GP Plaza, Perjudian Gapura Prima

Kondisi krisis yang mengharuskan efisiensi di segala hal, menjadi motivator kuat yang mendorong Grup Gapura Prima, melansir Gapura Prima Plaza (GP Plaza). Revisi biaya sewa ruang, salah satunya, merupakan aksi efisiensi yang dilakukan beberapa perusahaan, baik domestik maupun multinasional. Mereka mulai mempertimbangkan opsi untuk relokasi ke ruang perkantoran yang ukurannya lebih kecil di tempat yang sama atau lokasi lainnya di luar kawasan bisnis utama (CBD), dengan harga sewa jauh lebih miring.

Tren relokasi ini kian menguat, seiring masih belum pulihnya kondisi makro ekonomi. Lokasi-lokasi perkantoran yang diincar, selain di kawasan TB Simatupang yang memang telah menjelma sebagai kawasan perkantoran sekunder setelah CBD Sudirman dan Thamrin, juga koridor MT Haryono dan S Parman.

Grup Gapura Prima membaca konstelasi ini sebagai isyarat besarnya ceruk pasar perkantoran.  Dengan GP Plaza, mereka menggarap pasar yang jumlahnya, menurut riset Procon Indah semakin meningkat. Kendati belum sampai pada tahap transaksi, perusahaan-perusahaan yang tengah dalam proses ‘mencari’ saat ini, jauh lebih banyak dibanding tahun lalu.

“Penyewa yang berminat relokasi menjadi permintaan utama bagi pasar perkantoran dalam dua tahun mendatang,” ungkap Associate Director Procon Indah, Utami Prastiana. Tarif sewa perkantoran di CBD, tetap bergeming. Bahkan, ada perkantoran yang melakukan penyesuaian sewa dengan kenaikan di bawah 10 persen. Perubahan sewa paling banyak terjadi karena depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Rata-rata harga sewa di CBD mencapai Rp 177.000/m2 per bulan atau setara 15,36 dolar AS/m2/bulan.

Padahal di sisi lain, pemasukan perusahaan justru cenderung menurun seiring anjloknya permintaan terhadap produk jasa dan barang yang mereka produksi. Realistis jika mereka kemudian memangkas operational cost-nya. Tren relokasi ini, mengakibatkan tingkat okupansi perkantoran CBD turun 1 % menjadi 86,6% dari sebelumnya 87,7%.

GP Plaza berupaya untuk menangkap peluang 1% itu. “Kami menyediakan ruang kantor yang belum terpenuhi oleh perkantoran-perkantoran yang ada di CBD. Murah, kualitas memadai, fasilitas lengkap dan representatif,” ujar Chief Operating Officer Grup Gapura Prima, Rudy Margono.

GP Plaza dirancang sebagai mixed use development dengan konten utama ruang perkantoran sebagai identitas proyek. Kawasan Slipi, Jakarta Barat, lokasi proyek ini berada, memang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Terdapat sejumlah gedung baru baik pengembangan baru maupun gedung yang mengalami refurbishment. Sebut saja Aston SOHO Slipi yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Aston SOHO ini menyatukan dua fungsi berbeda kantor dan tempat tinggal dalam satu unit desain.

“Untuk kawasan Slipi, properti jenis ini memang paling sesuai. Karena itu, GP Plaza tak hanya menawarkan ruang kantor, juga apartemen dan pusat belanja dalam satu gedung. Agar aktifitas penghuni terpusat dalam satu sirkulasi kawasan,” urai Rudy.

Melalui anak usaha PT Kharisma Andalas Putra, Grup Gapura Prima membenamkan investasi senilai Rp750 miliar. Tiga puluh persen di antaranya berasal dari kocek perusahaan, sisanya dari pre komitmen konsumen. Sedangkan pinjaman perbankan baru akan digunakan jika kedua sumber dana di atas tidak mencukupi.

Pembangunan GP Plaza setinggi 31 lantai ini direncanakan selesai pada pertengahan 2011 nanti. Di dalamnya  terdapat apartemen (GP Residences), ruang kantor (GP Office) dan pusat belanja (GP Shopping arcade). GP Residences ditawarkan sejumlah 312 unit  yang berada di lantai 17-28, GP Plaza Office berstatus strata title yang menempati dua bagian; lantai 5-11 dan 12-19 serta 2 lantai GP shopping arcade (lantai dasar dan mezzanine)

Dengan harga penawaran perdana unit apartemen tipe studio (27,8 m2) Rp 425 juta dan 55,6 m2 Rp850 juta serta perkantoran dengan rentang harga Rp1,3 miliar-2,3 miliar, cukup pantas bersaing dengan produk sejenis. Sesuai dengan kemampuan finansial segmen pasar yang dibidik, yakni perusahaan lokal yang berminat relokasi dan juga pasangan muda.

GP Plaza berpeluang meraup simpati pasar. Sebab, hingga saat ini, dia merupakan pemain tunggal di kawasan Slipi. Bahkan dalam radius 5 km setelahnya, seperti  kawasan  Simprug  dan Senayan. Aston SOHO, tetangga terdekatnya, sudah lebih dulu eksis, dan terserap pasar dengan baik. Dus, lokasinya terbilang strategis dan bebas aturan 3 in 1, menjadi nilai tambah bagi pasar yang menginginkan gaya hidup serba praktis. Dekat dengan tempat kerja, dan tempat aktifitas lainnya seperti hiburan, olahraga, dan sosial.

K-Link Tower

Selain GP Plaza, properti hibrid yang meramaikan pasar tahun ini adalah K-Link Tower. Berbeda dengan nama pertama, yang terakhir ini dikembangkan oleh sebuah perusahaan multi level marketing (MLM) PT K-Link Indonesia.

K-Link Tower didesain setinggi 26 lantai. Selain untuk mengakomodasi kegiatan internal mereka yang membutuhkan ruang lebih representatif, juga terbuka bagi penyewa umum. K-Link Tower yang menempati lahan di Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, kavling 59 A, atau tepat di samping RS Medistra, telah memulai pembangunan dan akan rampung pada akhir 2010. Menurut Senior Marketing Manager PT K-Link Indonesia, Djoko Komara, meski belum terbangun, peminatnya banyak.

Pernyataan Djoko ini mengamini tren yang berkembang sekarang, yakni kebutuhan ruang kantor yang simpel, fasilitas memadai, dan tentu saja cukup representatif karena berada di pusat kota. “Pasar saat ini tidak membutuhkan ruang yang besar, fasilitas wah, atau tampilang fisik kantor yang megah. Asal memenuhi standar perkantoran dan mendukung efisiensi, pasti diminati,” ujar Utami Prastiana.

Peluang K-Link Tower untuk menyerap pasar, tampaknya sangat besar. Mengingat jumlah ruang yang disewa sangat terbatas dan juga ada nama-nama besar tenan yang sudah memberikan konfirmasi sebagai daya tarik. Antara lain Starbucks.

Keberadaan K-Link Tower dan GP Plaza ini menambah pasok ruang kantor di Jakarta yang secara kumulatif mencapai 3,87 juta m2.

Iklan

Summarecon Bekasi Dilanjutkan

Mempertimbangkan kinerja perseroan yang tidak terlalu terdampak krisis dan antusiasme pasar yang begitu kuat terhadap produk-produk PT Summarecon Agung Tbk., mereka berencana melanjutkan kembali proyek perumahan skala kota Summarecon Bekasi. Sebagaimana kita ketahui, proyek seluas 250 Ha tersebut sempat ditunda lebih kurang satu tahun.

Pendapatan perseroan tahun buku 2008 tercatat mengalami kenaikan 23,3% menjadi Rp1,3 triliun dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp1,02 triliun. Dari total pendapatan tersebut, kontribusi terbesar berasal dari properti di Summarecon Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Summarecon Serpong, Tangerang dengan nilai Rp845 miliar atau 67%. Kontribusi properti di dua tempat ini meningkat Rp165 miliar dari 2007 yang sebesar Rp675,4 miliar.

Selain performa keuangan yang memberikan sinyal positif untuk terus tumbuh, Summarecon Agung juga tak henti mencetak prestasi. Per Juni 2009 ini, mereka mampu meraup penjualan perdana (pre commitment) sejumlah Rp400 miliar yang berasal dari Summarecon Serpong dan Summarecon Kelapa Gading. Rp240 miliar di antaranya disumbang dari penjualan ruko Rubby Residences dan rumah di Summarecon Serpong, sisanya dari unit-unit rumah Ebony Residences dan Grand Ochard di Summarecon Kelapa Gading.

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki mengatakan berpijak pada catatan tersebut, mereka optimis melanjutkan kembali proyek Summarecon Bekasi yang pembangunannya akan dimulai pada Juli 2010 dengan nilai investasi tahap I sebesar Rp250 miliar. Saat ini yang sudah dilakukan adalah pembebasan lahan seluas 180 Ha. “Proses pengurusan legalitas, perijinan dan kelengkapan administrasi land bank telah masuk dalam tahap finalisasi. Adapun pendanaannya kami tempuh cara-cara konservatif yakni kas internal dan penjualan pra komitmen. Prinsipnya semua beres, tidak ada masalah,” papar Johannes.

Keseriusan Summarecon Agung menggarap pasar Bekasi yang berceruk luas itu dibuktikan dengan persiapan mereka menciptakan akses langsung dari Tol Dalam Kota Jakarta, menuju Bekasi Utara, lokasi Summarecon Bekasi berada. Mereka telah mengalokasikan dana sebesar Rp110 miliar untuk akses langsung berupa jalan layang yang bermuara di Jl Ahmad Yani.

Pembangunan jalan layang ini merupakan langkah strategis mengingat Summarecon Agung sangat berkepentingan untuk menciptakan Summarecon Bekasi menjadi kawasan yang terbuka, strategis dan aksesibel. Jalan layang dirancang melintasi Stasiun KA Bekasi dan diharapkan dapat mengurai kemacetan di sekitar Jl Ahmad Yani- Stasiun KA-Jl Perjuangan. Apalagi jika proyek dua rel kereta ganda (double double track/DDT) segera direalisasikan. “Summarecon Bekasi berpotensi menjadi duplikasi Summarecon Serpong yang kini mengalami perkembangan yang pesat,” tandas Johannes.

Selain merancang kota mandiri yang akan menghimpun 250.000 unit rumah, pusat belanja, fasilitas komersial, hotel dan hiburan tersebut, tahun ini mereka menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sejumlah Rp80 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk keperluan pembebasan lahan di wilayah Serpong, dan penyelesaian tahap akhir hotel di Summarecon Kelapa Gading. Hotel yang berisi 300 kamar dan  berkelas bintang tiga ini nantinya dikelola oleh Harris. “Juni 2010 diharapkan sudah dapat beroperasi,” imbuh Johannes.

Diungkapkan Johanes, sekitar 40 persen dari belanja modal berasal dari kas internal perusahaan, dan sisanya pinjaman perbankan. “Kami masih memiliki fasilitas pinjaman dari salah satu bank swasta nasional. Dan itu belum kami gunakan, masih utuh dan disimpan sebagai dana cadangan,” imbuhnya.

Saat ini, Summarecon Agung tengah berkonsentrasi menggeber pembangunan klaster Ebony Residence dan Grand Orchard di Summarecon Kelapa Gading yang masing-masing terdiri atas 100 dan 150 unit. Begitupula dengan pembangunan ruko Rubby Residences sebanyak 195 unit. “Ini kami lakukan untuk mengejar tenggat agar tepat waktu dapat diserahterimakan kepada konsumen,” tandas Johannes.

Perkantran Ditunda

Sementara rencana membangun perkantoran (mixed office) di Boulevard Kelapa Gading (persis di depan La Piazza), ditunda. Perkantoran ini sedianya bertajuk Menara Satu. Terdiri atas tiga menara low rise yang memiliki ketinggian 11 lantai untuk dua tower pertama dan 10 lantai untuk tower ketiga. Dari lokasi perkantoran ini akan  dibangun juga commercial bridge yang akan menghubungkan Menara Satu dan La Piazza.

“Meski sudah ada pre commitment dengan perusahaan-perusahaan jasa perbankan yang ingin berkantor di sini, kami memilih menundanya. Mengingat permintaan residensial di Kelapa Gading lebih kuat dari ruang kantor,” imbuh Johannes. Padahal untuk  mewujudkan rencana tersebut Summarecon Agung telah mendapatkan dana hasil penjualan sukuk konvensional dan syariah ijarah sejumlah total Rp300 miliar, pada tahun lalu.

Diungkapkan Johannes, pada pertengahan 2010, proyek perkantoran akan mulai dievaluasi kembali. Dan jika iklim bisnis dan investasi kembali normal dan kondusif, tidak tertutup kemungkinan untuk dilanjutkan.

Aroma Duit Merebak di Sentul-Bubulak

Realisasi pembangunan jalan lingkar luar Bogor/Bogor Outer Ring Road (BORR) yang telah dimulai tahun lalu berdampak positif terhadap dinamika perkembangan properti. Gairah pengembangan baru sudah terlihat bahkan sejak jalan yang melingkari sisi utara Bogor sepanjang 11 Km itu masih dalam tataran rencana. Terutama di jalur-jalur yang dilintasinya; kawasan Sentul Selatan, Kedung Halang, Simpang Yasmin hingga Darmaga.
Dus, kini, ketika ruas R-2 Sentul Selatan-Kedunghalang sepanjang 3,70 km telah mencapai progres 60%, yang merupakan titik awal BORR, dianggap sebagai sinyalemen positif. Sementara R0; Kedunghalang-Simpang Yasmin sepanjang 4,10 km, serta segmen R1; Simpang Yasmin-Darmaga 3,20 km, akan direalisasikan akhir tahun ini hingga 18 bulan ke depan. Di antara ketiga ruas tersebut akan dibangun dua jalan layang (fly over) di Kedung Halang dan Yasmin serta satu pintu tol di Sentul Selatan.

Para pelaku bisnis dan industri properti yang sudah memiliki land bank di kawasan-kawasan tersebut di atas berstrategi melakukan ekspansi guna mendukung aksi penetrasi pasarnya. Mereka berkeyakinan kehadiran BORR merupakan peluang yang sangat besar dan berpotensi melipatgandakan kinerja keuangan. Grup Gapura Prima, Grup Cigede Griya Permai (CGP), PT Sentul City Tbk, dan PT Inti Innovaco, merilis klaster-klaster baru. Sementara Grup Megapolitan percaya diri menggarap mega proyek Cimandala City seluas 17 Ha.
Chief Executive Officer Grup Perdana Gapura Prima, Rudy Margono, mengatakan, keberadaan infrastruktur senilai Rp1,577 triliun tersebut akan membuat kawasan Sentul-Darmaga lebih terbuka dan strategis. Dan karenanya iklim bisnis menjadi lebih kondusif. “Kami tak memungkiri jika BORR memberi nilai tambah pada properti baru kami. Sementara bagi produk lama, harga jualnya mengalami kenaikan yang sangat fantastis, sekitar 20-30%,” ujarnya.
Strategi menjadikan BORR sebagai marketing gimmick memang memberi hasil luar biasa. Klaster Greenland Residences seluas 40 Ha di Bukit Cimanggu City yang dimiliki Grup Gapura Prima berkontribusi signifikan terhadap perolehan perusahaan. Sejak dipasarkan tahun lalu, menurut Rudy, menyumbang 30-40% perolehan perusahaan.
“Kami menjual properti yang sesuai dengan kebutuhan pasar di wilayah Bogor Utara, lokasi Bukit Cimanggu City. Pasar di sini sangat khusus, kulturnya ‘biar tekor asal kesohor’ menguntungkan kami. Dengan menjual produk seharga Rp300 juta-Rp1,5 miliar, kami percaya akan terserap pasar,” ujar Rudy.
Sementara Grup CGP yang menggarap Grand Sentul City dan sudah membangun 400 unit rumah berbagai ukuran dalam beberapa klaster, optimis dengan proyek komersial barunya, Bogor Centrum. Menurut Wakil Direktur Pemasaran Grand Sentul City, Swari T Arizona, Bogor Centrum akan berdiri di atas lahan seluas 20 Ha. Pembangunannya akan dimulai pada akhir 2009 dengan jadwal penyelesaian 2011.
Wilayah Grand Sentul City yang dilintasi BORR sudah pasti memberikan keuntungan tersendiri. Mereka pun tak menyia-nyiakan peluang ini dengan merancang Bogor Centrum sebagai one stop living. Semua kebutuhan mulai dari aktifitas sehari-hari seperti bekerja, sekolah, olahraga, rileks, hiburan, dan kebutuhan kesehatan, terpenuhi di sini. “Keberadaan BORR dapat meningkatkan mobilitas penghuni, warga Jakarta yang ingin ke Bogor atau sebaliknya. Dengan traffic yang tercipta ini, mendorong kami secepatnya merealisasikan Bogor Centrum,” imbuh Swari.
Serupa halnya dengan PT Sentul City Tbk yang memiliki land bank paling luas, yakni 3.000 Ha perumahan Sentul City, sampai harus menginvestasikan Rp50 miliar untuk membangun kluster barunya, Pine Forest. Klaster tersebut menempati area seluas 20 Ha. Chief Executive Officer PT Sentul City Tbk, Hanifah Kumala, mengatakan kondisi pasar saa ini jauh lebih baik. Realisasi pembangunan BORR turut memperkuat motivasi Sentul City melansir proyek baru. “Aksesibilitas menjadi mudah dan sangat memadai. Ini yang dicari calon pembeli,” tandasnya.
Tahap I Pine Forest akan terdiri atas 150 unit rumah dalam dua tipe dan 36 unit ruko. Tipe Pinus Patula berdimensi 75/135 dan Pinus Penderosa 53/12 dan 90/120. Harga per unit nya dimulai dari Rp270 juta-an.
Sedangkan ruko yang ditawarkan berukuran 100/67,5 m2 dengan harga Rp 470 juta-an. Setelah tahap pertama selesai, mereka merencanakan membangun kawasan tahap kedua dengan 280 unit dan ruko. Menurut rencana, rumah-rumah tersebut akan diserahterimakan paling lambat 18 bulan ke depan sejak dimulainya pembangunan Juni lalu. Sentul City sendiri merevitalisasi konsepnya menjadi kota mandiri berbasis eco green yang mengombinasikan fasilitas pendidikan, seni, kebudayaan, serta hiburan.

Memicu Pemain Baru
Tak hanya pengembang kakap yang memanfaatkan BORR sebagai peluang menjanjikan. Bayangkan saja jalur ini diproyeksikan meraup Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) sebanyak 23 ribu kendaraan per hari. Jika sepuluh persen saja dari mereka berkunjung ke perumahan-perumahan yang ada di sepanjang jalur ini, dan kemudian memutuskan membeli, akan terserap 2.300 unit rumah. Betapa hidup dan kompetitif, bukan?. Hukum permintaan dan penawaran akan berjalan seimbang dan diprediksikan sangat kuat.
Hal inilah yang memicu kelahiran pemain-pemain properti baru. Tidak hanya yang berbadan hukum, juga individu. Sebuat saja Sinbad Residences, Taman Firdaus, dan Bukit Sakinah. Mereka menggarap lahan milik sendiri atau pun dengan cara mengakuisisi dari pemilik lahan. Walau langkah terakhir ini diperlukan modal yang tidak sedikit.

Kondisi aktual, harga lahan yang ditawarkan di sepanjang jalur BORR terdongkrak sekitar 50 persen, menjadi Rp3 juta-4,5 juta/m2 dari sebelumnya yang hanya Rp2 jutaan/m2. Padahal Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)-nya hanya berkisar Rp800 ribu-1 juta/m2. Sementara di dalam kawasan perumahan seperti Bukit Cimanggu City, mencapai Rp1,5 juta-2 juta/m2.
Tingginya harga lahan tersebut berdampak pada tingginya nilai jual properti. Sinbad Residences yang berada tak jauh dari Terminal Bubulak, contohnya. Perumahan yang dikembangkan secara individual ini berani mematok harga Rp350 juta-900 juta/unit untuk ukuran 36/90 m-70/100. Bandingkan dengan rumah yang dipasarkan di Kota Wisata, dengan uang yang sama akan mendapatkan rumah yang jauh lebih luas.
Sebuah fenomena yang diakui atau tidak, mampu memicu pergerakan sektor lainnya. Tak hanya bisnis dan industri properti yang hidup di jalur ini, juga jasa, perdagangan, dan sektor terkait lainnya seperti bahan bangunan. Untuk jasa dan perdagangan, telah berdiri ruko-ruko baru secara sporadis yang berisi bank-bank dan perusahaan asuransi dan leasing yang membuka kantor cabang baru. Begitu pula dengan fasilitas ritel komersial. Setidaknya terdapat empat hipermarket yang telah beroperasi, baik yang berdiri sendiri maupun menyatu dalam pusat belanja.
Terhadap dinamika pasar ini, tak salah jika Rudy menyatakan, pasar properti sangat lokal sifatnya. Dan pengaruh krisis, singkat saja umurnya. “Semester dua ini saya optimis, akan kembali normal,” yakinnya.

Mega Kuningan Land Dibatalkan

Ketidakpastian kondisi ekonomi dan keengganan perbankan merespon stimulus BI yang sudah menurunkan suku bunganya menjadi 7% dijadikan motivasi kuat buat PT Jakarta Setiabudi International, Tbk., (JSI), untuk membatalkan proyek Mega Kuningan Land, di Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Vice President Director PT JSI, Hari Purwo Prawiro memberikan konfirmasi itu, Kamis (4/6) di Menara Cakrawala, Jakarta Pusat. Dalam konferensi pers usai perhelatan Rapat Umum Pemegang Saham, Hari mengungkapkan bahwa Mega Kuningan Land merupakan temporary project yang sangat tidak fisibel jika direalisasikan dalam 1 atau dua tahun ini.

“Positif dibatalkan, kecuali ada perubahan radikal. Kami menunggu timing yang tepat setelah dua tahun ke depan. Yang pasti, untuk saat ini, Mega Kuningan Land dibatalkan,” tegasnya.

Mega Kuningan Land merupakan mixed use development di atas lahan seluas 3,3 Ha, yang sedianya akan merangkum lifestyle mall dengan konsep terbuka, offices, pusat hiburan dan juga outdoor activity.

Tidak hanya Mega Kuningan Land, rencana pembangunan hotel jaringan Formule 1 di Jakarta dan beberapa lokasi di Jawa Tengah juga ditangguhkan.

“Kami memutuskan untuk put them on hold. Sampai krisis berakhir,” imbuh Hari seraya menambahkan bahwa untuk membangun satu kamar diperlukan dana sekitar 25.000 USD, jika satu hotel terdiri atas 100-120 kamar maka duit yang harus disiapkan oleh JSI bisa sebesar 3 juta USD.

Dengan kondisi pasar sektor perhotelan saat ini yang mengalami penurunan, khususnya untuk MICE business, sangat tidak realistis memaksakan pembangunan. “Permintaan MICE business sedang anjlok. Sebaliknya untuk individual traveler yang masih kuat demand-nya. Terlihat dari kinerja hotel eksisting kami masih cukup bagus karena individual traveler. Sementara Formule 1 dirancang sebagai MICE acomodation,” ujar Direktur JSI, Lie Erfurt Chandra.

Oleh karena itu, untuk tahun 2009 ini,  JSI lebih memilih opsi  memperkuat neraca keuangan sebagai rencana strategisnya. Perkuatan rencana keuangan ditekankan pada penurunan utang dan peningkatan aset perusahaan dengan jalan menggenjot penjualan, melakukan efisiensi semaksimal mungkin.

Opsi menurunkan utang termasuk prepayment loan yang telah dilakukan pada 2008 lalu sebesar 12 juta USD, tampaknya bakal menjadi prioritas utama daripada berinvestasi dengan membangun properti baru. Saat ini, menurut President Director JSI Jefri Darmadi, suku bunga deposito sudah mulau landai, sementara di satu sisi suku bunga kredit/pinjaman masih belum ramah pasar. “Dengan yield yang tidak sebesar deposito, maka opsi berinvestasi untuk saat ini bukan pilihan bijak. Akan tetapi, kami masih menunggu situasi normal kembali seperti sebelum krisis global. Jika situasi pulih, dan perbankan melonggarkan kebijakan pengetatan likuiditasnya, kami akan  berupaya mewujudkan rencana-rencana yang sudah dicanangkan pada 2008 lalu”, urai Jefri.

JSI sendiri mencatat pendapatan tahun buku 2008 sebesar Rp258 miliar dan laba bersih Rp10 miliar. Posisi utang per akhir April 2009 sebesar 82 juta USD. Di antaranya kepada OCBC NISP dan CIMB Niaga. Sedangkan rugi bersih sebesar Rp55,3 miliar akibat kerugian kurs sebesar Rp87 miliar. Rugi kurs ini disebabkan depresiasi rupiah dari Rp0,149 per 1 USD pada akhir tahun 2007 menjadi Rp10.950 per 1 USD pada akhir 2008.