Plagiarisme Sama Jahatnya Dengan Korupsi

Para pembaca mungkin bertanya-tanya, mengapa saya menulis tentang plagiarisme. Dan lebih aneh lagi, mengapa plagiarisme saya samakan dengan korupsi. Pada prinsipnya, kedua lelaku itu sama sifat dan semangatnya yakni menghalalkan segala cara untuk tujuan tertentu dan dalam waktu yang instan. Tanpa melibatkan proses berpikir dan olah intelektualitas yang matang. Apalagi memikirkan eksesnya…. dinegasikan semuanya. Toh, hanya sedikit yang peduli masalah plagiarisme, kecuali mungkin orang-orang usil yang, celakanya, begitu jeli mencermati lelaku para plagiarist dan kuruptor ini….

Pembaca, saya memposting tulisan ini karena sudah merasa muak dengan apa yang dilakukan oleh sesama rekan jurnalis. Tanpa permisi, ba bi bu, mereka seenak dengkulnya mengutip tulisan saya tanpa ijin, dan tanpa menyertakan link atau sumbernya pula (kalo tidak ijin mbok ya disertakan link atau URL-nya)….

Menjadi ironis, ketika institusi di mana para oknum yang mengklaim diri sebagai jurnalis itu, justru sangat galak menggebuk para ‘terduga’ korupsi uang negara dan atau kasus plagiarisme yang tengah merundung perguruan tinggi terkemuka,  ITB.

Apa yang sesungguhnya terjadi? mengapa gajah di seberang lautan tertampak sementara kuman di pelupuk mata dibiarkan?

Saya marah!!! Sebatas inikah kualitas para jurnalis itu? meng-kopi paste tulisan orang lain tanpa kulonuwun, apalagi cek, ricek dan kroscek? tekanan institusi? atau memang pada dasarnya mereka malas???

C’moooon, teman, jujurlah, kalau memang mau mengutip tulisan saya, gunakan otak dan nurani kalian yang tentu saja akan emoh jika hanya mendewakan cara-cara instan!!! Jika masih saja menoleransi praktik-praktik curang, licik, dan culas demikian, saya hanya bisa berdoa, semoga nurani kalian tidak ikut mati!!!

Iklan

Alam Sutera Garap Mal Senilai Rp500 miliar

Keberhasilan Summarecon Mall Serpong (PT Summarecon Agung Tbk) dan Teras Kota (PT BSD Tbk) di kawasan Serpong, Tangerang, memotivasi PT Alam Sutera Tbk untuk ikut meramaikan bisnis dan industri komersial ritel. Kedua tempat itu telah mencetak rekor tingkat keterisian nyaris 90%. Mengusung Mall @ Alam Sutera, pengembang yang berafiliasi dengan Grup Argo Manunggal ini secara resmi melakukan ground breaking pada 20 April. Ruang komersial ini merupakan bagian dari Alam Sutera Commercial Business District seluas 26 Ha.

Mall @ Alam Sutera diklaim sebagai pusat belanja pertama yang mengadopsi konsep green development di mana nantinya, dari lahan seluas 7,8 Ha untuk pengembangan tahap I, 60% di antaranya dialokasikan untuk ruang terbuka hijau. Tak sebatas itu, desain mal-nya sendiri dirancang terbuka yang memungkinkan seluruh tenan berjenis resto, memiliki open sitting area.

Guna merealisasikan Mall @ Alam Sutera tahap I, PT Alam Sutera Realty Tbk telah menganggarkan dana sejumlah Rp500 miliar. Lebih separuh di antaranya, yakni Rp320 miliar, berasal dari dana IPO. Sisanya dari kas internal perseroan. “Ini merupakan leased mall yang menyasar segmen kelas menengah atas. Diferensiasi terletak pada konsep open and green, serta terintegrasi dengan properti lainnya dalam satu kawasan CBD Alam Sutera. Kami membangun komersial ritel saat ini, karena secara makro, perekonomian sedang dalam masa rebound time. Ini saat yang tepat untuk melansir pusat belanja. Lagipula, kami sudah melakukan studi kelayakan, bahwa pasar Serpong khususnya dan Tangerang umumnya sangat potensial,” ujar Direktur PT Alam Sutera Tbk Joseph Tjong.

Mall @ Alam Sutera dirancang oleh arsitek asal Singapura yang sudah memiliki rekam jejak panjang, Raymond Woo. Dialah yang mendesain Mal Takashimaya Singapura. Desainer lokal yang digandeng adalah PT Megatika International.

Tak hanya fashion apparel, food and beverage, juga terdapat mini zoo. “Inilah yang membedakan Mall @ Alam Sutera dibanding dengan lainnya,” ujar Chief Executive Officer Mall @ Alam Sutera Budi Iwantoro. Ada sembilan anchor tenant yang tertarik, 8 di antaranya sudah memberikan konfirmasi akan mengisi ruang ritel seluas 65.000 m2 (leaseable area) ini. Antara lain  Gramedia, Cinema XXI, Fitness Center, Hero Supermarket, dan Giant Hypermarket.

Dikatakan Budi, Mall @ Alam Sutera dipasarakan dengan harga sewa Rp200.000/m2 dan dijadwalkan  dibuka secara bertahap mulai 11 November 2011. Sementara untuk properti lainnya seperti apartemen Silkwood Residences, offices, hotel bintang empat dan kampus Universitas Bina Nusantara (Binus) direncanakan beroperasi secara bersamaan pada 2013.

PT Perkasa Internusa Mandiri, Sayap Bisnis Berposisi Strategis

Pilihan dua founder, Liliana Tanuwijaya dan Djoko Susanto, sebelas tahun silam, tidaklah keliru. Rintisan mereka, mendirikan PT Perkasa Internusa Mandiri (PIM) dengan bisnis inti properti, membuahkan hasil. Lodan Center seluas 8,2 Ha yang dikembangkan pada 2002 mampu mereduksi citra kawasan kumuh menjadi potensial untuk berbisnis. Lodan Center yang berada di bagian utara Jakarta, merupakan kompleks ruko dan pergudangan dengan tingkat hunian nyaris 100%. Di sini juga terdapat kampus Bunda Mulia setinggi 8 lantai dan Bunda Mulia National School Plus.

Portofolio lain yang memotivasi PIM serius menggeluti properti adalah kesuksesan mengakuisisi lahan seluas 1,2 Ha di Cipayung, Jakarta Timur. Asal tahu saja, ini merupakan area ‘hijau’, tempat bermukimnya perwira-perwira tinggi TNI serta akses menuju Markas Besar TNI. Bukan perkara mudah mendapatkan lahan di sini. Itulah mengapa, ketika spanduk besar Grand Bima Mansion bermunculan di sepanjang Jl Bina Marga, banyak yang bertanya, siapa pengembangnya, dan apakah terkait erat dengan TNI secara institusional?

PIM sejatinya merupakan sayap bisnis dari kelompok usaha Grup Alfa Retailindo. Awalnya difungsikan sebagai pencari dan pengelola lahan berikut bangunan yang disewakan kembali ke perusahaan-perusahaan dalam satu grup dengan skema built, operate, transfer (BOT). Dalam perkembangan selanjutnya, transformasi fundamental  dilakukan. Pada 2000, mereka mulai berani mengembangkan strategi bisnis dengan mengambil alih properti mati namun dinilai masih prospektif untuk dikembangkan.

Properti pertama yang dibeli adalah Plaza Millenium di Medan, Sumatera Utara. Ini adalah bangunan komersial yang dulunya bernama Tata Plaza dan merupakan pusat penjualan telepon genggam terbesar di Sumatera. Luas bangunannya mencapai 28.212 m2. PIM melakukan renovasi besar-besaran atas gedung ini dan mengubah konsepnya menjadi pusat perdagangan IT dan Telekomunikasi.

Pendekatan serupa diterapkan pada Plaza Millenium, di Lampung. Gedung seluas 11.681 m2 ini disulap menjadi one stop shopping mall untuk IT dan Telekomunikasi yang paling representatif di kawasan ini. Nama popular macam KFC menjadi tenannya.

Dikatakan Direktur PIM, Armand Sjofjarman, rencana strategis PIM ke depan mencakup tiga bidang usaha; manajemen properti, manajemen konstruksi dan pengembangan. “Untuk tahun ini, kami akan fokus berekspansi ke beberapa daerah seperti, Bandung,  Karawang, Palembang, Makassar, Bali dan Solo. Market yang akan kami garap lebih variatif,” ungkap Armand.

Di Gedebage (Bandung, Jawa Barat), Makassar (Sulawesi Selatan), Palembang (Sumatera Selatan), Solo (Jawa Tengah) dan Balaraja (Tangerang), PIM akan membangun pergudangan modern yang dilengkapi dengan fasilitas perkantoran. Untuk satu pergudangan, dibutuhkan dana sekitar Rp50 miliar-70 miliar. Tergantung fitur-fitur pelengkap yang dibutuhkan. “Sejauh ini, kami masih menggunakan uang perusahaan. Belum ada minat untuk memanfaatkan fasilitas kredit perbankan. Lagipula pergudangan ini nantinya untuk mendukung bisnis afiliasi,” imbuh Armand.

Selain pergudangan, perumahan eksklusif yang menyasar kelas menengah atas, dan juga rumah sederhana akan dimulai pengembangannya serentak pada tahun ini. Lahan koleksi seluas 6 Ha di Karawang (Jawa Barat) dikonversi menjadi perumahan seharga mulai dari Rp200 juta-700 juta. Sementara di Ciputat, Tangerang, PIM menggarap rumah sederhana sebanyak 40 unit di atas tanah 9.000 m2. “Pemasaran kedua perumahan ini dilakukan setelah Lebaran,” imbuh Armand.

Rencana pengembangan tersebut menggenapi portofolio properti yang sudah dimiliki PIM sebelumnya. Katakanlah kantor pusat dan pergudangan di kawasan Serpong yang secara bertahap akan dipindahkan ke kawasan Meruya, Jakarta Selatan. Kemudian Alfa Resort selapang 2 Ha di Cisarua, Jawa Barat, dan pergudangan di Surabaya (jawa Timur) dengan dimensi 4.176 m2. Sementara properti dengan status masih BOT tinggal dua, yakni Alfa Pasar Minggu (Jakarta Selatan) seluas 11.258 dan Alfa Balikpapan (Kalimantan Timur/10.500 m2).

Kendati ada banyak rencana yang segera direalisasikan, Armand menolak PIM dikatakan sangat agresif. Lebih tepatnya konservatif. Saat ini, lanjutnya, mereka fokus menjual dan membangun Grand Bima Mansion. Karena inilah signature housing mereka. Harganya tak bisa dibilang murah, memang. Untuk ukuran 220/476 dibanderol Rp2,8 miliar. Termahal Rp3,2 miliar (230/570).

“Kami tak menampik jika Grand Bima Mansion dianggap sebagai perumahan eksklusif yang mengakomodasi para perwira tinggi militer. Karena, setelah kami melakukan survey, di sini memang banyak sekali perumahan dengan sasaran ceruk pasar serupa. Namun, kami memilih kelas lebih atas dan tidak membatasi pasar garapan. Masyarakat umum banyak sekali yang meminati kawasan Cipayung. Aksesibilitasnya sangat mudah dan memadai, dekat dengan pintu tol Hankam-Ceger serta JORR ramp Taman Mini-Kampung Rambutan,” ucap Armand. Hingga kini, dari 18 unit yang ditawarkan, telah terjual 3 unit.