2010, Diwarnai Ekspansi dan Konsolidasi

Mempertimbangkan sinyalemen prospektifnya bisnis dan industri properti tahun 2010, seperti pertumbuhan ekonomi Nasional yang tetap positif (4-5%) dan penurunan suku bunga pasar menjadi 10-12%, disikapi beberapa pengembang untuk lebih agresif dan ekspansif dibanding tahun 2009. Diperkuat hasil kinerja pendapatan mereka pada semester I 2009 yang semakin mengonfirmasi untuk terus bergiat melakukan pengembangan demi pengembangan.

PT Bumi Serpong Damai Tbk., contohnya. “Kami melakukan pengembangan berkelanjutan. Seluas 850 Ha di bagian tengah dan utara BSD City akan dikembangkan dalam waktu lima tahun,” ucap Presiden Direktur PT BSD Tbk, Harry Budi Hartanto. Guna merealisasikannya, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp 7 triliun-8 triliun.

 

Sekitar 2.000 rumah berbagai kelas, akan diproduksi setiap tahun. Sementara properti komersialnya dirancang bakal mengisi sepertiga dari luas 850 Ha itu, termasuk di antaranya ruko, low rise office dan kavling siap bangun.

 

Dikatakan Harry, PT BSD Tbk sangat optimis dapat menangguk keberhasilan pada tahun macan nanti. Indikatornya jelas, bank-bank telah merespon turunnya BI rate dengan penerapan suku bunga KPR yang ramah pasar.

 

Dus, kinerja PT BSD Tbk memperkuat motivasi untuk tidak menangguhkan pengembangan baru. Hingga Agustus tahun ini, mereka membukukan pendapatan sebesar Rp700 miliar. Perolehan ini setara dengan 50% dari target yang dipatok Rp1,4 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan rumah tinggal (landed house) sebesar 65%, penjualan tanah 18% dan 15% sisanya dari komersial dan industri. “Ini hasil yang sangat positif. Kami optimis, tahun depan produk properti kami akan terserap pasar dengan baik,” tandas Harry.

Begitupula dengan PT Summarecon Agung Tbk yang hingga September 2009 telah mencatat perolehan Rp1,1 triliun. Menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Johannes Mardjuki, pada tahun 2010, mereka akan memulai pemasaran Summarecon Bekasi. Sementara pembangunannya dijadwalkan pada pertengahan 2010.

Penjualan spektakuler atas rumah dan kavling di Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Summarecon Serpong, Tangerang, adalah alasan kuat PT Summarecon Agung Tbk percaya diri melanjutkan pengembangan klaster dan proyek baru.

Sementara PT Jakarta Setiabudi International (JSI) Tbk, sedikit lebih konservatif. Mereka akan mengoptimalisasi aset-aset eksisting. “Saat ini kami fokus pada peningkatan produktivitas portofolio yang ada. Sementara untuk rilis new project, kami masih melihat kondisi secara makro,” kata Presiden Direktur PT JSI Tbk Jeffri Darmadi.

Berikut berbagai rencana besar para pengembang yang akan direalisasikan pada tahun 2010:

PT BSD Tbk

Kejar Pendapatan Rp2 Triliun

Usai mencatatkan diri di lantai bursa pada pertengahan tahun ini, PT BSD Tbk kian ekspansif dan agresif. Beberapa rencana strategis sudah disiapkan. Di antaranya, membangun bagian tengah hingga ke utara BSD City seluas 850 Ha dalam 5 tahun ke depan. Mencakup perumahan berbagai kelas, ruang komersial, ritel dan episentrum bisnis (natural office park). Yang terakhir ini akan dibangun seluas 25 Ha. Terdiri atas 5-6 gedung perkantoran low dan middle rise. Rencananya, salah satu gedung tersebut akan dijadikan headquarter PT BSD Tbk.

Pengembangan ini, sejatinya telah direalisasikan sejak tahun 2008, secara bertahap. Mengakomodasi pertumbuhan kawasan Serpong yang bertransformasi menjadi kawasan yang sangat dinamis, terbuka dan tentu saja ladang investasi yang menjanjikan. BSD City, khususnya, diapit dua daerah pertumbuhan yang sangat pesat, yakni Pondok Indah dan Puri Kembangan/Indah. Mereka mencoba untuk memperluas dan meningkatkan penetrasi pasar.

“Permintaan properti di sini sangat kuat. Terbukti, setiap kali kami melansir produk baru, tingkat serapannya sangat tinggi,” papar Presiden Direktur PT BSD Tbk Harry Budi Hartanto.

Tak hanya kalangan menengah atas, menengah bawah juga tengah mereka jajaki. “Ceruk pasar di sini sangat luas. Akan sangat naif jika kita abaikan,” ujar Harry. Untuk itu, selain klaster eksklusif seluas hanya 10 Ha dengan harga rumah Rp7 miliar/unit yang akan dilepas ke pasar tahun depan, mereka juga merancang rumah bertingkat setinggi 4 lantai. Produk semacam rusunami ini diperuntukan bagi kelas pekerja, karyawan dan mahasiswa.

 

Jadi, komposisi target pasar yang dibidik PT BSD Tbk adalah menengah bawah 40%, menengah 40% dan atas mencapai 20%. “Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, kelas menengah merupakan pasar yang sangat potensial. Karena itu, kami juga tetap melepas produk seharga Rp700 juta-1,5 miliar,” tuturnya.

 

Seperti diketahui, PT BSD Tbk telah menyelesaikan pengembangan tahap I sebesar 1.500 ha. Cadangan lahan sekitar 3.300 hektar milik mereka yang belum dibangun, 1.600 Ha di antaranya telah dibebaskan, bakal dijadikan amunisi terakhir bagi gebrakan selanjutnya. Dalam lima tahun kedepan itu juga mereka bakal segera  mengakusisi lahan di sebelah barat BSD City.

 

Setiap tahun, mereka menganggarkan belanja modal sekitar Rp200 miliar-300 miliar guna memenuhi target setiap tahun, 150 Ha terbangun. Dana tersebut digunakan selain untuk pembangunan infrastruktur dan konstruksi bangunan juga pembelian-pembelian lahan serta revitalisasi sungai sepanjang 5 km yang membelah BSD City, secara bertahap.

 

Jadi, dapat dibayangkan. Dengan agresifitas sedemikian rupa, perkembangan dan pertumbuhan properti di kawasan Serpong pastilah sangat pesat. Sekadar informasi, pertumbuhan harga properti di BSD City, mencapai 15-20% per tahun.

Galib adanya jika PT BSD tbk menargetkan pendapatan tahun 2010 nanti lebih tinggi dari tahun ini, sekitar Rp2 triliun.

Grup Megapolitan Development

Perluas Pasar

Komisaris Grup Megapolitan Development, Lora Melani Lowas Barak Rimba pernah mengatakan, bahwa properti adalah bisnis yang berisiko tinggi sekaligus mendatangkan laba yang juga tinggi. Oleh karena itu, pengembang yang identik dengan kawasan Cinere itu (portofolio properti perdana dan terbesarnya berada di sini), tak akan pernah sekalipun berdiam diri, kendati krisis masih menyisakan jejak-jejaknya.

 

Untuk tahun 2010, kelompok usaha yang dipimpinnya ini sudah bersiap mengimplementasikan strategi bisnisnya. Mereka berkonsentrasi melakukan perluasan range produk properti, dengan jangkauan pasar lebih luas.

 

Range produk yang dimaksud adalah hunian (semua jenis digarap mulai dari rumah, apartemen, kondotel, hingga townhouse) dan komersial (kios, ruko, mall, dan office park). “Harga produk dimulai dari Rp200juta-3 miliar,” imbuh Melani.

 

Dua pilar utama produk properti tersebut terangkum dalam proyek-proyek dan klaster baru. Untuk tahun macan nanti, Grup Megapolitan Development bakal memulai pembangunan Cimandala City tahap 1. Megablok yang berlokasi di Bogor ini, dikembangkan di atas lahan seluas 17 Ha. Merangkum properti hunian berupa kondotel, townhouse, shopping mall, shopping arcade, sunken plaza, hotel, dan juga shopping arcade.

 

Selain itu, masih di Bogor, mereka bakal menambah klaster Mahapraya di perumahan Tatya Asri, Sentul dan membangun area komersial berupa ruko di Tatya Asri Tahap II.

 

Sementara di Cinere, Jakarta Selatan, mereka akan menggenapi pengembangan area komersialnya dengan membangun Cinere Junction. Untuk huniannya, di lokasi yang sama, awal Januari 2010 mereka merilis Puri Cinere Riverside Tahap 3.

 

Tak luput, pembangunan Urbana University Village tahap 2 di Karawaci, Tangerang, juga akan memulai pembangunannya.

 

 

PT Jakarta Setiabudi International Tbk

Tingkatkan Produktivitas Aset

Inilah satu-satunya pengembang besar yang memilih untuk tidak terlalu agresif dan ekspansif. Tahun depan, PT JSI Tbk akan mengoptimalkan kinerja investasi dan mengelola risiko serta meningkatkan produktivitas aset eksisting.

Caranya, dengan mengembangkan budget hotel di atas Djakarta Theater, Jakarta dan kota-kota propinsi dan kabupaten di Pulau Jawa. Berkongsi dengan pihak ketiga guna membangun mixed use-strata title yang terdiri atas apartemen, perkantoran, townhouse dan ruko di Jakarta Barat. Serta melakukan pengembangan lanjutan atas Puri Botanical residences dengan membuka klaster-klaster baru beserta fasilitasnya.

Selain itu, perseroan yang mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp651,4 miliar per September 2009 ini, juga akan mengoptimalisasi land bank di Jogjakarta. Lahan di sini dimanfaatkan untuk proyek Jogja Residential yang waktu realisasinya belum ditentukan.

Sementara terhadap aset lainnya, yakni Bali Hyatt Hotel, PT JSI Tbk akan melakukan renovasi dan penambahan suites room serta vila-vila untuk melengkapi fasilitas akomodasinya.

“Tapi, yang lebih utama dan penting adalah kami bersiap mendivestasi aset-aset yang kurang memiliki nilai strategis. Nantinya hasil divestasi ini akan dialokasikan pada proyek-proyek yang dapat memberikan imbal hasil yang tinggi bagi perseroan,” jelas Presiden Direktur PT JSI Tbk, Jeffri Darmadi.

Sekadar informasi, PT JSI Tbk masih memiliki persediaan lahan strategis sebesar 98 Ha atau senilai lebih dari Rp1,7 triliun yang tersebar di Jakarta (Mega Kuningan dan Kebon jeruk), Sanur (Bali), dan Yogyakarta. “Kami akan mengembangkannya untuk tahun-tahun mendatang,” imbuh Jeffri.

PT Duta Pertiwi Tbk

Konsolidasi

Kendati mencatat laba bersih Rp93,08 miliar per September 2009 atau naik 105,8% dibanding perolehan pada periode yang sama 2008 Rp45,22 miliar, namun PT Duta Pertiwi Tbk memilih untuk melakukan konsolidasi.

Demikian Presiden Diperktur PT Duta Pertiwi Tbk, Harry Budi Hartanto. Konsolidasi dilakukan lebih karena upaya untuk mengoptimalisasi portofolio yang ada. “Kami akan meningkatkan fungsi dan kualitas atas beberapa properti yang mendatangkan recurring income,” ucap Harry.

Dus, turunnya penjualan dari Rp72,46 miliar menjadi Rp55,54 miliar yang menyebabkan berkurangnya pendapatan menjadi Rp615,01 miliar  dari Rp761,58 miliar ikut mempengaruhi rencana strategis PT Duta Pertiwi Tbk tahun macan nanti.

Namun begitu, bukan berarti mereka vakum sama sekali dari aktifitas pengembangan. Saat ini, PT Duta Pertiwi Tbk tengah menjajaki dua mitra strategis lokal untuk mengembangkan ITC di kawasan Grand Wisata, Bekasi dan perumahan baru seluas 100 Ha di dalam Kota Wisata, Bogor. Perseroan telah menyiapkan lahan seluas 4-5 hektare (ha) dan sepertiga dari belanja modal sejumlah Rp400 miliar.

“Selain untuk membangun ITC, belanja modal tersebut juga akan digunakan untuk pembangunan perumahan dan beberapa proyek baru di daerah. Saat ini kami tengah melakukan studi kelayakan di Medan, Sumatera Utara,” jelas Harry.

Dengan kondisi demikian, menjadi realistis jika lantas PT Duta Pertiwi Tbk mengincar kenaikan pendapatan hanya 10-15 persen pada 2010.
Sebagian besar pendapatan direncanakan akan digenjot dari penjualan perumahan dan sisa kios yang belum terjual. Sesuai dengan strategi perusahaan yakni menambah klaster pada perumahan yang sudah ada, melanjutkan kerja sama kredit pemilikan rumah (KPR) dengan bank, dan mencari peluang proyek baru.

PT Summarecon Agung Tbk

Merilis Summarecon Bekasi

Ditandatanganinya Hotel Haris Kelapa Gading pada November 2009 lalu adalah tonggak bersejarah bagi bisnis hospitalitas PT Summarecon Agung Tbk. Hotel ini merupakan aset akomodasi pertama dari imperium bisnis milik Soetjipto Nagaria itu.

Tahun 2010 dan hingga lima tahun mendatang nanti, menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki, kompleks komersial Summarecon Mall Serpong (SMS) juga akan dilengkapi dengan fasilitas akomdodasi serupa. Selain kondominium dan SMS tahap II.

Namun, satu yang pasti, tahun depan, mereka memusatkan perhatian pada pembangunan perumahan skala kota di Bekasi, seluas 250 Ha. Pembangunannya akan dimulai pada Juli 2010 dengan nilai investasi tahap I sebesar Rp250 miliar. Saat ini yang sudah dilakukan adalah pembebasan lahan seluas 180 Ha. “Proses pengurusan legalitas, perijinan dan kelengkapan administrasi land bank telah masuk dalam tahap finalisasi. Adapun pendanaannya kami tempuh cara-cara konservatif yakni kas internal dan penjualan pra komitmen. Prinsipnya semua beres, tidak ada masalah,” papar Johannes.

Keseriusan Summarecon Agung menggarap pasar Bekasi yang berceruk luas itu dibuktikan dengan persiapan mereka menciptakan akses langsung dari Tol Dalam Kota Jakarta, menuju Bekasi Utara, lokasi Summarecon Bekasi sberada. Mereka telah mengalokasikan dana sebesar Rp110 miliar untuk akses langsung berupa jalan layang yang bermuara di Jl Ahmad Yani.

 

 

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Selamat …
    Summarecon berencana ekspansi ke Bekasi. Diharapkan bisa menjadikan Summarecon Bekasi
    menjadi kelapa gadingnya Bekasi dalam 5 -10 tahun kedepan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: