Grup Margahayuland Siapkan Portofolio Massive Development

Metro Trade Center dalam kompleks Metro Soekarno Hatta Estate adalah debut perdana Grup Margahayuland di sektor komersial ritel. Berkongsi dengan PT Dwi Putera Cipta Perdana, Grup Margahayuland memiliki 23% saham kepemilikan. Kendati terhitung sukses, ditandai dengan tingkat okupansi nyaris sempurna, namun mereka ogah garap ruang ritel lagi.

Grup Margahayuland justru tengah mempersiapkan portofolio yang sama sekali asing bagi mereka, gedung jangkung bertajuk The Suites Metro. Ini merupakan pengembangan  masif pertama mereka yang merangkum tiga menara apartemen sebanyak 1.700 unit, town house dan community center. The Suites Metro akan dikembangkan di daerah Bandung Timur, Jawa Barat. Menempati lahan seluas  2,9 Ha.

Dibidaninya proyek anyar tersebut, menurut Direktur Utama Grup Margahayuland, Hari Raharta Sudrajat, termotivasi oleh komposisi pasar di Bandung yang telah mengalami pergeseran. Pasar yang memerlukan hunian sekaligus fasilitas yang mendukung kepraktisan hidup, mulai menguat. “Terbukti beberapa proyek apartemen bersubsidi laris diserbu pembeli,” ujarnya.

Harga yang ditawarkan The Suites Metro berkisar antara Rp144 juta-200 juta/unit. Kombinasi antara bersubsidi dan non subsidi. Pembangunannya sendiri akan dimulai pada awal 2010. “Kami telah mendapat konfirmasi positif dari Bank Arthagraha untuk mendanai konstruksi The Suites Metro,” ujar Hari.

Bank yang sama juga digandeng untuk menyokong perkuatan finansial Menara Latumeten di Jakarta Barat yang kini tengah dalam proses ground breaking. Di proyek ini, Margahayuland  berkolaborasi dengan Grup Bahama. Mereka menawarkan 1.230 unit apartemen subsidi. Enam puluh persen di antaranya sudah terjual dan akan diserahterimakan kepada pemilik pada akhir 2010.

Agak mengherankan juga kiprah kelompok pengembang ini. Di usianya yang tak muda lagi, mereka tak percaya diri memproduksi high rise property. Padahal sudah didirikan sejak 11 Februari 1971 dengan nama awal PT Margahayu. Bisnis intinya bahkan, terkait erat dengan sektor properti yakni jasa konstruksi dan perdagangan umum. Mereka bermetafora hingga menjadi Grup Margahayuland pada medio 2005.

Selama 38 tahun tersebut, jumlah unit rumah yang diproduksi sekitar 32.000 unit. Terdiri atas berbagai tipe dari total 28 protofolio perumahan yang tersebar di Bandung, Cirebon, Bogor, Bekasi dan Karawang. Sampai kemudian kesempatan untuk membuktikan senioritas itu datang.

“Kami memang lebih fokus membangun perumahan. Sebagian besar dari ribuan rumah yang terbangun itu untuk kalangan menengah bawah. Kami punya komitmen sejak perusahaan ini dibentuk, jangan melupakan rakyat kecil. Merekalah penopang utama kami hingga mampu bertahan sampai sekarang,” urai Hari seraya menambahkan, Grup Marhayuland popular sebagai spesialis pembangun rumah sederhana/RS.

Menara Latumeten adalah gedung vertikal perdana yang mereka kembangkan. Menyusul kemudian The Suites Metro. Lantaran Menara Latumeten adalah pengalaman pertama, mereka memilih untuk bekerjasama dengan mitra strategis, Grup Bahama. Beda dengan The Suites Metro, mereka mulai percaya diri membangun sendiri.

Satu hal yang menarik, mitra strategis yang digandeng adalah kelompok usaha yang dekat dengan atau mempunyai hubungan erat dengan institusi pemerintah/TNI. Bukan suatu kebetulan, karena sejak rekam jejak perdana, mereka telah mengerjakan pembangunan perumahan untuk instansi pemerintah/TNI. Jadi, bagai menemukan belahan pinang, wajar jika Grup Bahama dan Bank Arthagrha yang digandeng. Sebagaimana kita mafhumi kedua nama terakhir ini memiliki relasi dan jaringan kuat dengan regim penguasa.

“Supaya mudah saja. Instansi pemerintah/TNI ini sebetulnya captive market. Kami berusaha memenuhi kebutuhan mereka. Kebetulan kami memiliki pengalaman panjang menyediakan rumah untuk para PNS dan prajurit. Jadi, ya mudah saja,” urai Hari.

Proyek baru lainnya yang tengah disiapkan pun tak beranjak dari pemenuhan kebutuhan pasar khusus ini. Bersama Grup Sanggarindah, Grup Bahama dan Yayasan Kesejahteraan Perumahan Prajurit (YKPP), tengah mempersiapkan pengembangan sekitar 4.000 unit RS.

Selain itu, konsentrasi kelompok usaha yang dirintis tiga bersaudara; Djoeliah Poerwita, Ma’sum Sudrajat dan Jajat Priatna ini juga terbagi ke proyek The Mansion yang menyasar pasar menengah atas. Jumlahnya hanya 60 unit di atas lahan seluas 2,4 Ha dengan tawaran harga Rp500 juta-1,2 miliar. Beranjaknya Margahayuland ke kelas lebih tinggi, bukan tanpa alasan. Mereka tengah bersiap memburu target perolehan perusahaan sebanyak Rp4 triliun selama lima tahun ke depan.

Dan The Mansion, hanyalah satu dari sekian banyak proyek dengan ekspektasi volume tinggi yang tengah digodok. Tiga lainnya adalah portofolio strategis berupa hotel bintang tiga, perkantoran dan rumah mewah. Keseluruhannya berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Sementara future development lainnya berupa ratusan unit RSH di Cikarang, sudah memasuki tahap pematangan lahan.

Sekadar informasi, perolehan penjualan tahun 2008 mencapai Rp98 miliar. Memang terhitung kecil, namun, mereka optimis dengan merambah kelas pasar yang lebih atas, serta rajin merilis produk spesifik, secara volume target Rp4 triliun, dapat diraih. “Kami ingin dikenal sebagai pengembang yang tidak hanya menguasai pasar Bandung dan pasar marjinal, juga wilayah garapan lainnya yang kami nilai masih prospektif,” tandas Hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: