Daerah, Lebih Bergairah

Bisnis dan industri properti di beberpa kota besar, memperlihatkan kinerja yang cukup baik. Pelaku usahanya tak sebatas pengembang lokal, juga Nasional. Terutama dari Jakarta yang rajin berekspansi ke beberapa daerah yang potensial. Hal itu tak lepas dari imbas otonomi daerah yang berekses pada bergeraknya perekonomian. Kehadiran para pengembang Jakarta ini sedikit banyak memacu pengembang lokal untuk ‘menyetarakan’ kualitas proyek dan kemampuan manajemennya. Tentu saja, ini dipandang sebagai dinamika yang positif.

Nah, bagaimana kondisi aktual bisnis dan industri properti di kota-kota besar seperti Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan dan Samarinda selama tahun 2009 ini? Dan bagaimana prediksi tahun 2010?

Bandung

Pasar Menengah Atas Kuat

Walau kondisi pasar secara umum tertekan, beberapa pengembang di Bandung berhasil mencapai target yang dipatok pada 2009. Salah satunya adalah PT Belaputra Intiland, pengembang Kota Baru Parahyangan (KBP). Raymond Hadipranoto, Marketing Manager PT Belaputra Intiland mengatakan  target penjualan tahun ini sebesar Rp200 miliar berhasil dicapai pada kuartal.

Menurut Raymond, pencapaian itu bisa diraih karena beberapa hal. Antara lain skala proyek KBP cuma satu-satunya di Bandung, lokasinya strategis,  kondisi proyek yang terus mengalami pengembangan dan program go green yang makin digiatkan. Selain itu  juga fasilitas KPR bersuku bunga khusus dari bank-bank yang bekerja sama. Pengembang juga memberi subsidi 2%, fasilitas cicilan hingga 24 kali, konsumen hanya membayar uang muka cukup 10%.

Fenomena yang tidak biasa, kata Raymond,  terjadi pada saat musim libur Lebaran tahun ini. Biasanya saat itu, penjualan tidak banyak, tapi kali ini justru sebaliknya. Bahkan dibandingkan periode yang sama di tahun lalu berlipat 2-2,5 kalinya. Dengan strategi dan adanya kondisi yang tidak biasa itu, sepanjang 9 bulan ini, di KBP rata-rata terjadi transaksi per bulan serentang Rp18 miliar-30 miliar. Rumah yang paling diminati seharga  Rp500 juta-800 juta.

Tahun depan KBP sangat optimis. “Target tahun depan akan dinaikan 1,5 kali dari target 2009.  Selain akan tetap memasarkan tahap-tahap baru dari cluster yang sudah ada, juga akan membuka cluster baru,” ujar Raymond.  Rencananya cluster baru itu seluas 15 Ha, dengan total 300 unit. Pemasaran juga akan dilakukan secara bertahap, dengan harga mulai dari Rp400-an juta, dengan tipe mulai dari 65/126 m2. Peluncuran cluster baru ini akan dilakukan di sekitar kuartal 2.

Selain membangun rumah, di tahun depan juga akan mulai dibangun area pusat kota di KBP yang desainnya dimenangkan oleh Urbane. Di sana nantinya akan ada creative hub guna mendukung Bandung sebagai creative city. Selain itu juga supermarket yang cukup besar di area komersial bagian depan.

Optimisme serupa juga ditunjukkan Grup Margahayuland, yang popular sebagai spesialis pembangun rumah sederhana/RS. Mereka melansir proyek baru tahun depan yakni gedung jangkung bertajuk The Suites Metro. Ini merupakan pengembangan  masif pertama mereka yang merangkum tiga menara apartemen sebanyak 1.700 unit, town house dan community center. The Suites Metro akan dikembangkan di daerah Bandung Timur, menempati lahan seluas  2,9 Ha.

Dibidaninya proyek anyar tersebut, menurut Direktur Utama Grup Margahayuland, Hari Raharta Sudrajat, termotivasi oleh komposisi pasar di Bandung yang telah mengalami pergeseran. Pasar yang memerlukan hunian sekaligus fasilitas yang mendukung kepraktisan hidup, mulai menguat. “Terbukti beberapa proyek apartemen bersubsidi laris diserbu pembeli,” ujarnya. Harga yang ditawarkan The Suites Metro berkisar antara Rp144 juta-200 juta/unit. Kombinasi antara bersubsidi dan non subsidi. Pembangunannya sendiri akan dimulai pada awal 2010. “Kami telah mendapat konfirmasi positif dari Bank Arthagraha untuk mendanai konstruksi The Suites Metro,” ujar Hari.

Surabaya

Terstimuli Subsidi

Meski daya beli ditengarai merosot, namun sejumlah perumahan besar di Surabaya Barat tak gentar untuk terus menawarkan hunian berharga miliaran rupiah. Di daerah ini, bisa dibilang sudah sangat sulit menemukan penawaran rumah baru dengan harga di bawah itu, meski bukan berarti tidak ada. Menurut Harto Laksono, Manager Marketing Graha Famili, pasar seharga Rp800 juta–2 miliar menunjukkan performa paling bagus saat ini.

Citraland adalah salah satunya. Tawarannya dimulai dari harga Rp700-an juta. “Tapi itu hanya dilakukan di semester pertama,” kata Agung Krisprimandoyo, Business Development Manager Citraland. Di semester kedua ini mereka menawarkan property seharga Rp1,2 miliar – 1,5 miliar per unit.

Demikian pula dengan Graha Famili yang bahkan tidak punya tawaran rumah di bawah harga Rp1 miliar. “Harga terendah Rp1,5 miliar untuk rumah berluas bangunan 180 m2 dn lahan 160 m2,” jelas Harto. Di tahun ini, perumahan yang dikembangkan oleh PT Grande Family View (anak usaha PT Intiland Develompent Tbk.) ini memasarkan unit-unit yang berada di cluster Alexa Place dan Inspira Leaf. Khusus yang disebut terakhir, unit-unit yang ditawarkan berukuran lebih kecil. Luas tanahnya berkisar 160-189 m2, sementara pada tahap pertama 353-390 m2.

Masuknya mereka ke pasar strata ekonomi menengah atas tak bisa dipungkiri karena perkembangan harga lahannya yang terus menanjak. Semakin mahalnya harga lahan, kata member broker ERA Jatim Yafet Kristanto,  membuka peluang bagi apartemen murah atau yang biasa disebut rumah susun sederhana milik (rusunami). “Peluangnya sangat besar untuk membangun rusunami di kawasan yang sudah tinggi harga lahannya di Surabaya,” ujar Yafet yang menyebut rusunami Puncak Permai di Surabaya Barat yang disambut baik oleh pasar.

Namun begitu, secara umum, tahun ini terutama di semester awal, merupakan masa-masa sulit. Penjualan turun hingga 50% dibandingkan periode yang sama tahun 2008. “BI-rate memang cenderung terus turun, tapi bunga KPR masih relatif tinggi,” ujar Agung memberi alasan.  Tetapi untunglah di semester kedua ini, penjualan mereka membaik sehingga mereka cukup optimis untuk bisa mencapai target penjualan yang ditetapkan di tahun ini. Kalaupun meleset, hanya sedikit.

Diungkapkan oleh Pratami Harjanti, Marketing Manager Citraland, target tahun 2009 ini sama dengan tahun 2008 yaitu Rp250 miliar.  Target lebih realistis dipatok oleh Graha Famili yaitu Rp140 miliar, lebih tinggi Rp20 miliar dibandingkan tahun 2008. “Sudah tercapai 90 persennya,” kata Harto, sembari menerangkan untuk bisa mencapai target, pihaknya makin gencar berpromosi. Program terbarunya, uang muka yang 20% dari harga jual bisa dicicil selama satu tahun plus cicilan ke pengembang selama dua tahun.

Tak beda dengan pengembang di kota lain, program membayar dengan cicilan juga diberikan oleh pengembang di Surabaya. Citraland maksimal 27 kali, bahkan Graha Famili memberikan selama tiga tahun atau 36 kali. Dari beberapa promosi yang ditawarkan, ada juga pengembang yang berani memberikan hingga tiga kali lipat dari tawaran kedua pengembang tadi, alias sampai 100 kali atau lebih dari 8 tahun. Tawaran seperti ini memang menggiurkan konsumen, tapi perlu dicermati. Sebab biasanya hanya berlaku untuk penjualan unit tertentu dan dalam periode yang pendek.

Selain itu mereka juga memberikan subsidi bunga hingga 2% kepada pembeli yang memanfaatkan fasiltas KPR yang bekerjasama. Dengan kerjasama ini pembeli menerima KPR dengan suku bunga di bawah 11% (tahun pertama), bahkan kerjasama Graha Famili dan PermataBank, suku bunganya bisa cuma 6,9%.

Tahun 2010, mereka lebih optimistis dengan kondisi pasar. “Tahun depan mestinya lebih baik . Karena banyak pembelian yang tertunda (pent up demand) di tahun ini, stok yang dijual pun terbatas. Termasuk bank pun perlu menjual produk KPR-nya,” kata Agung. Harto mengimbuhi, “Tren suku bunga juga cenderung menurun, karena itu kami optimistis penjualan kami bisa naik di tahun depan.”

Balikpapan dan Samarinda

Berharap Suku Bunga KPR Turun

Banyak pengembang nasional mengepakkan sayap bisnisnya di Balikpapan dan Samarinda. Dua kota di Kalimantan Timur (Kaltim) itu memang sangat potensial. Daya beli penduduknya tertinggi di antara kota-kota lainnya, bahkan bila dibandingkan dengan kota besar di Jawa dan Sumatera. Maklum, kedua kota ini memiliki kekayaan yang melimpah, mulai dari kayu, emas, batubara, gas, minyak bumi, dan kelapa sawit. Pendek kata, Balikpapan dan Samarinda adalah intannya Kawasan Timur Indonesia.

Sempat terpengaruh krisis, namun tidak signifikan. Para pengembang mengaku masih cukup senang dengan pencapaian penjualan. Seperti  PT Cowell Development Tbk. yang memperkenalkan portofolio anyarnya bertajuk Borneo Paradiso at Balikpapan pertengahan tahun lalu. Di saat ekonomi lesu, jualan rumahnya cukup baik. “Kami membukukan penjualan 200 unit rumah dalam waktu sebulan,“ ungkap Novi Imelly, Director Marketing & Business Development PT Cowell Development Tbk. Proyek yang menempati area seluas 126 hektar ini menawarkan produk hunian seharga mulai dari Rp169 juta sampai Rp423 juta.

Kondisi yang terus membaik, membuat pengembang di Balikpapan dan Samarinda juga optimis  penjualan akan jauh meningkat tahun depan. “Saya optimis tahun depan jauh lebih baik. Kami siap meluncuran produk-produk baru tahun depan,” ujar  Alfa, Project Manager CitraBukit Indah Balikpapan. Hal yang sama juga dikatakan ujar Kukuh Ariadi, Manager Realty Grand Tamansari Samarinda. “Mudah-mudahan tahun depan suku bunga KPR bisa satu digit sehingga penjualan akan jauh meningkat.”

Tahun ini Grand Tamansari yang baru saja membuka waterboom di arena Festival Tamansari Samarinda seluas 1,5 Ha. Selain berisi waterboom, juga terdapat ruko, food court, distro, dan kafe. ”Kami juga mempunyai arena yang bisa digunakan untuk nonton bareng, pentas musik,  atau  launching produk,” ujar Kukuh. Saat ini yang sedang dipasarkan klaster Sebatik dengan harga Rp250 juta-700 juta. Sejak dikembangkan tahun 2005, sudah dihuni 250 kepala keluarga (KK).

Makassar

Konsep dan Reputasi Pengembang, Menentukan

Keyakinan para pengembang terhadap prospek properti di Makassar, Sulawesi Selatan kembali melambung setelah kondisi perekonomian terus membaik. Jualan mereka pun menggembirakan. Seperti dikatakan Lauw Hendra, Deputy Project Manager Citra Celebes Makassar, bagusnya penjualan, tak lepas dari konsep perumahan. Citra Celebes dirancang sebagai sebuah township dengan segala fasilitas dan infrastruktur kota yang berstandar tinggi. Rumah-rumahnya didesain seperti yang biasa dilihat di banyak perumahan di kota-kota besar di pulau Jawa, dan mengusung konsep the art of green living.

Performa positif juga karena Citra Celebes  bekerjasama dengan sejumlah bank, antara lain Mandiri, Panin, BCA dan Niaga. Mereka memberikan program bunga 7,99%. “Kami juga mengucurkan subsidi bunga serta program cicilan developer hingga 18 kali, dengan uang muka 20%. Banyaknya pilihan cara pembayaran itu sangat membantu konsumen,” kata Hendra. Harga rumahnya berkisar antara Rp1 miliar–3,5 miliar, dengan ukuran mulai dari 250-348 m2. Sementara ruko berharga Rp1,2 miliar-4 miliar.  Target tahun depan akan dinaikkan sampai 3 kali lipat, yaitu Rp450 miliar. Untuk itu akan dilepas lagi 100 unit dari dua cluster baru.

Sumber: Yuniar S

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Mudah-mudahan bisnis rumah dan properti tidak hanya tumbuh di kota, tapi juga desa bisa merasakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: