usia 25-35 tahun, yakni para eksekutif dan profesional muda. Mereka melengkapinya dengan pengadaan sarana komunikasi canggih, seperti wi fi. Begitu pun dengan Mall Of Indonesia Kelapa Gading Square, pusat belanja ini menyediakan berbagai kebutuhan kelas atas plus entertainment dengan konsep tematik yang terintegrasi dengan hunian.

 

 

2009 :  Pertaruhan Para Raksasa

 

Berbeda kondisinya dengan pusat belanja kelas premium. Ekspansi peritel besar yang diprediksikan terus berlanjut hingga dua tahun ke depan, tampaknya kian meningkatkan eskalasi pengembangan pusat belanja level A. Peritel seperti Zara, Harvey Nichols, Sogo, Duck King, fashion apparel kelas butik memang diperebutkan oleh pusat belanja kategori ini.

 

Mal-mal yang dibangun dalam kawasan terpadu seperti e-Walk Rasuna Epicentrum, emporium Pluit Mall, Mall Of Indonesia tahap 2, Kemang Village, dan Ciputra World Jakarta  akan bersaing ketat guna memperoleh konfirmasi dari para peritel calon tenan mereka.

 

Meski mengusung nama tenan bermerek impor namun bukan jaminan pusat belanja tersebut akan sukses dan langgeng. Masih perlu diuji oleh waktu. Dibutuhkan pengelolaan dari manajemen profesional. Bagaimana mengatur tenancy mix, lalu lintas (traffic) pengunjung dan seberapa penting peran promosi yang dilakukan untuk mendongkrak jumlah pengunjung dan omzet penjualan tenan.

 

Paradigma di atas mestinya menjadi basis pengetahuan dalam mengelola sebuah pusat belanja. Menurut Associate Director Jones Lang LaSalle Wendy Haryanto, diperlukan juga intuisi tajam dalam menempatkan pusat belanjanya ke posisi pasar yang tepat. ‘Identitas menjadi sangat penting. Menyusul kemudian konsep dan tentu saja kualitas pelayanan yang sekarang sudah beranjak ke level yang lebih tinggi,” terang Wendy.

 

Itulah mengapa ruang ritel macam Plaza Indonesia Extension dan Grand Indonesia Shopping Town tak hanya puas menggandeng nama-nama macam Louis Vuitton atau Harvey Nichols, mereka lebih memperkayanya dengan sentuhan-sentuhan pride and personal. Sebab, pasar yang disasar ini memang butuh perlakuan khusus, sangat jauh berbeda dibanding pusat belanja lainnya.

 

Jadi, untuk tahun 2009, persaingan ketat nan sengit tetap akan berlangsung di antara pusat belanja premium. Mereka memperebutkan pengunjung berkategori platinum society yang jumlahnya sangat terbatas akan tetapi merupakan pembelanja-pembelanja pasti yang memiliki spending power luar biasa tinggi.

 

 

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: