AMPI Segera Garap 20 Ha Landbank di SPBB

Masuknya Lippo Karawaci ke Sentra Primer Baru Barat (SPPB) Jakarta Barat, dengan proyek St Moritz Penthouses and Residences di Blok O-U-V, memotivasi PT Antilope Madju Puri Indah (AMPI) untuk segera mengembangkan cadangan lahannya. AMPI masih memiliki lahan kosong di kawasan ini seluas 20 Ha.

Dalam rencana strategis untuk lima tahun ke depan, anak usaha Grup Pondok Indah ini bakal menggarap Sentra Puri Indah. Merangkum Mal Puri Indah 1 dan  Carrefour (eksisting di Blok R&S), Mal Puri Indah 2 di Blok R, perkantoran dan apartemen serta hotel yang masing-masing di Blok P, dan Q. Total keseluruhan terdapat 15 tower.

“Lahan yang digarap Lippo Karawaci seluas 11 Ha itu dulu milik kami. Mereka membeli putus,” ujar Manager AMPI, Djoko Indarto.

Nantinya, setiap tower akan dihubungkan oleh konektor berupa sky bridge dan pedestrian yang saling berhubungan. Mal Puri Indah 1 akan dihubungkan dengan Mal Puri Indah 2 melalui jembatan niaga. “Mirip dengan Mall Pondok Indah 1 dan 2. Kelas Mall Puri Indah 2 akan jauh lebih tinggi dari yang pertama, bahkan dari Mall Pondok Indah 2, dengan tenan-tenan yang sesuai tentunya,” ujar Djoko.

Dikatakan Djoko, Mal Puri Indah 2 mengusung konsep lifestyle mall. Jadinya, tenan-tenan yang hadir sifatnya lebih kepada lifestyle, seperti food and beverage, hiburan, dan juga atraksi.

Adapun kandidat tenan utama yang masuk dalam listing adalah Metro Department Store dan Sogo Department Store. Mal Puri Indah 2 akan terdiri atas 5 lantai, yang dikombinasikan dengan apartemen setinggi 32 lantai di atasnya. Nantinya, Carrefour yang sekarang beroperasi akan direlokasi ke Mal Puri Indah 2.

Sementara di Blok P, bakal dibangun perkantoran setinggi 45 lantai yang disiapkan secara hibrid, yakni gabungan antara strata title officedan leased office. Untuk hotelnya sendiri direncanakan merupakan hotel bintang 5 danberada di Blok Q.

Ada pun konsultan perancangnya adalah Development Design Group asal Amerika Serikat yang juga mendesain Pondok Indah Mal 1&2. Diproyeksikan, nilai proyek keseluruhan akan mencapai Rp20 triliun. Dengan asumsi, nilai tanah tahun berjalan sebesar Rp10 juta/m2 dan construction cost Rp3 juta-4 juta/m2.

Iklan

Banjarmasin Menanti Investor Properti

Jika di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, para pengembang rebutan lahan dan bahkan ada yang bersengketa karenanya, di Banjarmasin, lahan justru surplus. Namun begitu, belum banyak pengembang yang membenamkan investasinya di kota seribu sungai itu. Itu pun pengembangan yang dilakukan seadanya, kalau tidak dikatakan zonder konsep yang jelas.

Sangat disayangkan memang. Sejauh mata memandang, kesemrawutan pengembangan yang tampak. Jalinan kabel listrik dan telepon yang menggantung tak beraturan, sistem drainase yang buruk, infrastruktur jalan lingkungan yang jauh dari memadai, lansekap yang cuma tempelan atau desain rumah yang berselera seadanya.  Tak hanya terjadi pada pengembangan perumahan, juga pengembangan perkantoran pemerintahan serta fasilitas umum dan sosial lainnya. Sehingga secara visual, kota ini mengesankan tidak terencana dengan baik dan matang. Pun jika kita bicara detil per proyek, jangan membayangkan seperti BSD City, Kota Wisata, Lippo Karawaci atau pengembangan lain yang dilakukan dengan visi dan konsep yang matang. Sangat jauh berbeda. Ironis, padahal Banjarmasin merupakan ibukota Kalimantan Selatan yang notabene merupakan etalase daerah yang merepresentasikan provinsi keseluruhan.

Sejatinya, potensi yang dimiliki Banjarmasin selain ketersediaan lahan yang melimpah, juga market yang lumayan besar. Kebutuhan properti, khususnya rumah, yang mencapai 10.000 unit tiap tahun tidak pernah terpenuhi. Pada tahun 2008 lalu saja, para pengembang hanya sanggup membangun 6.000 unit. hanya 60% dari target (3.000 unit RSH, 1.500 unit RS dan 1.500 unit menengah-atas)

Karena keterbatasan pasok inilah, yang menurut Ketua DPD REI Kalimantan Selatan Anwar Hamidi, pasar Kalimantan Selatan beralih ke Pulau Jawa. “Mereka membeli rumah-rumah di Pulau Jawa. Lepas dari motif mereka apakah untuk ditinggali atau untuk investasi. Kami para pengembang lokal tak mampu memenuhi kebutuhan itu. Pengembang yang sekarang beroperasi tidak memiliki ketersediaan skill, kemampuan dan juga dana yang memadai,” ujarnya.

Untuk itulah, lanjut Anwar, Kalimantan Selatan, sebetulnya memberi peluang yang cukup menjanjikan bagi pengembang Nasional yang ingin menggarap daerah ini. “Kami butuh investor properti Nasional lebih banyak lagi yang bisa mengakomodasi kebutuhan rumah warga Kalsel,” ujarnya seraya menambahkan, kendati sudah masuk Grup Ciputra, namun, belum dapat memenuhi market need sesungguhnya.

Sekadar informasi, Grup Ciputra masuk ke Banjarmasin pada tahun 2005. Mereka mengusung konsep first class living dengan penekanan pengembangan pada kualitas properti dan lingkungan. Konsep ini memang belum pernah dikembangkan sebelumnya oleh pengembang lokal. Jadi, begitu Grup Ciputra menawarkan Citra Garden, pasar sangat antusias menyambutnya. Meski harganya tak bisa dibilang murah, antara Rp900 juta-1,5 miliar. Hanya saja, Citra Garden menawarkan unit-unit perumahan dengan jumlah terbatas. Hanya 300 unit yang berdiri di atas lahan seluas 10 Ha.

Dengan kondisi aktual tersebut, jelas Kalimantan Selatan memberi peluang yang cukup menjanjikan bagi investor properti Nasional. Rumah-rumah dengan range harga antara Rp500 juta-1 miliar, sangat diminati pasar. Terbukti dengan prestasi Citra Garden tadi.

“Segmen pasar kami adalah pengusaha dengan karakter yang menjunjung tinggi prestis dan kualitas hidup,” ujar Project Manager Citra Garden Piter. Jumlah populasi dengan profil demikian, lanjutnya, sangat besar. Jangan lupa, mereka ini adalah para pengusaha dengan bisnis utama batu bara, kayu, tambang, dan jasa perdagangan. Dan mereka sebelumnya membelanjakan uangnya untuk kebutuhan propertidi Surabaya, Semarang atau Jakarta.

Kehadiran Ciputra Group di Kalimantan Selatan, memang membawa angin segar bagi sektor properti di sini. Karena proyek Citra Garden-lah, belakangan muncul proyek serupa. Sebut saja Kota Citra Graha, Bun Yamin Residences, Citra Mandiri dan lain-lain. Mereka mencontoh habis-habisan konsep Citra Garden. Lengkap dengan duplikasi patung kuda yang merupakan trademark seluruh proyek Grup Ciputra di mana pun berada.

“Ada kegairahan menyusul kehadiran Grup Ciputra. Pengembang lokal menjadi lebih kreatif dan inovatif. Ini dampak positif jika para pengembang Nasional ikut berkiprah di sini,” tandas Anwar.

1 Park Residences Hentikan Aktifitas Penjualan

Belum lagi dilansir secara resmi, apartemen 1 (one) Park Residence yang dibesut PT Intiland Development Tbk., dihentikan penjualannya. Corporate Secretary PT Intiland Development Tbk, Theresia Rustandi memberikan konfirmasi bahwa dihentikannya aktifitas penjualan apartemen seharga Rp10 juta-12 juta/m2 itu karena tidak feasible. “Dengan kondisi perekonomian makro yang tidak memperlihatkan kejelasan dan kepastian, kami memutuskan menghentikan kegiatan sales, dan dengan demikian proyek pun ditunda hingga waktu yang tidak dapat kami tentukan,” ungkap Theresia.

1 (one) Park Residences, menambah daftar proyek-proyek baru yang ditunda pengembangannya. Menyusul Kota Kasablanka (Grup Pakuwon), HIPMI Tower (Grup Gapura Prima) dan Office Tower di Summarecon Kelapa Gading (Summarecon Agung). Padahal, apartemen yang sebelumnya bertajuk Grand Champa tersebut telah mendapat sentimen positif pasar. Tak kurang 30% dari total 300 unit yang ditawarkan, terjual.

Untuk mengobati kekecewaan konsumen yang kadung membeli, PT Intiland Development Tbk secara profesional mengembalikan utuh uang yang sudah masuk. “Seratus persen kami kembalikan kepada konsumen. Mereka juga kami berikan penjelasan mengenai ditundanya proyek ini,” ungkap Theresia.