Menghitung Peluang Hotel Di Koridor Simatupang

Tak keliru koridor Simatupang , Jakarta Selatan, dianggap sebagai kawasan komersial paling progresif di luar Central Business District (CBD) Jakarta. Posisi fisiknya sangat strategis. Kawasan ini merupakan bagian dari segmen Jakarta Outer Ring Road yang menghubungkan lintas utara, selatan, timur serta beberapa ruas tol besar seperti Tol Dalam Kota, Jagorawi dan Cikampek.

Aktualitas kawasan sepanjang 10 km dan sudah dikembangkan sejak 1990 ini dipadati sembilan gedung perkantoran eksisting. Sebut saja Talavera, Beltway Office Park, Arcadia, dan Wisma Raharja. Ini di luar 11 gedung perkantoran yang masih dibangun dan dalam perencanaan seperti Astra Buana Office, Elnusa 2, Ratu Prabu 4, Signum Place, Beltway Office B, dan Sovereign Office yang membutuhkan masa pengembangan lebih kurang 2 tahun. Dengan demikian, aktifitas konstruksi masih akan terus berlanjut hingga 2012 mendatang.

Managing Director Indonesia Cushman and Wakefield, David Cheadle mengatakan pertumbuhan perkantoran ini menstimuli pertumbuhan sub sektor lainnya. Yang paling terasa adalah sub sektor residensial dengan spesifikasi permintaan pada apartemen dan town house sewa. Dalam rentang lima tahun terakhir, apartemen dan rumah sewa memperlihatkan pergerakan positif. Pertumbuhan harga sewa juga terbilang signifikan. Saat ini sewa rumah dan apartemen dengan masa sewa minimal 2 tahun seharga 3.000 dolar AS-5.000 dolar AS/bulan dengan fasilitas 3 kamar tidur dan kolam renang. Lima tahun silam, harga sewa masih berkisar pada angka 1.000 dolar AS-2.500 dolar AS/bulan.

Diproyeksikan permintaan dan minat pasar tak bakal berhenti hingga puncaknya terjadi pada tiga tahun mendatang. Saat konstruksi gedung-gedung perkantoran baru itu rampung dengan tenan mayoritas perusahaan multinasional yang bergerak di ranah pertambangan, minyak dan gas, manufaktur, telekomunikasi, jasa konsultasi, dan konstruksi yang berhubungan dengan pertambangan.

Mereka ini membawa profesional asal mancanegara yang jumlahnya ratusan orang. Tentu saja, masa tinggal para ekspatriat itu akan bervariasi. Bisa dalam hitungan hari, minggu, bulan bahkan tahun. Nah, di sinilah peluang besar yang bisa dimanfaatkan para pengembang untuk membangun fasilitas akomodasi sekelas hotel. Jika apartemen dan town house sewa sudah menemukan ceruk pasarnya, mestinya, hotel pun bakal bernasib serupa.

Wakil Presiden Direktur PT Metropolitan Kentjana Tbk., Jeffri Sandra Tanudjaja mengatakan kans untuk pengembangan hotel di koridor Simatupang, terbentang luas. “Saat ini belum ada fasilitas akomodasi yang representatif yang dapat memenuhi kebutuhan untuk meeting, incentives, conference, convention dan exhibition (MICE) atau sekadar transit,” ujarnya. Satu-satunya hotel yang ada saat ini dan menjadi pilihan ekspatriat adalah Hotel Dharmawangsa. Namun, lokasinya cukup jauh dari koridor Simatupang, tempat mereka bekerja. Sementara seksi paling padat dan semarak justru berada di Pondok Indah-Fatmawati dan Fatmawati-Cilandak.

Untuk mengisi ceruk pasar inilah, PT Metropolitan Kentjana Tbk., kemudian merencanakan pengembangan hotel bintang lima di atas bangunan Pondok Indah Mall 2 dan serviced apartment. Keduanya berada dalam area pengembangan Pondok Indah Town Center (PITC) seluas 40 Ha. Mereka akan memulai konstruksi hotel yang berkapasitas 300 kamar itu pada pertengahan 2010. Sejumlah Rp800 miliar sudah dialokasikan guna merealisasikan properti tersebut.

PT Metropolitan Kentjana Tbk., tak sendiri. Beberapa pengembang juga mencoba mengambil peran. Mereka mengendus pundit-pundi yang menjanjikan. PT Adhi Realty dan Grup Agung Podomoro berencana mengembangkan hotel bintang 3 dan 4. Menyusul PT Lippo Karawaci Tbk dengan Hotel Aryaduta di kompleks Kemang Village. Karena kelasnya bintang lima, mereka akan membangun 350 suites room.

Business Development Director Procon Indah, Bayu Utomo, mengatakan, saat ini yang paling dibutuhkan memang fasilitas akomodasi. Mengingat untuk office sudah sangat padat dan terbatasnya lahan kosong untuk dikembangkan. “Untuk tiga tahun ke depan, membangun hotel lebih realistis,” ujarnya.

Semua strata hotel punya pangsa pasarnya sendiri. Bintang lima akan dibutuhkan oleh ekspatriat atau kalangan eksekutif pemuncak perusahaan. Sementara bintang 3 dan 4 membidik profesional yang berada pada posisi middle level manager.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: