Menyelami Alur Pemikiran Alexander Tedja

Punya kesempatan berbincang dengan taipan properti satu ini, adalah hal istimewa. Selain kerap menghindar, juga sangat pelit berbagi informasi. Namun, setelah berulang kali bertemu dalam berbagai acara, plus jurus pantang menyerah tebal muka yang seringkali saya pertontonkan, membuat Alexander Tedja tak memiliki alasan untuk menolak saya (lagi). Bukan karena nama kami kebetulan serupa, sehingga saya ngotot memperoleh informasi darinya. Namun, ini lebih kepada kepuasan akan hasrat untuk ‘menaklukkan’ sesuatu yang mustahil menjadi mungkin.

Dominasi media massa tertentu dalam menyajikan informasi, saya pandang sebagai sebuah challenge yang sangat menarik. Kalau hanya segitu aja yang bisa dibagi kepada publik, saya bisa memberikan lebih. Saya ingin mendapatkan informasi, berikut (syukur-syukur) data komprehensif dari chair person Grup Pakuwon ini. Sekadar Anda tahu, Grup Pakuwon, adalah raja pengembang di Surabaya, Jawa Timur.

Kendati pada beberapa kesempatan yang sudah-sudah, saya mendapat banyak informasi eksklusif, tapi hari itu, tepat pada saat Office8 mendapat Green Mark Building Gold Award dari Building and Construction Authority International (BCAI), Alexander Tedja berubah jauuuuuuh lebih terbuka dari biasanya.

Dengan garis muka tirus, sedikit berkerut di wilayah kening dan sudut bibir, ayah dari Irene dan Michael Tedja ini memaparkan strategic planning dan future development Grup Pakuwon. Sentuhan humor, sedikit mewarnai perbincangan serius tapi santai kali ini. Sambil menunduk, karena postur saya mungil dan dia tinggi langsing, Alex berkata, “Sparkling Surabaya“.

Aha…. saya jadi teringat akan sebuah thread di forum SkyScraperCity.com, di mana Surabaya menjadi kota terbesar kedua di Indonesia yang pengembangannya sangat pesat dan dinamis. Di thread itu banyak forumer yang menyematkan Sparkling Surabaya sebagai tag line mereka. Dan ketika diucapkan oleh seorang taipan properti, saya jadi mafhum.

Grup Pakuwon, jelasnya, akan mulai menggarap land bank seluas 800 Ha miliknya di luar Surabaya sebagai core wilayah pengembangan dan Jakarta. Lahan selapang itu terdistribusi di berbagai kota besar, mayoritas masih di Pulau Jawa. “Lahan itu di luar Pakuwon City dan Pakuwon Indah,” imbuh Alexander Tedja.

Pengembangan Pakuwon City sendiri yang berlokasi di Surabaya Timur  masih memiliki suplai lahan berdimensi 600 Ha. Pengembangannya baru tahap pertama dari total tiga tahap pengembangan.  Teranyar yang dibangun di sini adalah East Coast Center yang merupakan pusat belanja sekaligus pusat gaya hidup dan hiburan. Selain itu, tengah dirampungkan juga  East Coast Residences, apartemen menengah yang berjumlah 775 unit.

Awal 2011 akan dilansir East Coast Residences tahap II sebanyak 700 unit. Harganya sedikit di atas Tahap I. sekitar 15-20% di atasnya. Pada tahun yang sama, usai menyelesaikan tahap akhir pembangunan Gandaria City yang terdiri atas Office8, The Heights apartment, hotel dan Gandaria Main Street, mereka akan merealisasikan komitmen pembangunan Kota Kasablanka.

“Kami tengah mengerjakan struktur pusat belanja dan apartemen. Tunggu saja, kami pegang teguh komitmen itu. Apalagi sekarang apartemennya sudah terjual 60%. Malnya sendiri sudah menarik banyak tenan kelas menengah,’ imbuh Alexander.

Kota Kasablanka dirancang sebagai lifestyle hub baru yang disesuaikan kondisi lokasi yang merupakan kawasan segitiga emas dan kelak merupakan bagian dari desain besar Satrio international shopping belt. Jadi, wajar jika mereka mulai menggenjot pembangunan proyek yang diproyeksikan menelan dana hampir Rp2 triliun ini.

Rencana besar dan strategis lainnya adalah berekspansi ke luar wilayah Surabaya dan Jakarta. “Kami memiliki banyak lahan yang siap untuk digarap. Kami akan membangun semacam mixed use development lagi. Dalam lima tahun ke depan, akan ada dua lagi yang serupa KK dan GC. Tunggu saja tanggal mainnya,” jelas Alexander yang meminta lokasi tepat dua pengembangan multifungsi tersebut dirahasiakan. Alasannya, menjaga supaya harga lahan di sana tetap kompetitif dan stabil.

Sebuah motivasi yang masuk akal. Dan karenanya mafhum pula, bila Grup Pakuwon tidaklah se-high profile pengembang lainnya yang cenderung agresif dan massif. Alexander Tedja memandang market equilibrium hanya bisa tercipta jika pelaku di dalamnya aktif dan kreatif. Meski, GC dan KK sempat vakum beberapa saat akibat melonjaknya harga material dan krisis finansial global, tapi mereka tetap melakukan aktifitas soft marketing dan publishing.

“Sejatinya krisis finansial itu tak berpengaruh signifikan. Kalau kita total berhenti, lantas, siapa yang akan memasok pasar? kapan keseimbangan itu terjadi? Itulah sebabnya, kami harus mencetak produk serupa supaya tidak terjadi disparitas supply terhadap demand yang terlalu besar. Inilah tugas pengembang, agar sektor ekonomi terus bergulir,” ujar Alexander Tedja.

Alur pemikiran Alexander Tedja adalah pebisnis murni. Dan sepatutnya mendapat apresiasi. Memang tugas pebisnis seperti dialah yang membuat konstelasi bisnis dan industri properti di Indonesia tetap dinamis dan bergairah. Pangsa pasar kita sangat luas dengan rentang ceruk yang demikian lebar. Semua ini dianggapnya sebagai potensi luar biasa.

Property growth bisa mencapai 30% setiap tahunnya, jika, “Kita percaya diri bahwa pasar Indonesia sangat atraktif. Tugas kita memenuhi pasar dengan produk properti represnetatif, kreatif dan tentu saja affordable terhadap kebutuhan pasar,” jelasnya.

Lalu, bagaimana dengan perkuatan konstruksi finansial, sebuah momok yang senantiasa dihindari untuk dibuka kepada publik? Alexander Tedja punya cerita. “Itu bisa dibikin transparan kalau kita mau jujur kepada pasar. Kami selalu mengatakan bahwa andil terbesar, kami bisa besar seperti ini, adalah konsumen. Uang konsumen berupa DP dan cicilan maupun tunai berkontribusi besar terbangunnya proyek-proyek kami. Perputarannya cepat dan safe. Komposisi 70:30 memang sangat konservatif. Dan kami harus melakukan inovasi agar sebisa mungkin mengubahnya itu menjadi 40% dari pre sales, 30% kas internal perusahaan dan 30% perbankan,” tandas Alexander Tedja ramah seraya menawari saya untuk mencicipi hidangan lainnya, setelah puas menyantap puding.

Inilah Alexander Tedja. Gaya bertuturnya halus, sorot matanya ramah, namun menyimpan kekuatan yang luar biasa. Kalau tidak begitu, “Usia saya sudah di atas 70 tahun, gak mungkin saya meladeni kamu wawancara sambil berdiri lama begini hehehehe”.

Iklan

Orientasi Aktual; Bangun Area Komersial

Sebagai sebuah kota, lengkap dengan ekologikal sistemnya, kehadiran area komersial mutlak adanya. Di sinilah kendali atas nadi kota baru ditentukan. Aglomerasi perkantoran, apartemen, sekolah, pusat belanja, maupun infrastruktur penunjang lainnya, galib dikembangkan dalam situs berbau ’niaga’. Tak cukup satu dua, berhubung surat keputusan pengelolaan kota baru berskala ribuan hektar, maka situs komersial ini mesti dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) dalam membina tahap keduanya berorientasi pada penambahan jumlah area komersial terbangun. Dijelaskan Presiden Direktur PT BSD Tbk, Harry Budi Hartanto, BSD nantinya sarat dengan area komersial. Karena populasi yang menghuni sekitar 35 ribu unit rumah di BSD City, sudah mencapai 150 ribu jiwa. ”Jumlah yang sangat besar dan mereka membutuhkan fasilitas komersial yang representatif,” imbu Harry.

Dalam paparannya, Harry menjelaskan, untuk tahun 2011, bakal dibangun klaster CBD seluas 50 Ha. Lahannya ini dalam kondisi siap bangun. Itu berarti dapat dibeli atau dimiliki oleh siapapun yang tertarik mengepakkan sayap usahanya di sini. Selain perkantoran berstruktur low rise, juga direncanakan keberadaan shopping center, meeting point dan lifestyle center dalam kemasan indoor dan outdoor.

Rencana tersebut menggenapi langkah strategis tahun ini yang secara agresif mulai menawarkan properti komersial. Diawali dengan pengembangan Sinarmas Land Building di atas lahan seluas 2,5 ha dengan investasi lebih dari Rp. 100 miliar.
Pembangunan gedung kantor berkonsep ramah lingkungan itu diperkirakan
rampung dan siap beroperasi pada kuartal keempat tahun 2011.

Gedung kantor lima lantai itu akan menjadi kantor perusahaan-perusahaan yang bernaung di bawah Sinarmas Developer & Real Estate dan di dalamnya akan berkantor antara lain PT BSD Tbk dan PT Duta Pertiwi Tbk. Gedung seluas 15.000 m2 tersebut dibangun di kawasan BSD Office Park yang merupakan bagian dari pengembangan BSD City Tahap II dengan investasi lebih dari Rp. 100 miliar.

Kawasan BSD Office Park berdimensi 25 ha tersebut dikembangkan dengan mengusung konsep ramah lingkungan (green building) dan ditargetkan untuk menjadi gedung pertama yang mendapatkan sertifikat hijau.

Tak sampai di situ, sejatinya ada banyak rencana yang bakal direalisasikan BSD City dalam rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Selain tahap II, juga telah disiapkan Tahap III. Pendek kata, “Kami akan terus membangun, baik hunian maupun komersial. Setiap tahun target kami adalah 2.000 unit rumah terbangun dengan area pengembangan 10-20 Ha. Nilai investasinya kami proyeksikan di atas Rp1,5 triliun,” ungkap Harry.

Sementara untuk industrial site yang bersifat non polutan, BSD belum akan menambah  lahan eksisting seluas 120 Ha. Kondisi aktual dari kawasan industrinya ini telah terisi oleh ratusan perusahaan atau 60%.

Ada pun pengembangan pertama BSD City tahap II dengan luas total lahan 850 Ha, dijadwalkan rampung pada 2013. Selain fokus pada commercial office dan juga residensial eksklusif. Sementara pengembangan keduanya seluas 1.000 Ha (kombinasi antara residensial dan commercial retail) dan rampung pada 2018.

Future development BSD Tahap III, diungkapkan harry, lebih ke arah barat, di antaranya Legok dan juga nantinya bakal bersebelahan dengan Lippo Village. Realisasinya akan dimulai pada 2018. Pengembangan pertama tahap III adalah 500 Ha untuk jalur komersial yang merupakan kumpulan area klaster berupa CBD-CBD. Di mana satu klaster mendapat alokasi sekitar 40-50 Ha. Jalur komersial ini akan diisi low rise office berkonsep green development. Diameter hijau (jalur hijau) untuk infrastrukturnya saja selebar 50-60 meter. Pedestriannya 10-15 meter dan ROW jalannya 100-120 meter.

Agresifitas BSD ini tak pelak berimplikasi pada melesatnya pertumbuhan harga lahan dan properti. Jika pada 3-4 tahun silam harga lahan berada pada angka Rp1 juta-1,5 juta/m2, kini sekitar Rp2 juta-3 juta/m2. Sedangkan harga propertinya sudah menembus level Rp5 juta/m2.

Tren pengembangan area komersial juga menjangkiti kota baru lain yang terbilang generasi awal. Lippo Village, dahulu Lippo Karawaci, bakal dirancang lebih dinamis dan atraktif. Sesuai dengan filosofi korporat, PT Lippo Karawaci Tbk, dan juga gagasan jenial urban planner asal Skotlandia, George Benton, Lippo Village harus menjadi sentrum kehidupan kawasan. Ada banyak rencana yang telah dicanangkan.

Yang teranyar, menurut Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Norita Alex, adalah memastikan bagian utara Lippo Vilage sebagai destinasi investasi baru (disebut Lippo Village Utara) seluas 5 ha dan Lippo Village Central (1,5 Ha). Ini dapat diartikan sebagai kantong komersial yang mengakomodir para investor yang berharap turn over cepat di sini. Alokasi lahannya sendiri untuk orientasi pengembangan komersial (CBD) dipersiapkan seluas 50-75 Ha.

Tahap I, dijelaskan Norita, membuka Lippo Village Central selapang 1,5 Ha. Lokasinya bersebelahan dengan driving range. Tanahnya sudah mulai digarap. Di sini, akan berdiri pusat kuliner, dan life style.

Menurut Hernanto Tandianto, General Manager Marketing Lippo Village, para calon investor diberikan dua opsi, membeli atau menyewa lahan di kedua area pengembangan tadi. Luas lahan yang ditawarkan mulai 500-2.000 m2,  sesuai dengan kebutuhan atau pun jenis usaha investor.

Tentu saja fasilitas komersial ini tak berarti apa-apa jika tidak didukung oleh akses dan infrastruktur yang memadai. Untuk itu, PT Lippo Karawaci Tbk mengkonfirmasi pembangunan  fly over Lippo Village-Jakarta yang menelan biaya konstruksi sebesar Rp30 miliar. Akses jalan layang ini dibuka pada Juli 2010. Selain itu, pada waktu bersamaan, akan dibuka juga Islamic Underpass yang menghubungkan Lippo Village Central dari Lippo Village Utara, Tangerang dan Merak. Sementara Underpass Karawaci Office Park yang beroperasi Juni ini akan menggiring pengguna jalan maupun warga penghuni menuju kawasan bisnis Karawaci Office Park.

Sejak dibangun pada tahun 1993, Lippo Village dengan ‘konsesi’ lahan seluas 3.000 Ha  telah didiami oleh 50 ribu kepala keluarga. Pergerakan harga propertinya pun sangat cukup atraktif. Untuk residensial, tumbuh 60% per tiga tahun. Harga pasar berada pada level Rp2 juta-17 juta/m2. Sedangkan komersialnya, tercatat, rata-rata naik 20-25%/thun dengan harga lahan mencapai Rp20 juta/m2.

Mengekor Pelopor

Kota Harapan Indah yang dibangun Grup Damai Putra di Bekasi Barat sejak tahun 1990 (2.000 Ha) juga menambah fasilitas barunya yakni pasar modern. Fasilitas ini dibangun untuk penghuni yang sudah berjumlah 60 ribu kepala keluarga (KK). ”Kami akan terus memberikan kenyamanan yang prima dengan menambah berbagai fasilitas sehingga penghuni tidak perlu keluar perumahan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya,” ujar Hyronimus Johanes, Marketing Manager Kota Harapan Indah..

Sementara di bagian barat Jakarta, tepatnya di kawasan Cengkareng yang berdekatan dengan bandara Soekarno-Hatta, perumahan CitraGarden City yang dikembangkan oleh Grup Ciputra di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat juga kian ekspansif. Perumahan berdimensi 400 hektar ini sekarang sedang berkonsentrasi merampungkan kawasan Citra 6. Lokasinya hanya selemparan batu dari Jakarta Outer Ring Road seksi Barat 2 ini.

Selain itu, pengembangan baru yang tengah dilakukan adalah klaster Yellow Chrysant, Blue Ginger, The Grand, dan lainnya. Di samping area komersial yang bertahbis  commercial belt sepanjang 2 km. Menurut Yusanto Harijatno, General Manager CitraGarden City, kawasan komersial Citra  6 akan dikembangkan sebagai fasilitas gaya hidup modern. Di mana shopping dan living terintegrasi menjadi satu kesatuan yang harmoni. Di kawasan ini telah berdiri  rukan Circle West dan food street. Juga ada rukan yang bentuknya memanjang dengan konsep double decker yakni Sixth Avenue.

Di kawasan Serpong dua developer yang lokasinya berdekatan juga kian ekspansif mengembangkan proyek township-nya yakni Alam Sutera dan Summarecon Serpong. Alam Sutera, milik PT. Alam Sutera Realty Tbk. pada 2010 ini meluncurkan berbagai varian produk, baik residensial maupun komersial. Untuk ruang komersial Flavor Bliss, kini terus diperluas. Plaing gres dibangunnya Mall @ Alam Sutera seluas 7,8 Ha yang direncanakan beroperasi awal 2012. Mal ini merupakan bagian dari Commercial Buseness Distric (CBD) Alam Sutera yang luasnya mencapai 26 Ha. Produk komersial ini dikemas dengan rancangan terbuka yang memungkinkan seluruh tenant berjenis resto, memiliki open sitting area.

Untuk huniannya, dipasarkan Sutera Renata seluas 24 Ha yang di dalamnya terdapat 3 cluster. Menurut Lilia Sukotjo, Direktur Pemasaran PT Alam Sutera Realty Tbk, produk ini dikembangkan dengan konsep urban forest. Yakni hutan di dalam perumahan yang berfungsi sebagai paru-paru kota. Varian lainnya adalah apartemen Silkwood Residence setinggi 20 lantai yang berdiri di atas lahan 11,8 Ha. Setiap tower-nya memiliki jumlah unit sebanyak 456.

Sementara Summarecon Serpong, kepunyaan PT. Summarecon Agung Tbk, akan melakukan pengembangan Summarecon Mal Serpong (SMS) tahap 2 yang berada di samping tahap I seluas 45 ribu m2. Proyek lanjutan ini rencananya rampung  pada 2011 yang akan diteruskan  dengan SMS tahap 3. Sehingga akan menjadi satu kesatuan. Semuanya  berada di area Sentra Gading Serpong yang merupakan CBD Summarecon Serpong yang luasnya 17 Ha.

Di Bogor, Sentul City juga siap menggarap area commercial business distric (CBD)-nya.  Rencananya akan dibangun pusat belanja, sarana pendidikan, kesehatan, hunian vertikal, dan lainnya. Menurut Hartan Gunadi, Marketing Director PT. Sentul City Tbk, salah satu bagian yang sudah beroperasi adalah SICC (Sentul International Convention Center) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tazkia yang rencananya akan mulai beraktifitas pada tahun ajaran mendatang. “Dalam waktu dekat akan segera dibangun kampus IPB  untuk program studi sekolah bisnis dan lansekap,” ujar Hartan.

Belum lama ini Sentul City juga telah meluncurkan dua cluster Green Valley Residence dan Emerald Golf @ Bukit Golf Hijau. Green Valley Residence dibangun di atas lahan seluas 8 Ha. Terdapat 225 unit hunian dan 16 rumah toko (ruko) dengan berbagai pilihan tipe, terkecil tipe 53/90 seharga mulai Rp 420 juta, dan terbesar tipe 90/232 seharga Rp860 juta. Untuk ruko dipasarkan dengan harga mulai Rp650 juta sampai Rp1,2 miliar.

Sementara cluster Emerald Golf @ Bukit Golf Hijau hanya terdiri atas 21 hunian eksklusif. Lokasinya langsung berhadapan dengan lapangan golf.  Rumah terkecil berukuran  160/ 228 seharga Rp1,25 miliar sementara  terbesar berukuran  260/593 seharga Rp3,1 miliar.

SSIA Konsentrasi Pada Jasa Konstruksi dan Hotel

Strategi PT Surya Semesta Internusa Tnk (SSIA) tahun 2010 ini dirancang lebih fokus. Tujuannya, tak lain untuk menghasilkan kinerja lebih baik pada setiap unit usaha perseroan. Dasarnya adalah kondisi kinerja finansial dan manajemen yang handal. Ada pun strategi tersebut antara lain, SSIA akan berkonsentrasi pada sektor jasa konstruksi melalui PT NUsa Raya Cipta, dan PT Pacific Prestress Indonesia Mereka akan memprioritaskan proyek-proyek yang menguntungkan dan berkualitas. Selain itu juga mulai memasuki pembangunan infrastruktur dan memperluas usaha dalam pembangunan sarana dan prasarana pertambangan.

Sementara untuk sektor hospitalitas melalui PT Sitiagung Makmur dan PT Suryalaya Anindita International, SSIA mengutamakan pengembangan budget hotel di beberapa kota di Indonesia. Seperti Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah) dan Surabaya (Jawa Timur). Dan pertengahan tahun 2010 ini, manajemen akan memulai operasi budget hotel pertama di bawah manajemen Surya Internusa Hotel yang berlokasi di gedung pusat perbelanjaan Glodok Plaza.

Pembangunan Banyan Tree Ungasan Resort di Bali juga akan menjadi prioritas utama perseroan. Di samping pekerjaan merenovasi hotel-hotel eksisting seperti Gran Melia Jakarta dan Melia Bali Villas and Spa Resort.

Untuk menyokong rencana strategisnya tersebut, SSIA telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar 10-11 juta dolar AS. Rp30 miliar di antaranya untuk mendukung Banyan Tree Ungasan. Presiden Direktur SSIA, Johannes Suriadjaya mengungkapkan, pihaknya akan menjajaki perbankan guna menyediakan dana capex. Sementara porsi lebih kecil yakni Rp3 miliar-4 miliar dialokasikan untuk jasa konstruksi yang berasal dari kas perseroan. “Jasa konstruksi saat ini sudah mendapat kontrak (contract on hand) sebesar Rp1,2 triliun yang di antaranya berasal dari proyek Ciputra World Jakarta, Cosmo Terrace dan Biu Villas, Pecatu Bali,” imbuh Johannes.

Kinerja perseroan sendiri selama tahun 2009 lalu berhasil mempertahankan laba bersih sebesar Rp17,6 miliar. Kontribusi terbesar dari jasa konstruksi dan perhotelan. Sebaliknya, pendapatan konsolidasi menurun dari Rp1.753,3 miliar pada 2008 menjadi Rp1.484,1 miliar. Dengan laba kotor tercatat meningkat 20,4% menjadi Rp347,8 miliar dari sebelumnya Rp288,8 miliar.

Karawang Layak Dipertimbangkan

Karawang, pernah sangat popular sebagai lumbung padi di Jawa Barat. Kendati transformasi evolutif tengah berlangsung, tahbis sebagai pemasok padi terbesar di ranah Sunda itu tak tergantikan. Secara visual, kini tidak hanya dihiasi hamparan sawah, tetapi juga pabrik, perumahan, bahkan pemakaman. Kawasan seluas 1.737,30 km² itu mulai berubah wajahnya sejak diterbitkannya Keppres Nomor 53 Tahun 1989 tentang Pengembangan Kawasan Industri.

Beberapa kawasan industri, antara lain Karawang International Industry City (KIIC), Kawasan Surya Cipta, dan Kawasan Bukit Indah City (BIC) di jalur Cikampek-Karawang, telah menjadi tempat bermukim perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional. Hingga akhir tahun 2008, tercatat sebanyak 8.801 perusahaan yang terdiri atas 255 PMA, 183 PMDN, 73 Non Fasilitas, dan 8.290 industri kecil.

Yang paling pesat perkembangannya adalah KIIC yang dikembangkan Grup Sinar Mas dan Itochu (Grup Astra). Menurut Direktur KIIC Sani Iskandar, sejak dirintis pada 1993, dari total lahan seluas 1.200 Ha, kini sudah terbangun 800 hektar. Perusahaan yang bergabung pun sebagian besar PMA, dari total 91 industri.

Tingginya minat industri masuk ke KIIC, kata Sani yang juga Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) antara lain memiliki infrastruktur yang lengkap seperti akses tol langsung, suplai listrik dan kehandalan daya dengan pelayanan prima dari PLN (Premium Service), pengelolaan air bersih dan air limbah. Dan paling penting, harga lahannya lebih murah dibandingkan KI Cikarang atau Cibitung yakni berkisar 50-60 dolar AS.

Tak sampai di situ potensi Karawang untuk menarik minat industri lebih banyak lagi. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, seolah menggenapi ’portofolio’ tapal Bekasi itu. Mereka akan membangun pelabuhan pengumpul (hub port) baru yang sebelumnya akan dibangun di Bojonegara, Serang, Banten. Pelabuhan baru seluas 10 ribu hektar itu berkapasitas 10 juta TEUs kontainer per tahun sebagai pengganti Pelabuhan Tanjung Priok dalam 5 tahun mendatang. Dipilihnya Karawang karena selama ini, kawasan industri di Cikarang, Karawang, Purwakarta, dan Subang adalah 70% pemasok barang ke Pelabuhan Tanjung Priok.

”Saya yakin industri akan semakin banyak masuk. Selain harga lahannya kompetitif juga karena memiliki kapasitas dan opsi untuk lot atau kavling industri yang masih beraneka ragam,” ujar Sani. Dus, keberadaan PP No 24 tahun 2009 tentang Kawasan Industri, yang mencantumkan industri baru harus masuk kawasan industri, diyakini bakal mendongkrak tingkat hunian kawasan industri di Karawang.

Jika tingkat hunian meningkat, tentu implikasinya juga berlipat. Sub sektor properti lainnya ikut merasakan dampaknya. Sebut saja kebutuhan rumah. Proyeksi kebutuhan rumah yang belum terpenuhi pada 2010, berdasarkan kajian Badan Perencana Daerah (Bapeda) Karawang mencapai 117.959 unit. Angka itu meningkat sekitar 54% dibandingkan tahun 2006 sebanyak 76.478 unit.

Permintaan tanah untuk permukiman tercatat selalu menjadi yang tertinggi dari tahun ke tahun. Data Dinas Agraria Karawang 2006 menyebutkan, dari 2.502 hektar lahan yang beralih fungsi dari lahan pertanian menjadi nonpertanian, 54,6% di antaranya untuk permukiman dan 34,4% untuk industri. Area itu meliputi kawasan kota, dan zona industri yang masuk wilayah Kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Ciampel, dan Klari.<

Ini memicu para pengembang berburu tanah dan mengonversikannya menjadi perumahan. Menurut penelusuran Properti Indonesia, harga tanah sekarang dibanderol seharga Rp200 ribu/m2 sampai Rp400 m2, namun ada juga yang dipatok Rp55 ribu/m2 dengan lahan yang besar. Di perumahan Karawang Resinda, rumah tipe terkecil dijual Rp120 juta (37/72) dan terbesar Rp2,2 miliar (312/600).

Menurut Ketua Real Estat Indonesia (REI) Bekasi Acep Suparman, wilayah Karawang prospektif sebagai daerah pengembangan permukiman. Selain permintaan dari pekerja di kawasan industri, faktor jarak yang hanya sekitar 45-50 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam melalui tol, membuat sejumlah konsumen mempertimbangkan Karawang.
Tempat pemakaman mewah

Karawang juga terkenal sebagai kawasan yang memiliki tempat pemakaman mewah. Saat ini ada 3 yang sudah dikembangkan yakni Taman Kenangan Lestari (32 Ha), Taman Memorial Graha Sentosa (200 Ha), dan San Diego Hills (500 hektar). Sejak Grup Lippo masuk tahun 2006, penjualan lahan San Diego Hills terus menunjukkan peningkatan. Sudah seperlima dari luas total lahan yang terbangun. ”Setidaknya ada 1.000 orang yang dimakamkan di sini,” ujar Hermit, product spesialist San Diego Hills.
San Diego Hills, memang bukan pemakaman umum biasa. Dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Mulai dari ruang serbaguna, kolam renang, sampai restoran Italia. Hermit mengatakan, selain membeli untuk kelak digunakan, banyak yang membeli untuk investasi. Ia mencontohkan, pada tahun 2006 ada yang membeli kavling makam seharga Rp3,5 juta, tahun 2010 laku terjual 21 juta.

Saat ini harga rumah abadi termurah mencapai Rp8 juta dan termahal Rp8 miliar untuk 200 m2. ”Kami menargetkan dapat meraih penjualan Rp35 miliar dalam sebulan,” ujar Hermit seraya mengatakan masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka untuk membeli tempat makam sebelum ajal menjemput.

Sumber: Yuniar S