Ksatria Itu Bernama Jusuf Kalla

Mr Get Things Done…. demikian julukan pria paruh baya ini.  Segala hal dipastikannya beres.

Jusuf Kalla. Saya sempat mengernyitkan dahi ketika dia berakrobat dengan berpaling dari SBY, untuk kemudian mengajukan diri sebagai calon presiden 2009-2014.

Lama berselang, diselingi manuver-manuver para oportunis baik yang mengaku sebagai nasionalis, religius atau pun moderat, JK bergeming untuk melanjutkan perjuangannya mengubah Indonesia kepada keadaan yang lebih baik dan sejahtera.

Selama tiga bulan, saya disuguhi perayaan kualitas pemikiran, manajerial dan kepribadian putera Bugis ini. Ya… JK sukses menawan simpati saya. Saya sangat terkesan ketika JK memenuhi undangan KADIN untuk berdialog. Ia memperlihatkan segenap kemampuannya sebagai pemimpin dengan gesture yang khas, jujur, tidak bertopeng dan karenanya jauh dari artifisial. Pun ketika mengikuti debat capres yang diselenggarakan KPU sebanyak tiga kali. Performa wakil presiden ini luar biasa lincah dan gemilang. Membuat debat capres lebih hidup, kendati masih jauh dari esensi debat sesungguhnya.

Ya… setelah rangkaian peristiwa yang mewarnai dramaturgi politik itu, JK dengan slogan sederhana tapi substansial, “lebih cepat, lebih baik”, lantas memenuhi memori dan pemikiran saya.

Antusiasme untuk mengikuti pilpres kali ini pun begitu tinggi. Dialah yang menawarkan perubahan. Dialah yang menawarkan visi dan misi paling realistis dan rasional. Swing Voter seperti saya, tergugahkan dengan gerak-gerik JK menjawab setiap pertanyaan dalam dialog maupun acara debat. Lugas, bernas, cergas, tangkas, cerdas dan tentu saja menyentuh akar permasalahan.

Maka, ketika hari bersejarah itu tiba, 8 Juli 2009, dengan hati mantap, saya mencontreng nomor tiga. Puas, lega, dan gembira. Senyum kemudian tak pernah lepas dari bibir saya. Karena saya telah jujur kepada diri sendiri. Walaupun arus utama lebih memihak kepada capres-cawapres lainnya, tapi saya berani untuk memilih sesuai hati nurani. Bukan semata pada pertimbangan pada kemampuan dan intelektualitas JK. Tetapi juga kesadaran saya yang menghendaki perubahan. Perubahan untuk Indonesia menuju masa depan lebih baik dan sejahtera, mandiri, bermartabat dan demokratis.

Kendati saya yakin, JK tidak akan mendapat simpati publik sebesar pasangan SBY-Boediono, tetapi saya gembira, bahwa “pengubah” yang senantiasa berpikir taktis, cepat dan get things done  itu telah lahir di bumi Indonesia. Saya berterima kasih Tuhan memberikan JK untuk Indonesia.

Ketika hasil hitung cepat membenarkan keyakinan saya bahwa JK berada di urutan ketiga, saya merasakan menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang telah mewarnai demokrasi dengan ‘pelangi’ yang indah. Memilih dengan kesadaran tinggi, sesuai dengan hati nurani dan logika berpikir yang hanya dipunyai oleh orang-orang yang dapat menerima bahwa president election hanyalah sebuah proses menuju demokratisasi yang lebih tinggi. Negara berdaulat, bermartabat, masyarakat sejahtera, mandiri, kreatif, inovatif, kebebasan pers dan berekspresi terjamin, kesetaraan hak, hukum menjadi panglima, bersih, jujur dan tentu saja berbudaya.

JK kalah, saya tidak gundah. Kekalahan JK justru kemenangan bagi saya dan mungkin juga 12% pendukung lainnya. Kekalahan JK adalah kemenangan baginya menuju altar lebih mulia; menjadi bapak bangsa yang memfokuskan perhatian pada pendidikan, memakmurkan mesjid dan menciptakan serta menjaga perdamaian bangsa.

Kualitas kepribadian dan kepemimpinan JK semakin bertambah, ketika pada 9 Juli sebelum pukul 18.00 atau sebelum maghrib, mengucapkan selamat kepada pasangan presiden dan wakil presiden terpilih versi quick count SBY-Boediono. Secara tegar JK mengakui kekalahannya.

Saya terharu…. dengan kekhasannya, Jusuf Kalla telah mengajarkan kepada kita, bagaimana seharusnya berdemokrasi. Ya, dialah demokrat sejati. Menjunjung tinggi sportivitas, bahwa sejatinya rivalitas hanya terjadi pada saat kompetisi. Setelah itu usai, bergandeng tangan kembali, menjalin silaturahmi, dan bersama membangun negeri. Tentu sesuai dengan peran dan posisi masing-masing.

Untuk berbakti demi negeri, tidak harus menjadi presiden, bukan?… Dan kita telah mendapatkan presiden sesungguhnya, the real president, setidaknya di hati saya.

Kstaria itu bernama Jusuf Kalla. Sejarah akan mencatatnya dengan tinta emas…

Iklan

2 Tanggapan

  1. Sy bgian dr 12,77 prsn yg memilih Jk bangga, walaupun jk kalah dia ttp pmenang buat sy, ttplah brjuang demi bangsa.

  2. Semoga semakian banyak bermunculan JK-JK lain di negeri yang kita cintai ini, dari ujung sumatra sampai papua…..dengan melihat prestasi dan tingkah laku beliau…dan dengan melihat hasil setelah pemilu, bisa kita bayangkan bagaimana keadaan dan kondisi masyarakat Indonesia dans ebagai pelajaran berharga untuk JK-JK selanjutnya yang ingin tampil…
    saya selalu berjanji dalam hati walaupun beliau tidak menang pemilu, tapi slogannya akan saya dengungkan trus….. karena slogannya memberikan semangat dan kesadaran sekaligus keyakinan……salam buat Pak JK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: