Trihatma Kusuma Haliman; APG Stick Di Pasar Menengah

Agak sulit mewawancarai taipan properti satu ini. Saat sudah bertatap muka pun, belum tentu lelaki berkacamata dan berkulit terang ini mau buka-bukaan.  Apalagi dalam setiap kesempatan publikasi, ia kerap dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Sehingga, tantangan untuk mendekatinya semakin berat. Wajar bila celah sedikit saja terbuka, saya manfaatkan secara maksimal.

Seperti ketika usai menyantap tumpeng syukuran topping off dua menara Central Park Residences dua hari lalu, saya langsung menggandengnya untuk sekadar mengorek pendapatnya mengenai prospek properti 2010 dan rencana strategis Grup Agung Podomoro.

Adalah Trihatma Kusuma Haliman. Pendapat, gagasan serta taktiknya dalam berbisnis sangat mempengaruhi konstelasi sektor properti di Indonesia secara keseluruhan. Apapun perkataan yang diucapkannya melalui serangkaian strategi bisnis kelompok usahnya, tak akan pernah luput dari perhatian kolega, kompetitor, pengamat, maupun khalayak ramai.

Jadi, mafhum jika Trihatma sangat dinanti. Eksistensinya, esensi perkataanya, ataupun sekadar hembusan isunya.

Nah, ketika saya ‘todong’ ayah dari Putra K Haliman ini dengan pertanyaan-pertanyaan strategis, ia menjawabnya juga dengan strategis, untuk tidak dikatakan diplomatis.

Bagaimana Anda meneropong sektor properti Indonesia tahun depan?. Dengan sedikit tersenyum dan tarikan napas satu namun dalam, sosok kharismatik ini menjawab, “Bisnis dan industri properti kita akan terbang tinggi. Saya optimis dan saya garansi itu”.

Ini adalah sabda seorang praktisi yang sudah lebih dari 35 tahun menggeluti sektor properti. indikasi-indikasi yang menyokong statement-nya, bukan isapan jempol. Secara runut dia menjelaskan, bahwa ia sangat percaya pada prinsip penciptaan atau kreasi pasar. “Kita sendiri yang harus bisa menciptakan pasar itu apakah akan positif atau negatif. Nah, saya memandang tahun 2010 nanti, properti akan jauh melebihi kondisi sebelum krisis 2008”.

Suku bunga murah, building material yang juga murah, serta regulasi yang mempermudah dan perijinan yang ramah membuat semua gagasan kreatif berpotensi terealisasi secara maksimal. Dan satu yang penting, harus yakin, optimis, dan positive thinking. Business confidence itu penting. Makanya Agung Podomoro bisa seperti ini”.

Grup Agung Podomoro sendiri sudah menyiapkan rencana strategis yang akan diwujudkan tahun depan. Di antaranya menambah land bank di dalam kota Jakarta, kawasan Jadebotabek dan lima kota besar di Indonesia.

Apakah itu termasuk mengakuisisi lahan idle? ” hahahaha…. sebagai bagian dari strategi bisnis, tentu saja. Dan jika itu dipandang bisa kita ‘sulap’ jadi mutiara yang berkilau kenapa tidak”, tandas Trihatma.

Begitu banyak portofolio Grup Agung Podomoro, sehingga kelompok usaha ini menjadi generik, menyentil saya untuk lebih jauh mengorek, apa sejatinya motivasi dan obsesi Trihatma. Ia pun tak sungkan bercerita, sementara pengawalnya sudah siap-siap menariknya kabur saya tetap bertahan, bahwa Grup Agung Podomoro didirkan untuk melayani masyarakat Indonesia yang membutuhkan hunian. Itulah mengapa pihaknya tetap akan stick atau bertahan bermain di kelas menengah. “Ceruk pasar ini yang sesungguhnya luar biasa besar dan luas. Proyek dengan konsep apapun, kalo ditujukan untuk segmen ini pasti laku. Kami sudah memberi bukti, Central Park Residences, Seasons City, Pluit, Kalibata, atau yang lain, pasti memperlihatkan kinerja penjualan memuaskan. turn over-nya cepat”.

Lagipula, lanjutnya, membangun properti kelas menengah sama artinya mengejawantahkan corporate social responsibility. “Hanya kami yang mau membangun apartemen murah meriah dengan eskalasi pembangunan yang begitu cepat”, akunya.

Sepuluh ribu unit apartemen di Pluit, Jakarta Utara, 12.000 unit di Kalibata, Jakarta Selatan, dan ribuan di belahan Jakarta lainnya, adalah fakta bisnis yang menurutnya merupakan konstribusi pergerakan sektor properti di Indonesia.

Jadi, jangan pernah berhenti membangun. Meskipun fasilitas pembiayaan dari perbankan kurang berpihak, seperti terjadi tahun lalu, masih ada cara lain yang bisa digunakan secara cerdas, agar aktifitas membangun tidak vakum.

Begitu banyak proyek yang kini tengah digeber APG, tentunya membutuhkan amunisi yang juga sangat besar, apa rencana Anda untuk memperkuat konstruksi permodalan? “Kami masih percaya diri dengan ekuitas sendiri. Selain mengandalkan dari penjualan yang Puji Tuhan selalu fantastis. Untuk tahun 2010 kami bersiap go public. Pendek kata, tahun 2010 nanti, kami akan tancap gas. Lari cepat merampungkan proyek yang tengah konstruksi dan juga merilis sejumlah proyek baru”.

Tepat, usai menyebutkan sejumlah proyek baru, salah satu pengawal, yang tak lain Very Y Setiady, menarik lengan Trihatma dan berkata, “Sudah ya mbak, untuk lebih detil silakan bertanya pada Indra W Antono”.

Saya pun tersenyum…

Iklan

2010; Properti Tumbuh Positif

Kendati suku bunga pasar masih bertengger dua digit (10-12%), para pengamat dan pelaku bisnis dan industri properti memproyeksikan kondisi tahun depan tumbuh positif.

Dipimpin oleh sub sektor perkantoran yang tahun ini mencatat kinerja lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Riset Procon Savills mengonfirmasinya dengan laporan tingkat penyerapan bersih pada kuartal III 2009 ini yang mencapai 56.000 m2 dari total pasok baru 110.700 m2. Tertinggi setelah krisis global akhir tahun lalu.

Ketua DPP REI Teguh Satria memperkuatnya dengan optimisme permintaan akan lebih besar dan kuat dibanding pasok. Ini dimungkinkan karena, pemulihan ekonomi nyata terlihat. Investasi asing bergairah, saham melaju dan rupiah menguat.  “Banyak perusahaan asing dan domestik yang ekspansif, membutuhkan ruang kantor baru dan representatif,” ujarnya.

Dus, pasok melimpah diperkirakan juga terjadi tahun depan. Setelah beberapa tahun sempat terhambat. Akan banyak proyek-proyek perkantoran yang rampung konstruksinya. Apalagi jika proposal  investasi yang tercatat di BKPM direalisasikan, korelasinya dengan pertumbuhan sektor perkantoran, akan kian positif.

Dominasi investasi lokal dengan durasi panjang yang selama ini terjadi, justru dianggap sebagai pemicu tetap bergeraknya sektor properti ke arah lebih progresif. Managing Director Procon Savills, Hendra Hartono, menyatakan jika investasi lokal terus bergulir dan investasi asing deras masuk ke Indonesia, pasar office akan menemukan puncaknya. Preferensi para penyewa yang telah bergeser kepada eco building concept dan diadopsi maksimal oleh land lord ikut menentukan dan mempengaruhi kondisi keterisian gedung.

Sementara sub sektor ritel, dipandang cukup prospektif. Meskipun penambahan permintaan masih moderat dan harga sewa cukup stabil. Kabar gembira, diperlihatkan ritel strata title yang mengalami peningkatan okupansi sebesar 65,1% setelah medio sebelumnya sempat terpuruk. Sedangkan ritel sewa justru menurun menjadi 84,1%.

Hal serupa terjadi pada pasar kondominium.  Hanya menyisakan 2.240 unit yang belum terjual dari total pasok 69.900 unit. Atau terserap sekitar 96,9%. Tingginya tingkat penjualan ini didukung oleh suku bunga khusus perbankan yang diberlakukan kepada proyek-proyek kondominium tertentu yang masih dalam proses pembangunan ataupun yang sudah kelar pembangunannya. Juga tidak bisa diabaikan adalah strategi pengembang yang menerapkan fasilitas pembelian bagi konsumen berupa pembebasan uang muka dan bunga cicilan. Sehingga kapasitas konsumen lebih memadai untuk membeli dan memiliki kondominium.