Pekayon-Jatiasih Sarat Hunian Mini

Kendati pertumbuhan kota Bekasi, masih terkonsentrasi di Bekasi Barat, namun efek dominonya terasa hingga ke wilayah pinggiran kota. Pekayon dan Jatiasih adalah dua kawasan sub kota yang terkena ekses positifnya. Properti di sini kian atraktif dengan penawaran kosmetik pada fasad dan desain fisik serta harga yang bersahabat.

 

Dus, beroperasinya jalur bebas hambatan lingkar luar Jakarta seksi timur Cikunir-Jatiasih atau Cikampek dengan ramp Pekayon-Bekasi Barat, berkontribusi signifikan menumbuhkan kawasan. Keduanya tidak lagi terisolir dan hanya menjadi halaman Kota Bekasi. Pekayon dan Jatiasih, mulai diincar pengembang besar. Menyusul kemudian pengembang gurem yang menyesaki hampir setiap jengkal tanah.

 

Sejatinya, Pekayon dan Jatiasih sudah memikat pengembang kaliber Grup Bangun Cipta dengan Kemang Pratama sebagai andalannya. Saat itu, medio 1990-an, mereka giat mempromosikan perumahan seluas 300 hektar dengan harga terendah Rp500 jutaan. Kemudian di seberangnya, dipisahkan oleh jalan tol Jakarta-Cikampek, PT Taman Puri Indah dan PT Delta Kirana Utama membesut Taman Galaxy (260 Ha).

 

Kiprah para pengembang ini secara otomatis memicu pergerakan pasar yang ditandai oleh melejitnya harga dan dinamisnya transaksi jual-beli tanah. Mafhum jika satu dekade usai rintisan tiga pengembang tadi, bermunculan Mal Metropolitan dan Mal Pekayon. Menyusul belakangan apartemen Mutiara Bekasi dan Taman Cikas. Nama terakhir ini sempat jadi buah bibir dua tahun lalu. Sebab, di kala harga BBM naik, Taman Cikas justru diminati pasar. Lahannya tidak terlalu luas, hanya sekitar 12 Ha. Rumah yang akan dikembangkan sebanyak 400 unit. Harganya lumayan terjangkau Rp200-an juta.

 

Berturut-turut kemudian Villa Pekayon (3 Ha) yang berada di dalam permukiman Pondok Pekayon Indah, Griya Cendana, Pekayon Park, Permata Jatiasih dan Griya Madani Asri. Mengecilnya luas lahan proyek-proyek tersebut, karena pasok lahan kosong dan luas sangat terbatas. Itupun sudah diokupasi oleh pengembang lain dan atau individu yang bermotif investasi. Sehingga bentuk pengembangannya mengarah kepada konsep klaster khusus maupun town house.

 

Menurut Marla Sanger, Member Broker ERA Ekspress, Pekayon  dan Jati Asih menjadi pilihan  para pengembang karena kebutuhan riil akan perumahan memang ada dan cukup banyak. Pemain lawas  yang masih memiliki cadangan lahan pun terus membangun klaster baru. Mereka tak mau kalah dengan pendatang baru yang menawarkan varian tipe dengan kelengkapan fitur-fitur modern. Katakanlah investor individu yang melansir Green Apple Residence. Pengembang ini termasuk berani membenamkan modalnya karena tak hanya membangun rumah, juga insfratruktur telekomunikasi macam internet nirkabel serta kebun apel. Sehingga Green Apple Residence seolah tampil beda, di antara pesaingnya. Padahal, hanya 24 unit yang tersedia dengan harga jual Rp395 juta (65/105).

 

Serupa dengan Pekayon Mansion yang menjajakan tipe 170/104  (Rp400 juta) dan 220/139 (Rp900 juta) dengan jumlah unit sebanyak 50. Dirancang setara dengan perumahan kelas atas lainnya, seperti kelengkapan kamera pengintai, jogging track, hingga wi-fi. Mengarah ke Jl. Swatantra-Jatiasih juga mulai bermunculan sarana hunian dan investasi baru seperti Permata Jatiasih Residence dan Sakura Regency Residence.

 

Hidup dan bergairah. Mengatrol harga tanah, terutama di jalan-jalan utama, hingga Rp2,5 juta/m2. “Tanah di kawasan perumahan seperti di Kemang Pratama ataupun Taman Galaxy harganya berkisar antara Rp1 juta hingg Rp2 juta/m2”, jelas Marla.

 

Dengan angka yang relatif tinggi itu, menurut Marla, mendorong minat pemilik lahan untuk menjualnya secepat mungkin dan mengonversikan keuntungannya menjadi tempat atau modal usaha. “Lihat saja di sepanjang jalur ini banyak berdiri ruko-ruko dan kios-kios baru. Ruko-ruko baru itu disewakan atau dijual kembali. Tentu saja mereka berharap keuntungan yang berlipat,” cetusnya.

 

Ruko dengan ukuran 6x14m yang terdiri 3 lantai harganya sudah mencapai Rp850 juta/unit. Bayangkan! Lima tahun lalu mungkin tidak setinggi ini harganya. Mengingat aktifitas ekonomi belum pesat perputarannya. Sekarang, saat bermunculan tempat usaha seperti mal, ruko, dan kios yang dijadikan tempat bisnis jasa dan perdagangan, Pekayon dan Jatiasih menjadi salah satu simpul kemacetan di Bekasi Barat.

 

“Macet artinya pusatnya perputaran uang. Orang banyak melakukan transaksi jasa dan perdagangan. Dan ini harusnya ditanggapi positif, karena dengan begitu, roda perekonomian berputar,” ucap Marla.

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Kalau dilihat sepertinya daerah Jatiasih dan sekitarnya, bisa menjadi alternatif diluar Bekasi yang macet dan banjir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: