Etiket Berkomunikasi

Ini pengalaman buruk dan pelecehan kesekian yang saya alami sebagai jurnalis. Kamis 10 Desember 2009, pukul 11.15 menit, saya menghadiri konferensi pers peluncuran Holcim Healthy House Challenge di Pancious Pancake House, Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Rekan-rekan jurnalis dari berbagai media telah berkumpul dan menempati tempat duduk yang disediakan. Termasuk saya, yang kemudian bergabung dengan rekan dari Majalah ASRI, Vivanews.com,  Archdesain dan Kompas.

Waktu terus beranjak. Jarum jam menunjukkan pukul 11.45. Konferensi pers belum juga dimulai. Padahal dalam media invitation tertera acara dimulai pukul 11.00. Pembawa acara (Melly?) malah mempersilakan para jurnalis untuk menyantap makanan yang sejatinya belum tersaji seluruhnya. Hanya di beberapa meja, hidangan utama (main course) untuk makan siang telah tersedia. Di meja kami dan sebagian besar meja lainnya, baru dihidangkan es teh.

Pukul 12.15, MC mulai membuka acara. Bla…bla…bla…sementara hidangan chicken fetucini yang saya pesan dan beef spaghetti yang dipesan rekan lainnya mulai menghiasi meja. Aromanya betul-betul menggoda selera. “Sudah pada kenyang?” tanya Melly setengah berteriak…. Apa maksudnya nih?…., “Sambil menikmati hidangan, saya mengucapkan terima kasih kepada rekan media yang telah datang menghadiri acara ini. Bla..bla..bla…untuk lebih jelasnya apa itu Holcim Healthy House Challenge, kami persilakan kepada Bapak Budi Primawan selaku Corporate Communication Manager menjelaskannya”.

Nama yang disebut pun mulai beraksi. Dengan berbasa-basi sedikit, Budi mulai menjelaskan secara umum, kegiatan yang diharapkan bakal terus dilakukan oleh Holcim. Usai Budi, pembicara berikutnya yang dipersilakan adalah Apsara Herman, Group Marketing & Branding Manager.

Saya dan rekan masih menyimak penjelasan para narasumber dengan seksama sembari indera penciuman menari-nari di atas fetuccini dan spaghetti. Ketika garpu saya angkat dan lembaran-lembaran fettucini bersiap menjelajah lidah, saat itu pula hasrat memuaskan naluri biologis (makan termasuk kebutuhan biologis, bukan?) hilang sekejap.

Apa pasal? Apsara Herman mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan. Sesuatu yang dia katakan sangat menyinggung dan melecehkan kami sebagai jurnalis. Begini lengkapnya, “Bla..bla..bla… tolong perhatikan teman-teman media. Selain perut yang sudah diisi, otak juga harus diisi dengan penjelasan saya….H3C adalah program kami….”

Untuk selanjutnya, selera makan saya hilang. Naluri berburu berita pun entah kemana. Saya merasa dibanting oleh kalimat yang bi-bold tersebut. Meski saya paham yang bersangkutan bermaksud untuk berseloroh tapi, sangat tidak pantas!

Penjelasan mengalir. Saya dan rekan media yang lain hilang konsentrasi. Walau begitu saya tetap memusatkan otak untuk mencerna apa itu H3C. Termasuk di dalamnya bagaimana cara saya untuk mendapat kartu nama dan melakukan wawancara dengan Budi dan Apsara.

Waktu terus bergulir hingga acara usai dan masuk sesi pemberian door prize. beberapa rekan ada yang meninggalkan tempat, yang lain masih bertahan. Dan Sang MC memulai sesi pemberian door prize dengan sama tidak beretiketnya, “Nah, rekan media sudah pada kenyang’ kan? enak ya, perut kenyang dapat door prize pula……bla…bla…bla…”

Apa yang ada dalam benak saya waktu itu? tak perlu saya ceritakan lebih lanjut. Saya hanya buru-buru bertukar kartu nama dan sedikit melakukan wawancara dengan Budi…..

Saya dan rekan jurnalis lain yang tersinggung adalah pihak yang diundang. Dan Holcim, sebagai perusahaan besar harusnya memperlakukan kami laiknya para undangan yang patut dihargai. Tidak oleh sekadar makan siang fettucini, spaghetti atau pancake….

Kami merasa lebih dihargai bila Holcim memposisikan diri sebagai mitra sejajar yang equal, saling membutuhkan. Kami membutuhkan berita, Holcim membutuhkan publikasi. Tidak dengan cara ‘pelecehan’ seperti ini….

Dan saya beserta rekan lainnya pun terluka….

Iklan

8 Tanggapan

  1. Ga pantas banget sih omongan begitu! Bercanda tidak pada tempatnya! Bisa-bisanya… (speechelss)

  2. Wah Mba.. pengalaman yang buruk ya.. mungkin ada yang perlu ditraining materi public speaking, supaya bisa lebih sopan. Semoga tidak terulang..

  3. luar biasa cerdas si apsara, serasa dia gak punya otak

  4. Sepertinya orang Holcim perlu diajari etika berkomunikasi ya. Maaf, ini sangat melecehkan sekali profesi kami juga

  5. Sadar atau tidak sadar, apabila saya ada disitu pun pasti akan sangat tersinggung. Jangan mentang-mentang sebagai corporate punya bargaining power lebih dan tidak mensejajarkan peran journalist bisa seenaknya…wah ini keterlaluan !

  6. Yth : Mba Hilda
    Terimakasih atas informasi terbuka ini, sangat berharga bagi kami untuk menjadi lebih baik lagi kedepan. Kami dari tim Holcim Indonesia mohon maaf yang sebesar besar atas kejadian yang telah lalu, dan kami tidak ada maksud sedikitpun melecehkan atau menghina sahabat-sahabat kami dari media maupun siapa saja. Dan kami juga percaya siapapun tidak akan ada yang berniat melecehkan media/wartawan karena kami sadar bahwa sahabat-sahabat adalah sangat strategis dan didasari juga bahwa kami selalu menjunjung tinggi dan melaksanakan sopan santun dalam berkomuikasi dengan siapapun, ini telah menjadi standar kerja kami. Sekali lagi kami mohon maaf bila ada yang merasa tersinggung.

    kami juga merasa prihatin dan semoga tidak terjadi kedepan apa yang telah dialami Mba Hilda seperti yg Mba Hilda katakan bahwa ini pengalaman buruk dan pelecehan yang kesekian kali yang dialami Mba Hilda ( awal tulisan Mba Hilda ) artinya Mba Hilda sering atau lebih dari sekali mengalami pelecehan, semoga ini tidak terjadi lagi setelah ini. Dan kami yakin kami sebagai mitra tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan hal ini.

    Demikian Mba Hilda permohonan maaf kami khususnya untuk Mba Hilda , semoga persahabatan dan kemitraan tetap terjalin dengan baik. Selamat Hari Natal 2009 bagi yang merayakan dan Selamat Tahun Baru 2010, semoga tahun 2010 membawa berkah dan sukses mulia bagi siapa saja.

    Salam hormat
    Deni Nuryandain
    Corporate Communication Holcim Indonesia

  7. To All….

    Terima kasih atensinya.

    Ini merupakan pelajaran berharga bagi saya sebagai jurnalis.

    @Bapak Deni Yang Terhormat, selaku Corporate Communication Holcim Indonesia, terima kasih atas tanggapannya. Dan saya sangat menghargai serta memberikan apresiasi kepada Bapak Deni yang mengatasnamakan Holcim, secara kstaria meminta maaf atas kejadian tanggal 10 Desember lalu. Padahal, bapak tidak berada di lokasi.

    Untuk itu, saya sangat menghargai dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Deni.

    Dengan permohonan maaf ini, saya dengan kesadaran dan tanpa paksaan, menuntup kasus ini. Semoga kerjasama yang baik antara jurnalis dan Holcim sebagai nara sumber dapat terus terjalin. Kasus ini adalah pelajaran yang amat sangat berharga.

  8. Yth : Mba Hilda
    Terimakasih juga untuk hal ini, kita tatap kedepan dan berkarya untuk lebih baik.

    Salam hormat
    Deni Nuryandain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: