2010, Diwarnai Ekspansi dan Konsolidasi

Mempertimbangkan sinyalemen prospektifnya bisnis dan industri properti tahun 2010, seperti pertumbuhan ekonomi Nasional yang tetap positif (4-5%) dan penurunan suku bunga pasar menjadi 10-12%, disikapi beberapa pengembang untuk lebih agresif dan ekspansif dibanding tahun 2009. Diperkuat hasil kinerja pendapatan mereka pada semester I 2009 yang semakin mengonfirmasi untuk terus bergiat melakukan pengembangan demi pengembangan.

PT Bumi Serpong Damai Tbk., contohnya. “Kami melakukan pengembangan berkelanjutan. Seluas 850 Ha di bagian tengah dan utara BSD City akan dikembangkan dalam waktu lima tahun,” ucap Presiden Direktur PT BSD Tbk, Harry Budi Hartanto. Guna merealisasikannya, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp 7 triliun-8 triliun.

 

Sekitar 2.000 rumah berbagai kelas, akan diproduksi setiap tahun. Sementara properti komersialnya dirancang bakal mengisi sepertiga dari luas 850 Ha itu, termasuk di antaranya ruko, low rise office dan kavling siap bangun.

 

Dikatakan Harry, PT BSD Tbk sangat optimis dapat menangguk keberhasilan pada tahun macan nanti. Indikatornya jelas, bank-bank telah merespon turunnya BI rate dengan penerapan suku bunga KPR yang ramah pasar.

 

Dus, kinerja PT BSD Tbk memperkuat motivasi untuk tidak menangguhkan pengembangan baru. Hingga Agustus tahun ini, mereka membukukan pendapatan sebesar Rp700 miliar. Perolehan ini setara dengan 50% dari target yang dipatok Rp1,4 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan rumah tinggal (landed house) sebesar 65%, penjualan tanah 18% dan 15% sisanya dari komersial dan industri. “Ini hasil yang sangat positif. Kami optimis, tahun depan produk properti kami akan terserap pasar dengan baik,” tandas Harry.

Begitupula dengan PT Summarecon Agung Tbk yang hingga September 2009 telah mencatat perolehan Rp1,1 triliun. Menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki, pada tahun 2010, mereka akan memulai pemasaran Summarecon Bekasi. Sementara pembangunannya dijadwalkan pada pertengahan 2010.

Penjualan spektakuler atas rumah dan kavling di Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Summarecon Serpong, Tangerang, adalah alasan kuat PT Summarecon Agung Tbk percaya diri melanjutkan pengembangan klaster dan proyek baru.

Sementara PT Jakarta Setiabudi International (JSI) Tbk, sedikit lebih konservatif. Mereka akan mengoptimalisasi aset-aset eksisting. “Saat ini kami fokus pada peningkatan produktivitas portofolio yang ada. Sementara untuk rilis new project, kami masih melihat kondisi secara makro,” kata Presiden Direktur PT JSI Tbk Jeffri Darmadi.

Berikut berbagai rencana besar para pengembang yang akan direalisasikan pada tahun 2010:

PT BSD Tbk

Kejar Pendapatan Rp2 Triliun

Usai mencatatkan diri di lantai bursa pada pertengahan tahun ini, PT BSD Tbk kian ekspansif dan agresif. Beberapa rencana strategis sudah disiapkan. Di antaranya, membangun bagian tengah hingga ke utara BSD City seluas 850 Ha dalam 5 tahun ke depan. Mencakup perumahan berbagai kelas, ruang komersial, ritel dan episentrum bisnis (natural office park). Yang terakhir ini akan dibangun seluas 25 Ha. Terdiri atas 5-6 gedung perkantoran low dan middle rise. Rencananya, salah satu gedung tersebut akan dijadikan headquarter PT BSD Tbk.

Pengembangan ini, sejatinya telah direalisasikan sejak tahun 2008, secara bertahap. Mengakomodasi pertumbuhan kawasan Serpong yang bertransformasi menjadi kawasan yang sangat dinamis, terbuka dan tentu saja ladang investasi yang menjanjikan. BSD City, khususnya, diapit dua daerah pertumbuhan yang sangat pesat, yakni Pondok Indah dan Puri Kembangan/Indah. Mereka mencoba untuk memperluas dan meningkatkan penetrasi pasar.

“Permintaan properti di sini sangat kuat. Terbukti, setiap kali kami melansir produk baru, tingkat serapannya sangat tinggi,” papar Presiden Direktur PT BSD Tbk Harry Budi Hartanto.

Tak hanya kalangan menengah atas, menengah bawah juga tengah mereka jajaki. “Ceruk pasar di sini sangat luas. Akan sangat naif jika kita abaikan,” ujar Harry. Untuk itu, selain klaster eksklusif seluas hanya 10 Ha dengan harga rumah Rp7 miliar/unit yang akan dilepas ke pasar tahun depan, mereka juga merancang rumah bertingkat setinggi 4 lantai. Produk semacam rusunami ini diperuntukan bagi kelas pekerja, karyawan dan mahasiswa.

 

Jadi, komposisi target pasar yang dibidik PT BSD Tbk adalah menengah bawah 40%, menengah 40% dan atas mencapai 20%. “Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, kelas menengah merupakan pasar yang sangat potensial. Karena itu, kami juga tetap melepas produk seharga Rp700 juta-1,5 miliar,” tuturnya.

 

Seperti diketahui, PT BSD Tbk telah menyelesaikan pengembangan tahap I sebesar 1.500 ha. Cadangan lahan sekitar 3.300 hektar milik mereka yang belum dibangun, 1.600 Ha di antaranya telah dibebaskan, bakal dijadikan amunisi terakhir bagi gebrakan selanjutnya. Dalam lima tahun kedepan itu juga mereka bakal segera  mengakusisi lahan di sebelah barat BSD City.

 

Setiap tahun, mereka menganggarkan belanja modal sekitar Rp200 miliar-300 miliar guna memenuhi target setiap tahun, 150 Ha terbangun. Dana tersebut digunakan selain untuk pembangunan infrastruktur dan konstruksi bangunan juga pembelian-pembelian lahan serta revitalisasi sungai sepanjang 5 km yang membelah BSD City, secara bertahap.

 

Jadi, dapat dibayangkan. Dengan agresifitas sedemikian rupa, perkembangan dan pertumbuhan properti di kawasan Serpong pastilah sangat pesat. Sekadar informasi, pertumbuhan harga properti di BSD City, mencapai 15-20% per tahun.

Galib adanya jika PT BSD tbk menargetkan pendapatan tahun 2010 nanti lebih tinggi dari tahun ini, sekitar Rp2 triliun.

Grup Megapolitan Development

Perluas Pasar

Komisaris Grup Megapolitan Development, Lora Melani Lowas Barak Rimba pernah mengatakan, bahwa properti adalah bisnis yang berisiko tinggi sekaligus mendatangkan laba yang juga tinggi. Oleh karena itu, pengembang yang identik dengan kawasan Cinere itu (portofolio properti perdana dan terbesarnya berada di sini), tak akan pernah sekalipun berdiam diri, kendati krisis masih menyisakan jejak-jejaknya.

 

Untuk tahun 2010, kelompok usaha yang dipimpinnya ini sudah bersiap mengimplementasikan strategi bisnisnya. Mereka berkonsentrasi melakukan perluasan range produk properti, dengan jangkauan pasar lebih luas.

 

Range produk yang dimaksud adalah hunian (semua jenis digarap mulai dari rumah, apartemen, kondotel, hingga townhouse) dan komersial (kios, ruko, mall, dan office park). “Harga produk dimulai dari Rp200juta-3 miliar,” imbuh Melani.

 

Dua pilar utama produk properti tersebut terangkum dalam proyek-proyek dan klaster baru. Untuk tahun macan nanti, Grup Megapolitan Development bakal memulai pembangunan Cimandala City tahap 1. Megablok yang berlokasi di Bogor ini, dikembangkan di atas lahan seluas 17 Ha. Merangkum properti hunian berupa kondotel, townhouse, shopping mall, shopping arcade, sunken plaza, hotel, dan juga shopping arcade.

 

Selain itu, masih di Bogor, mereka bakal menambah klaster Mahapraya di perumahan Tatya Asri, Sentul dan membangun area komersial berupa ruko di Tatya Asri Tahap II.

 

Sementara di Cinere, Jakarta Selatan, mereka akan menggenapi pengembangan area komersialnya dengan membangun Cinere Junction. Untuk huniannya, di lokasi yang sama, awal Januari 2010 mereka merilis Puri Cinere Riverside Tahap 3.

 

Tak luput, pembangunan Urbana University Village tahap 2 di Karawaci, Tangerang, juga akan memulai pembangunannya.

 

 

PT Jakarta Setiabudi International Tbk

Tingkatkan Produktivitas Aset

Inilah satu-satunya pengembang besar yang memilih untuk tidak terlalu agresif dan ekspansif. Tahun depan, PT JSI Tbk akan mengoptimalkan kinerja investasi dan mengelola risiko serta meningkatkan produktivitas aset eksisting.

Caranya, dengan mengembangkan budget hotel di atas Djakarta Theater, Jakarta dan kota-kota propinsi dan kabupaten di Pulau Jawa. Berkongsi dengan pihak ketiga guna membangun mixed use-strata title yang terdiri atas apartemen, perkantoran, townhouse dan ruko di Jakarta Barat. Serta melakukan pengembangan lanjutan atas Puri Botanical residences dengan membuka klaster-klaster baru beserta fasilitasnya.

Selain itu, perseroan yang mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp651,4 miliar per September 2009 ini, juga akan mengoptimalisasi land bank di Jogjakarta. Lahan di sini dimanfaatkan untuk proyek Jogja Residential yang waktu realisasinya belum ditentukan.

Sementara terhadap aset lainnya, yakni Bali Hyatt Hotel, PT JSI Tbk akan melakukan renovasi dan penambahan suites room serta vila-vila untuk melengkapi fasilitas akomodasinya.

“Tapi, yang lebih utama dan penting adalah kami bersiap mendivestasi aset-aset yang kurang memiliki nilai strategis. Nantinya hasil divestasi ini akan dialokasikan pada proyek-proyek yang dapat memberikan imbal hasil yang tinggi bagi perseroan,” jelas Presiden Direktur PT JSI Tbk, Jeffri Darmadi.

Sekadar informasi, PT JSI Tbk masih memiliki persediaan lahan strategis sebesar 98 Ha atau senilai lebih dari Rp1,7 triliun yang tersebar di Jakarta (Mega Kuningan dan Kebon jeruk), Sanur (Bali), dan Yogyakarta. “Kami akan mengembangkannya untuk tahun-tahun mendatang,” imbuh Jeffri.

PT Duta Pertiwi Tbk

Konsolidasi

Kendati mencatat laba bersih Rp93,08 miliar per September 2009 atau naik 105,8% dibanding perolehan pada periode yang sama 2008 Rp45,22 miliar, namun PT Duta Pertiwi Tbk memilih untuk melakukan konsolidasi.

Demikian Presiden Diperktur PT Duta Pertiwi Tbk, Harry Budi Hartanto. Konsolidasi dilakukan lebih karena upaya untuk mengoptimalisasi portofolio yang ada. “Kami akan meningkatkan fungsi dan kualitas atas beberapa properti yang mendatangkan recurring income,” ucap Harry.

Dus, turunnya penjualan dari Rp72,46 miliar menjadi Rp55,54 miliar yang menyebabkan berkurangnya pendapatan menjadi Rp615,01 miliar  dari Rp761,58 miliar ikut mempengaruhi rencana strategis PT Duta Pertiwi Tbk tahun macan nanti.

Namun begitu, bukan berarti mereka vakum sama sekali dari aktifitas pengembangan. Saat ini, PT Duta Pertiwi Tbk tengah menjajaki dua mitra strategis lokal untuk mengembangkan ITC di kawasan Grand Wisata, Bekasi dan perumahan baru seluas 100 Ha di dalam Kota Wisata, Bogor. Perseroan telah menyiapkan lahan seluas 4-5 hektare (ha) dan sepertiga dari belanja modal sejumlah Rp400 miliar.

“Selain untuk membangun ITC, belanja modal tersebut juga akan digunakan untuk pembangunan perumahan dan beberapa proyek baru di daerah. Saat ini kami tengah melakukan studi kelayakan di Medan, Sumatera Utara,” jelas Harry.

Dengan kondisi demikian, menjadi realistis jika lantas PT Duta Pertiwi Tbk mengincar kenaikan pendapatan hanya 10-15 persen pada 2010.
Sebagian besar pendapatan direncanakan akan digenjot dari penjualan perumahan dan sisa kios yang belum terjual. Sesuai dengan strategi perusahaan yakni menambah klaster pada perumahan yang sudah ada, melanjutkan kerja sama kredit pemilikan rumah (KPR) dengan bank, dan mencari peluang proyek baru.

PT Summarecon Agung Tbk

Merilis Summarecon Bekasi

Ditandatanganinya Hotel Haris Kelapa Gading pada November 2009 lalu adalah tonggak bersejarah bagi bisnis hospitalitas PT Summarecon Agung Tbk. Hotel ini merupakan aset akomodasi pertama dari imperium bisnis milik Soetjipto Nagaria itu.

Tahun 2010 dan hingga lima tahun mendatang nanti, menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki, kompleks komersial Summarecon Mall Serpong (SMS) juga akan dilengkapi dengan fasilitas akomdodasi serupa. Selain kondominium dan SMS tahap II.

Namun, satu yang pasti, tahun depan, mereka memusatkan perhatian pada pembangunan perumahan skala kota di Bekasi, seluas 250 Ha. Pembangunannya akan dimulai pada Juli 2010 dengan nilai investasi tahap I sebesar Rp250 miliar. Saat ini yang sudah dilakukan adalah pembebasan lahan seluas 180 Ha. “Proses pengurusan legalitas, perijinan dan kelengkapan administrasi land bank telah masuk dalam tahap finalisasi. Adapun pendanaannya kami tempuh cara-cara konservatif yakni kas internal dan penjualan pra komitmen. Prinsipnya semua beres, tidak ada masalah,” papar Johannes.

Keseriusan Summarecon Agung menggarap pasar Bekasi yang berceruk luas itu dibuktikan dengan persiapan mereka menciptakan akses langsung dari Tol Dalam Kota Jakarta, menuju Bekasi Utara, lokasi Summarecon Bekasi sberada. Mereka telah mengalokasikan dana sebesar Rp110 miliar untuk akses langsung berupa jalan layang yang bermuara di Jl Ahmad Yani.

 

 

Pasok Tersendat, Pertumbuhan Rumah Melambat

Tahun 2009 merupakan tahun yang berat bagi pasar perumahan. Krisis keuangan global yang mempengaruhi kondisi makro ekonomi Indonesia, dan ketatnya likuiditas perbankan menyebabkan pengembang kesulitan memperoleh kredit konstruksi. Selain itu, perbankan juga sangat berhati-hati mengucurkan  kredit KPR sehingga banyak pengajuan proposal KPR yang tidak disetujui. Suku bunga KPR yang tinggi juga melemahkan daya beli konsumen. Akibatnya, mereka memilih opsi menunda pembelian rumah hingga suku bunga normal kembali. Serupa dengan perilaku konsumen yang tidak sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Mereka menahan diri untuk tidak berinvestasi, mengambil sikap wait and see terhadap perkembangan krisis.

Sejatinya, situasi kurang kondusif ini sudah terjadi sejak pertengahan 2008 silam. Ditandai dengan suku bunga yang merangkak naik dan sikap perbankan yang ‘self-protectived’. Jelas, kondisi ini merugikan para pelaku bisnis dan industri perumahan. Betapa tidak, mereka mengalami kesulitan untuk berekspansi. Sehingga sepanjang tahun 2009 ini, pengembang hanya berkonsentrasi membangun rumah tambahan di cluster yang sudah dikembangkan dan menahan diri untuk mengembangkan cluster dan portofolio baru.

Kemampuan membangun pengembang dapat dilihat dari grafik di atas. Dari 45 perumahan di wilayah Jabodetabek yang dijadikan sampel oleh Coldwell Banker Indonesia dengan luas lahan mencapai 11.385 ha, sepanjang tahun 2009 relatif tidak ada yang menyediakan rumah stok. Mereka hanya memasarkan rumah dengan sistem inden dalam  jangka waktu berkisar antara 12-18 bulan.

Secara kumulatif, sampai kuartal ketiga 2009, jumlah rumah yang telah dibangun tercatat 3.638 unit atau hanya 79,75% dibandingkan jumlah rumah terjual yang mencapai 4.562 unit. Sementara kuartal ketiga 2008, rumah yang dibangun sebanyak 15.472 unit. Lebih tinggi 143,05% terhadap kumulatif rumah terjual yang mencapai 10.816 unit.

Berbeda dengan kondisi kuartal pertama dan kedua 2008. Pada saat itu, pengembang berani menyediakan rumah stok. Prestasi penjualan pun menggembirakan, proporsi rumah stok terjual mencapai 198,8% pada kuartal pertama dan 126,3%  (kuartal kedua).

Dengan sistem pemasaran inden ini pengembang dapat menjaga cash flow perusahaan di tengah kredit konstruksi yang sulit diperoleh dan penjualan yang menurun. Sistem pemasaran ini juga memungkinkan pengembang dapat mengandalkan uang muka dari konsumen untuk biaya membangun.

Bagaimana dengan permintaan dan penyerapan? Menurut riset Coldwell Banker Indonesia, penjualan rumah pada kuartal ketiga tahun ini hanya mencapai 879 unit, turun sebesar -71,55% dari periode yang sama tahun lalu yang membukukan 3.090 unit. Angka lebih rendah bila dihitung secara kumulatif. Hanya 4.562 unit terjual, turun -57,82% dibandingkan kuartal ketiga 2008 yang mencapai 10.816 unit.

Turunnya penjualan ini terjadi hampir di semua segmen pasar. Terparah adalah segmen pasar rumah sederhana, mencapai -62,2%. Disusul segmen pasar menengah yang anjlok -56,0%. Ketergantungan terhadap fasilitas pembiayaan melalui KPR merupakan penyebab utama penurunan penjualan di kedua segmen ini. Sementara untuk kelas atas yang tidak dipengaruhi oleh perubahan suku bunga KPR hanya mengalami penurunan -37,7%.

Namun demikian, di tengah situasi yang tidak menguntungkan itu, para pengembang justru lebih kreatif. Agar penjualannya tidak vakum, mereka menerapkan beberapa siasat. Seperti memberi subsidi bunga kepada konsumen. Skemanya, mereka menanggung 2-3% sehingga suku bunga KPR yang dibebankan ke konsumen lebih rendah.

Atau besaran uang muka mereka turunkan, dari angka normal 30% menjadi hanya 20% bahkan ada yang menawarkan 10% dari total harga rumah. Selain itu, juga memberlakukan kemudahan dalam pembayaran cicilan rumah, dengan cicilan bertahap berjumlah tetap dalam jangka waktu tertentu dan tanpa uang muka.

Dengan kondisi penjualan yang rendah ini, pengembang menahan kenaikan harga rumah atau hanya melakukan penyesuaian harga dengan kenaikan yang kecil. Peningkatan harga tahun ini jauh lebih rendah dari tahun lalu, hanya 7,22%. Sementara tahun 2008 tercatat 14,59%. Ini berarti hanya mencapai setengahnya atau turun -50,51%.

2010

Bergerak Kembali

Seiring dengan penurunan suku bunga KPR yang dimulai sejak kuartal II 2009 dan diperkirakan terus berlanjut hingga 2010, pasar perumahan diprediksikan akan tumbuh kembali. Bank mulai menawarkan kerjasama dengan pengembang berupa program KPR dengan suku bunga khusus. Ini sekaligus sinyalemen bahwa mereka mulai membuka keran kreditnya lebih lebar. Dengan kondisi ini, permintaan pasar akan meningkat dan pengembang akan bergairah kembali dalam membangun dan memasarkan proyeknya.

Grand Nusa Indah, Murah Meriah

Kawasan Cileungsi aktual telah berubah. Sementara tetangganya, Cibubur, semakin padat. Wilayah yang merupakan bagian dari Kabupaten Bogor itu justru makin lari cepat. Pembangunan marak di mana-mana. Di setiap jengkal bisa dijumpai proyek-proyek properti anyar. Terbaru, Grand Nusa Indah yang digarap PT Kentanix Supra International. Ini merupakan proyek kedua dari pengembang yang berkiprah sejak tahun 1985 ini di kawasan Cileungsi. Sebelumnya, bersama Grup Duta Putra dan Grup Suryamas Dutamamur melalui bendera PT Dwikarya Langgeng Sukses, mereka  mengembangkan  Harvest City (1.050 hektar) di depan Taman Buah Mekarsari.

 

“Kawasan Cileungsi punya potensi yang sangat besar sehingga kami membangun lagi perumahan di sana,” ujar Kumala Dewa, General Manager Marketing PT Kentanix Supra International. Nama Grand Nusa Indah dipilih, jelas Kumala, karena ingin mengulang kesuksesan saat membangun Vila Nusa Indah yang saat ini sudah mencapai tahap 5.

 

Grand Nusa Indah disiapkan di atas area seluas 600 hektar. Lokasinya tidak jauh dari Taman Buah Mekarsari. Target pasarnya adalah para pekerja pabrik yang banyak tersebar di kawasan Cileungsi. Rumah yang ditawarkan sebagian besar (70%) adalah Rumah Sederhana Sehat (RSH) dengan harga perdana dibuka pada angka Rp50 juta-an. Tahap pertama akan dibangun 25  hektar dengan jumlah rumah sebanyak 1.770 unit.

 

“Meski kelasnya RSH, tapi ini sangat berbeda disbanding yang sudah ada,” ujar Kumala. Sekadar informasi, selama ini perumahan kelas menengah bawah, terutama yang bersubsidi pemerintah, dibangun dengan kualitas rendah. Sehingga banyak penghuni yang tidak betah dan pindah. Nah, PT Kentanix Supra International ingin membangun kelas ini dengan nuansa real estat. Aksesnya pun akan dibuat sangat memadai, langsung terhubung dengan Jl Transyogi dengan ROW 12-15 meter.

 

Grand Nusa Indah dirancang bersistem cluster agar keamanan lebih terjaga. Pada setiap cluster, terdiri atas 100 rumah,  masing-masing dilengkapi dengan fasilitas sesuai kebutuhan penghuni. Terutama taman bermain, selain sport center dan kolam renang serta fasilitas ruang komersial. Jalan lingkungannya memanfaatkan paving blok. Sementara jalan utamanya dari material beton.

 

Sementara spesifikasi material rumahnya, terdiri atas material baja ringan untuk rangka atapnya, gypsum untuk plafon dan lantainya dari keramik. Bandingkan dengan rumah murah biasa yang lantainya hanya diplur semen dan dindingnya sama sekali tidak diplester. Memang pembeli harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk mendapatkan rumah sederhana plus di Grand Nusa Indah ini. Namun, itu sebanding dengan kualitas yang didapatkan.

 

Untuk tipe rumah yang dipasarkan saat ini seperti tipe 22, calon konsumen harus menambah dana sebesar Rp8 juta dari harga dasar dan Rp15 juta untuk tipe 29.

 

Kumala yakin pembeli tidak mempermasalahkan penambahan biaya tersebut karena mereka akan mendapatkan rumah berkualitas baik. “Pembeli tetap bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah karena tambahan biaya itu dibayar di depan,” jelasnya. Untuk meringankan down payment (DP) pembeli bisa menggunakan fasilitas Jamsostek.

 

Strategi ini, jelas sangat tajam dan jitu. Grand Nusa Indah berpeluang disambut pasar. Apalagi perumahan sekelas yang juga dibangun PT Kentanix Supra International, Harvest City, saat ini sudah mencatat pertumbuhan harga signifikan. Sedangkan perumahan lainnya macam Taman Cileungsi yang dibangun Metropolitan Land, harganya jauh lebih tinggi. Termurah, Rp140 juta (tipe Vanda).

 

Sementara di Harvest City, rumah  tipe terkecil yakni 22/60 harganya Rp70 juta. Jika ingin mendapatkan perumahan dengan harga subsidi berfasilitas real estat, hanya bisa didapatkan di Citra Indah yang dibangun Grup Ciputra di Jonggol. Namun lokasinya lebih jauh. Nampaknya PT Kentanix Supra International melihat peluang ini dan mewujudkanya dengan membangun Grand Nusa Indah.

 

Dengan berbagai nilai plus itu, PT Kentanix Supra International optimis Grand Nusa Indah akan disambut antusias. “Kami menargetkan setahun bisa menjual seribu rumah,” ungkap Kumala.

 

 

 

Sumber: Yuniar S

Trihatma Kusuma Haliman; APG Stick Di Pasar Menengah

Agak sulit mewawancarai taipan properti satu ini. Saat sudah bertatap muka pun, belum tentu lelaki berkacamata dan berkulit terang ini mau buka-bukaan.  Apalagi dalam setiap kesempatan publikasi, ia kerap dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Sehingga, tantangan untuk mendekatinya semakin berat. Wajar bila celah sedikit saja terbuka, saya manfaatkan secara maksimal.

Seperti ketika usai menyantap tumpeng syukuran topping off dua menara Central Park Residences dua hari lalu, saya langsung menggandengnya untuk sekadar mengorek pendapatnya mengenai prospek properti 2010 dan rencana strategis Grup Agung Podomoro.

Adalah Trihatma Kusuma Haliman. Pendapat, gagasan serta taktiknya dalam berbisnis sangat mempengaruhi konstelasi sektor properti di Indonesia secara keseluruhan. Apapun perkataan yang diucapkannya melalui serangkaian strategi bisnis kelompok usahnya, tak akan pernah luput dari perhatian kolega, kompetitor, pengamat, maupun khalayak ramai.

Jadi, mafhum jika Trihatma sangat dinanti. Eksistensinya, esensi perkataanya, ataupun sekadar hembusan isunya.

Nah, ketika saya ‘todong’ ayah dari Putra K Haliman ini dengan pertanyaan-pertanyaan strategis, ia menjawabnya juga dengan strategis, untuk tidak dikatakan diplomatis.

Bagaimana Anda meneropong sektor properti Indonesia tahun depan?. Dengan sedikit tersenyum dan tarikan napas satu namun dalam, sosok kharismatik ini menjawab, “Bisnis dan industri properti kita akan terbang tinggi. Saya optimis dan saya garansi itu”.

Ini adalah sabda seorang praktisi yang sudah lebih dari 35 tahun menggeluti sektor properti. indikasi-indikasi yang menyokong statement-nya, bukan isapan jempol. Secara runut dia menjelaskan, bahwa ia sangat percaya pada prinsip penciptaan atau kreasi pasar. “Kita sendiri yang harus bisa menciptakan pasar itu apakah akan positif atau negatif. Nah, saya memandang tahun 2010 nanti, properti akan jauh melebihi kondisi sebelum krisis 2008”.

Suku bunga murah, building material yang juga murah, serta regulasi yang mempermudah dan perijinan yang ramah membuat semua gagasan kreatif berpotensi terealisasi secara maksimal. Dan satu yang penting, harus yakin, optimis, dan positive thinking. Business confidence itu penting. Makanya Agung Podomoro bisa seperti ini”.

Grup Agung Podomoro sendiri sudah menyiapkan rencana strategis yang akan diwujudkan tahun depan. Di antaranya menambah land bank di dalam kota Jakarta, kawasan Jadebotabek dan lima kota besar di Indonesia.

Apakah itu termasuk mengakuisisi lahan idle? ” hahahaha…. sebagai bagian dari strategi bisnis, tentu saja. Dan jika itu dipandang bisa kita ‘sulap’ jadi mutiara yang berkilau kenapa tidak”, tandas Trihatma.

Begitu banyak portofolio Grup Agung Podomoro, sehingga kelompok usaha ini menjadi generik, menyentil saya untuk lebih jauh mengorek, apa sejatinya motivasi dan obsesi Trihatma. Ia pun tak sungkan bercerita, sementara pengawalnya sudah siap-siap menariknya kabur saya tetap bertahan, bahwa Grup Agung Podomoro didirkan untuk melayani masyarakat Indonesia yang membutuhkan hunian. Itulah mengapa pihaknya tetap akan stick atau bertahan bermain di kelas menengah. “Ceruk pasar ini yang sesungguhnya luar biasa besar dan luas. Proyek dengan konsep apapun, kalo ditujukan untuk segmen ini pasti laku. Kami sudah memberi bukti, Central Park Residences, Seasons City, Pluit, Kalibata, atau yang lain, pasti memperlihatkan kinerja penjualan memuaskan. turn over-nya cepat”.

Lagipula, lanjutnya, membangun properti kelas menengah sama artinya mengejawantahkan corporate social responsibility. “Hanya kami yang mau membangun apartemen murah meriah dengan eskalasi pembangunan yang begitu cepat”, akunya.

Sepuluh ribu unit apartemen di Pluit, Jakarta Utara, 12.000 unit di Kalibata, Jakarta Selatan, dan ribuan di belahan Jakarta lainnya, adalah fakta bisnis yang menurutnya merupakan konstribusi pergerakan sektor properti di Indonesia.

Jadi, jangan pernah berhenti membangun. Meskipun fasilitas pembiayaan dari perbankan kurang berpihak, seperti terjadi tahun lalu, masih ada cara lain yang bisa digunakan secara cerdas, agar aktifitas membangun tidak vakum.

Begitu banyak proyek yang kini tengah digeber APG, tentunya membutuhkan amunisi yang juga sangat besar, apa rencana Anda untuk memperkuat konstruksi permodalan? “Kami masih percaya diri dengan ekuitas sendiri. Selain mengandalkan dari penjualan yang Puji Tuhan selalu fantastis. Untuk tahun 2010 kami bersiap go public. Pendek kata, tahun 2010 nanti, kami akan tancap gas. Lari cepat merampungkan proyek yang tengah konstruksi dan juga merilis sejumlah proyek baru”.

Tepat, usai menyebutkan sejumlah proyek baru, salah satu pengawal, yang tak lain Very Y Setiady, menarik lengan Trihatma dan berkata, “Sudah ya mbak, untuk lebih detil silakan bertanya pada Indra W Antono”.

Saya pun tersenyum…

2010; Properti Tumbuh Positif

Kendati suku bunga pasar masih bertengger dua digit (10-12%), para pengamat dan pelaku bisnis dan industri properti memproyeksikan kondisi tahun depan tumbuh positif.

Dipimpin oleh sub sektor perkantoran yang tahun ini mencatat kinerja lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Riset Procon Savills mengonfirmasinya dengan laporan tingkat penyerapan bersih pada kuartal III 2009 ini yang mencapai 56.000 m2 dari total pasok baru 110.700 m2. Tertinggi setelah krisis global akhir tahun lalu.

Ketua DPP REI Teguh Satria memperkuatnya dengan optimisme permintaan akan lebih besar dan kuat dibanding pasok. Ini dimungkinkan karena, pemulihan ekonomi nyata terlihat. Investasi asing bergairah, saham melaju dan rupiah menguat.  “Banyak perusahaan asing dan domestik yang ekspansif, membutuhkan ruang kantor baru dan representatif,” ujarnya.

Dus, pasok melimpah diperkirakan juga terjadi tahun depan. Setelah beberapa tahun sempat terhambat. Akan banyak proyek-proyek perkantoran yang rampung konstruksinya. Apalagi jika proposal  investasi yang tercatat di BKPM direalisasikan, korelasinya dengan pertumbuhan sektor perkantoran, akan kian positif.

Dominasi investasi lokal dengan durasi panjang yang selama ini terjadi, justru dianggap sebagai pemicu tetap bergeraknya sektor properti ke arah lebih progresif. Managing Director Procon Savills, Hendra Hartono, menyatakan jika investasi lokal terus bergulir dan investasi asing deras masuk ke Indonesia, pasar office akan menemukan puncaknya. Preferensi para penyewa yang telah bergeser kepada eco building concept dan diadopsi maksimal oleh land lord ikut menentukan dan mempengaruhi kondisi keterisian gedung.

Sementara sub sektor ritel, dipandang cukup prospektif. Meskipun penambahan permintaan masih moderat dan harga sewa cukup stabil. Kabar gembira, diperlihatkan ritel strata title yang mengalami peningkatan okupansi sebesar 65,1% setelah medio sebelumnya sempat terpuruk. Sedangkan ritel sewa justru menurun menjadi 84,1%.

Hal serupa terjadi pada pasar kondominium.  Hanya menyisakan 2.240 unit yang belum terjual dari total pasok 69.900 unit. Atau terserap sekitar 96,9%. Tingginya tingkat penjualan ini didukung oleh suku bunga khusus perbankan yang diberlakukan kepada proyek-proyek kondominium tertentu yang masih dalam proses pembangunan ataupun yang sudah kelar pembangunannya. Juga tidak bisa diabaikan adalah strategi pengembang yang menerapkan fasilitas pembelian bagi konsumen berupa pembebasan uang muka dan bunga cicilan. Sehingga kapasitas konsumen lebih memadai untuk membeli dan memiliki kondominium.