The Green Andara, Jual Prestis

Bukan tanpa alasan jika Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia, Lucy Rumantir, menyatakan bahwa bisnis properti residensial adalah yang paling prospektif di antara sub sektor lain. Terutama pengembangan yang dilakukan di wilayah selatan Jakarta, yang memang diperuntukan bagi pengembangan perumahan landed. Salah satu lokasi yang kerap menjadi incaran pengembang dan investor adalah Pondok Labu.

Kawasan ini secara visual alamiah memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak terdapat pada kawasan lain. Lingkungan masih hijau, ditandai masih surplusnya area terbuka hijau yang ditumbuhi pohon Mahoni, Akasia, Tanjung dan Angsana, juga kesegaran udara yang masih terjaga dengan baik. Kelebihan ini seringkali dijadikan sebagai andalan para pengembang yang merintis bisnis perumahannya di sini. Sebut saja yang terbaru, The Green Andara yang menempati area di Jl Andara, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dikembangkan PT Bintang Mahameru, The Green Andara mulai dilansir sejak awal tahun ini.

Sekadar informasi, lahan yang ditempati The Green Andara sebelumnya merupakan perumahan yang disewakan. Warga setempat biasa menyebutnya sebagai kompleks Schlumbelger yang sudah berdiri sejak tahun 1972. Rumah sewa yang terdiri atas 30 unit ini dimanfaatkan oleh warga warga negara asing yang bekerja di Schlumberger. Luas lahannya sendiri 20 hektar dengan kondisi topografi dinamis alias berkontur.

PT Bintang Mahameru kemudian mengakuisisi sepenuhnya lahan tersebut pada tahun lalu. Menurut Adat Prawira Bima, Manager Perencanaan, Pemasaran dan Pengembangan The Green Andara, “Pembelian dilakukan dengan ekuitas perusahaan tanpa uang dari pihak ketiga atau jasa perbankan”. Tentu saja, keberanian PT Bintang Mahameru membeli lahan seluas itu dengan cara beli putus, menyiratkan asumsi bahwa perusahaan pengembang ini bukan kelas ‘gurem’. Apalagi mempertimbangkan akuisisi lahan terjadi pada saat krisis finansial global berlangsung, di mana perusahaan lain justru menunda berekspansi.

Siapa sejatinya PT Bintang Mahameru itu? Pengembang ini merupakan besutan PT Alam Mahameru yang mengembangkan perumahan Vila Bukit Tidar di Malang, Jawa Timur. Induk semangnya sengaja membentuk anak perusahaan ini pada 2007, guna menyokong ekspansi bisnisnya di Ibukota dan sekitarnya. Bima menjelaskan sejak pertama berdiri mereka sudah melirik berbagai lokasi strategis di wilayah Jakarta. Namun dari banyak alternatif tersebut akhirnya pilihan tertuju pada lahan Schlumberger yang memang akan dijual oleh pemiliknya.

Lahan ini dinilai mempunyai daya tarik pesona alam dan lokasi yang strategis. Dus, status sosial yang melekat bahwa tinggal di kawasan Jakarta Selatan bagi sebagian konsumen merupakan prestis tersendiri. “Nilai jualnya pun terhitung tinggi,” ujar Bima.

Dalam tahap awal, PT Bintang Mahameru akan mengembangkan perumahan sebanyak 147 unit. Hunian akan berada di bagian tengah dari lahan yang ada. Komposisinya 60% rumah dan selebihnya merupakan infrastruktur, fasilitas dan area terbuka hijau. Uniknya, hunian yang bakal dibangun mengadopsi gaya resor dan low rise apartment. Untuk mendukung aktifitas para penghuni, akan dikembangkan fasilitas penunjang berupa club house seluas 1.000 m2. Terdapat kolam renang, lapangan tennis, café, mini market, fitness center dan lainnya.

Untuk pengembangan tahap berikutnya, PT Bintang Mahameru akan melengkapinya dengan ruang komersial yang dibangun di bagian muka proyek. Area pengembangan ini luasnya mencapai 4 hektar yang memiliki fungsi lain sebagai buffer. Mengingat di bagian depan ini akan bersentuhan dengan jalan raya dan rencana jalan tol Depok Antasari. “Adanya rencana jalan tol tersebut membuat kami harus bisa mengelola zonafikasi area agar penghuni tetap merasa nyaman,” jelas Bima.

Jelas, rencana pengembangan aksesibilitas massal tersebut sangat menguntungkan The Green Andara. Apalagi dalam siteplan yang dipublikasikan BPJT, pintu tol Depok-Antasari akan dibangun di sekitar Jl Margasatwa yang lokasinya hanya selemparan batu dari Jl Andara.

Galib adanya jika sebuah perumahan memiliki aksesibilitas menunjang, maka tingkat penjualan pun positif. Sejauh ini, menurut Nurul Yaqin, Direktur Ben Hokk Property sebagai sole agent The Green Andara, dari total 147 unit, sudah terserap 20 unit. Dengan penawaran berbagai tipe, tercatat ada 10 tipe yang berbeda, membuat konsumen bisa leluasa menentukan pilihannya untuk membeli dan memiliki satu di antaranya sesuai dengan kebutuhan mereka.

Ada pun harga jual yang ditawarkan mulai dari Rp850 juta dengan pilihan ukuran antara lain 120/144, 130/166 dan 165/180. Harga yang tinggi memang. Namun, setiap unitnya memiliki keistimewaan yang diwujudkan dalam komposisi 60% luas bangunan dan 40% lahan terbuka. Setiap unit rumah terdiri atas dua lantai dan memiliki dua halaman, di bagian depan dan belakang. Dengan desain seperti itu, akan memberikan suasana yang lapang sekaligus memudahkan penghuninya untuk melakukan eksperimen dalam melakukan dekorasi eksterior dan interior. Desain bangunan seperti ini, menurut Bima, merupakan komitmen developer dalam mendukung konsep properti ramah lingkungan.

sumber: Properti Indonesia edisi April 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: