Grand Uway Development, Karya Perdana Proyek Multiguna

Nama pengembang satu ini, memang belum familiar. Usianya pun belum genap dua tahun. PT Grand Uway Development dibentuk pada akhir 2007 dari hasil kongsi antara perusahaan pengembang lokal di Batam, Kepulauan Riau, PT Uway Makmur dengan dua investor perorangan asal Jakarta, Totonafo Lase dan Ansyar Heryadi.

Kendati masih orok, PT Grand Uway Development telah mampu menghentak jagat bisnis dan industri properti Tanah Air, khususnya Batam, dengan menggarap proyek multiguna, Grand Quarter. Ini merupakan karya perdana mereka di atas lahan seluas 15 Ha dengan proyeksi investasi senilai 120 juta dollar AS.

Chief Operating Officer PT Grand Uway Development, Totonafo Lase digarapnya Batam sebagai wilayah pengembangan pertamanya, menimbang ceruk pasar yang khas. Terdapat 40.000 ekspatriat dari 611 perusahaan, terutama dari Jepang, Singapura, Korea dan Taiwan yang bekerja dan menetap di daerah khusus ini. “Mereka membutuhkan sebuah hunian yang komplet. Tak sekadar rumah, juga fasilitas pendukungnya,” ujar Totonafo.

Selain itu, para investor asing juga meminati properti Batam karena harganya jauh lebih rendah daripada properti di negaranya, contohnya Singapura, sehingga mereka boleh berharap gain yang berlipat-lipat jika disewakan kembali. Kasus menarik terjadi pada Coastarina. Perumahan skala kota ini, langsung menjadi buah bibir dengan penjualan yang fantastis. Coastarina diburu oleh para investor Singapura, tidak saja untuk dijadikan sebagai rumah kedua, juga investasi. “Jumlah yang seperti ini ada banyak di Batam, namun kebutuhan mereka belum terakomodasi dengan baik. Pasok dan permintaan tidak seimbang,” imbuh Totonafo.

Oleh karena itu, ketika PT Uway Makmur menawarkan kerjasama usaha, Totonafo dan Ansyari langsung menyambutnya dengan antusias. Kemudian, mereka membidani kelahiran PT Grand Uway Development, di mana PT Uway Makmur memberikan kontribusi kepemilikan berupa lahan seluas 15 Ha, sementara Totonafo dan Ansyari berupa dana dan sumber daya manusia.

Grand Quarter sendiri dirancang sebagai mixed use development yang menghimpun fungsi hunian dalam bentuk kondotel setinggi 11 lantai berkapasitas 279 unit yang dijual dengan strata title serta apartemen sejumlah 179 unit. Mereka juga akan melengkapi hunian vertikal tersebut dengan fasilitas rekreasi water park dan ruang konvensi berstandar internasional. Luasnya mencapai 10.000 m2 dengan kapasitas 6.000 orang.

Ruang konvensi ini dibangun untuk merespons program pemerintah yang menetapkan Batam ke dalam 10 besar tujuan kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) di Indonesia. “Batam masih membutuhkan ruang pertemuan yang dapat menampung peserta hingga ribuan,” kata Totonafo.

Pembangunan proyek itu telah dimulai pada Agustus lalu (ground breaking) dan diperkirakan rampung lima tahun mendatang yakni 2016. Untuk pengelolaan kondotel, mereka telah menunjuk Aston International.

Totonafo optimis propertinya terserap pasar dengan baik. Karena Batam sangat strategis dan merupakan entry point bagi warga Indonesia yang ingin ke Singapura. Batam juga dijadikan tempat transit bagi warga asing lainnya yang ingin bepergian ke kota tujuan lainnya di seluruh Indonesia untuk kepentingan bisnis ataupun wisata.

Hingga saat ini telah terjual 11 unit kondotel yang dipatok seharga Rp700 juta (35 m2) hingga Rp1,4 miliar (70 m2). Sedangkan apartemennya baru akan dirilis pada akhir tahun ini dengan rentang harga Rp900 juta-3,4 miliar berikut furniturnya.

Ekpansi Ke Jakarta

Setelah Grand Quarter, PT Grand Uway Development kini tengah menjajaki akuisisi lahan baru yang juga berlokasi di Batam, untuk dikembangkan sebagai puast komersial ritel dan melakukan ekspansi usaha ke Jakarta. Mereka tengah membidik lahan-lahan yang dikerjasamakan di tengah kota. Seperti Kemayoran dan Cengkareng.

Di Kemayoran dan Cengkareng, mereka berencana menggarap apartemen menengah seharga Rp10 juta-12 juta/m2. “Lokasi kedua kawasan ini sangat prospektif. Ditunjang oleh kondisi infrastruktur yang memadai. Cengkareng, walau kini tengah berbenah, sangat dekat ke Bandara. Membangun apartemen servis di sana merupakan peluang yang menjanjikan,” urai Totonafo.

Ada yang menarik dari strategi bisnis PT Grand Uway Development dalam merealisasikan rencana-rencana besarnya, terutama memperkuat struktur finansialnya. Mereka justru menggaet lembaga pembiayaan asing, utamanya asal Singapura. Begitu pula dengan strategi pembangunannya, mereka tidak mengeluarkan duit selama pengerjaan proyek ini karena menggunakan sistem turn key contractor. Artinya, kontraktor baru menerima pembayaran setelah pembangunan fisik selesai. Dan siapakah kontraktor yang berani menerima tantangan ini? Dragages Singapore Pte Ltd, kontraktor asal Singapura.

Opsi yang mereka tempuh ini jelas mencuatkan spekulasi bahwa sejatinya, PT Grand Uway Development didukung oleh pemilik modal Singapura. “Mereka hanya intervensi dalam hal pendanaan konstruksi. Untuk kepemilikan tidak sama sekali,” tukas Totonafo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: