Grup Surya Mutiara Garap Pasar Vertikal

Pelan tapi pasti Grup Surya Mutiara berupaya mempertahakankan eksistensinya. Sejak dibentuk pada 1998 silam, dengan modal awal di bawah Rp10 miliar, saat ini sudah 25 proyek properti yang dibangun oleh pengembang yang mengawali kiprahnya di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur. Proyek debutnya adalah perumahan Bumi Suko Indah di atas lahan seluas 50 hektar.

Terkait kondisi industri properti yang begitu dinamis, termasuk sempat terkena imbas krisis akhir 2008 silam, Grup Surya Mutiara melepas konservatisasi strategi. Mereka mengikuti perkembangan aktual yang menuntut perubahan cepat. Salah satu perubahan strategis itu adalah mengganti semua brand produk ’Oma’. Ini terhitung langkah berani, sebab merek ’Oma’ kadung popular di kawasan portofolio Grup Surya Mutiara berada. Seperti, Oma Indah Jatimulya-Bekasi, Oma Indah Cimanggis-Depok, dan Oma Campus-Malang.

Label ’Oma’ sejatinya merupakan pelafalan modern dari kata omah yang dalam bahasa Jawa berarti rumah. Kendati secara filosofis dan harfiah sangat tepat, mereka memilih melepaskannya. ”Label Oma terkesan kelas menengah bawah, sementara kami sudah membidik kelas  menengah atas, “ ujar Pudjojoko, Chairman Grup Surya Mutiara.

Visi dan misi bersalin, orientasi pun berganti. Kini, mereka fokus mengembangkan sayap bisnisnya di kawasan Jabodetabek saja. Sekadar informasi, dari 25 portofolio selain di Jabodetabek, juga tersebar di Surabaya, Batam, Garut, dan Malang. ”Ke depan kami konsentrasi di Jabodetabek saja,” ujar Affan Alfandhy, Direktur Grup Surya Mutiara.

Beberapa proyek anyar pun tengah dan siap dilahirkan. Tahun ini mereka tengah mengadu peruntungan dengan membangun Graha Cibubur View (10,9 Ha), Sirkuit Residence (6 Ha), Oma Indah Cimanggis (6,1 Ha), dan EastPoint (3 Ha). Harga rumah yang ditawarkan, mulai dari Rp175 juta (Graha Cibubur View) sampai Rp1,9 miliar (East Point). “Sebagian besar terserap pasar secara maksimal,” ungkap Affan.

Tahun 2009 lalu penjualan yang terbukukan senilai Rp150 miliar. Angka ini terhitung moderat, mengingat beberapa pengembang sekelas, hanya mampu meraup separuhnya, kendati ada juga kompetitor yang melampauinya. ”Tahun 2010 kami optimis penjualan meningkat 20%,” yakin  Pudjojoko.

Selain mengisi pasar Jabodetabek dengan proyek-proyek perumahan landed, mereka mulai melirik pengembangan vertikal. Tren pengembangan yang saat ini mengarah pada hunian jangkung, pada awalnya, melecut Grup Surya Mutiara untuk mengekori. Mereka berniat membangun rusunami di kawasan Cengkareng. Namun, berhubung kebijakan rusunami yang masih kontroversial, mereka kemudian mengurungkan niatnya. ”Terlalu banyak tantangan dan hambatan,” ujar Pudjojoko.

Urung mengisi ceruk pasar rusunami, tak berarti pasar hunian vertikal komersial juga diemohi.  Tidak lama lagi mereka akan melansir apartemen Residence 21 di kawasan Warung Buncit-Jakarta Selatan. Tanahnya seluas 7.500 m2. ”Isinya, 2 tower apartemen setinggi 21 lantai dengan total 600 unit,” jelas Affan. Dipilihnya Warung Buncit antara lain karena motif langkanya pasokan apartemen di kawasan ini. Dus, relatif dekat dengan CBD sekunder yakni TB Simatupang, kawasan elite Kemang, dan tidak jauh dari pusat kota Jakarta.

”Kami membidik pasar pasangan dan profesional muda yang masih single,” ujar Affan. Harga perdana dipatok mulai Rp260 juta. Itulah mengapa, ukuran unit-unitnya tidak terlalu luas, disesuaikan dengan kebutuhan segmen pasarnya, yakni tipe studio. Rencananya, mereka memulai pembangunan Residence 21 awal Mei 2010 dan selesai dua tahun kemudian.

Residence 21 dilengkapi dengan business center dan ini yang menjadi jualan utama, selain harga yang kompetitif. ”Banyak profesional muda yang bekerja sendiri. Mereka tentu membutuhkan sebuah tempat yang representatif  untuk bertemu klien. Oleh karena itu kami akan menyediakan fasilitas business center, selain fasilitas lain standar lainnya,” kata Pudjojoko. Selain itu, karena apartemen ini akan dijadikan meeting point bagi penghuninya, fasilitas parkir akan disediakan lebih banyak agar bisa menampung tamu dari penghuni.

Strategi bisnis lainnya yang masih akan dijalankan Grup Surya Mutiara adalah berkolaborasi dengan landlord (pemilik tanah). Sebagian besar proyek  mereka adalah hasil kongsi dengan pemilik lahan. Bagi Grup Surya Mutiara, skema kerjasama seperti ini sangat menguntungkan karena tidak perlu dipusingkan dengan proses pembebasan lahan atau pemberian kerohiman. Komitmen kerjasama pun dibuat seadil mungkin. Lantaran prinsip fairness inilah, memicu banyak landlord atau investor yang mengajak kerjasama. Meskipun banyak yang menawari, tak lantas mereka menerima­nya begitu saja. ”Hal penting yang harus diperhatikan adalah aspek legalitas lahan, lokasi dan aksesibilitas,” ujar Affan.

Sumber: Y Susanto

Iklan

Satu Tanggapan

  1. good….
    OMA,…. oooohhh,….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: