That’s what i called Enlightment

Tak percuma saya menghadiri talk show Value Creation yang dihelat PT Arah Sejahtera Abadi di Kuningan City tadi siang dengan pembicara Rhenald Kasali. Penulis buku best seller Change! ini membawa saya menari-nari ke alam pencerahan. Ilmu dan pengetahuan, lebih kepada praksis, dielaborasi dengan sangat lincah dan tak jarang menyentil keakuan saya dan mungkin juga audiens lainnya. Bahwa komposisi manusia usia produktif di Indonesia sebagian besar adalah robot yang diperintahkan sistem.

“Tidak bisa dan  terbiasa memberikan sesuatu yang berharga kecuali rutinitas, bahwa saya ada dan telah melakukan pekerjaan itu. Nilai apa yang telah ditambahkan kepada hal yang telah dilakukan itu,” urai Rhenald.

Kita malu mengakui bahwa kita masih memiliki kekurangan. Dan bahwa kita butuh (kontribusi) orang lain untuk mencapai impiannya. Dan bahwa kenyataannya, kita, terlalu sombong untuk mengakui hal itu.

Rhenald Kasali. Berbicara secara terstruktur dengan pendekatan pragmatis. Tidak akademis. Padahal dia berasal dari dunia akademisi. Inilah  yang membuat saya dapat menerima setiap kata dan kalimat yang dia ucapkan. Performanya kian ‘bernilai’ karena dia mampu mendobrak sekat antara audiens dan pembicara. Pendek kata, tak ada stratifikasi di sini. Yang ada hanyalah sharing dan pelibatan interaktif. sehingga apa yang dia bicarakan, menembus sel-sel kelabu otak dan benak saya.

Di venue yang sama, nyaris setahun lalu, Panangian Simanungkalit (PS) yang menamai diri pakar dari segala pakar properti, berbicara. Berapi-api dengan gestur berirama statis, bak perwira militer memimpin barisan. Memprediksi, industri properti di Indonesia bakal melesat tajam, terutama di kawasan bisnis utama (primer). “Sebut saja, di kawasan Kuningan ini yang bakal disulap jadi Satrio Shopping Belt,” ujarnya menegaskan keberpihakannya kepada pengembang yang kebetulan mengundangnya berbicara.

Apa yang tersisa di ruang berpikir saya ketika menyudahi partisipasi sebagai audiens di perhelatan nyaris setahun silam itu? Otak kiri berpikir secara robotis dan otomatis, bahwa saya harus membuat artikel dengan pendekatan “militeris”. Artinya, pisau analisa bergerak tajam sesuai arus informasi yang aktual pada saat itu.

Pisau analisa itu, dalam kekinian rupanya telah berubah majal. Pendekatan menulis yang saya lakukan ternyata keliru. Pisau analisa itu tidak bernilai sama sekali. dan ketika saya baca lagi, bahkan merupakan analisa sampah. Inilah hasil karya yang tidak dibubuhi sesuatu yang bernilai. Sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Sesuatu yang bisa menjadi referensi atau rekomendasi untuk orang yang membacanya agar tidak keliru dalam mengambil sebuah sikap dan keputusan.

Dan saya, telah belajar banyak dari seorang Rhenald Kasali. Bahwa sesuatu picisan yang bernilai lebih berharga dibanding sebuah mahakarya sekalipun yang tanpa ada manfaat apa-apa….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: