The Orchid Realty, Jual Konsep Religi

Kue pasar muslim memang seksi. Jumlahnya yang menempati mayoritas dianggap sebagai kans besar untuk pengembang dalam pemenuhan kebutuhan residensial. Pengembang yang secara sadar bersandar pada hegemoni religi tertentu itu bisa disebut The Orchid Realty. Perusahaan ini didirikan oleh anak muda yang saat ini berumur 31 tahun. Dia adalah Nasrullah yang membidani kelahiran The Orchid Realty pada tahun 2006. “Saya bervisi menjadikan perusahaan ini sebagai yang terbaik dan terdepan dalam pengembangan perumahan muslim,” kata Nasrullah yang sebelumnya bekerja di berbagai sektor. Di antaranya sebagai Asisten Peneliti di University Teknologi Malaysia (UTM), menjual keramik, dan kemudian menjadi kontraktor. Nama Orchid sendiri merupakan kependekan dari Organization of  Cyber Housing and Islamic Development.

Ceruk pasar yang luas dan konsep yang spesifik dapat dianggap sebagai faktor penentu yang mampu mendongkrak popularitas Orchid. Hingga hari ini sudah sembilan perumahan yang dibangun (lihat tabel). Semuanya di kawasan lingkar Universitas Indonesia (UI), yakni Kukusan, Beji, Pondok Cina, dan Tanah Baru. Semuanya masuk administrasi Kota Depok, Jawa Barat. Memang perumahan yang dibangun masih dalam skala kecil. Dengan modal minimal, perumahan yang terbangun pun masih terbatas jumlahnya. Akan tetapi, keterbatasan itu tak membuat Orchid berhenti membangun. Mereka akan terus memanfaatkan peluang, mengingat kebutuhan rumah muslim luar biasa besar.

The Orchid Town House yang sejumlah 16 unit merupakan proyek pertama mereka. Terserap pasar hanya dalam waktu singkat, tak sampai setengah tahun. Setelah itu, The Orchid Realty mengembangkan Griya Rahmani 1 yang dikhususkan untuk memfasilitasi guru-guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang marak di Depok. Dalam kurun hanya satu bulan sejak di-launching, perumahan dengan 37 unit rumah ini habis terjual.

Pada April 2007, Nasrullah yang lulusan Universitas Indonesia ini, membuka proyek ketiga bertajuk The Orchid Residence. Lagi-lagi pasar menyambutnya dengan antusias. Dalam 2 hari, The Orchid Residence mencatat penjualan 30 unit dengan omset sekitar Rp8 miliar. Sebanyak 50 rumah berikutnya habis terjual dalam waktu tiga bulan setelah launching. “Pada tahun 2007 total rumah yang sanggupkami bangun sebanyak 137 unit, meningkat lebih dari 800% dari tahun sebelumnya yang hanya 16 unit,” ungkap  Nasrullah.

Memasuki tahun 2008, Orchid mematok target dapat membangun 400 unit rumah, atau melonjak 300% dari tahun sebelumnya. Mereka memulainya degan meluncurkan Cyber Orchid Town Houses sejumlah 47 unit. Kemudian secara berturut-turut, dirilis Griya Rahmani 2 (68 unit), Griya Rahmani 3 (48 unit), The Orchid Regency (51 unit),  The Orchid Green Village (120 unit), dan The Orchid Town House 2 (16 unit). “Tiga tahun silam, saya anggap sebagai masa pembelajaran, 2008 masa ekspansi dan tahun ini masa penciptaan brand. Kami menjual rumah rata-rata 10-20 unit/bulan,” kata Nasrullah.

Menarik juga menguliti kiat Orchid hingga sosoknya mencuat seperti sekarang. Sebab, mengusung konsep islami secara spesifik, bukan hal mudah. Apalagi kemudian timbul tudingan penyebaran gaya hidup eksklusif karena secara tak langsung mereka telah mengkotak-kotakkan pasar dalam ranah religi tertentu. Terhadap tudingan ini, Nasrullah secara gamblang mengungkapkan tujuh poin penentu yang menjadi pedoman The Orchid Realty dalam pengembangan bisnisnya yang berusaha menjadi religius.

Manajemen bisnis dikelola secara syariah dan menghindari riba, hanya bekerjasama dengan bank syariah dalam pembiayaan perbankan, dan membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang mengawasi dan memberikan arahan pola kerja dan akad-akad Islami. Selain itu juga mempekerjakan dan memberdayakan pekerja muslim, terbuka untuk bekerjasama dan silaturahim dengan semua komponen umat Islam, senantiasa belajar dan berusaha mendekati pola kerja Islami, dan senantiasa berjihad membuka lapangan kerja bagi sektor riil, sektor produktif yang akan mengangkat derajat umat Islam.

Mengusung konsep Islami memang berat. Tak sekadar bisa terakomodasi hanya sebatas pelabelan. Juga ruh pengembangan dan kemampuan mereka menciptakan gaya hidup Islami. Oleh karenanya The Orchid Realty berusaha melengkapi semua proyeknya dengan fasilitas penunjang Islami seperti mesjid dan taman pendidikan Al-Quran (TPA). Kolam renang pun diatur pemakaiannya antara pria dan wanita. Selain itu setiap rumah memiliki kamar mandi yang tidak menghadap kiblat. Memang masih sebatas aktualitas secara fisik, untuk tidak dikatakan kooptasi sosial. Akan tetapi, upaya mereka layak diacungi jempol, karena toh, paradigma berpikir masyarakat kita harus diakui masih ewuh terhadap simbol dan bukan pada nilai dan pemaknaan.

Pendek kata, tidak mudah menjadi developer syariah. “Masyarakat menuntut semuanya sempurna. Padahal kami juga memiliki kekurangan. Namun begitu, kami berusaha menyempurnakannya. Semua masalah kami cari solusinya,” kata Nasrullah.

Seluruh unit rumah ditawarkan dengan desain modern minimalis seharga mulai Rp170 juta sampai Rp400 juta. Fasilitas lainnya seperti taman, jogging track, lapangan bulutangkis, children playground, bio-pore environment system, dan underground drainage juga dibangun. “Semua transaksi pembelian atau penjualan rumah menganut prinsip dan akad syariah,” kata Nasrullah yang mengaku modal yang dipakai hanya berasal dari teman-temannya, tidak memakai pinjaman bank.

Akhir tahun ini The Orchid Realty akan melansir dua proyek baru yakni Griya Alam Permai di Depok 2 sebanyak 60 unit (di atas lahan 9.000 m2) yang dibanderol Rp196 juta dan Qoryatusalam di area eks Kota Kembang Depok Raya, seluas 5 hektar. Proyek yang disebut terakhir merupakan hasil kongsi dengan pengembang Islam lain.  “Saya memimpikan bisa membangun superblok Islami. Pembangunannya dilakukan oleh konsorsium pengembang Islam di Indonesia,” obsesi Nasrulah.

Sumber: Properti Indonesia edisi Agustus 2009

Iklan

3 Tanggapan

  1. pada kenyataannya ga gitu tuh….banyak konsumen yang didhalimi…aspek legal ga terpenuhi, kualitas bangunan nilainya merah…intinya hati-hati aja

  2. iya saya juga orang dikecewakan orchid realty,beli di Orchid Green Park bilangnya 6 bulan jadi tapi sampai satu tahun lebih hingga sekarang belum jadi ,dan saya minta uang dp dan booking fee saya kembali karena mereka sudah melanggar kesepakatan, mereka mengulur – ulur sampai sekarang belum juga dikembalikan,wah…payah malu-maluin orang muslim, dengan konsep rumah islami, tp kenyataanya..????

  3. orchid realthy yang ngakunya pake konsep islam ternyata jauh dr seorang muslim, dia tdk tahu tata cara berdagang islam, banyak konsumen yg di zhalimi, janji mengembalikan uang dp yg sudah jelas-jelas dgn tulisan kertas aja masih aja diingkari dengan alasan keuangan perusahaan lagi kacau…terutama pimpinannya yg namanya mujahid, tuh…katanya ustad, janji mo mengembalikan uang bln april, kok enak aja diulur lg ampe bln juni tanpa ada omongan baik2, sudah berapa juta saya anda rugikan karena uang saya anda pake diputarkan diperusahaan anda…apa mau masuk bui..karena sudah banyak konsumen yang anda rugikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: