Karawang Layak Dipertimbangkan

Karawang, pernah sangat popular sebagai lumbung padi di Jawa Barat. Kendati transformasi evolutif tengah berlangsung, tahbis sebagai pemasok padi terbesar di ranah Sunda itu tak tergantikan. Secara visual, kini tidak hanya dihiasi hamparan sawah, tetapi juga pabrik, perumahan, bahkan pemakaman. Kawasan seluas 1.737,30 km² itu mulai berubah wajahnya sejak diterbitkannya Keppres Nomor 53 Tahun 1989 tentang Pengembangan Kawasan Industri.

Beberapa kawasan industri, antara lain Karawang International Industry City (KIIC), Kawasan Surya Cipta, dan Kawasan Bukit Indah City (BIC) di jalur Cikampek-Karawang, telah menjadi tempat bermukim perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional. Hingga akhir tahun 2008, tercatat sebanyak 8.801 perusahaan yang terdiri atas 255 PMA, 183 PMDN, 73 Non Fasilitas, dan 8.290 industri kecil.

Yang paling pesat perkembangannya adalah KIIC yang dikembangkan Grup Sinar Mas dan Itochu (Grup Astra). Menurut Direktur KIIC Sani Iskandar, sejak dirintis pada 1993, dari total lahan seluas 1.200 Ha, kini sudah terbangun 800 hektar. Perusahaan yang bergabung pun sebagian besar PMA, dari total 91 industri.

Tingginya minat industri masuk ke KIIC, kata Sani yang juga Wakil Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) antara lain memiliki infrastruktur yang lengkap seperti akses tol langsung, suplai listrik dan kehandalan daya dengan pelayanan prima dari PLN (Premium Service), pengelolaan air bersih dan air limbah. Dan paling penting, harga lahannya lebih murah dibandingkan KI Cikarang atau Cibitung yakni berkisar 50-60 dolar AS.

Tak sampai di situ potensi Karawang untuk menarik minat industri lebih banyak lagi. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, seolah menggenapi ’portofolio’ tapal Bekasi itu. Mereka akan membangun pelabuhan pengumpul (hub port) baru yang sebelumnya akan dibangun di Bojonegara, Serang, Banten. Pelabuhan baru seluas 10 ribu hektar itu berkapasitas 10 juta TEUs kontainer per tahun sebagai pengganti Pelabuhan Tanjung Priok dalam 5 tahun mendatang. Dipilihnya Karawang karena selama ini, kawasan industri di Cikarang, Karawang, Purwakarta, dan Subang adalah 70% pemasok barang ke Pelabuhan Tanjung Priok.

”Saya yakin industri akan semakin banyak masuk. Selain harga lahannya kompetitif juga karena memiliki kapasitas dan opsi untuk lot atau kavling industri yang masih beraneka ragam,” ujar Sani. Dus, keberadaan PP No 24 tahun 2009 tentang Kawasan Industri, yang mencantumkan industri baru harus masuk kawasan industri, diyakini bakal mendongkrak tingkat hunian kawasan industri di Karawang.

Jika tingkat hunian meningkat, tentu implikasinya juga berlipat. Sub sektor properti lainnya ikut merasakan dampaknya. Sebut saja kebutuhan rumah. Proyeksi kebutuhan rumah yang belum terpenuhi pada 2010, berdasarkan kajian Badan Perencana Daerah (Bapeda) Karawang mencapai 117.959 unit. Angka itu meningkat sekitar 54% dibandingkan tahun 2006 sebanyak 76.478 unit.

Permintaan tanah untuk permukiman tercatat selalu menjadi yang tertinggi dari tahun ke tahun. Data Dinas Agraria Karawang 2006 menyebutkan, dari 2.502 hektar lahan yang beralih fungsi dari lahan pertanian menjadi nonpertanian, 54,6% di antaranya untuk permukiman dan 34,4% untuk industri. Area itu meliputi kawasan kota, dan zona industri yang masuk wilayah Kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, Ciampel, dan Klari.<

Ini memicu para pengembang berburu tanah dan mengonversikannya menjadi perumahan. Menurut penelusuran Properti Indonesia, harga tanah sekarang dibanderol seharga Rp200 ribu/m2 sampai Rp400 m2, namun ada juga yang dipatok Rp55 ribu/m2 dengan lahan yang besar. Di perumahan Karawang Resinda, rumah tipe terkecil dijual Rp120 juta (37/72) dan terbesar Rp2,2 miliar (312/600).

Menurut Ketua Real Estat Indonesia (REI) Bekasi Acep Suparman, wilayah Karawang prospektif sebagai daerah pengembangan permukiman. Selain permintaan dari pekerja di kawasan industri, faktor jarak yang hanya sekitar 45-50 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam melalui tol, membuat sejumlah konsumen mempertimbangkan Karawang.
Tempat pemakaman mewah

Karawang juga terkenal sebagai kawasan yang memiliki tempat pemakaman mewah. Saat ini ada 3 yang sudah dikembangkan yakni Taman Kenangan Lestari (32 Ha), Taman Memorial Graha Sentosa (200 Ha), dan San Diego Hills (500 hektar). Sejak Grup Lippo masuk tahun 2006, penjualan lahan San Diego Hills terus menunjukkan peningkatan. Sudah seperlima dari luas total lahan yang terbangun. ”Setidaknya ada 1.000 orang yang dimakamkan di sini,” ujar Hermit, product spesialist San Diego Hills.
San Diego Hills, memang bukan pemakaman umum biasa. Dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Mulai dari ruang serbaguna, kolam renang, sampai restoran Italia. Hermit mengatakan, selain membeli untuk kelak digunakan, banyak yang membeli untuk investasi. Ia mencontohkan, pada tahun 2006 ada yang membeli kavling makam seharga Rp3,5 juta, tahun 2010 laku terjual 21 juta.

Saat ini harga rumah abadi termurah mencapai Rp8 juta dan termahal Rp8 miliar untuk 200 m2. ”Kami menargetkan dapat meraih penjualan Rp35 miliar dalam sebulan,” ujar Hermit seraya mengatakan masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka untuk membeli tempat makam sebelum ajal menjemput.

Sumber: Yuniar S

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s