Tahun 2009, Konsolidasi

Tidak seperti tahun 2007-2008 lalu, tahun Kerbau Tanah ini dilakoni dengan semangat mawas diri dan konsolidatif. Sedikit saja proyek baru yang direncanakan masuk pasar dan dari jumlah yang terbatas itu, nilainya tidak sampai duabelas digit. Jelas, sangat berbeda kondisinya dengan kurun dua atau tiga tahun silam. Tak akan lagi ditemui perlombaan besaran nilai atau skala proyek. Juga tak akan ditemui lagi target-target membubung yang sulit diwujudkan.

Langkah meneruskan pengembangan proyek yang sudah dirilis sebelumnya atau bahkan menunda proyek baru adalah opsi paling realistis yang bisa ditempuh. Karena, menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, “Menjaga cashflow agar tetap lancar jauh lebih penting daripada sekadar memuaskan egoisme agar bisa tampil menjadi yang terbesar,” ujarnya, seolah menyindir beberapa pengembang yang berkoar dengan megaproyek yang sejatinya tak kunjung terwujud.

Kendati bersifat sangat lokal, masih menurut Johannes, sektor properti tidak mudah diprediksi. Untuk beberapa kasus, pasar domestik memang memiliki resistensi tinggi. Sebut saja sub sektor komersial ritel. Beberapa pusat belanja sewa sukses menangguk peritel dan pengunjung. Lebih karena kelas menengah pemilik dana likuid di atas minimal 100 juta per tahun cenderung membelanjakannya di dalam negeri. Inilah kans besar bagi para pemain komersial ritel. Masuk akal jika PT Summarecon Agung Tbk, mempercantik tampilan salah satu profit center-nya macam Mal Kelapa Gading IV dan Summarecon Mall Serpong. Sebab, kinerja mereka meperlihatkan stabilitas dan memberikan kontribusi sebesar 30% terhadap total perolehan perseroan.

Sementara Grup Gapura Prima (GGP), yang dalam kurun tiga tahun terakhir begitu tampil agresif, memilih sikap menunggu. Mereka akan melakukan evaluasi terhadap proyek-proyek yang telah dipasarkan sejak satu-dua tahun silam. Chief Executive Officer Grup Gapura Prima, Rudy Margono, memberikan konfirmasi bahwa HIPMI Tower, salah satu proyek besarnya pasca IPO PT Perdana Gapura Prima Tbk (anak usaha GGP) akan dipertimbangkan kembali apakah dilanjutkan atau ditunda.

“Sangat tidak bijaksana memaksakan proyek di tengah kondisi seperti ini. Kami akan mengambil langkah melanjutkan pengembangan landed house berikut kelengkapan fasilitasnya. Ini turn over-nya cepat,” ujar Rudy.

Hal yang sama diupayakan PT Wika Realty yang juga memilih untuk me-review rencana-renacana besarnya yang kadung terungkap pada 2008 lalu. Presiden Direktur PT Wika Realty, Muhammad Nawir, bahkan mengungkapkan target perolehan dikoreksi lebih dari 20% dari tahun lalu yang sempat mencapai angka Rp500 miliar. Namun begitu Nawir tetap optimis, tahun 2009 ini proyek-proyek besar macam kondotel di Nusa Dua dan Pecatu, Bali tetap akan mulai dirintis.

Optimisme serupa ditunjukkan PT Mitra Sindo Sukses (salah satu anak usaha Keppel Land di Indonesia). Mereka akan meluncurkan dua klaster baru dengan desain berbeda sejumlah 574 unit dalam area pengembangan Jakarta Garden City. Kondisi krisis financial global tidak dipandang sebagai kendala serius. Mereka justru menjadikannya sebagai peluang besar yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Apalagi pengembangan Jakarta Garden City yang menyasar pasar kelas menengah atas menawarkan kelebihan-kelebihan spesifik. Lokasinya strategis dengan aksesibilitas yang sangat memadai. Didukung oleh rencana pembangunan JORR (Rorotan-Cilincing, Tanjung Priok-Ancol) yang akan direalisasikan pada bulan ini dan rampung Juli 2010 menambah nilai lebih proyek ini.

Sementara PT Modernland Realty Tbk akan melakukan utilisasi dari sejumlah landbank mereka. Seperti lahan di Kota Modern dan Modern Hill (dulu Bukit Modern). Keduanya di Tangerang. „Kami fokus pada pengembangan yang sudah dirancang sebelumnya. Yaitu yang memiliki nilai faktor risiko minimum dan mengacu pada penjualan rumah tinggal yang demand-nya tetap tinggi,“ ujar Presiden Direktur PT Modernland Tbk, Edwyn Lim.

Berikut rencana-rencana besar para pengembang di tahun ini:

PT Modernland Realty Tbk
Maksimalkan Utilisasi Landbank

Jauh sebelum krisis global terjadi, perusahaan publik ini telah melakukan reorientasi dengan cara penekanan pada speed dan priority. Kecepatan diejawantahkan dengan langkah antisipatif terhadap dinamika perkembangan pasar. Untuk itu, “Dalam mengambil tindakan mengeksekusi sesuatu harus cepat dan tepat. Kami tidak menoleransi tindakan yang berlarut-larut. Kedua adalah prioritas, kami mengutamakan business plan yang sangat realistis dan menguntungkan,” ungkap Presiden Direktur PT Modernland Realty Tbk, Edwyn Lim.

Tahun ini, mereka akan melansir klaster baru berkonsep town house di Modern Hill Pondok Cabe, Tangerang. Klaster ini memanfaatkan kelebihan alam dengan tanah yang berkontur. Dilengkapi sejumlah fasilitas dan dikelola secara profesional oleh estate management yang kredibel. Berdiri di atas lahan seluas 8 Ha dengan jumlah town house 183 unit. Ditawarkan varian ukuran mulai dari 300 hingga 1.000 m2 yang memiliki view lapangan golf.

Strategi bisnis yang ditempuh PT Modernland Realty Tbk boleh dikatakan lebih safe. Mengingat pasar rumah tidak akan pernah habis. Dus, bila disokong oleh kemauan mereka untuk mengakomodasi pasar dalam hal kemudahan pembiayaan. Terbukti, kinerja penjualan mereka positif. Laporan per September 2008, mereka mencetak rekor Rp237 miliar, dengan net profit Rp 21 Miliar. Angka yang sangat signifikan jika dibandingkan 2007.

Selain itu, mereka juga fokus pada pembentukan aliansi strategis dengan mitra asing. Di antaranya dengan Keppel Land, Singapura, dan Premier, Prancis. Saat ini, “Kami terus menggenjot pengembangan fisik dan penjualan proyek Jakarta Garden City yang berkolaborasi dengan Kepel Land. Dengan total luas lahan 270 ha, aliansi strategis ini akan membangun klaster pertama seluas 25 hektar yang terdiri atas 400 unit rumah,” ujar Edwyn. Sementara dengan Premier, mereka membangun klaster eksklusif di Modern Hill.

PT Wika Realty
Masuk Lima Besar

Walau terbidani sebagai kontraktor, namun PT Wika Realty Tbk sudah memiliki jejak rekam properti yang cukup positif. Beberapa proyeknya tersebar di kotakota besar dan menengah di Indonesia. Tahun ini, bahkan mereka mencnangkan target menjadi lima besar pengembang papan atas.

Tentu saja, upaya ke arah itu sudah mulai mereka rintis. Di antaranya dengan mengubah orientasi pasar yang tidak lagi mengakomodasi kelas gurem, melainkan menengah atas. Dalam paparan rencana mereka tahun 2009, tertera proyek kondotel di Pecatu dan Nusa Dua Bali berada dalam prioritas utama.

Kendati realisasinya masih tergantung situasi makro, namun Muhammad Nawir, Presiden Direktur PT Wika Realty, menjanjikan future development itu akan segera dimulai. Sekadar informasi, kondotel di Nusa Dua akan dibangun sejumlah 215 unit dan di Pecatu dengan lahan lebih luas yakni 4 hektar akan didirikan dua jenis properti berbeda. Satu kondotel sebanyak 400 unit dan lainnya landed villas 20 unit.

Mereka juga telah menunjuk operator dari Grup Accor International untuk mengelola kondotel di Nusa Dua. Sementara untuk perumahan, PT Wika Realty telah mempersiapkan lahan seluas 100.000 Ha di Surabaya guna dikembangkan Fortune City. Dalam pengembangan kota baru yang menghimpun landed house, apartemen dan komersial ini, mereka berkongsi dengan Fortune Mate Indonesia Tbk. Tahap pertama yang dipasarkan adalah The Green, klaster selapang 20 Ha. Sedangkan di Semarang, mereka tengah memasarkan The View tahap II.

PT Mitra Sindo Sukses (anak usaha Keppel Land)
Lansir Dua Klaster Baru

Inilah perusahaan yang menangguk penjualan cukup fantastis tahun lalu. Melalui Jakarta Garden City, mereka mampu membukukan 70% penjualan tahap I (klaster A dan B) dari jumlah 415 unit. Tahap I rencananya akan dibangun sebanyak 989 unit. Padahal harga per unitnya, boleh dikatakan cukup tinggi, sekitar Rp300 juta-1,5 miliar.

Dengan animo konsumen yang begitu tinggi, PT Mitra Sindo Sukses lantas berencana merilis dua klaster baru dengan desain yang berbeda. Terdiri atas 574 unit rumah dengan tawaran harga yang lebih menarik. Didukung pembangunan JORR (Rorotan-Cilincing, Tanjung Priok-Ancol) yang akan dilaksanakan pada bulan ini dan rampung Juli 2010 turut mendukung penjualan Jakarta Garden City. Betapa tidak, kehadiran jalan tol tersebut akan membuat akses ke Jakarta Garden City semakin startegis dari segala penjuru Jakarta.

Hingga saat ini, PT Mitra Sindo Sukses telah membenamkan investasi senilai Rp200 miliar untuk pembangunan infrastruktur dan konstruksi rumah serta fasilitas. Wajar saja bila progres pembangunan berlangsung lancar. Serah terima unit rumah tetap akan dilaksanakan pada tanggal 1 September 2009 seperti yang sudah direncanakan. Jakarta Garden City mempunyai komitmen yang tinggi kepada pembeli rumah di Jakarta Garden City untuk menyelesaikan pembangunan tepat waktu.

Dan mereka tidak akan melakukan perubahan rencana untuk pembangunan Jakarta Garden City tahun 2009 ini. Selain dua klaster baru, mereka juga akan membangun fasilitas komersial berupa ruko dengan nilai bisnis tinggi. Jakarta Garden City sendiri terbagi dalam beberapa fase pengembangan.

Grup Gapura Prima
Tunda Beberapa Proyek

Chief Executive Officer Grup Gapura Prima, Rudy Margono, tak menampik bila krisis keuangan global juga berpengaruh terhadap rencana bisnis kelompok usahanya. Walau sejumlah portofolionya menunjukkan kinerja menggairahkan, khususnya landed house Bukit Cimanggu City, namun ia memilih untuk sejenak vakum dari hiruk pikuk kontelasi bisnis dan industri properti 2009.

“Kami akan konsolidasi internal. Mengevaluasi aset-aset properti dan mempertimbangkan kembali pengembangan proyek baru,” ungkap Rudy seraya menambahkan HIPMI Tower yang masuk dalam rencana besarnya tahun 2008 lalu, pasca IPO PT Perdana Gapura Prima, akan ditunda hingga kondisi makro membaik.

Begitu pula dengan rencana IPO anak-anak usaha lainnya, akan dilakukan bila situasi kondusif. Sementara Kebagusan City, akan tetap dilanjutkan, meski ada pemangkasan di sana-sini termasuk jumlah tower yang akan dibangun. “Sesuai dengan kemampuan saja. Kami lebih realistis untuk melakukan efisiensi. Terlalu riskan jika ngotot membangun semua fitur. Kami main safe,” imbuh Rudy.

Sementara Serpong Town Square yang telah mengkonversikan diri menjadi CBD Serpong, akan dikaji ulang. Rekonsepsi adalah jalan terbaik untuk tidak mengecewakan pasar. Pusat belanjanya yang dulu hanya mengandalkan satu hipermarket sebagai daya tarik, akan diubahnya menjadi lebih atraktif. Seperti apa? Rudy tak mau menjelaskannya secara detil. Yang jelas, akan diubah sesuai keinginan pasar. Begitu pula dengan unit-unit kondominiumnya. Sebagian akan dialihfungsikan sebagai budget apartment. Langkah ini untuk menyiasati agar arus cash flow perusahaan tidak terganggu, dan diharapkan dapat mendukung strategi bisnisnya ke depan.

PT Summarecon Agung Tbk
Mundurkan Pengembangan Rumah Sakit dan Kantor

Tak ada yang menyangkal PT Summarecon Agung Tbk merupakan salah satu yang terbaik di Negeri ini. Dilihat dari kinerja perseroan yang selalu mencapai target dan komitmen pembangunan yang tepat waktu, dapat dijadikan indikator mereka pantas menjadi pengembang papan atas.

Produk terbarunya, Scientia Garden di Summarecon Serpong, Tangerang dengan klaster awal The Newton, mencetak penjualan fantastis; 303 unit laris dalam sehari. Dengan harga jual antara Rp450 juta-1,5 miliar per unit, hal yang mustahil bisa dicapai pengembang lain. Sama halnya dengan Grand Orchard di Summarecon Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dipasarkan seharga minimal rp1 miliar. Telah 90 unit lepas kepemilikan kepada konsumen Begitulah, prestasi yang dicapai perusahaan yang dinahkodai Johannes Mardjuki ini.

Pun demikian, mereka tetap memilih sikap mawas diri dan hati-hati. Kendati menargetkan perolehan Rp1,1 triliun-1,2 triliun tahun ini (lebih tinggi 10% dari tahun lalu), mereka justru tidak merambah proyek ‘mercusuar’ hanya agar dianggap besar. “Kami lebih memilih proyek yang secara matematis menguntungkan dengan over head bersahabat. Contohnya ya landed house dan ruko,” ungkap Johannes.

Dengan motivasi mengamankan arus kas perseroan, PT Summarecon Agung Tbk akhirnya menunda pengembangan dengan tingkat kompleksitas tinggi seperti rumah sakit wanita dan anak-anak St Carolus di Summarecon Serpong dan dua menara perkantoran serta hotel bintang empat di CBD Summarecon Kelapa Gading, serta township development di Bekasi. Padahal proyek-proyek tersebut telah masuk dalam rencana yang akan direalisasikan pada tahun ini.

Tak hanya menunda proyek baru, mereka juga melakukan tindak efisiensi besar-besaran di segala bidang. Dalam operasional seluruh propertinya, mereka memanfaatkan energi alternatif dengan mengonversi pasokan listrik PLN dengan gas.

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk
Setia Pada Waterfront Living

Presiden Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Budi Karya Sumadi melontarkan optimisme tinggi ketika menyinggung pengembangan Ancol masa depan. Dengan fasilitas rekreasi seperti Dunia Fantasi dan pantainya yang menarik, Ancol diramalkan bakal menjadi hot investment di Jakarta, khususnya.

Untuk itulah, usai meluncurkan The Cove, mereka akan mengembangkan dua klaster baru. Yang satu bertajuk The Green, lainnya The Bukit. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk telah mengalokasikan lahan seluas 8 ha untuk The Green. Sementara The Bukit, seluas 12 ha. Tawaran harganya tak main-main, sekitar Rp3 miliar-5 miliar bagi unit-unit The Green dan Rp1,5 miliar-2 miliar The Bukit yang akan masuk pasar pada April 2009.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Info-infonya bagus deh, cocok buat referensi bagi setiap orang yang haus informasi tentang properti. Saya berarti harus banyak belajar mb.. banyak proyek yang belum saya kenali dengan detail…

    Sukses ya..

  2. Posting Anda sangat informatif

  3. Artikel yang sangat menarik
    pls keep posting
    Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: