Penasihat Komunikasi Buat Sri Hartati Fauzi

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya ingin mengungkapkan cerita di balik peristiwa yang melibatkan perempuan-perempuan wangi, pada acara press conference Jakarta Fashion and Food Festival 2009 di Kelapa Gading, 11 Mei 2009.

Ada sekitar 20 perempuan wangi, modis, dan tentu saja cantik, mungkin cocok disematkan kepada mereka label Sosialita. Noni Chirilda, Paula Verhouven sebagai ikon JFFF ke 6 kali ini, Martha Tilaar, pemilik sekolah Esmod,wakil MRA Group (untuk mereka berdua, mohon maaf saya tidak hafal namanya, karena saya sedang fokus kepada perempuan yang saya sebut setelah ini), Sri Hartati Fauzi (yang notabene istri dari Gubernur Fauzi Bowo), dan tuan rumah Direktur Summarecon Agung Tbk, Liliawati Rahardjo. Kemasan mereka, tak dimungkiri, elegan, classy, cantik dan menarik.

Paula yang jadi bintang pada siang itu, memang menunjukkan kelasnya sebagai model dengan reputasi lumayan baik. Prestasinya, kata MC yang pada saat itu dihelat Noni Chirilda,  sudah me-regional untuk kawasan Asia-Pacific. Dengan tinggi 183 cm bobot sekitar 45-47 kg, Paula terlihat paling jangkung, seksi dan proporsional dibanding perempuan-perempuan lainnya yang mulai tertampak lemak-lemak menggelambir di seputar paras, pinggang, panggul, paha dan bahkan betis….

Perempuan kedua yang jadi perhatian utama dan akan saya kritik habis-habisan, sekali lagi dengan tidak mengurangi rasa hormat, adalah Sri Hartati Fauzi. Karib disapa Tatik, tampilannya memang stereotype ibu-ibu dharma wanita jaman Orde Baru (atau jaman Orde Reformasi sekarang belum berubah). Tatik mengenakan batik merah berpotongan kebaya encim, celana panjang warna krem, dan rambut dibiarkan terbuka memenuhi pundaknya yang sudah mulai sedikit membungkuk. Polesan make upnya tidak terlalu kinclong, namun enak dipandang.

Tatik dipersilakan berbicara di muka mimbar, usai Anwar Salim (Direktur Summarecon Kelapa Gading yang juga didapuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana) menjelaskan dengan rinci event JFFF ke 6 (sedikit membosankan karena memakan waktu hampir satu jam dengan tanpa jeda, titik atau koma).

Noni berkata, “Demikian penjelasan Bapak Anwar mengenai penyelenggaraan JFFF kali ini. Begitu mengesankan dan sangat jelas sekali. Dengan tema Locafore, JFFF bertujuan menegaskan keunggulan-keunggulan budaya lokal yang kita miliki sekaligus mengangkatnya ke dunia internasional. Karena itu, selain menggelar rancangan 43 desainer muda Indonesia, festival makanan tradisional soto nusantara, juga akan dilaksanakan wine and cheese festival yang mendatangkan anggur dan keju dari beberapa negara sahabat. Untuk itu, kami mempersilakan Ibu Sri Hartati Fauzi Bowo memberikan kata sambutan, sepatah dua patah kata, mengenai penyelenggaraan JFFF ke-6 kali ini yang juga melibatkan enam negara sahabat”…..

Sambil memegang selembar kertas (saya kira itu teks pidato yang sudah disiapkan Tatik semalaman, karena pada saat Anwar berbicara, Tatik ini komat-kamit membaca selembaran itu dengan konsentrasi tinggi), yang dipanggil namanya ini maju ke depan mimbar.

Setelah berbasa-basi bla…bla…bla… dengan anggukan dan salam-salaman dengan Anwar, Kepala Dinas Pariwisata DKI, dan Direktur Utama Summarecon Agung Johannes Mardjuki, Tatik memulai pidatonya.

“Ada yang sadar dan sudah tahu tidak, akhir-akhir ini ada baliho besar yang terpasang di lokasi-lokasi strategis Jakarta dengan gambar saya tengah berpose membersihkan sampah?”….

Hadirin yang ada dan memenuhi Ruang Gading Agung, Klub Kelapa Gading, tempat press conference itu berlangsung, serentak menjawab tidak. (tapi sepertinya kurang serentak, karena beberapa perempuan wangi yang duduk di jajaran terdepan menganggukkan kepala meski tidak terlihat sangat yakin).

Tatik melanjutkan….”Ya saya tengah mengampanyekan Gerakan Masyarakat Peduli Sampah (GMPS). Jadi, GMPS ini ingin mengajak masyarakat untuk membersihkan sampah di jakarta, agar terlihat bersih dan rapi…. bla…bla…bla…”

Saya lihat Anwar, Johannes, Paula, Taruna Kusmayadi, Musa Widiatmaja, Martha Tilaar dan terutama teman-teman wartawan saling pandang dan menautkan alis tinggi-tinggi tanda rasa heran, aneh bercampur dongkol mungkin.

Sudah jelas-jelas, Noni sang MC, mempersilakan (atau menyuruh mungkin) si Ibu Tatik ini memberikan kata sambutan mengenai JFFF, bukan GMPS….hadirin dibuat tertawa kecut. Sebab, selama 30 menit Tatik ngalor ngidul ngomongin tentang sampah yang segunung dan mimpi-mimpi besarnya mengubah perilaku masyarakat Jakarta agar peduli sampah….

Oh…c’mon, Ma’am. Salah tempat dan waktu kalau Anda berpidato seperti itu… Taruna, Musa, Martha dan juga Johannes geleng-geleng kepala. Istri DKI satu masak tidak memahami psikologis audiens? Dia sama sekali mengabaikan keheranan dan kemangkelan hadirin dengan terus berbuih-buih masalah sampah.

Teman saya bertanya, apakah untuk menjadi Istri DKI satu tidak dibekali pendidikan kepribadian, komunikasi, dan menempatkan diri jika tampil di depan publik layaknya pemilihan ratu-ratu kecantikan atau at least Abang-None Jakarta?

Teman lain mengatakan, “Istri kan cerminan suami, jadi… so-so-lah….”

Beberapa hadirin saya lihat meninggalkan Gading Agung satu persatu. Satu di antaranya nyeletuk, “Nggak mutu banget pidatonya”….

Gerakan Masyarakat Peduli Sampah dan Jakarta Fashion and Food Festival? Simbiosa yang aneh tapi, boleh juga di-combine. Coz, mungkin Tatik melihat perhelatan seakbar JFFF berpotensi memproduksi sampah segunung, jadinya ia mencoba mengingatkan agar sampah-sampah itu nantinya diperlakukan dengan layak….

TABIK!

Iklan

3 Tanggapan

  1. Doeenggg!!! Ga matching banget ibu Tatik sama suasana!!!!! Untung ga ada pesta pembukaan. Kalo ga, presentase nonton di Metro TV menurun drastis bo, gara2 ini!!!

  2. Mba, coba pikir…orang yang ngundang anda, kadang semua tidak sempurna mba….., anda jelek2an brandnya di blog ini…

    anda jadikan blog ini puncak kekesalan anda…kenapa anda tidak kasih masukan saja ke orangnya langsung? tidak perlu kan hal yang jelek di publis? ini mental orang indonesia yang terbelakang dan tidak legowo…
    emang brandnya punya salah apa terhadap anda?
    klo anda ga mo publikasikan, ya udah diem aja…

    kita hargai pendapat anda

    tapi anda juga mestinya tahu etika yang lebih baiik menulis gimana…terutama mendescreditkan brand orang…

    butuh waktu lama membangun brand, coba anda juga saling menghargai…

  3. Kepada Mbak atau Mas Mediaanti (anyway kalau dalam bahasa Indonesia ejaan yang disempurnakan kita mengenal pola DM atau MD, jadi saya putuskan untuk menyebut anda Anti Media), terima kasih atas tanggapan Anda terhadap tulisan di atas.

    Saya sangat mafhum, kendati Mbak atau Mas menggunakan identitas anonim, IP Address Anda tercatat di dashboard saya. Jadi, sedikit banyak, saya tahu siapa Anda.

    Balik ke topik di atas. saya tidak bermaksud menjelek-jelekan brand di sini. Saya mengungkapkan fakta di balik peristiwa. Saya sama sekali tidak kesal atas fakta itu dan memang tidak berhak intervensi atau mengeksekusi apakah fakta tersebut benar atau salah. Fakta sebagaimana adanya.

    Bukan kewajiban saya untuk menyampaikan kepada Ibu Tatik mengenai apa dan bagaimana dia harus bersikap atau berpidato atau bagaimana berbicara di depan publik (media dan undangan).

    “ini mental orang indonesia yang terbelakang dan tidak legowo…
    emang brandnya punya salah apa terhadap anda?
    klo anda ga mo publikasikan, ya udah diem aja…”

    Kutipan yang Anda tulis di atas justru telah menghina orang Indonesia, termasuk saya, Ibu Tatik, dan orang Indonesia yang membaca blog saya ini. Orang Indonesia, termasuk saya adalah terbelakang dan tidak legowo.

    Saya tidak mengerti brand apa yang Anda maksud? Anda telah memberikan komentar di luar konteks tulisan. Sebetulnya, Anda mengerti atau tidak apa yang saya tulis? Anda yang katanya ‘terdepan’ dan otomatis ‘tidak terbelakang’ spt orang Indonesia lainnya yang Anda cap demikian, apakah sudah memahami tulisan saya? Dapatkah Anda membedakan brand dan orang?

    “klo anda ga mo publikasikan, ya udah diem aja…

    kita hargai pendapat anda”

    Kutipan Anda yang di atas ini bertendensi mengekang kebebasan berekspresi yang dilindungi Undang-undang Dasar 1945 pasal 28. Anda menyuruh saya diam, siapa Anda dan apa kapasitas Anda? Ini yang Anda sebut menghargai pendapat saya?

    “tapi anda juga mestinya tahu etika yang lebih baiik menulis gimana…terutama mendescreditkan brand orang…

    butuh waktu lama membangun brand, coba anda juga saling menghargai…”

    Dalam bekerja saya berada dalam koridor Etika Jurnalistik. Nah, yang Anda maksud etika menulis itu apa? Bagaimana Anda bisa memvonis saya telah mendiskreditkan brand (ini yang bikin saya bingung) atau orang? sudah dilakukan uji materi atas tulisan saya?

    “butuh waktu lama membangun brand, coba anda juga saling menghargai…”

    Oke, saya menghargai tanggapan Anda atas tulisan saya di atas. Anyway, thanx for visiting and reading my blog.

    TABIK!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: