Grand Nusa Indah, Murah Meriah

Kawasan Cileungsi aktual telah berubah. Sementara tetangganya, Cibubur, semakin padat. Wilayah yang merupakan bagian dari Kabupaten Bogor itu justru makin lari cepat. Pembangunan marak di mana-mana. Di setiap jengkal bisa dijumpai proyek-proyek properti anyar. Terbaru, Grand Nusa Indah yang digarap PT Kentanix Supra International. Ini merupakan proyek kedua dari pengembang yang berkiprah sejak tahun 1985 ini di kawasan Cileungsi. Sebelumnya, bersama Grup Duta Putra dan Grup Suryamas Dutamamur melalui bendera PT Dwikarya Langgeng Sukses, mereka  mengembangkan  Harvest City (1.050 hektar) di depan Taman Buah Mekarsari.

 

“Kawasan Cileungsi punya potensi yang sangat besar sehingga kami membangun lagi perumahan di sana,” ujar Kumala Dewa, General Manager Marketing PT Kentanix Supra International. Nama Grand Nusa Indah dipilih, jelas Kumala, karena ingin mengulang kesuksesan saat membangun Vila Nusa Indah yang saat ini sudah mencapai tahap 5.

 

Grand Nusa Indah disiapkan di atas area seluas 600 hektar. Lokasinya tidak jauh dari Taman Buah Mekarsari. Target pasarnya adalah para pekerja pabrik yang banyak tersebar di kawasan Cileungsi. Rumah yang ditawarkan sebagian besar (70%) adalah Rumah Sederhana Sehat (RSH) dengan harga perdana dibuka pada angka Rp50 juta-an. Tahap pertama akan dibangun 25  hektar dengan jumlah rumah sebanyak 1.770 unit.

 

“Meski kelasnya RSH, tapi ini sangat berbeda disbanding yang sudah ada,” ujar Kumala. Sekadar informasi, selama ini perumahan kelas menengah bawah, terutama yang bersubsidi pemerintah, dibangun dengan kualitas rendah. Sehingga banyak penghuni yang tidak betah dan pindah. Nah, PT Kentanix Supra International ingin membangun kelas ini dengan nuansa real estat. Aksesnya pun akan dibuat sangat memadai, langsung terhubung dengan Jl Transyogi dengan ROW 12-15 meter.

 

Grand Nusa Indah dirancang bersistem cluster agar keamanan lebih terjaga. Pada setiap cluster, terdiri atas 100 rumah,  masing-masing dilengkapi dengan fasilitas sesuai kebutuhan penghuni. Terutama taman bermain, selain sport center dan kolam renang serta fasilitas ruang komersial. Jalan lingkungannya memanfaatkan paving blok. Sementara jalan utamanya dari material beton.

 

Sementara spesifikasi material rumahnya, terdiri atas material baja ringan untuk rangka atapnya, gypsum untuk plafon dan lantainya dari keramik. Bandingkan dengan rumah murah biasa yang lantainya hanya diplur semen dan dindingnya sama sekali tidak diplester. Memang pembeli harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk mendapatkan rumah sederhana plus di Grand Nusa Indah ini. Namun, itu sebanding dengan kualitas yang didapatkan.

 

Untuk tipe rumah yang dipasarkan saat ini seperti tipe 22, calon konsumen harus menambah dana sebesar Rp8 juta dari harga dasar dan Rp15 juta untuk tipe 29.

 

Kumala yakin pembeli tidak mempermasalahkan penambahan biaya tersebut karena mereka akan mendapatkan rumah berkualitas baik. “Pembeli tetap bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah karena tambahan biaya itu dibayar di depan,” jelasnya. Untuk meringankan down payment (DP) pembeli bisa menggunakan fasilitas Jamsostek.

 

Strategi ini, jelas sangat tajam dan jitu. Grand Nusa Indah berpeluang disambut pasar. Apalagi perumahan sekelas yang juga dibangun PT Kentanix Supra International, Harvest City, saat ini sudah mencatat pertumbuhan harga signifikan. Sedangkan perumahan lainnya macam Taman Cileungsi yang dibangun Metropolitan Land, harganya jauh lebih tinggi. Termurah, Rp140 juta (tipe Vanda).

 

Sementara di Harvest City, rumah  tipe terkecil yakni 22/60 harganya Rp70 juta. Jika ingin mendapatkan perumahan dengan harga subsidi berfasilitas real estat, hanya bisa didapatkan di Citra Indah yang dibangun Grup Ciputra di Jonggol. Namun lokasinya lebih jauh. Nampaknya PT Kentanix Supra International melihat peluang ini dan mewujudkanya dengan membangun Grand Nusa Indah.

 

Dengan berbagai nilai plus itu, PT Kentanix Supra International optimis Grand Nusa Indah akan disambut antusias. “Kami menargetkan setahun bisa menjual seribu rumah,” ungkap Kumala.

 

 

 

Sumber: Yuniar S

Iklan