Pulogebang, Dipinang Banyak Pengembang

Berbicara properti tak pernah lepas dari masalah lokasi. Semakin strategis lokasi tersebut kian tinggi pula nilainya. Pemenuhan unsur strategis, mesti aksesibilitasnya memadai dan bisa dijangkau dari berbagai arah. Dekat dengan jalur bebas hambatan (tol), misalnya. Semua pelaku industri dan bisnis properti sepakat, bahwa akses yang bagus adalah added value. Dalam tataran praksis, teori ini terbukti berpengaruh luas terhadap citra dan prestasi penjualan produk properti.

Menjadi menarik, ketika teori ini kita terapkan pada kawasan Pulogebang dan sekitarnya. Kendati beberapa tahun silam, citranya identik dengan kekumuhan, kriminalitas dan kesemrawutan, kini perlahan mulai tergerus. Dengan nilai lebih akses tol dari berbagai arah; beroperasinya simpang susun Cikunir-Cakung-Tanjung Priok, Cikunir-Cikampek-Cipularang, dan terkoneksi dengan tol dalam kota serta JORR II menuju Serpong, Tangerang, seakan menguatkan tahbis, Pulogebang dan sekitarnya sekarang memang layak dipinang.

Beberapa pengembang macam Primaland dan Bakrieland Development sampai memerlukan hadir di sini, tentu mengisyaratkan bahwa kawasan ini memang sangat bernilai. Prima 1 dan Sentra Timur Residences menggenapi kehadiran proyek lawas macam Taman Pulogebang, Menteng Metropolitan, Pulogebang Kirana dan Royal Residences. Sedikit ke utara, pengembangan skala kota Jakarta Garden City hasil kolaborasi Keppel Land dan Modernland Realty, juga tengah digenjot pembangunannya. Keberadaan Jakarta Garden City, secara tak langsung, kian meneguhkan asumsi bahwa timur Jakarta tak kalah dinamis dibanding wilayah lainnya.

Menurut Marsisca W Pertiwi, assistant marketing manager Royal Residence, masuknya pengembang-pengembang kakap tersebut akan membuat kawasan Pulogebang dan sekitarnya berpotensi sebagai ladang investasi pilihan. Bahkan jika dirancang dengan konsep integral, dalam arti selain terdapat residensial, juga dilengkapi sarana komersial, hiburan dan rekreasi serta sosial, terbuka kemungkinan berkompetisi dengan Kelapa Gading. “Growth Kelapa Gading sudah semakin tipis. Karena harga propertinya sudah tinggi. Sekaranglah kesempatan untuk Pulogebang dan sekitarnya. Harga lahan dan propertinya terhitung masih rendah. Ada potensi pertumbuhan harga yang besar,” ujar Principal Ray White Kelapa Gading, David Tjandra.

Unit-unit Sentra Timur Residence, contohnya. Sudah mengalami kenaikan harga dua kali di pasar sekunder. Menurut Project Director STR, Djafarullah, pasar sekunder STR diminati investor. “Lumayan sulit mencari unit yang diluncurkan perdana. Kalaupun ada, saat ini mungkin sudah mencapai Rp200 juta-250 juta,” ungkap Djafarullah. Demi alasan ini dan proyeksi ke depan pula, wajar jika kemudian, Bakrieland Development kembali menggiatkan kongsinya dengan Perumnas (sebagai pemilik lahan) dan Jakarta Propertindo membidani kelahiran Kota Baru Perumnas (KBP) seluas 40 Ha.

Terbentuknya konsorsium ini dipandang sebagai langkah cepat dan praktis guna menggenjot perkembangan kawasan. Lebih karena latar belakang ketiganya sebagai pemilik aset lahan (Perumnas), aset modal dan profesional (Bakrieland Development) dan keahlian memahami kebijakan publik dan privat (Jakpro). Nantinya, segala hal yang berkaitan dengan kebijakan pengembangan dan aplikasinya tidak harus melalui Badan Pengelola Sentra Primer Baru Timur, yang kabarnya segera diamputasi.

Terhadap KBP ini, Bakrieland Development jauh-jauh hari sudah mengajukan rancangan konsep baru yang menekankan pembangunan properti komersial guna mendukung dan menggenjot gerak ekonomi kawasan. Menurut Djafarullah, rancangan konsep KBP yang diajukan Bakrieland Development ini economic and business friendly.

Direktur Utama Jakpro, IGK Suena, mengatakan, segala usulan, ajuan konsep, dan master plan akan diakomodasi bersama. “Kami masih melakukan revisi terhadap rancangan lama. Kami analisa lagi market supply and demand­-nya. Yang pasti konsep KBP resmi akan diputuskan Juni nanti pada saat provinsi DKI Jakarta merayakan hari jadinya,” timpal Suena.

Tak mau kalah dengan triumvirat tersebut, Grup Hasana Damai Putra juga terus melakukan penetrasi pasar untuk proyeknya, Royal Residences. Dengan luas lahan tersisa 30% dari total 28 Ha, mereka berencana akan memulai pengembangan tahap II. Menurut Marsisca dalam tahap II ini tipe rumah yang ditawarkan lebih beragam. “Mulai dari ukuran 44/173, 57/178, 50/120, 99/178 dan beberapa tipe besar seperti 65/294 dan 109/120. Harga jual, diawali dengan angka Rp400 juta hingga Rp1,3 miliar/unit. Strategi ini kami terapkan guna memudahkan konsumen memilih unit rumah sesuai kebutuhannnya,” tambahnya.

Tak pelak, segala rencana tersebut, menghasilkan gerakan harga yang cukup dinamis. Menurut David Tjandra, jika sebelum ada berita rencana pengembangan besar-besaran dilansir, harga lahan di ruas jalan Bekasi Raya, sisi tol JORR dan Jl. Pulogebang Raya masih berkisar Rp1 juta-1,3 juta/m2, kini bertengger di angka Rp2 juta-2,5 juta/m2. Nyaris 47%. Padahal riwayat pergerakan harga tanah di sini sempat menunjukkan tanda-tanda ‘kematian’ alias stagnasi untuk beberapa saat. Ketidakpekaan Pemkot Jakarta Timur terhadap dinamika pasar, dituding sebagai pemicu utama kawasan ini sulit berkembang. Ruang-ruang industri berupa pabrik dan pergudangan tersebar tak terkonsentrasi secara teratur. Dus, infrastruktur jalan berkualitas buruk yang mencuatkan kemacetan di mana-mana.

Namun, kondisi itu, dalam beberapa tahun terakhir, serta diharapkan ke depannya terperbarui. Sehingga pembangunan properti dapat terus berkelanjutan yang berimplikasi pada peningkatan harga lahan dan properti secara signifikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: