Orientasi Aktual; Bangun Area Komersial

Sebagai sebuah kota, lengkap dengan ekologikal sistemnya, kehadiran area komersial mutlak adanya. Di sinilah kendali atas nadi kota baru ditentukan. Aglomerasi perkantoran, apartemen, sekolah, pusat belanja, maupun infrastruktur penunjang lainnya, galib dikembangkan dalam situs berbau ’niaga’. Tak cukup satu dua, berhubung surat keputusan pengelolaan kota baru berskala ribuan hektar, maka situs komersial ini mesti dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) dalam membina tahap keduanya berorientasi pada penambahan jumlah area komersial terbangun. Dijelaskan Presiden Direktur PT BSD Tbk, Harry Budi Hartanto, BSD nantinya sarat dengan area komersial. Karena populasi yang menghuni sekitar 35 ribu unit rumah di BSD City, sudah mencapai 150 ribu jiwa. ”Jumlah yang sangat besar dan mereka membutuhkan fasilitas komersial yang representatif,” imbu Harry.

Dalam paparannya, Harry menjelaskan, untuk tahun 2011, bakal dibangun klaster CBD seluas 50 Ha. Lahannya ini dalam kondisi siap bangun. Itu berarti dapat dibeli atau dimiliki oleh siapapun yang tertarik mengepakkan sayap usahanya di sini. Selain perkantoran berstruktur low rise, juga direncanakan keberadaan shopping center, meeting point dan lifestyle center dalam kemasan indoor dan outdoor.

Rencana tersebut menggenapi langkah strategis tahun ini yang secara agresif mulai menawarkan properti komersial. Diawali dengan pengembangan Sinarmas Land Building di atas lahan seluas 2,5 ha dengan investasi lebih dari Rp. 100 miliar.
Pembangunan gedung kantor berkonsep ramah lingkungan itu diperkirakan
rampung dan siap beroperasi pada kuartal keempat tahun 2011.

Gedung kantor lima lantai itu akan menjadi kantor perusahaan-perusahaan yang bernaung di bawah Sinarmas Developer & Real Estate dan di dalamnya akan berkantor antara lain PT BSD Tbk dan PT Duta Pertiwi Tbk. Gedung seluas 15.000 m2 tersebut dibangun di kawasan BSD Office Park yang merupakan bagian dari pengembangan BSD City Tahap II dengan investasi lebih dari Rp. 100 miliar.

Kawasan BSD Office Park berdimensi 25 ha tersebut dikembangkan dengan mengusung konsep ramah lingkungan (green building) dan ditargetkan untuk menjadi gedung pertama yang mendapatkan sertifikat hijau.

Tak sampai di situ, sejatinya ada banyak rencana yang bakal direalisasikan BSD City dalam rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Selain tahap II, juga telah disiapkan Tahap III. Pendek kata, “Kami akan terus membangun, baik hunian maupun komersial. Setiap tahun target kami adalah 2.000 unit rumah terbangun dengan area pengembangan 10-20 Ha. Nilai investasinya kami proyeksikan di atas Rp1,5 triliun,” ungkap Harry.

Sementara untuk industrial site yang bersifat non polutan, BSD belum akan menambah  lahan eksisting seluas 120 Ha. Kondisi aktual dari kawasan industrinya ini telah terisi oleh ratusan perusahaan atau 60%.

Ada pun pengembangan pertama BSD City tahap II dengan luas total lahan 850 Ha, dijadwalkan rampung pada 2013. Selain fokus pada commercial office dan juga residensial eksklusif. Sementara pengembangan keduanya seluas 1.000 Ha (kombinasi antara residensial dan commercial retail) dan rampung pada 2018.

Future development BSD Tahap III, diungkapkan harry, lebih ke arah barat, di antaranya Legok dan juga nantinya bakal bersebelahan dengan Lippo Village. Realisasinya akan dimulai pada 2018. Pengembangan pertama tahap III adalah 500 Ha untuk jalur komersial yang merupakan kumpulan area klaster berupa CBD-CBD. Di mana satu klaster mendapat alokasi sekitar 40-50 Ha. Jalur komersial ini akan diisi low rise office berkonsep green development. Diameter hijau (jalur hijau) untuk infrastrukturnya saja selebar 50-60 meter. Pedestriannya 10-15 meter dan ROW jalannya 100-120 meter.

Agresifitas BSD ini tak pelak berimplikasi pada melesatnya pertumbuhan harga lahan dan properti. Jika pada 3-4 tahun silam harga lahan berada pada angka Rp1 juta-1,5 juta/m2, kini sekitar Rp2 juta-3 juta/m2. Sedangkan harga propertinya sudah menembus level Rp5 juta/m2.

Tren pengembangan area komersial juga menjangkiti kota baru lain yang terbilang generasi awal. Lippo Village, dahulu Lippo Karawaci, bakal dirancang lebih dinamis dan atraktif. Sesuai dengan filosofi korporat, PT Lippo Karawaci Tbk, dan juga gagasan jenial urban planner asal Skotlandia, George Benton, Lippo Village harus menjadi sentrum kehidupan kawasan. Ada banyak rencana yang telah dicanangkan.

Yang teranyar, menurut Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Norita Alex, adalah memastikan bagian utara Lippo Vilage sebagai destinasi investasi baru (disebut Lippo Village Utara) seluas 5 ha dan Lippo Village Central (1,5 Ha). Ini dapat diartikan sebagai kantong komersial yang mengakomodir para investor yang berharap turn over cepat di sini. Alokasi lahannya sendiri untuk orientasi pengembangan komersial (CBD) dipersiapkan seluas 50-75 Ha.

Tahap I, dijelaskan Norita, membuka Lippo Village Central selapang 1,5 Ha. Lokasinya bersebelahan dengan driving range. Tanahnya sudah mulai digarap. Di sini, akan berdiri pusat kuliner, dan life style.

Menurut Hernanto Tandianto, General Manager Marketing Lippo Village, para calon investor diberikan dua opsi, membeli atau menyewa lahan di kedua area pengembangan tadi. Luas lahan yang ditawarkan mulai 500-2.000 m2,  sesuai dengan kebutuhan atau pun jenis usaha investor.

Tentu saja fasilitas komersial ini tak berarti apa-apa jika tidak didukung oleh akses dan infrastruktur yang memadai. Untuk itu, PT Lippo Karawaci Tbk mengkonfirmasi pembangunan  fly over Lippo Village-Jakarta yang menelan biaya konstruksi sebesar Rp30 miliar. Akses jalan layang ini dibuka pada Juli 2010. Selain itu, pada waktu bersamaan, akan dibuka juga Islamic Underpass yang menghubungkan Lippo Village Central dari Lippo Village Utara, Tangerang dan Merak. Sementara Underpass Karawaci Office Park yang beroperasi Juni ini akan menggiring pengguna jalan maupun warga penghuni menuju kawasan bisnis Karawaci Office Park.

Sejak dibangun pada tahun 1993, Lippo Village dengan ‘konsesi’ lahan seluas 3.000 Ha  telah didiami oleh 50 ribu kepala keluarga. Pergerakan harga propertinya pun sangat cukup atraktif. Untuk residensial, tumbuh 60% per tiga tahun. Harga pasar berada pada level Rp2 juta-17 juta/m2. Sedangkan komersialnya, tercatat, rata-rata naik 20-25%/thun dengan harga lahan mencapai Rp20 juta/m2.

Mengekor Pelopor

Kota Harapan Indah yang dibangun Grup Damai Putra di Bekasi Barat sejak tahun 1990 (2.000 Ha) juga menambah fasilitas barunya yakni pasar modern. Fasilitas ini dibangun untuk penghuni yang sudah berjumlah 60 ribu kepala keluarga (KK). ”Kami akan terus memberikan kenyamanan yang prima dengan menambah berbagai fasilitas sehingga penghuni tidak perlu keluar perumahan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya,” ujar Hyronimus Johanes, Marketing Manager Kota Harapan Indah..

Sementara di bagian barat Jakarta, tepatnya di kawasan Cengkareng yang berdekatan dengan bandara Soekarno-Hatta, perumahan CitraGarden City yang dikembangkan oleh Grup Ciputra di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat juga kian ekspansif. Perumahan berdimensi 400 hektar ini sekarang sedang berkonsentrasi merampungkan kawasan Citra 6. Lokasinya hanya selemparan batu dari Jakarta Outer Ring Road seksi Barat 2 ini.

Selain itu, pengembangan baru yang tengah dilakukan adalah klaster Yellow Chrysant, Blue Ginger, The Grand, dan lainnya. Di samping area komersial yang bertahbis  commercial belt sepanjang 2 km. Menurut Yusanto Harijatno, General Manager CitraGarden City, kawasan komersial Citra  6 akan dikembangkan sebagai fasilitas gaya hidup modern. Di mana shopping dan living terintegrasi menjadi satu kesatuan yang harmoni. Di kawasan ini telah berdiri  rukan Circle West dan food street. Juga ada rukan yang bentuknya memanjang dengan konsep double decker yakni Sixth Avenue.

Di kawasan Serpong dua developer yang lokasinya berdekatan juga kian ekspansif mengembangkan proyek township-nya yakni Alam Sutera dan Summarecon Serpong. Alam Sutera, milik PT. Alam Sutera Realty Tbk. pada 2010 ini meluncurkan berbagai varian produk, baik residensial maupun komersial. Untuk ruang komersial Flavor Bliss, kini terus diperluas. Plaing gres dibangunnya Mall @ Alam Sutera seluas 7,8 Ha yang direncanakan beroperasi awal 2012. Mal ini merupakan bagian dari Commercial Buseness Distric (CBD) Alam Sutera yang luasnya mencapai 26 Ha. Produk komersial ini dikemas dengan rancangan terbuka yang memungkinkan seluruh tenant berjenis resto, memiliki open sitting area.

Untuk huniannya, dipasarkan Sutera Renata seluas 24 Ha yang di dalamnya terdapat 3 cluster. Menurut Lilia Sukotjo, Direktur Pemasaran PT Alam Sutera Realty Tbk, produk ini dikembangkan dengan konsep urban forest. Yakni hutan di dalam perumahan yang berfungsi sebagai paru-paru kota. Varian lainnya adalah apartemen Silkwood Residence setinggi 20 lantai yang berdiri di atas lahan 11,8 Ha. Setiap tower-nya memiliki jumlah unit sebanyak 456.

Sementara Summarecon Serpong, kepunyaan PT. Summarecon Agung Tbk, akan melakukan pengembangan Summarecon Mal Serpong (SMS) tahap 2 yang berada di samping tahap I seluas 45 ribu m2. Proyek lanjutan ini rencananya rampung  pada 2011 yang akan diteruskan  dengan SMS tahap 3. Sehingga akan menjadi satu kesatuan. Semuanya  berada di area Sentra Gading Serpong yang merupakan CBD Summarecon Serpong yang luasnya 17 Ha.

Di Bogor, Sentul City juga siap menggarap area commercial business distric (CBD)-nya.  Rencananya akan dibangun pusat belanja, sarana pendidikan, kesehatan, hunian vertikal, dan lainnya. Menurut Hartan Gunadi, Marketing Director PT. Sentul City Tbk, salah satu bagian yang sudah beroperasi adalah SICC (Sentul International Convention Center) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tazkia yang rencananya akan mulai beraktifitas pada tahun ajaran mendatang. “Dalam waktu dekat akan segera dibangun kampus IPB  untuk program studi sekolah bisnis dan lansekap,” ujar Hartan.

Belum lama ini Sentul City juga telah meluncurkan dua cluster Green Valley Residence dan Emerald Golf @ Bukit Golf Hijau. Green Valley Residence dibangun di atas lahan seluas 8 Ha. Terdapat 225 unit hunian dan 16 rumah toko (ruko) dengan berbagai pilihan tipe, terkecil tipe 53/90 seharga mulai Rp 420 juta, dan terbesar tipe 90/232 seharga Rp860 juta. Untuk ruko dipasarkan dengan harga mulai Rp650 juta sampai Rp1,2 miliar.

Sementara cluster Emerald Golf @ Bukit Golf Hijau hanya terdiri atas 21 hunian eksklusif. Lokasinya langsung berhadapan dengan lapangan golf.  Rumah terkecil berukuran  160/ 228 seharga Rp1,25 miliar sementara  terbesar berukuran  260/593 seharga Rp3,1 miliar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: