Grup Bahama, Siapkan 75 Juta Dollar Untuk Private Villas

Usianya baru genap lima tahun, namun gebrakannya cukup mencengangkan, untuk tidak dikatakan kontroversial. Grup Bahama, memang telah bermetafora. From zero to hero, ibaratnya. Siapa yang kenal nama kelompok usaha ini lima tahun silam. Dan siapa pula yang mafhum Reddy Hartadji atau Frederick Rahmat, pendiri kelompok usaha itu? Mereka sama sekali tidak popular sampai demo besar-besaran digelar di kampus IPB Dramaga dan Padjadjaran, Bogor, terkait pengembangan mixed use Bogor City Center.

Nama Grup Bahama mulai diperhitungkan khalayak bisnis dan industri properti ketika pada akhirnya mampu merampungkan Bogor City Center di tengah sinisme masyarakat Bogor. Proyek senilai Rp250 miliar ini terdiri atas Botani Square, IPB International Convention Center dan Hotel Santika. Kinerjanya pun, menunjukkan tren meningkat sejak pembukaan 2006 silam dan mencapai laba operasional. Meski untuk mengembalikan investasi butuh waktu 7-8 tahun lagi.

Tak puas sampai di sini, dua sejoli itu kemudian mengendus peluang bisnis dengan ceruk lebih fantastis, yakni rusunami. “Kami memanfaatkan momen yang tepat yakni pencanangan program pembangunan seribu menara rusunami. Dus, nilai subsidinya terus meningkat sampai tahun 2009 saja senilai Rp2,5 triliun. Rencananya lima tahun ke depan ditingkatkan menjadi Rp8 triliun sampai 10 triliun. Jadi, kami tertarik untuk berpartisipasi,” ujar Direktur Utama Grup Bahama, Reddy Hartadji.

Mulailah pada 2007, mereka memasarkan Menara Cawang melalui anak usaha PT Cawang Housing Development. Kendati belum memiliki jejak rekam menjual dan membangun hi rise property, keduanya sepakat menjadikan proyek rusunami sebagai profit center. “Sangat menjanjikan. Margin yang bisa kami dapat minimal sebesar 10% kalau kita bermain di kisaran Rp150 juta-250 juta. Segmen pasarnya pun luas dan besar. In term of margin, kami masih bisa bernapas panjang. Apalagi dengan kondisi krisis seperti ini, yang diuntungkan justru kalau kita membangun rusunami,” papar Reddy.

Kondisi aktual Menara Cawang memang memperlihatkan prestasi positif. Baik dari segi penjualan yang telah meraup angka 100% maupun pembangunan fisik yang sudah memasuki tahap penyelesaian. Rencananya, mulai diserahterimakan pada Februari 2009. Menyusul kemudian Menara Kebon Jeruk dan Menara Salemba Batavia yang kini sudah dalam tahap konstruksi dan terjual 50%. Berikutnya Menara Duri Kepa yang masih dalam proses desain block plan, Menara Latumeten dan Menara Bintaro Hijau yang berada dalam proses perijinan. Tiga terakhir ini akan direalisasikan pada kuartal kedua 2009.

Dengan total jenderal 7.488 unit pada enam proyek rusunami tersebut, Grup Bahama membutuhkan dana tak kurang dari Rp1 triliun. Bagaimana cara mereka menghimpun dana tersebut? Serupa dengan pengembang lainnya, mereka juga menerapkan skema pendanaan pre-sales, ekuiti perusahaan dan pinjaman perbankan dengan komposisi seimbang 40:30:30 persen. Bukan perkara mudah untuk meraup dana sebesar itu dalam kondisi finansial global seperti sekarang. Ditambah kebijakan pengetatan likuiditas perbankan. Namun, mereka punya siasatnya.

Tak seluruhnya dari total tujuhribuan unit rusunami yang dikembangkannya itu masuk dalam kategori subsidi. Hanya 30% saja yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah maksimal Rp4,5 juta. Sebagian besar sisanya merupakan unit-unit apartemen seharga mulai dari Rp250 juta sampai Rp350 juta. Unit-unit ini dibiayai dengan KPA non subsidi. Cross subsidy inilah yang membuat Menara Cawang bisa berdiri. Dan demi menarik minat pembeli, Grup Bahama menempuh jalur pembiayaan alternatif yang fleksibel bagi konsumen. Menaikkan uang muka sebesar 30% bagi unit non subsidi dengan tawaran angsuran maksimal hingga 20 kali, salah satunya.

Mengacu pada kesuksesan Menara Cawang serta penjualan separuhnya dari Menara Kebon Jeruk dan Salemba Batavia, Grup Bahama sudah memiliki rencana korporat untuk dua tahun ke depan. Mereka akan mengubah orientasi pengembangan ke level yang lebih tinggi. “Cukup lima tahun bagi kami berkutat dan mempelajari pasar bawah dan menengah. Sudah saatnya kami ‘melihat’ pasar yang lebih tinggi,” ungkap Reddy.

Perubahan orientasi yang sudah mulai dirintis sejak akhir 2008 ini adalah dengan menyiapkan tiga proyek prestisius berupa komersial-residensial (private villas) di bawah bendera Bahama Persada Jaya. Ketiganya adalah Del Mango, Del Blanco, dan Gangga Del Mar. Kesemuanya berlokasi di Bali. Target pasar yang diincar, jelas kelas premium. Karena harga per unitnya saja ditawarkan antara 400-700 ribu dolar AS. Nantinya, ketiga proyek tersebut dioperatori oleh SEA Collection.

Jauh berbeda memang kalau dibandingkan dengan proyek rusunami. Jika dalam lingkup rusunami mereka harus menaklukkan fluktuasi nilai tukar berikut inflasi yang menjadi momok segmen pasar yang dibidik, tidak demikian halnya dengan private villas. Grup Bahama memandang jenis properti ini tak akan pernah mati. Apalagi dengan mengambil lokasi di Bali. “Tak sampai tiga tahun, investasi pasti kembali,” yakin Reddy. Ketiga proyek tersebut akan diwujudkan pada 2010. Saat ini mereka tengah mempersiapkan okupasi lahan di tiga lokasi berbeda; Seminyak, Ubud, dan Tanah Lot.

Untuk masing-masing proyek, Reddy mengaku telah mengalokasikan dana sebesar 25 juta dolar AS. Uniknya, belum lagi proyek terbangun, mereka jauh hari sudah membuka keran mencari partner untuk menjalin aliansi strategis. Rencananya, mereka akan melepas 49% kepemilikan saham di Bahama Persada Jaya. Hingga kini, sudah ada dua perusahaan asing yang melakukan penjajakan. Mereka adalah Tommy Corporation dan perusahaan dari Korea. Dengan strategi seperti ini, “Kami yakin, pengembangan private villas tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana,” yakin Reddy.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: