Dilirik Pengembang Cilik

Sulit dimungkiri, kawasan Serpong kini menjelma sebagai kota mandiri yang sangat hidup. Beragam properti berbagai kelas terdapat di sini. Residensial, komersial, hiburan, dan juga fasilitas sosial lainnya.  Sehingga, warga Serpong tak perlu ke luar kawasan, untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang pokok maupun gaya hidup. Semuanya sudah tersedia.

Beragam properti dan fasilitas tersebut tentu saja juga dikembangkan oleh banyak pengembang dengan level berbeda. Sebut saja PT Cowell Development Tbk. yang agresif membangun tiga proyek perumahan yakni Melati Mas Residence (200 Ha), Serpong Park (40 Ha), dan Serpong Terrace (10 Ha). “Kami fokus menggarap kawasan Serpong karena perkembangannya sangat pesat dengan persaingan yang ketat. Ini artinya, Serpong sangat diminati. Sebagai wilayah penyangga Jakarta, aksesibilitas yang dimiliki sangat menunjang pertumbuhannya, diapit dua jalan tol Jakarta-Merak dan Pondok Indah-BSD,” ujar Novi Imelly, Director Marketing & Business Development PT Cowell Development Tbk.

Sementara PT Bumi Serpong Damai Tbk giat menggarap BSD City tahap II di sebelah Barat seluas 800 Ha setelah berhasil mengembangkan BSD City Timur seluas 1.500 Ha. Total area kawasan BSD City sendiri seluas 6.000 Ha. Sekitar 200 Ha dari luas pengembangan BSD City Barat diperuntukan sebagai kawasan central business district (CBD) yang luasnya lima kali lebih besar dari CBD BSD City Timur. Juga terdapat  Edu Town, sebuah kawasan pendidikan terpadu seluas 42 Ha yang di atasnya akan dibangun berbagai gedung institusi pendidikan serta proyek penelitian dan riset ilmiah. Swiss German University (SGU) dan Prasetiya Mulya Business School (PMBS) merupakan perguruan tinggi pertama yang telah memulai pembangunan kampus barunya di kawasan tersebut.

“Akselerasi pembangunan BSD Barat bisa cepat terwujud karena  didukung rencana pemerintah membangun ruas tol dari BSD City ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Master plan pengembangan BSD Barat juga dikaitkan dengan rencana pemerintah yang akan membangun jalan arteri sejajar dengan Jalan Raya Serpong dan terkoneksi dengan segmen tol Jakarta-Merak,” papar Monik William, Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk.

Begitupula dengan PT Alam Sutera Tbk. Pertengahan bulan lalu, akses tol Alam Sutera resmi beroperasi. Dengan beroperasinya akses langsung yang menelan dana sebesar Rp150 miliar tersebut, mereka optimis penjualan propertinya akan naik tajam. Sehingga mereka percaya diri menelurkan produk-produk lainnya khususnya properti komersial.

Direktur Pemasaran PT Alam Sutera Realty Tbk Lilia Sukotjo mengatakan peresmian dan pembukaan akses tol langsung ke kawasan permukiman itu menjadi momentum perubahan arah pengembangan di proyek seluas 800 Ha tersebut. “Selama ini orang mungkin mengenal Alam Sutera sebagai pengembang proyek residensial. Sampai sekarang, sekitar 45% areal yang kami miliki sudah dikembangkan menjadi perumahan,” ujarnya seraya menambahkan setelah beroperasinya akses tol di kilometer 15+400 Jakarta-Merak, pihaknya berencana membangun sejumlah proyek superblok di sepanjang sisi jalan tol tersebut.

Nantinya dibangun beberapa properti komersial seperti hotel, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan apartemen. Menurut Lilia, mereka akan menggandeng pihak ketiga. “Kami akan fokus menggarap sejumlah proyek mix used yang berorientasi memberikan pemasukan tetap kepada perusahaan misalnya dari sewa. Namun begitu, kami tetap akan memasarkan residensial,” katanya.

Begitu banyaknya rencana dan pengembangan yang dilakukan para pengembang di sini, tak pelak berdampak pada peningkatan harga lahan. “Kenaikannya sekitar 15% sampai 20% per tahun,” ujar Rita Megawati, Regional Manager L.J. Hooker Indonesia yang juga principal L.J. Hooker Gading Serpong. Harga lahan aktual berkisar Rp1 juta sampai Rp4,5 juta per m2 sementara harga rumah mulai Rp300 juta sampai Rp1,5 miliar. Hanya kalangan menengah ke atas yang mampu memiliki properti di kawasan ini.

Jelas, kondisi ini membuat persaingan antarpengembang kian ketat. Mereka memperebutkan ceruk pasar yang sama dengan jumlah kian terbatas sekaligus memunculkan peluang bagi pengembang lainnya dan gurem yang kehabisan lahan garapan guna mengembangkan properti di luar Serpong. Sebut saja kawasan Cisauk, Pamulang, dan Kunciran. Di kawasan Cisauk, misalnya, banyak terdapat rumah sederhana dengan harga mulai Rp55 juta seperti Cirarab Residence, Bumi Jati Elok, dan Griya Aster. Sementara kelas menengah-bawah masih sangat sedikit, hanya dipasok oleh dua perumahan yakni Serpong Garden dan Permata Medang. Serpong Garden (40 Ha) yang dibangun PT Harapan Inti Persada di Jl Raya Serpong-Cisauk menawarkan rumah seharga Rp99 juta (22/60) sampai Rp290 juta (65/84). Sementara Permata Medang (36 Ha) yang dibangun PT Masa Kreasi, tidak jauh dari kawasan Gading Serpong, mematok angka Rp211 juta untuk rumah ukuran 36/78 sampai Rp355 juta (72/120).

Bergeser ke Pamulang, di kawasan ini justru terdapat lebih banyak rumah kelas menengah. Serpong City Paradise adalah satu dari sekian banyak yang memasok rumah seharga Rp138 juta-557 juta. Mirip dengan Serpong Green Park yang menjual seharga Rp163 juta-400 juta/unitnya. Demikian pula dengan Kunciran, surplus papan menengah yang dipasok oleh Duta Bintaro (Rp286 juta-388 juta) dan Graha Raya (Rp246 juta-319 juta).

“Kawasan-kawasan ini diproyeksikan akan terus berkembang seiring melesatnya Serpong,” ujar Nurul Yakin, Ketua DPD AREBI Banten yang juga Direktur Ben Hokk Property. Menurut Nurul, keberadaan “ikan paus”, demikian Nurul mengumpamakan pengembang besar,  pasti akan memberi keuntungan bagi ikan kecil. “Membangun perumahan kecil dan menengah di sekitar perumahan besar, dengan harga lebih murah,  sangat menguntungkan. Apalagi bagi pengembang pemula,” katanya seraya mengungkapkan konsumen bisa membeli rumah dengan harga lebih murah sekaligus dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di kawasan Serpong. .

Penggunaan nama Serpong untuk nama perumahan, walaupun tidak berada di dalam kawasan Serpong, kata Nurul, tidak bisa dihindari karena merupakan branding marketing strategy. “Dengan memakai nama yang sudah dikenal, seperti Serpong, akan membantu penjualan,” ujarnya.

Berkembangnya kawasan sekitar Serpong juga sangat terkait dengan infrastruktur. Seperti kawasan Cisauk yang bakal melesat jika stasiun kereta Cisauk disinggahi  KRL dan double track yang tentu sangat membantu warga yang bekerja di tengah kota Jakarta. Bagi pengguna kendaraan pribadi, juga akan dimanjakan oleh jalan tol seksi Serpong-Balaraja, yang telah dicanangkan Pemerintah Kota (Pemkab) Tangerang. Jalur ini merupakan  interkoneksi antarwilayah Kabupaen Tangerang Selatan, yang mencakup Ciputat, Pamulang, Serpong, Cisauk, Pagedangan, dan Pondok Aren, dengan pusat pemerintahan di Tigaraksa. Sementara kawasan Kunciran semakin mudah dijangkau dengan dibukanya akses tol Alam Sutera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: