PT Perkasa Internusa Mandiri, Sayap Bisnis Berposisi Strategis

Pilihan dua founder, Liliana Tanuwijaya dan Djoko Susanto, sebelas tahun silam, tidaklah keliru. Rintisan mereka, mendirikan PT Perkasa Internusa Mandiri (PIM) dengan bisnis inti properti, membuahkan hasil. Lodan Center seluas 8,2 Ha yang dikembangkan pada 2002 mampu mereduksi citra kawasan kumuh menjadi potensial untuk berbisnis. Lodan Center yang berada di bagian utara Jakarta, merupakan kompleks ruko dan pergudangan dengan tingkat hunian nyaris 100%. Di sini juga terdapat kampus Bunda Mulia setinggi 8 lantai dan Bunda Mulia National School Plus.

Portofolio lain yang memotivasi PIM serius menggeluti properti adalah kesuksesan mengakuisisi lahan seluas 1,2 Ha di Cipayung, Jakarta Timur. Asal tahu saja, ini merupakan area ‘hijau’, tempat bermukimnya perwira-perwira tinggi TNI serta akses menuju Markas Besar TNI. Bukan perkara mudah mendapatkan lahan di sini. Itulah mengapa, ketika spanduk besar Grand Bima Mansion bermunculan di sepanjang Jl Bina Marga, banyak yang bertanya, siapa pengembangnya, dan apakah terkait erat dengan TNI secara institusional?

PIM sejatinya merupakan sayap bisnis dari kelompok usaha Grup Alfa Retailindo. Awalnya difungsikan sebagai pencari dan pengelola lahan berikut bangunan yang disewakan kembali ke perusahaan-perusahaan dalam satu grup dengan skema built, operate, transfer (BOT). Dalam perkembangan selanjutnya, transformasi fundamental  dilakukan. Pada 2000, mereka mulai berani mengembangkan strategi bisnis dengan mengambil alih properti mati namun dinilai masih prospektif untuk dikembangkan.

Properti pertama yang dibeli adalah Plaza Millenium di Medan, Sumatera Utara. Ini adalah bangunan komersial yang dulunya bernama Tata Plaza dan merupakan pusat penjualan telepon genggam terbesar di Sumatera. Luas bangunannya mencapai 28.212 m2. PIM melakukan renovasi besar-besaran atas gedung ini dan mengubah konsepnya menjadi pusat perdagangan IT dan Telekomunikasi.

Pendekatan serupa diterapkan pada Plaza Millenium, di Lampung. Gedung seluas 11.681 m2 ini disulap menjadi one stop shopping mall untuk IT dan Telekomunikasi yang paling representatif di kawasan ini. Nama popular macam KFC menjadi tenannya.

Dikatakan Direktur PIM, Armand Sjofjarman, rencana strategis PIM ke depan mencakup tiga bidang usaha; manajemen properti, manajemen konstruksi dan pengembangan. “Untuk tahun ini, kami akan fokus berekspansi ke beberapa daerah seperti, Bandung,  Karawang, Palembang, Makassar, Bali dan Solo. Market yang akan kami garap lebih variatif,” ungkap Armand.

Di Gedebage (Bandung, Jawa Barat), Makassar (Sulawesi Selatan), Palembang (Sumatera Selatan), Solo (Jawa Tengah) dan Balaraja (Tangerang), PIM akan membangun pergudangan modern yang dilengkapi dengan fasilitas perkantoran. Untuk satu pergudangan, dibutuhkan dana sekitar Rp50 miliar-70 miliar. Tergantung fitur-fitur pelengkap yang dibutuhkan. “Sejauh ini, kami masih menggunakan uang perusahaan. Belum ada minat untuk memanfaatkan fasilitas kredit perbankan. Lagipula pergudangan ini nantinya untuk mendukung bisnis afiliasi,” imbuh Armand.

Selain pergudangan, perumahan eksklusif yang menyasar kelas menengah atas, dan juga rumah sederhana akan dimulai pengembangannya serentak pada tahun ini. Lahan koleksi seluas 6 Ha di Karawang (Jawa Barat) dikonversi menjadi perumahan seharga mulai dari Rp200 juta-700 juta. Sementara di Ciputat, Tangerang, PIM menggarap rumah sederhana sebanyak 40 unit di atas tanah 9.000 m2. “Pemasaran kedua perumahan ini dilakukan setelah Lebaran,” imbuh Armand.

Rencana pengembangan tersebut menggenapi portofolio properti yang sudah dimiliki PIM sebelumnya. Katakanlah kantor pusat dan pergudangan di kawasan Serpong yang secara bertahap akan dipindahkan ke kawasan Meruya, Jakarta Selatan. Kemudian Alfa Resort selapang 2 Ha di Cisarua, Jawa Barat, dan pergudangan di Surabaya (jawa Timur) dengan dimensi 4.176 m2. Sementara properti dengan status masih BOT tinggal dua, yakni Alfa Pasar Minggu (Jakarta Selatan) seluas 11.258 dan Alfa Balikpapan (Kalimantan Timur/10.500 m2).

Kendati ada banyak rencana yang segera direalisasikan, Armand menolak PIM dikatakan sangat agresif. Lebih tepatnya konservatif. Saat ini, lanjutnya, mereka fokus menjual dan membangun Grand Bima Mansion. Karena inilah signature housing mereka. Harganya tak bisa dibilang murah, memang. Untuk ukuran 220/476 dibanderol Rp2,8 miliar. Termahal Rp3,2 miliar (230/570).

“Kami tak menampik jika Grand Bima Mansion dianggap sebagai perumahan eksklusif yang mengakomodasi para perwira tinggi militer. Karena, setelah kami melakukan survey, di sini memang banyak sekali perumahan dengan sasaran ceruk pasar serupa. Namun, kami memilih kelas lebih atas dan tidak membatasi pasar garapan. Masyarakat umum banyak sekali yang meminati kawasan Cipayung. Aksesibilitasnya sangat mudah dan memadai, dekat dengan pintu tol Hankam-Ceger serta JORR ramp Taman Mini-Kampung Rambutan,” ucap Armand. Hingga kini, dari 18 unit yang ditawarkan, telah terjual 3 unit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: