Pluit, Arena Pertarungan Sengit

Beberapa tahun lalu ketika meresmikan dimulainya pembangunan Emporium Pluit Mall milik kongsi Grup Agung Podomoro dan PT Jakarta Propertindo, di kawasan CBD Pluit, Effendi Anas Walikota Jakarta Utara saat itu berkata, “CBD Pluit diharapkan menjadi infrastruktur kota yang dapat menggerakan roda ekonomi khususnya Jakarta Utara”. Kawasan ini kemudian menjelma menjadi pusat bisnis dan hunian terpadu yang menjadi perintis pengembangan properti serupa di lokasi lainnya di sekitar Pluit. Sebelumnya, tak ada gedung jangkung yang berdiri dalam satu kawasan.

Pluit sendiri merupakan bagian dari kecamatan Penjaringan Jakarta Utara, dan termasuk bagian dari kota tua. Mengacu peta Topographish Bureau Batavia tahun 1903 kawasan ini disebut dengan nama Fluit Muarabaru. Nama ini berawal dari adanya kapal layar panjang berlunas ramping di pantai sebelah timur muara Kali Angke yang disebut fluitschip pada tahun 1660. Berfungsi untuk pertahanan Benteng Vijfhoek di pinggir Kali Grogol, tepatnya sebelah timur Kali Angke dari serangan pasukan Banten. Kubu pertahanan ini pun dikenal dengan sebutan De Fluit dan kemudian jadi Pluit penyebutannya hingga sekarang.

Dalam perkembangannya kemudian, Pluit berubah menjadi kawasan permukiman elit. Rumah-rumah berukuran besar dan berpagar tinggi sangat mudah ditemui. Profil pemiliknya, mudah ditebak, adalah mereka yang memiliki latar belakang bisnis dengan tempat usaha di Glodok atau Mangga Dua.  Ini sesuai dengan kultur daerah pesisir yang dianggap sebagai daerah emas dan sangat strategis untuk melakukan perniagaan waktu itu.  Apalagi daerah tersebut terkenal dengan bandar pelabuhan yang terletak di muara sungai Ciliwung-Angke.

Hingga kini Pluit tetap memiliki magnitude khas dengan karakter berbeda dibanding kawasan lain. Selain identik sebagai kawasan gedongan, Pluit memiliki aksesibilitas yang strategis, dekat dengan Bandara Udara Soekarno-Hatta serta berbagai pusat bisnis seperti, Glodok, Kota, Mangga Dua dan Roxy. Mengingat perkembangannya yang begitu cepat dan diprediksi bakal sangat pesat, kawasan Pluit yang sejak 1960-an dikelola oleh Badan Pengelola Lingkungan (BPL) DKI Jakarta, sebagian besar wilayahnya kemudian dilimpahkan kepada PT Jakarta Propertindo pada 2000. PT Jakarta Propertindo  merupakan sub holding BUMD bidang properti. Setelah sebelumnya ditangani oleh PT Pembangunan Pluit Jaya pada 1997 setelah menerima aset dari BPL.

CBD Pluit yang menelan dana tak kurang dari Rp3 triliun hanyalah salah satu contoh pengembangan yang diyakini menjadi perintis pertumbuhan kawasan. Padahal sebelumnya, selama dua dekade Pluit hanya diisi oleh pusat belanja Mega Mall Pluit yang dikembangkan PT Duta Wisata Loka. Tergoda akan perubahan yang begitu dramatis, termasuk rencana PT Jakarta Propertindo yang akan melengkapi Pluit Junction dengan De Paradiso, PT Lippo Karawaci Tbk juga ikut meramaikan pesona Pluit. Mereka bahkan sampai harus mengakuisisi Mega Mall Pluit senilai Rp250 miliar dan mengubahnya menjadi Pluit Village.

Menurut Suryanto Salim, Member Broker LJ Hooker Pluit, masuknya investor-investor properti kakap tersebut merupakan bukti bahwa kawasan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sedikit ke utara, tepatnya Pantai Mutiara, PT Intiland Development Tbk juga tengah berpacu merampungkan Regatta. Setelah tahap I pengembangan 4 apartemennya rampung, mereka kini bersiap mengembangkan tahap II. Total apartemen yang ditawarkan sebanyak 920 unit dengan harga jual mulai dari Rp12 juta/m2.

Proyek lainnya yang berada dekat dengan Pluit adalah milik Grup Agung Sedayu. Meski tepat berada di Pantai Indah Kapuk, tak jauh dari kawasan konservasi alam hutan mangrove, namun mudah dijangkau dari arah Pluit. Di sini Grup Agung Sedayu  mengembangkan hunian Bukit Golf Mediterania. Dengan luas mencapai 300 hektar,  fasilitas yang dibangun layaknya kota mandiri. Mulai dari sarana pendidikan, perkantoran, pasar modern, hingga sarana olahraga dan rekreasi.

Di sini telah terbangun ribuan rumah dan telah dihuni ribuan kepala keluarga. Akses yang langsung menuju tol Sedyatmo yang terhubung ke bandara dan pusat kota, membuat kian terbukanya kawasan ini. Ikut meramaikan persaingan adalah PT Premier Indonesia yang menancapkan tajinya dengan mendirikan Premier Mansion.

Pembangunan properti-properti baru tersebut, memang sangat eksesif. Harga lahan dan properti, mengikuti fatsoen ekonomi, ikut terkerek naik. Seperti di di beberapa lokasi kawasan Pantai Mutiara harga kavling kanalnya telah berada pada level Rp8 juta-Rp9 juta/m2. Sedangkan di Jl Pluit Raya Selatan berkisar antara Rp6 juta-Rp7 juta/m2. Angka lebih rendah  Rp5 juta-6 juta/m2 yang ditawarkan Pantai Indah Kapuk dan Bukit Golf Mediterania.

Harga-harga ini menurut Suryanto mengalami apresiasi setiap tahunnya. Apalagi saat beberapa proyek baru berukuran raksasa masuk ke pasar. “Pluit saat ini lebih seksi. Pasok dan demand tak pernah sepi. Selalu seimbang, bahkan kadang penawaran terbatas, permintaan justru melonjak,” ujar Suryanto.

Sumber: Properti Indonesia edisi Juni 2009

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Mam, yang Bukit Golf Mediterania itu bukannya punya Podomoro dan Sedayu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: